Selasa, 21 November 2017
Sholawat Habib Umar AlHafiz
Shalawat Atas Baginda Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa aalihi wa shahbihi wa sallam
Rabiul Awwal 1438 H
الَّلهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ ﴿﴾ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ﴿﴾ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ ﴿﴾ الْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ ﴿﴾ نَاصِرِ الْحَقِّ بِالحَقِّ ﴿﴾ وَ الْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ
الْمُسْتَقِيْمِ ﴿﴾ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ ﴿﴾ وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ ﴿﴾ حَقَّ قَدْرِهِ وَ مِقْدَارِهِ العَظِيْمِ ﴿﴾
Ya Allah limpakanlah shalawat dan salam serta keberkahan atas pemimpin kami Muhammad, pembuka segala yang tertutup, penutup (para nabi) yang terdahulu, pembela kebenaran dengan kebenaran, pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Shalawat Allah semoga tercurah atas beliau dan keluarga serta para sahabatnya, shalawat yang pantas untuk kedudukannya dan pangkatnya yang agung.
• Pesan dari Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, shalawat ini agar dibaca selama bulan Maulid sebanyak 10.000 kali.
Amalan Doa Yang Di anjurkan Oleh Habib Umar Al Hafiz
Al-Habib Umar bin Hafidz berkata :
Jangan pernah lepas membaca do’a ini dalam sehari sehari-semalam.
يا الله بها يا الله بها يا الله بحسن الخاتمة
“ Ya Allah bihaa, Ya Allah bihaa, Ya Allah bihusnil khotimah ”
Karena doa ini adalah termasuk doanya para wali-wali Allah (kekasih Allah). Doa ini termasuk puncaknya do’a. Oleh karnanya jangan perlah lepas untuk mengamalkannya.
Beliau bercerita, bahwasanya dahulu di Mesir ada seorang yang sholeh dan tekun beribadah, namun ia tidak pernah membaca doa ini karena merasa amal nya sudah banyak namun apa yang terjadi? diakhir usianya beliau murtad dan akhirnya wafat dalam keadaan su’ul khatimah (Naudzubillahi min dzalik).
Para Wali-wali Allah di Tarem Hadramaut yang mengetahui kisah ini termasuk Shahibul ratib Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad sangat sedih mendengar kisah ini sehingga beliau mendawamkannya (istiqamah :baca) sebagai wirid harian pada Ratibul Haddad.
Perbanyaklah membaca doa diatas, semoga Allah memudahkan kita saat naza’ (ajal menjemput :red) dan mematikan kita semua dalam keadaan husnul khatimah.
يا الله بها يا الله بها يا الله بحسن الخاتمة
Wallahu A’lam bis shawab
Senin, 20 November 2017
Dajjal Menurut Nabi Muhammad SAW
Dari Abi Umamah Al-Bahiliy, beliau berkata: “Rasululah s.a.w telah berkhutbah di hadapan kami. Dalam khutbahnya itu Baginda banyak menyentuh masalah Dajjal. Baginda telah bersabda: “Sesungguhnya tidak ada fitnah (kerosakan) di muka bumi yang paling hebat selain daripada fitnah yang dibawa oleh Dajjal. Setiap Nabi yang diutus oleh Allah SWT ada mengingatkan kaumnya tentang Dajjal. Aku adalah nabi yang terakhir sedangkan kamu adalah umat yang terakhir. Dajjal itu tidak mustahil datang pada generasi (angkatan) kamu. Seandainya dia datang sedangkan aku masih ada di tengah-tengah kamu, maka aku adalah sebagai pembela bagi setiap mukmin. Kalau dia datang sesudah kematianku, maka setiap orang menjaga dirinya. Dan sebenarnya Allah SWT akan menjaga orang-orang mukmin.
“Dajjal itu akan datang nanti dari satu tempat antara Syam dan Irak. Dan mempengaruhi manusia dengan begitu cepat sekali. Wahai hamba Allah, wahai manusia, tetaplah kamu. Di sini akan saya terangkan kepada kamu ciri-ciri Dajjal, yang belum diterangkan oleh nabi-nabi sebelumku kepada umatnya.
“Pada mulanya nanti Dajjal itu mengaku dirinya sebagai nabi. Ingatlah, tidak ada lagi nabi sesudah aku. Setelah itu nanti dia mengaku sebagai Tuhan. Ingatlah bahawa Tuhan yang benar tidak mungkin kamu lihat sebelum kamu mati. Dajjal itu cacat matanya sedangkan Allah SWT tidak cacat, bahkan tidak sama dengan baharu. Dan juga di antara dua mata Dajjal itu tertulis KAFIR, yang dapat dibaca oleh setiap mukmin yang pandai membaca atau buta huruf.
“Di antara fitnah Dajjal itu juga dia membawa syurga dan neraka. Nerakanya itu sebenarnya syurganya sedangkan syurganya itu neraka, yakni panas. Sesiapa di antara kamu yang disiksanya dengan nerakanya, hendaklah dia meminta pertolongan kepada Allah dan hendaklah dia membaca pangkal surah Al-Kahfi, maka nerakanya itu akan sejuk sebagaimana api yang membakar Nabi Ibrahim itu menjadi sejuk.
“Di antara tipu dayanya itu juga dia berkata kepada orang Arab: “Seandainya aku sanggup menghidupkan ayah atau ibumu yang sudah lama meninggal dunia itu, apakah engkau mengaku aku sebagai Tuhanmu?” Orang Arab itu akan berkata: “Tentu.” Maka syaitan pun datang menyamar seperti ayah atau ibunya. Rupanya sama, sifat-sifatnya sama dan suaranya pun sama. Ibu bapanya berkata kepadanya: “Wahai anakku, ikutilah dia, sesungguhnya dialah Tuhanmu.”
“Di antara tipu dayanya juga dia tipu seseorang, yakni dia bunuh dan dia belah dua. Setelah itu dia katakan kepada orang ramai: “Lihatlah apa yang akan kulakukan terhadap hambaku ini, sekarang akan kuhidupkan dia semula. Dengan izin Allah orang mati tadi hidup semula. Kemudian Laknatullah Alaih itu bertanya: “Siapa Tuhanmu?” Orang yang dia bunuh itu, yang kebetulan orang beriman, menjawab: “Tuhanku adalah Allah, sedangkan engkau adalah musuh Allah.”
Orang itu bererti lulus dalam ujian Allah dan dia termasuk orang yang paling tinggi darjatnya di syurga.”
Kata Rasulullah s.a.w lagi: “Di antara tipu dayanya juga dia suruh langit supaya menurunkan hujan tiba-tiba hujan pun turun. Dia suruh bumi supaya mengeluarkan tumbuh-tumbuhannya tiba-tiba tumbuh. Dan termasuk ujian yang paling berat bagi manusia, Dajjal itu datang ke perkampungan orang-orang baik dan mereka tidak me-ngakunya sebagai Tuhan, maka disebabkan yang demikian itu tanam-tanaman dan ternakan mereka tidak menjadi.
“Dajjal itu datang ke tempat orang-orang yang percaya kepadanya dan penduduk kampung itu mengakunya sebagai Tuhan. Disebabkan yang demikian hujan turun di tempat mereka dan tanam-tanaman mereka pun menjadi.
“Tidak ada kampung atau daerah di dunia ini yang tidak didatangi Dajjal kecuali Makkah dan Madinah. Kedua-dua kota itu tidak dapat ditembusi oleh Dajjal kerana dikawal oleh Malaikat. Dia hanya berani menginjak pinggiran Makkah dan Madinah. Namun demikian ketika Dajjal datang ke pergunungan di luar kota Madinah, kota Madinah bergoncang seperti gempa bumi. Ketika itu orang-orang munafik kepanasan seperti cacing dan tidak tahan lagi tinggal di Madinah. Mereka keluar dan pergi bergabung dengan orang-orang yang sudah menjadi pengikut Dajjal. Inilah yang dikatakan hari pembersihan kota Madinah.
Dalam hadis yang lain, “di antara fitnah atau tipu daya yang dibawanya itu, Dajjal itu lalu di satu tempat kemudian mereka mendustakannya (tidak beriman kepadanya), maka disebabkan yang demikian itu tanam-tanaman mereka tidak menjadi dan hujan pun tidak turun di daerah mereka. Kemudian dia lalu di satu tempat mengajak mereka supaya beriman kepadanya. Mereka pun beriman kepadanya. Maka disebabkan yang demikian itu Dajjal menyuruh langit supaya menurunkan hujannya dan menyuruh bumi supaya menumbuhkan tumbuh-tumbuhannya. Maka mereka mudah mendapatkan air dan tanam-tanaman mereka subur.”
Dari Anas bin Malik, katanya Rasulullah s.a.w bersabda: “Menjelang turunnya Dajjal ada tahun-tahun tipu daya, iaitu tahun orang-orang pendusta dipercayai orang dan orang jujur tidak dipercayai. Orang yang tidak amanah dipercayai dan orang amanah tidak dipercayai.”
Dari Jabir bin Abdullah, katanya Rasulullah s.a.w ada bersabda: “Bumi yang paling baik adalah Madinah. Pada waktu datangnya Dajjal nanti ia dikawal oleh malaikat. Dajjal tidak sanggup memasuki Madinah. Pada waktu datangnya Dajjal (di luar Madinah), kota Madinah bergegar tiga kali. Orang-orang munafik yang ada di Madinah (lelaki atau perempuan) bagaikan cacing kepanasan kemudian mereka keluar meninggalkan Madinah. Kaum wanita adalah yang paling banyak lari ketika itu.
Itulah yang dikatakan hari pembersihan. Madinah membersihkan kotorannya seperti tukang besi membersihkan karat-karat besi.”
Diriwayatkan oleh Ahmad, hadis yang diterima dari Aisyah r.a. mengatakan: “Pernah satu hari Rasulullah s.a.w masuk ke rumahku ketika aku sedang menangis. Melihat saya menangis beliau bertanya: “Mengapa menangis?” Saya menjawab: “Ya Rasulullah, engkau telah menceritakan Dajjal, maka saya takut mendengarnya.”
Rasulullah s.a.w berkata: “Seandainya Dajjal datang pada waktu aku masih hidup, maka aku akan menjaga kamu dari gangguannya. Kalau dia datang setelah kematianku, maka Tuhan kamu tidak buta dan cacat.”
Dari Jabir bin Abdullah, katanya Rasulullah s.a.w bersabda: “Dajjal muncul pada waktu orang tidak berpegang kepada agama dan jahil tentang agama. Pada zaman Dajjal ada empat puluh hari, yang mana satu hari terasa bagaikan setahun, ada satu hari yang terasa bagaikan sebulan, ada satu hari yang terasa satu minggu, kemudian hari-hari berikutnya seperti hari biasa.”
Ada yang bertanya: “Ya Rasulullah, tentang hari yang terasa satu tahun itu, apakah boleh kami solat lima waktu juga?” Rasulullah s.a.w menjawab: “Ukurlah berapa jarak solat yang lima waktu itu.”
Menurut riwayat Dajjal itu nanti akan berkata: “Akulah Tuhan sekalian alam, dan matahari ini berjalan dengan izinku. Apakah kamu bermaksud menahannya?” Katanya sambil ditahannya matahari itu, sehingga satu hari lamanya menjadi satu minggu atau satu bulan.
Setelah dia tunjukkan kehebatannya menahan matahari itu, dia berkata kepada manusia: “Sekarang apakah kamu ingin supaya matahari itu berjalan?” Mereka semua menjawab: “Ya, kami ingin.” Maka dia tunjukkan lagi kehebatannya dengan menjadikan satu hari begitu cepat berjalan.
Menurut riwayat Muslim, Rasulullah s.a.w bersabda: “Akan keluarlah Dajjal kepada umatku dan dia akan hidup di tengah-tengah mereka selama empat puluh. Saya sendiri pun tidak pasti apakah empat puluh hari, empat puluh bulan atau empat puluh tahun. Kemudian Allah SWT mengutus Isa bin Maryam yang rupanya seolah-olah Urwah bin Mas’ud dan kemudian membunuh Dajjal itu.”
Dan menurut ceritanya setelah munculnya Dajjal hampir semua penduduk dunia menjadi kafir, yakni beriman kepada Dajjal. Menurut ceritanya orang yang tetap dalam iman hanya tinggal 12,000 lelaki dan 7,000 kaum wanita. Wallahu A'lam.
Tujuh Golongan Yang Dilindungi Allah Di khirat Nanti
Pada hari itu, tak ada pertolongan kecuali dari Allah. Tapi, ada tujuh golongan yang nanti akan mendapat pertolongan dari Allah.
Pertama, mereka adalah pemimpin atau imam yang adil.
Kedua, pemuda yang hatinya sangat dekat dengan masjid.
Ketiga, Allah juga akan melindungi dua orang yang saling mencintai kerana Allah. Misalnya, kita menyayangi orang tua kita kerana Allah.
Keempat, yang akan mendapat pertolongan Allah di hari kiamat iaitu lelaki yang tidak tergoda oleh wanita cantik.
Kelima, wanita yang boleh menjaga diri dari lelaki juga akan mendapat naungan dari Allah.
Keenam, orang yang gemar bersedekah juga akan mendapat naungan dari Allah. Diceritakan orang ini jika bersedekah dengan tangan kanannya, maka tangan kirinya tidak tahu.
Ketujuh, orang yang selalu mengingat Allah dalam keadaan sunyi, lalu ia menangis kerana takut kepada Allah.
Semoga kita menjadi salah satu dari tujuh golongan yang mendapat naungan dari Allah.
Minggu, 19 November 2017
Kisaha Sahabat Safinah RA
Safinah adalah bekas budak Rasulullah SAW, yang adalah milik Ummu Salamah, istri beliau. Nama aslinya adalah Ahmar. Nama "Safinah" adalah pemberian beliau. Suatu ketika Sa'id bin Jumhan bertanya tentang namanya tersebut, yakni Safinah yang berarti kapal atau perahu. Safinah-pun menceritakan kisahnya.
Suatu ketika Ahmar mengikuti rombongan Nabi SAW dan beberapa sahabatnya dalam suatu perjalanan atau peperangan. Beberapa sahabat merasa berat dengan barang bawaannya, apalagi saat itu akan menyeberangi suatu lembah atau sungai. Maka Nabi SAW bersabda kepada Ahmar, "Bentangkan kainmu!"
Setelah ia membentangkan kainnya, Nabi SAW memerintahkan para sahabat untuk meletakkan barang-barang yang telah memberatkan tersebut di atas kainnya, kemudian beliau bersabda, "Bawalah!! Tidaklah kamu pada hari ini melainkan Safinah!!"
Entah karena memang Ahmar mempunyai kekuatan lebih dalam mengangkat barang, atau memang sabda Rasulullah SAW tersebut yang memberikan berkah kekuatan kepadanya, ternyata ia mampu mengangkatnya. Padahal beberapa orang sahabat merasa payah mengangkatnya walau hanya sebagian.
Sejak saat itulah ia lebih dikenal dengan nama Safinah. Kemudian Safinah berkata pada Sa'id, "Sekiranya waktu itu dibebankan kepadaku barang-barang yang dibawa seekor atau dua ekor unta, bahkan lima atau enam ekor unta, aku pasti mampu membawanya."
Kisah Sahabat Tsabit bin ad Dahdahak RA
Tsabit bin ad Dahdahak, atau dalam beberapa riwayat lain disebut Tsabit bin ad Dahdah, adalah seorang sahabat Anshar. Pada perang Uhud, ketika terjadi kekacauan dan kebingungan pasukan muslim karena berhembusnya berita bahwa Nabi SAW telah terbunuh, Tsabit berteriak keras, "Wahai orang-orang Anshar, mendekatlah kepadaku! Aku adalah Tsabit bin ad Dahdahak, sekiranya Muhammad SAW telah tewas, sesungguhnya Allah Maha Hidup, tidak akan mati. Karena itu berperanglah semata-mata untuk agama kalian. Sungguh Allah akan memenangkan dan memberikan pertolongan kepada kalian…"
Beberapa sahabat Anshar lainnya bergabung dengan Tsabit, mereka menyerang pasukan musyrik dengan garangnya. Sekelompok pasukan Quraisy bersenjata lengkap, antara lain Khalid bin Walid, Amr bin Ash, Ikrimah bin Abu Jahal, Dhirar bin Khaththab dan lain-lainnya lagi menghadapi para sahabat Anshar ini. Akhirnya Khalid bin Walid melepaskan tombaknya dan mengenai Tsabit sampai tembus dan tewas seketika. Para sahabat Anshar yang mengikutinya pada akhirnya menemui syahid juga.
Menurut sebagian riwayat, para sahabat Anshar ini merupakan orang-orang yang terakhir menemui syahidnya di Perang Uhud. Riwayat lainnya menyebutkan, tujuh orang sahabat Anshar di sekitar Nabi SAW, yang terakhir Umarah bin Yazid bin as Sakan, yang menjadi syahid-syahid terakhir di peperangan itu. Atau bisa jadi menjadi syahid dalam waktu yang hampir bersamaan karena keadaan pasukan muslim saat itu terpecah-pecah dan porak poranda. Setelah itu keadaan berbalik, pasukan muslim kembali menyusun kekuatan, setelah tahu dan yakin bahwa Nabi SAW masih hidup walaupun dalam keadaan terluka. Dan akhirnya mereka berhasil mengusir pasukan kafir Quraisy.
Kisah Sahabat Khalid bin Sa'id bin Ash RA
Khalid bin Sa'id bin Ash RA termasuk dalam kelompok awal yang memeluk Islam (as Sabiqunal Awwalun). Uniknya, yang memotivasi dirinya memeluk Islam adalah sebuah mimpi. Khalid bermimpi sedang berada di sebuah tepian nyala api yang begitu besar. Ayahnya yang hadir saat itu, bukannya menolong keluar dari jilatan api tapi justru mendorongnya. Untunglah ada Nabi SAW yang menahan kain ikat pinggangnya hingga ia tidak jatuh ke dalam api.
Setelah bangun, Khalid meyakini bahwa mimpinya itu benar. Ia menemui sahabatnya, Abu Bakar dan menceritakan mimpinya. Abu Bakar pun menyatakan, kalau hanya kebaikan yang dikehendaki bagi Khalid dengan mimpinya itu. Ia diajak menemui Rasulullah SAW, dan bertemu dengan beliau di suatu tempat bernama Ajyad di Mekkah. Beliau menjelaskan risalah Islam yang beliau dakwahkan, dan mengajak Khalid memeluk Islam. Khalid menerima ajakan Nabi SAW karena keyakinan akan kebenaran mimpinya tersebut.
Setelah keislamannya, Khalid pergi menghilang. Ayahnya, Sa'id bin Ash yang mengetahui anaknya memeluk Islam, menyuruh orang-orang untuk mencarinya. Setelah ditemukan ia memaki-maki anaknya tersebut dan mencambuknya, serta mengancam tidak akan memberinya makan. Tapi sebagai cermin keimanan di hatinya, Khalid berkata, "Jika engkau tidak memberiku makan, maka sungguh Allah yang mengaruniakan rezeki padaku, akan membuatku bisa terus hidup."
Mendengar jawaban tersebut sang ayah langsung mengusirnya. Khalid memutuskan menemui Rasulullah SAW dan akan selalu mengiring beliau, walaupun ia harus kehilangan banyak sekali fasilitas dan kenyamanan dalam hidupnya sebelum itu. Ketika Nabi SAW menghimbau sahabatnya untuk hijrah ke Habasyah, Khalid memenuhi anjuran beliau, mengikuti rombongan yang dipimpin oleh Ja'far bin Abu Thalib.
Khalid baru bertemu lagi dengan Nabi SAW ketika beliau telah memerintahkan agar para sahabat di Habasyah berhijrah ke Madinah, saat itu Nabi SAW dan para sahabat dalam perjalanan pulang setelah selesainya perang Khaibar. Setelah itu Khalid senantiasa mengikuti pertempuran bersama Nabi SAW. Bahkan sebelum wafatnya, beliau mengangkatnya menjadi gubernur Yaman.
Ketika ia mendengar Nabi SAW wafat dan Abu Bakar dikukuhkan sebagai khalifah, ia menjadi salah satu orang yang tidak setuju. Ia sangat mengenal berbagai kelebihan Abu Bakar dan kedudukannya di sisi Nabi SAW karena ia memang salah seorang sahabat Abu Bakar di masa jahiliah. Hanya saja ia berpendapat bahwa yang paling berhak memegang jabatan khalifah adalah Bani Hasyim, misalkan Ali bin Abi Thalib atau Abbas. Karena itu ia meninggalkan jabatannya di Yaman, dan kembali ke Madinah, tetapi ia tidak mau berba'iat kepada Abu Bakar.
Berlalulah waktu, Abu Bakar tetap menghargainya walaupun ia menolak berba'iat. Sampai suatu ketika Khalid menerobos barisan atau shaf-shaf di masjid menuju Abu Bakar yang berdiri di atas mimbar, ia memegang tangan Abu Bakar dan berba'iat dengan segala ketulusan hatinya.
Suatu ketika Abu Bakar mempersiapkan pasukan ke Syria, dan ia menyerahkan salah satu panji-panji pertempuran kepada Khalid. Tetapi sebelum pasukan berangkat, Umar menyarankan untuk mengganti Khalid sebagai pemegang panji, dan Abu Bakar bisa menerima alasan Umar. Khalid menerima kabar tersebut dengan biasa, dan ketika Abu Bakar hadir di rumahnya untuk meminta maaf, ia berkata, "Demi Allah, tidaklah saya gembira dengan pengangkatan anda, dan tidak juga bersedih dengan pemberhentian anda dari jabatan tersebut….!!"
Abu Bakar membebaskannya untuk memilih di pasukan mana ia akan bergabung, Amr bin Ash yang masih anak pamannya, atau Syurahbil bin Hasanah, atau lainnya lagi. Khalid-pun berkata, "Anak pamanku aku sukai karena ia masih kerabatku, tetapi Syurahbil lebih kucintai karena agamanya!"
Khalid bergabung dengan pasukan yang dipimpin Syurahbil, sedang yang menjadi komandan dari seluruh kesatuan adalah Abu Ubaidah bin Jarrah.
Khalid menikahi janda Ikrimah bin Abu Jahal, Ummu Hakim di perjalanan jihad melawan tentara Romawi, di suatu tempat bernama Marjush Shafar. Setelah pernikahan itu, Khalid ingin beristirahat berduaan dengan istrinya sebagaimana pengantin baru, tetapi Ummu Hakim berkata, "Sekarang kita sedang diserang musuh dari segala arah, sebaiknya kita melawan mereka dahulu!!"
"Saya yakin," Kata Khalid, "Saya akan menemui syahid pada pertempuran ini..!!”
Mendengar penuturan suaminya itu, Ummu Hakim memenuhi permintaan Khalid. Mereka menghabiskan malam pengantin di tenda sederhana, sementara musuh siap menyerang. Keesokan harinya, Khalid menerjunkan diri dalam pertempuran, menyerang dan menerjang musuh dengan perkasa, sehingga akhirnya gugur sebagai syahid.
Ketika masih bersama Nabi SAW di Madinah, ia pernah membawa putrinya yang masih kecil, Ummu Khalid menghadap Nabi SAW dengan memakai baju kuning. Beliau memuji keindahan baju tersebut dan menyuruhnya untuk tetap memakainya sampai habis/rusak. Khalid sempat memarahi putrinya tersebut karena bermain-main dengan cincin kenabian, tetapi beliau menyuruh membiarkannya.
Sumber link : disini
Langganan:
Postingan (Atom)






