Tampilkan postingan dengan label Datu dan Ulama kalimantan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Datu dan Ulama kalimantan. Tampilkan semua postingan
Senin, 23 Oktober 2017
Tahukah Anda Siapa itu Hadrotussyaikh
Kalau ditelinga orang banjar sosok seorang guru ini tidak lah asing lagi, apalagi dikalangan seluruh santri khususnya SANTRI darussalam martapura, karena hampir 100% ulama-ulama di tanah banjar yang tersebar di seluruh indonesia pasti bersambung silsilah sanad ilmu kepada beliau (Allah yarham), maka dari itu jasa beliau sangatlah luar biasa untuk kuatnya ISLAM AHLUSSUNNAH WAL-JAMAAH (ASWAJA) di tanah banjar ini,,, ke ilmu'an & ke aliman beliau sudah tidak di ragukan lagi, .
Kata Syaikh Muhammad Zaini (abah guru sekumpul) : Guru Kasyful Anwar itu Alim di seluruh fan ilmu agama, Bahkan Lauhul Mahfuz itu tembus di mata beliau (beliau Mampu melihat lauhul mahfuz kalau menengedahkan ke atas langit) .
Kemudian abah Guru sekumpul berkata lagi : GURU KASYFUL ANWAR itu TERMASUK ORANG YANG HANYA ADA SATU ORANG, DI SETIAP 100 TAHUN, (jadi Kalau ingin melihat keilmuan & ke aliman dan pangkat kewalian yg tinggi seperti beliau tunggu 100 tahun lagi, baru akan muncul yg seperti itu) .
Minggu, 22 Oktober 2017
Inilah Sebab Kenapa Guru Bakeri Suka Berlucu-lucuan Di Majelis Pengajian
Dikisahkan Abah Guru Banjar Indah (KH Syaifuddin Dzuhri)
___________________________
Sewaktu Guru Bakrie (KH Ahmad Bakrie, pendiri & pengasuh Ponpes Al-Mursyidul Amin, Gambut, Kab Banjar, Kalsel) ) masih belajar di pondok pesantren Darussalam Martapura, tepatnya di kelas 3 Ulya, kebetulan wali kelasnya adalah Abah Guru Sekumpul sendiri.
Hari itu Abah Guru memberikan PR kepada semua santri di kelas itu dengan pelajaran tasawuf melalui kitab Minhajul Abidin. Kemudian Abah Guru Sekumpul memberikan soal2 kepada para santri, kata Abah Guru, besok dikumpul tugasnya. Tiba2 Guru Bakrie menjawab langsung dengan lisan kepada Abah Guru tanpa melihat ke kitab.
Abah Guru pun tersenyum dan berkata, "Bakrie kada usah lagi digawe tugasnya karena sudah dijawab lisan." Hal inilah yg menjadi sebab kenapa Guru Bakrie jadi murid kesayangan Abah Guru di kelas. Sejak mondok Guru Bakrie memang sudah menunjukkan kecerdasannya. Beliau selalu menjadi juara kelas dan santri teladan.
Pada tahun 1993 saat Guru Bakrie ‘mangaji baduduk’ di rumah Abah Guru di Sekumpul, pada waktu itu, turut mengaji bersama beliau adalah Guru Sufiannur dan Guru Usuf.
Ketika Abah Guru hendak memulai belajaran, beliau sambil bercanda berpesan lawan Guru Bakrie, "Lamun nyawa Bakrie'ae malajari murid, baiknya tu dilucu2i, supaya murid nyawa lakas paham.”
Pesan Abah Guru ini diingat bujur oleh Guru Bakrie. Makanya dari itu, di setiap pengajian di mana saja, Guru Bakrie selalu saja ada baisi kisah2 nang lucu2 dengan niat tiada lain supaya orang yang mendengarkan bisa cepat paham, dan nang jelas itu atas suruhan Abah Guru Sekumpul. Abah Guru memang kasyaf, menyadari bahwa Guru Bakrie bakal menjadi salah satu ulama besar di Banua ini.
Akhirnya, cara Guru Bakrie mengajar dan berceramah di depan Jemaah, dengan melontarkan kisah dan joke2 lucu menjadi ciri khas dia. Dan itu didukung oleh dialek pahuluan yg kental sehingga suasana jadi cair dan gampang diterima umat. Dan itu dikatujui banyak orang Banua.
Cara pengajian Guru Bakrie persis sama dengan apa nang dilakukan oleh Abah Guru Sekumpul.
KH Ahmad Bakrie (akrab dipanggil Guru Bakrie atau Abah Guru Gambut) lahir tahun 1956 di Amuntai (Kab Hulu Sungai Utara, Kalsel) dan wafat pada tanggal 1 Februari 2013 / 20 Robi'ul Awwal 1434 H. Beliau adalah pendiri Pondok Pesantren Al-Mursyidul Amin, Gambut. Pondok pesantren beliau di jalan Beringin, Desa Makmur, Kec Gambut, Kab Banjar, Kalsel, hingga kini diteruskan oleh para murid beliau dan aktif mendidik para santri meneruskan ajaran pendirinya bersambung kpd Abah Guru Sekumpul.
Mudahan anak cucu juriat kita bisa menjadi alim dan sugih ilmu kaya Guru Bakrie, disenangi banyak urang dan dikatujui paguruan. Takumpul wan buhan auwlia Allah di akhirat kaena. Aamiiin ya Allah….. Al Fatihan gasan Abah Guru Gambut.
FOTO: (Alm) Guru Bakrie & Abah Guru Sekumpul.
______________
Sumber akun FB Ahbab Muhammad (Zein Elreal)
Jumat, 20 Oktober 2017
KH. Abdul Ghani Tokoh Pendiri Mesjid Assu'ada Amuntai
Di Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara, tepatnya di desa Waringin, Kecamatan Haur Gading, terdapat masjid tua bernama Masjid Assu’ada yang selama ini tidak banyak diketahui masyarakat Kalimantan Selatan, lantaran lokasinya yang agak terpencil, dan prasarana jalan yang relative sempit untuk menuju masjid tersebut. Lokasi masjid ini sebenarnya tidak terlampau jauh dari kota Amuntai, mungkin hanya sekitar 7 km, namun kendaraan roda empat hanya bisa sampai ke desa Teluk Keramat Haur Gading, selebihnya untuk menuju masjid ini harus memakai kendaraan roda 2 atau berjalan kaki sejauh kira-kira 1.5 km menelusuri jalan sempit di pinggiran sungai.
Masjid Assu’ada memang masjid tua. H. Barkati, kepala desa Waringin yang juga juru pelihara masjid, masjid ini dibangun pada tahun 1901. Informasi ini diperolehnya dari kakeknya bernama H. Muslim. Pada saat masjid itu dibangun H. Muslim kecil berumur sekitar 7-10 dan sudah berakal dan berani berjalan sendiri ke pasar Ahad. Menurut H. Muslim salah satu tukang pembangun masjid itu adalah H. Ahmad bin Abu yang tidak lain adalah datuk H. Barkati.
Menurut versi lain sebagaimana terdapat dalam laporan pendokumentasian Masjid Assu’ada yang dilaksanakan oleh Bidang Permuseuman dan Kepurbakalaan Kanwil Depdikbud Provinsi Kalsel tahun 1987, masjid ini diperkirakan dibangun pada tahun 1886. Perkiraan ini didasarkan kepada inskripsi dengan aksara arab melayu pada cungkup makam salah seorang ulama sekaligus pendiri masjid yakni H. Abdul Gani di Kampung Teluk Keramat. Pada kubah tertulis: Almarhum Syeikh Haji Abdul Gani wafat 15-4-1336 H, 19-1-1916 M. Kalau yang bersangkutan meninggal dalam usia 70 tahun, aktif membangun masjid dalam usia 40 tahun maka diperkirakan masjid berdiri pada tahun 1886 M.
Informasi lain menyatakan bangunan masjid di lokasi sekarang merupakan pindahan dari lokasi pertama yang berada di pinggir sungai Waringin (aliran Sungai Hanyar cabang Sungai Tabalong) yang terancam longsor berada persis di arah barat depan masjid sekarang (versi lain menyatakan lokasi pertama berada di seberang sungai). Berdasarkan keterangan tersebut, dapat diperkirakan bahwa masjid pertamakali dibangun sekitar tahun 1886 dengan lokasi di pinggir sungai Waringin. Karena pondasi masjid runtuh/lonsor akibat abrasi sungai, maka sekitar tahun 1901 bangunan masjid dibongkar dan dipindah ke lokasi sekarang, tidak jauh dari lokasi pertama.
Bangunan pertama yang semula bertipe lantai panggung, ketika dibangun kembali di lokasi kedua lantainya tidak lagi ulin melainkan dengan tehel (ubin) yang didatangkan dari Singapura. Pada waktu itu, sebagian penduduk Waringin dan sekitarnya ada yang berprofesi sebagai pedagang antar pulau. Mereka berlayar hingga sampai ke pulau Jawa, Sumatera, bahkan Singapura dan Semenanjung Malaya, sehingga ketika kembali ke kampung halaman mereka membawa barang dagangan, atau bahan yang diperlukan untuk pembangunan masjid seperti ubin, dan lain sebagainya.
Selain tokoh ulama dan sekaligus pendiri masjid yakni H. Abdul Gani (asal kelahiran Alabio), tokoh ulama lainnya yang berperan terhadap masjid ini adalah H. Nawawi, H. Durahman, dan H. Marhusin di Waringin, serta H. Mahmudin dari Tengkawang. Mereka adalah juga tokoh ulama yang berperan penting dalam kegiatan ibadah sholat, pengajian, dan dakwah kepada masyarakat Waringi, Haur Gading, Tengkawang, dan sekitarnya.
Masjid ini merupakan masjid tertua dan satu-satunya di Waringin, dan Haur Gading. Waringin, dahulunya terdiri dari berbagai desa seperti Waringin, Tengkawang, Teluk Haur, dan Tuhuran. Sedangkan Haur Gading juga terdiri dari beberapa desa yakni Haur Gading, Keramat, Jingah Bujur, Pulutan, dan Tambak sari Panji. Waringin dan Haur Gading, dahulunya hanya punya satu masjid yakni Masjid Assu’ada Waringin.
Masyarakat desa-desa itu selalu menjalankan ibadah sholat Jumat di masjid ini. Bahkan di sinilah tempat dilaksanakan mengaji duduk, yang mana para jamah pengajian dari beberapa kampung dan bahkan konon dari kampung Negara datang ke Waringin dengan perahu tambangan untuk mengaji di Waringin yang saat itu tekenal memiliki ulama besar seperti halnya H. Abdul Gani. Oleh karena itu, ada yang mengaitkan bahwa asal nama desa Waringin karena dahulunya desa ini tempat beradanya ulama-ulama yang Wara’ yakni istilah bagi ulama yang apik dalam melaksanakan ibadah. Ada pula yang mengatakan bahwa dinamakan Waringin karena dahulunya di tepian sungai Waring ini tumbuh pohon beringin.
Pada saat didirikan untuk pertama kalinya dan ketika bangunan masjid ini dipindah ke lokasi sekarang ini, masjid ini dahulunya bernama Masjid Assuhada. Penamaan itu mungkin berkaitan dengan usaha para pendiri masjid yang berdakwah menyebarkan Islam di daerah Waringin dan sekitarnya dan mendirikan masjid di sini. Perjuangan mereka dianggap jihad fi sabilillah dan mereka yang berada di jalan itu disebut sebagai syuhada atau syahid.
Kini masjid ini dinamakan Masjid Assu’ada. Assu’ada berasal dari kata Su’ada artinya ”beruntung”. Perubahan nama dari Assuhada menjadi Assu’ada menurut informasi H. Abdul Wahab (63 tahun) terjadi pada tahun 1965-an, yakni pada saat panitia masjid diketuai oleh H. Abdurrahman, seorang ulama lulusan Pesatren Gontor Ponorogo. Tidak diketahui secara pasti latar belakang perubahan nama tersebut.
Setelah sekian lama berdiri dan seiring semakin tuanya kondisi fisik masjid serta pertambahan jamaah masjid sehingga bangunan masjid tidak lagi mampu menampung jamaah sholat jumat, maka pada tahun 1970-an dilaksanakan renovasi oleh panitia masjid. Nama-nama panitia masjid saat itu antara lain: H. Asnawi, H. Syahdan, H. Husin, H. Tarman, Sar,ie. Renovasi dilakukan dengan memperluas bangunan induk dengan mengganti dinding dengan kayu ulin, serta memperluas ruang mikrab dengan bangunan beton. Meski ruang mikrab diperluas, model kubahnya tetap seperti semula yakni kubah model bawang dengan pataka.
Sehubungan atap masjid banyak yang telah bocor, maka pada tahun 2009 dilakukan lagi renovasi dengan mengganti atap sirap dengan atap metal zincalum/roof. Pada saat penggantian inilah, beberapa hiasan ujung talang atap masjid (simbar, cabang) yang ada pada ketiga tingkatan atap masjid, dilepas atau tidak dikembalikan ke posisi semula.
Hiasan sejenis jamang (rumbai pilis, buntut hayam) pada Masjid Assu’ada Waringin yang lazim di sebut simbar, dapat dilihat pada atap Masjid Su,ada di desa Wasah Hilir Kabupaten Hulu Sungai Selatan, pada Masjid Syekh Abdul Hamid Abulung Sungai Batang, Martapura, Kabupaten Banjar, dan pada Masjid Quba di Amawang Kanan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (kini sudah tidak ada lagi, dan hanya dapat dilihat pada foto masjid sebelum mengalami renovasi).
Pada tahun 2010, kembali dilakukan pemugaran dengan mengganti bahan kayu sintok pada kubah bangunan induk menjadi kayu balangiran, serta membeton bangunan mikrab dan mengganti kubah migrab dengan bahan baru, meski bentuk kubahnya masih dipertahankan.
Bulan April 2012, masjid ini kembali direnovasi dengan cara meninggikan lantai masjid, namun ubin tua tetap dipertahan. Peninggian lantai dilakukan karena sebelumnya telah pernah terjadi banjir pasang yang nyaris menenggelamkan lantai masjid. Biaya meninggikan lantai masjid ini ditanggung sepenuhnya oleh warga keturunan Banjar asal Johor Malaysia, yang orang tuanya dahulu berasal dari desa Waringin.
Keaslian yang dapat dilihat pada masjid ini selain konstruksi atap tumpang yang masih dipertahankan adalah adanya hiasan puncak kubah bangunan induk yang disebut pataka (mustaka, memolo) dengan beberapa hiasan ujung talang masjid (simbar, cabang). Selain itu tiang utama atau soko guru, mimbar, ubin, beduk, dan 2 buah daun pintu dengan ukiran hiasan bermotif tumbuhan dan kaligrafi di sisi utara dan selatan juga masih dipertahankan. Dahulunya daun pintu itu ada 3 yakni satunya lagi ada di dinding masjid sebelah timur. Inskripsi berupa kaligrafi pada pintu masjid itu berbunyi: abubakar umar wallahu khalakakum wama ta’ maluna lailahaillalahu muhammadarrasulullahu usman ali.
Hingga sekarang, masjid ini tetap dikunjungi penziarah dari berbagai daerah. Pengunjung yang berziarah selain untuk memenuhi nazar, juga tertarik dengan kekunoan masjid ini. Saat berkunjung mereka biasa meletakkan untaian kembang di mimbar masjid. Sebagian pengunjung beranggapan bahwa atap masjid yang mempunyai tingkatan mempunyai makna: (a) Empat sahabat utama Rasul, yaitu Abubakar, Umar, Usman dan Ali; (b) empat mazhab besar dalam Islam yaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali; (c). Empat tingkat menuju kesempurnaan keyakinan dalam Islam yaitu Syariat, Tharikat, Hakikat dan Ma’rifat
-http://aladamyarrantawie.blogspot.com/
Manaqib Syaikh Muhammad Indra bin Abdullah Al-Anjiri Kapuas Timur
Adapun Waliyullah Maulana Syaikh Muhammad Indra bin Abdullah itu beliau berasal dari Hulu Sungai Utara, Sungai Banar, tepatnya di Sungai Baru. Lahir pada tahun 1905. Bapaknya bernama Abdullah dan ibunya bernama Jahra yang digelari Nyai Ilum. Yang berasal dari Amuntai dan sebelah dari Martapura Kabupaten Banjar.
Adapun usaha beliau selagi mudanya adalah bertani dan bertukang jam. Untuk cari nafkah. Sebelum ia menjalani jalan thariqah. Beliau ini pernah memiliki bermacam-macam thariqah. Thariqah yang diajarkannya adalah thariqah syadzaliyah, dan menuntut ilmu agama di Amuntai dengan Syaikh Maulana Ahmad bin Abdul Qadir selama 29 tahun.
Kemudian lalu berhijrah ke Anjir yaitu sekitar tahun 1940 lalu meneruskan ilmunya dengan Mufti Syaikh Jamaludin Al Banjari di Banjarmasin. Selain dari itu masih banyak guru-guru beliau yang tidak disebutkan di risalah ini.
Beliau itu adalah memiliki tiga orang istri. Istri yang pertama berasal dari Marabahan bernama Khamsah binti Dullah dan selama 54 tahun berkumpul ia memperoleh anak sebanyak 13 orang. Wafat pada tanggal 22 Ramadan 1422 H.
Adapun istri yang kedua berasal dari Hambuku dan Sungai Banar yaitu bernama Arbayah bin Abdul Latif wafat pada tanggal 15 Muharram 1328 H mereka memperoleh 4 orang anak.
Adapun istri yang ketiga bernama Siti Khadijah binti H. Umar yang berasal dari Hulu Sungai Selatan di Pantai Hambawang. Wafat pada tanggal 13 Jumadil Akhir 1424 H. Dan memperoleh anak sebanyak 7 orang. Jadi jumlah anak beliau semuanya 27 orang.
Tidak lama kemudian beliau diminta oleh masyarakat untuk membuka majelis ta’lim, karena majelis ta’lim itu sangat perlu bagi kehidupan umat beragama dan keselamatan di dunia dan akhirat bahkan hukumnya fardhu ‘ain. Akhirnya lama kelamaan tersebarlah di mana-mana sehingga siang dan malam orang-orang pada berdatangan.
Pada waktu itu yang diajarkannya adalah ilmu zhahir atau ilmu syari’at. Beberapa tahun kemudian menurut riwayat ada perintah Allah yang didengar beliau dengan jelas yaitu diantara tidur dan jaga ada suara yang mengatakan sampaikan sampaikan beberapa kali.
Tak lama kemudian ada lagi suara seperti itu juga lalu beliau berpikir apakah yang aku sampaikan sedangkan aku sudah sampaikan. Namun akhirnya beliau teringat bahwa aku sedang menyembunyikan ilmu batin, yakni ilmu rahasia dan ilmu thariqah. Akhirnya sedikit demi sedikit ia mengajarkan ilmu tersebut kepada masyarakat yang bisa menerimanya.
Kalau kita ingin tahu kenapa beliau itu mempunyai tiga orang istri atau yang disebut sekarang poligami. Karena sebab istri pertama itu merasa tidak mampu memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Maklum karena mereka banyak mempunyai anak yang harus dipelihara. Akhirnya tidak bisa untuk melayani tamu yang berdatangan dari sana-sini, mengurusi rumah tangga, menyapu, mencuci pakaian, mencuci piring cangkir, memasak, dan sebagainya. Lalu mereka merasa berdosa kemudian mengawinkannya. Begitulah seterusnya sehingga sampai tiga orang istri.
Karena menurut dalam ajaran agama kita dibolehkan berpoligami asalkan berbuat adil dan mampu nafkah zhahir dan nafkah batin. Dan mendapat izin dari istri yang tertua.
Adapun Syaikh Muhammad Indra itu walaupun mempunyai tiga orang istri namun beliau mampu berbuat adil. Adil dalam nafkah zhahir maupun dalam nafkah batin tiada pernah berat sebelah. Misalnya apabila ia tidur dua alam di tempat istri kedua, dan dua malam lagi di tempat istri ketiga. Begitulah seterusnya. Dan apabila ia sakit tiada bisa berjalan untuk menuju rumah tersebut, maka ia meminta izin kepadanya. Begitu juga tentang pembagian harta.
Apabila ia memperoleh harta, misalnya uang, maka diberikannya kepada istrinya dengan bagian yang sama sehingga hal ini terjadi terus menerus sampai wafat.
Adapun budi pekertinya sangat mulia. Beliau adat dan berbakti kepada orang tua, ramah tambah, pengasih penyayang kepada siapa pun dan suka menghormati tamu. Antara lain apabila ada tamu, lebih-lebih pada waktu pengajian beliau tiada mengubah silanya sampai selesai atau sampai tamu itu pulang dan tiada pernah mengkhianati janji. Apabila ia berjanji selalu tepat bahkan siap sebelum sampai waktunya.
Kemudian beliau itu suka membantu orang dalam kesusahan apakah itu kesusahan dunia atau kesusahan akhirat. Kesusahan dunia seperti orang yang sakit, yang ditimpa musibah. Adapun kesusahan akhirat seperti orang yang butuh ilmu pengetahuan agama, ingin belajar fiqh, tauhid, tasawuf, hadis, nahwu, saraf dan lain-lain.
Dan apabila ada keluarga atau tetangga yang meninggal dunia beliau segera datang tanpa diundang dan tiada membedakan kepada siapa pun, kaya atau miskin. Beliau sangat memperhatikan keluarga. Dan suka menghubungkan tali silaturahim.
Beliau pernah berwasiat, wahai anakku atau murid jangan engkau putuskan tali silaturahmi. Dan jangan dibiarkan mereka mendapat kesusahan. Hendaknya saling tolong-menolong, sehingga rukun dan damai.Selain daripada itu suka juga membantu, memberikan sumbangan kepada anak-anak yatim piatu, rumah-rumah ibadah, masjid, langgar, rumah sekolah, jalanan, jamban, bahkan beliau selalu baik daripada orang lain.
Adapun Syaikh Muhammad Indra bin Abdullah itu, menurut dalam sepengetahuan kami, beliau itu adalah orang yang benar-benar ahli, tekun beribadah dan disiplin waktu. Apabila sampai waktu salat maka setengah jam. Atau paling lambat lima belas menit sebelumnya beliau sudah siap ditempat sujudnya. Sehingga tak pernah melalaikan waktu, walau bagaimanapun sibuknya semuanya akan ditinggalkan demi untuk menegakkan perintah Allah.
Dan beliau itu suka melazimkan salat sunah seperti salat rawatib, salat isyroq, dhuha, salat tahajud, dan amalan-amalan lainnya. Apabila selesai salat Maghrib beliau tidak akan berangkat dari tempat sujudnya sehingga sampai waktu Isya.
Dan apabila jam empat subuh, beliau sudah berada ditempat sujudnya, berzikir menyebut kalimat La Ilaha Illallah. Sehingga sampai waktu Subuh. Dan hampir setiap malam beliau selalu menangis pada waktu berzikir. Pernah ditanya oleh anak-anak dan istrinya. Mengapa sampeyan apabila berzikir selalu menangis? Beliau menjawab, Aku sangat takut kepada Tuhanku.
Demikian ini sesuai dengan apa yang ia lakukan di dalam kehidupannya sehari-hari. Yakni beliau tak pernah melakukan pekerjaan yang tiada disukai oleh Allah. Sehingga yang makruh pun ia tinggalkan apalagi yang diharamkan. Beliau menangis apabila mendengar suara musik-musik seperti seruni, seruling, orkes dan sebagainya. Dan beliau tidak tak pernah memakai celana walaupun pergi ke mana saja.
Selain daripada itu beliau suka salat berjama’ah, membimbing anak dan istri dirumah terutama anaknya yang perempuan dan menyuruh anak-anak yang laki-laki pergi ke Mushalla (langgar) untuk salat berjama’ah, bahkan beliau pernah membangunkan langgar yang bernama Darul Falah.
Dan apabila ia salat sendirian, maka sangat lambat. Kemudian apabila ia pergi ke masjid pasti setengah jam sebelumnya sudah berada di masjid. Hal ini iterjadi hampir selama hidupnya. Dan apabila pulang dari masjid maka pulangnya selalu terakhir daripada orang-orang lain.
Syaikh Muhammad Indra itu adalah seseorang yang benar-benar beriman dan bertakwa, menjalankan perintah dan meninggalkan segala yang dilarang. Menurut Syaikh Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Ad-Dural Munsyarah menerangkan yang artinya:
Hal yang mesti bagi wali untuk dapat disebut wali yang sebenarnya adanya sikap dan perbuatan melepaskan hak-hak Allah dan hak-hak hambanya secara maksimal dan menunaikan serta melaksanakan semua yang diperintahkan kepadanya. Sebagai ciri-ciri Waliyullah antara lain adalah ma’shum, mahfuz, suluk dan ma’rifah.
Syaikh Abul Qasim di dalam risalah Al Qusairiyah halaman 128 mengatakan yang artinya:
Salah satu syarat Waliyullah adalah wajib Mahfud (yakni terjaga dari kema’siatan) seperti halnya kenabian, maka wajib baginya ma’shum (tiada pernah berbuat maksiat).
Sebagaimana dikatakan oleh Maulana Syaikh Ibrahim “ yang artinya:
Waliyullah ialah orang yang dekat kepada Allah lantaran penuh ketaatan dan oleh itu Allah memberikan kuasa kepadanya dengan karomah dan penjagaan, atau wali itu adalah orang yang semua tindakannya dan perbuatannya selalu sesuai dengan sifat yang mulia.
Dan dengan sangat kuatnya beribadah dan sangat cintanya kepada Allah melebihi cintanya pada dirinya sendiri, maka justru Allah memberikan karomah mulai dari hidupnya terus sampai waktunya, sehingga makamnya ramai dikunjungi atau diziarahi oleh orang-orang.
Diantara karomah beliau selagi hidupnya, pada waktu beliau menjalani jalan thariqah beliau sedang khalwat. Maka pernah dilihat oleh orang rumah beliau satu cahaya terang benderang sehingga menembus di celah-celah dinding rumah, sedangkan pada waktu itu hari sesudah tengah malam. Dan pada masa itu belum ada lampu listrik seperti sekarang ini. Demikianlah diantara beberapa karomah yang dapat kami sampaikan di dalam manaqib ini.
Di dalam risalah beliau, beliau mengatakan antara hamba dengan Allah ada mempunyai tujuh puluh ribu hijab, hanya yang dapat membukakan hijab itu tiada ada lain kecuali zikrullah yaitu kalimat La ilaha illallah. Maka oleh sebab itu kata beliau hendaknya selalu diamalkan terus menerus sehingga benar-benar menjadi darah daging yaitu meresap ke seluruh bagian tubuh dari bulu, aurat, daging, tulang, sumsum, sebagaimana Rasululllah telah bersabda yang artinya:
Barangsiapa membaca La ilaha illallah maka dibukakan baginya beberapa pintu langit sehingga tampaklah nur Arsy sehingga tiada ada lagi baginya hijab.
Menurut pendapat ahli thariqah bahwasanya zikir La ilaha illallah tentu diamalkan secara terus menerus berkesinambungan dari hidup sampai akhir hayat dan dengan mengambil thariqah. Mengambil bi’ah kepada guru yang Mursyid yang mempunyai silsilah Ayn benar. Bukan zikir Hasanah tetapi zikir darojah yang mempunyai aturan-aturan atau adab-adab yang sangat banyak. Tentu dibukakan hijab oleh Allah. Jika dibukakan oleh Allah maka ma’rifah Lay orang itu kepada Allah dengan sebenar-benarnya ma’rifah. Adapun tanda-tanda orang ma’rifah adalah orang itu selalu banyak menyebut zikrullah, La ilaha illallah adalah amalan utamanya, amalan kesenangannya sehingga terbuktilah. Pada ketika akhir hayatnya beliau menyebut kalimat La ilaha illallah. Dengan nyaringnya sehingga terdengar ke seluruh isi rumah, bahkan terdengar kesebuah rumah mengingat hal tersebut diatas kita sangat yakin sekali apa yang dikatakan oleh Rasulullah SAW di dalam satu hadis-nya yang artinya:
Mati seseorang tentu membawa kemahiran hidupnya.
Maka apabila akhir hayatnya dapat mengingat La ilaha illallah maka wajib baginya surga. Sebagaimana Rasulullah bersabda yang artinya:
Barangsiapa akhir kalimatnya dapat membaca La ilaha illallah maka tempatnya di dalam surga.
Kemudian daripada itu beliau tak pernah berkata-kata dengan perkataan yang tidak berguna yakni pura-pura atau humor dan bila ia membaca kitab, dan memberikan ceramahnya tak pernah ia membuat orang jadi tertawa-tawa. Dan membuat orang jadi bingung, apa yang disampaikan selalu jelas dan terang sehingga dapat dipahami dan dihayati serta diamalkan.
Kemudian pula beliau tak pernah menzhahirkan akan ilmu rahasianya, yakni ilmu batinnya. Jika tidak sesuai dengan tingkatan atau kedudukan murid-muridnya yang hadir mendengarnya. Sehingga pernah diantara muridnya mengatakan bahwa beliau tiada sampai kepada Allah yakni tingkatan yang jauh dibawah. Dan tiada benar-benar ma’rifat betul kepada Allah.
Oleh: Al-Ustadz Muhammad Jamhur bin Syeikh Muhammad Indra Al Anjiri
Ditulis ulang Aby Husein al Adamy dan Habib Ahmad bin Faqih Basyaiban
Kamis, 19 Oktober 2017
Manakib Tuan Guru KH.Hasan Ahmad
Pimpinan Pondok Pesantren Darussalam Periode Kedua (Tahun 1919 s/d 1922)
Pada periode kedua ini pimpinan Madrasah Islam Darussalam berganti dan dipercayakan kepada K.H. Hasan Ahmad yang mana beliau dibantu oleh K.H. Basyuni dan beberapa Ulama dan guru-guru lainnya, pendidikan berjalan lancar dan tumbuh berkembang dengan pesat, system pendidikan pun masih berlaku secara halaqoh.
K.H. hasan Ahmad memimpin madrasah dengan penuh ketekunan untuk membantu kewajiban orang tua / wali murid untuk memberi pelajaran masalah Fardhu Ain meliputi Tauhid, Fiqih, Akhlaq, dan ilmu-ilmu agama lainnya yang juga diajarkan di Madrasah Islam Darussalam.
Sebelum K.H. Hasan Ahmad meninggal dunia, beliau berwasiat untuk menunjuk K.H. Kasyful Anwar yang telah kembali ke Martapura setelah lama bermukim / mengaji di Makkatul Mukarromah sebagai pimpinan Madrasah Islam Darussalam, selanjutnya yang mana K.H. Kasyful Anwar initerkenal telah banyak memiliki / mengaji ilmu-ilmu agama Islam sampai seluk-beluknya yang banyak beliau peroleh semasa beliau di Mekkah.
Semoga Allah selalu mencurahkan rahmat Nya untuk beliau dan seluruh keturunannya...wa ila hadratin nabi Alfatihah...
Posting oleh :Pondok Pesantren Darussalam
ditulis ulang oleh:Yuliansyah Riffa'i
foto oleh : Habib Ahmad bin Faqih Basyaiban
makam beliau terletak di komplek pemakaman Karangan Putih Martapura Kalimantan Selatan
http://darussalam-martapura.blogspot.com/2010/03
http://aladamyarrantawie.blogspot.com/
http://www.facebook.com/Kisah.Para.DatudanUlama.Kalimantan
Jumat, 25 Agustus 2017
Bahayanya Penyakit Hati Takabur Dan Sombong
Majelis Ilmu Mesjid Jami sei Jingah Banjarmasin
Kitab Hidayatul Salikin syekh Abdusamad palembani.
Berkata Al allimul Al allamah Abah Haji Guru zuhdi.....
Pasal yang ke 8 dari penyakit hati yaitu Takabur(membesarkan diri).
Orang yang merasa dirinya punya kelebihan dan kebaikan maka akan membesarkan diri kerena merasa punya kelebihan dan kebaikan. Perasaan ini lah yang membuat nakal yaitu sebuah rasa yang disebut Ujub.
Sumber sombong merasa diri kita punya kisah yaitu kisah punya lebih .
Kaya merasa kaya. Alim merasa diri nya Alim. Merasa punya cerita yang di bangga banggakan.
Padahal dari ujung rambut sampai ujung kaki adalah sebuah cerita yg menunjuk kepada cerita Allah,kisah Allah.
Kita bergerak maka gerakan ini menunjuk kpd Allah bukan kepada diri kita,menunjukan kebaikan Allah bukan kepada diri kita.Bacaan fasih tidak ada menunjuk kepada diri kita tapi kepada Allah.
Siapa yang baik adalah Allah bukan kita. Karena klo bukan Allah yang menjadikan tidak mungkin kita bisa membaca dengan fasih. Yang tampak jelas kebaikan Allah bukan kita,semua cerita menunjuk kepada Allah.
Tapi kita tidak mengetahui kerena tidak belajar dan seandainya belajar pun masih belum memahami nya sehingga mengaku ngaku aku yang mulia,aku yang alim.
Sehingga saat ada merasa (merasa mulia,alim), lalu meminta minta yaitu minta muliakan dan pujian.Bukti meminta minta kerena saat di hina tersinggung. Dan meminta pujian kerena dirinya merasa punya kelebihan.
Orang orang Soleh selalu memuji bukan meminta pujian,orang orang Soleh membesarkan Allah bukan meminta besarkan karena mereka mengenal akan Allah.
Orang yang merasa diri nya punya kelebihan akan selalu mencari cari pujian.
Memperlihatkan kelebihan kerena merasa itu cerita akan diri nya sehingga mencari cari pujian.
Saat merasa kaya,merasa alim dan meminta pujian maka menghina orang lain. Maka timbulah sombong.
Orang kaya yang sombong akan membenci orang miskin kerena meanggap kaya itu mulia dan miskin itu hina sehingga tidak mau duduk dan berkumpul dengan orang miskin .
Sombong membuat kita salah terus.
Penyebab sombong seperti kaya (sugih),padahal kaya ini menunjukan kepada kaya nya Allah bukan kepada diri kita.
Orang makrifat semakin kaya semakin dekat dengan Allah kerena orang makrifat merasa melihat akan kisah nya Allah sangat dekat melalui kekeyaan ini.
Kita kira orang kaya itu orang yang banyak harta padahal orang kaya org yang pandai bersyukur. Apabila selalu merasa cukup maka itulah kaya. Dan orang yang selalu merasa kekurangan itu lah miskin.
Rasa cukup itu yang di cari. Saat di kasih Allah rejeki sedikit jangan cemberut kepada Allah kerena pertanda kita tidak terima dengan nikmat Allah.Selalu merasa cukup apa yang di kasih Allah dengan di cukup cukup kan.
Kita terbiasa nyaman sehingga saat kenyamanan itu berkurang kita marah.
Hidup santai aja,selalu bersyukur kepada Allah.
Selalu lah kita mendoakan Rasulallah karena mendoakan orang tua di wajib kan apalagi mendoakan Rasulallah. Bahkan dalam sholat tidak sah sholat kita apabila tidak bersholawat kepada Rasulallah. Sholawat dan doa kita masih belum bisa membalas tingginya pangkat kemuliaan Rasulallah dan masih belum membalas pangkat kita sebagai umat Rasulallah. Apabila di adakan maulid di suatu kampung maka akan aman kampung atau tempat itu.
Kehebatan Rasulallah,saat zaman Nabi Adam sudah tahu Nabi Adam kehebatan Rasulallah saat nama Rasulallah ada di semua pintu surga berdampingan dengan nama Allah.
Niat kita dalam bermaulid adalah hanya ingin memuji tidak ingin di puji. Hanya ingin membesarkan tidsk ingin di besarkan,mehilangkan dalam hati sifat ingin di puji dan di besarkan. Dan niat yang kedua agar mendapatkan keberkahan serta syafaat dari Rasulallah.
Kibir membesar kan diri di cela oleh agama.Tempat orang sombong adalah neraka. Supaya jangan sombong maka jangan merasa punya kelebihan.Bukti kan kita tidak punya kelebihan dengan selalu memandang kelebihan orang. Buktikan kita selalu memandang kelebihan orang dengan kita Puji dan sanjung orang itu terutama Allah,Rasulallah,orang Soleh dan Wali wali Allah.
Siang malam kita harus memuji Rasulallah ,apalagi kita belajar alam ini di jadikan Allah dari Nur Rasulallah dan penampakan alam ini sama penampakan Rasulallah. Rasulallah sudah tampak dan zohir sehinga kita Puji dan sanjung Rasulallah. Silahkan memuji Rasulallah dengan bahasa Indonesia.
Kita selalu memuji Rasulallah agar kita tidak meminta minta pujian lagi.
Tidak beriman seseorang dengan iman yang sempurna kecuali Allah dan Rasulallah lebih di cintai.
Puji dan sanjung lah Allah,puji dan sanjung lah Rasulallah.
Allah adalah Tuhan dan Rasulallah adalah utusan nya.
Orang yang membaca maulid,orang yg memuji Rasulallah tidak akan menuhankan Rasulallah.
Memuji Allah,Rasulallah,orang Soleh dan para wali membersihakan hati.
Silahkan di save dan dishare apabila bermanfaat.
Minta Halal Minta Rela .
Ampun maaf ulun puun.
Sumber : Pencita Waliyullah
Selasa, 22 Agustus 2017
Manaqib Datu Nuraya
Tak banyak memang masyarakat yang mengenal Datu Nuraya yang mempunyai nama Syekh abdul Mu'in (sebagian riwayat menyebutkan nama beliau yang sebenarnya adalah Syekh Abdul jabbar) tetapi legenda tentang Datu Nuraya masih tersimpan dengan rapi dalam cerita masyarakat sehari hari khususnya didaerah Tatakan Rantau Kabupaten Tapin.
Siapa sebenarnya Datu Nuraya dan apakah semasa hidupnya dia memang memiliki tubuh yang besar bagai raksasa hingga makamnya mencapai 50 meter lebih ?...itulah misterinya,namun dari cerita cerita yang berkembang disana disebut sebut Datu Nuraya memang memiliki tubuh yang teramat besar,ihwal legenda ini seperti pd kisah terdahulu tentang DATU SUBAN, beliau adalah seorang guru dari sekalian Datu Datu yang ada di Rantau,seorang guru yang miskin harta tapi sangat dalam dan tinggi ilmu tasawufnya serta dikenal sebagai orang yg kasyaf,tinggalnya di munggu tayuh tiwadak gumpa tatakan dekat liang macan.
Pada saat lebaran atau hari raya Datu suban yang pada saat itu bersama para muridnya ketika mereka sedang asyik asyiknya menikmati makanan yang disediakan oleh tuan rumah,tiba tiba datang seorang yang bertubuh sanagat besar,serta merta mereka terkejut dan segera mengambil tombak dan parang untuk menghadang orang besar tsb.
"assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.."kata orang besar tsb
"waalaykum salam warahmatullahi wabarakatuh"jawab para datu
lalu Datu suban menerangkan kepada para datu yang hadir bahwa orang yang datang sambi memberi salam Insya Allah akan berniat baik.
"Maaf siapa saudara yang datang dan dari mana asal saudara serta apa maksud saudara?"tanya Datu Suban,anehnya siraksasa tersebutmenjawab dengan zikir La Ilaaha Illallah,dan zikir tersebut diulang tiap kali Datu suban bertanya sampai 7 kali,kemudian orang tersebut ambruk ketanah,lalu para Datu menghampiri orang itu dan memeriksanya,ternyata orang tsb sudah meninggal dunia,maka serempak para datu mengucapkan innaa lillahi wainna ilahi rajiuun'
Melihat keadaan tersebut para datu tadi bingung bagaimana memandikannya dan menguburkannya,untuk mengangkat saja jadi masalah,apalagi pada waktu itu kemarau panjang,biasanya tanah sangat keras sedangkan lubang untuk kuburan harus dibuat sangat panjang dan lebar,dan untuk memandikannya diperlukan air yang sangat banyak,konon pada saat para datu kebingungan tiba tiba hujan lebat turun dengan derasnya dan ketika mereka mengangkat tubuh tersebut sangatlah ringannya seperti sehelai kapas,serentak para datu berseru "subhanallah" sebelum para datu mewaradunya (membersihkan) mayat itu,datu suban menemukan sebuah selepang (tas) dari dalam pakaiannya,setelah dibuka ternyata didalamnya terdapat sebuah kitab yg sangat terkenal kini dengan nama kitab barencong,para datu berbagi tugas ada yg memandikannya,ada yg mencari batu gunung untuk nisan dan ada yg membikin lubang untuk kuburan tsb,konon lubang yg digali tidak mencukupi untuk mengubur terpaksa orang tsb dilipat hamzah kakinya.
Tepat 7 hari maarwahi orang besar tsb maka berkumpullah semua datu dirumah Datu Taming Karsa disimpang tiga tandui baruh hariyung yang dinamakan Pamatang Gintungan Misan Batu ,disanalah Datu suban mulai membuka kitab peninggalan yg didapat dari orang besar tsb dengan mengucap bismillahir rahmanir rahim lalu dibuka kitab tsb oleh datu Suban lembar demi lembar hingga selesai,ternyata isi kitab tsb mengandung bermacam macam ilmu baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat,konon setelah kitab tersebut turun kepada Datu Sanggul kemudian diturunkan lagi kepada saudara angkatnya yaitu Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan disimpan keturunan beliau hingga saat ini.
Atas saran dari Datu Labai Duliman yang ahli falakiah orang besar tsb dinamakan NURAYA,karena orang tersebut datang pada hari raya dan sesuai dengan badannya yg besar dan tinggi seperti RAYA,datu Nuraya bersal dari dua kata NUR dan RAYA ...NUR dalam bahasa arabnya cahaya,sedangkan RAYA artinya luas jadi NURAYA artinya pembawa cahaya dan sinar serta lmu yg luas seperti Raya,sampai sekarang makam dari Datu Nuraya ramai diziarahi orang karena keanehan dan kekeramatannyadan merupakan makam terpanjang didunia letaknya didaerah Tatakan Rantau Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan.
Sumber:- Manakib Datu Suban
- Manakib Datu Sanggul
- Riwayat Datu Datu Kalimantan Selatan
- Halaman Facebook Kisah Para Datu dan Ulama Kalimantan
Senin, 21 Agustus 2017
Menaqib Datu Suban Sekalian Datu Muning
Datu suban sering disebut juga datu sya'iban ibnu zakaria zulkifli dgn ibunda bernama maisyarah,beliau hidup dikampung muning tatakan kabupaten tapin rantau kalimantan selatan,beliau semasa hidupnya mempunyai martabat tinggi dan mulia,peramah dan paling disegani yg patut diteladani oleh kita sebagai penerus dan pewaris yg hidup diabad modern ini.
Datu suban adalah guru dari semua datu orang muning,selain ahli ilmu tasawuf,datu suban juga ahli ilmu taguh (kebal),ilmu kabariat,ilmu dapat berjalan diatas air,ilmu maalih rupa,ilmu pandangan jauh,ilmu pengobatan,ilmu kecantikan,ilmu falakiah,ilmu tauhid dan ilmu firasat,dgn ilmu yang dimilikinya banyaklah org yg menuntut ilmu kepada beliau an yg paling terkenal ada 13 orang..
1.Datu Murkat
2.Datu Taming Karsa
3.Datu Niang thalib
4.Datu Karipis
5.Datu Ganun
6.Datu Argih
7.Datu ungku
8.Datu Labai Duliman
9.Datu Harun
10.Datu Arsanaya
11.Datu Rangga
12.Datu Galuh Diang Bulan
13.Datu Sanggul
Diantara ilmu ilmu yg selalu diajarkan dlm setiap kesempatan beliau selau mengajarkan ilmu mengenal diri (ilmu ma'rifat) dgn tarekat memusyahadahkan Nur Muhammad,hal ini tdklah mengherankan karena sebelum datu suban mengajarkan ajaran makrifat melalui tarekat Nur Muhammad ini,seorang ulama banjar yaitu syekh Ahmad Syamsuddin Al-Banjari telah menulis asal kejadian Nur Muhammad itu,yg naskahnya ditemukan oleh seorang orientalis bangsa Belanda R.O.Winested.
Datu suban dikenal sebagai wali Allah beliau memiliki karamah kasyaf yaitu terbukanya tabir rahasia bagi beliau sehingga dapat mengetahui sampai dimana kemampuan murid muridnya dlm menerima ilmu ilmu yg diberikannya,seperti akan menyerahkan kitab pusaka yg kemudian hari dinamakan kitab barencong,kitab tsb beliau serahkan kepada Datu Sanggul (abdussamad),murid terakhir yg belajar kepada beliau,menurut pandangan kasyaf beliau hanya abdussamad lah yg dapat menerima,mengamalkan dan mengajarkannya,karamah beliau yg lain beliau mengetahui ketika akan tiba ajalnya,ketika dari mata beliau keluar sebuah sosok yg rupanya sangat bagus,bercahaya dan berpakaian hijau,ini berarti tujuh hari lagi beliau akan berpindah alam,empat hari kemudian dari tubuh datu suban keluar lagi cahaya berwarna putih amat cemerlang,besarnya sama dgn tubuh beliau dan berbau harum semerbak,ini berarti tiga hari lagi beliau akan meninggalkan dunia fana ini,oleh karena itu beliau segera mengumpulkan semua murid muridnya,setelah semua muridnya berkumpul beliau berkata, "Murid murid yg aku cintai,kalian jangan terkejut dengan panggilan mendadak ini,karena pertemuan kita hanya hari ini saja lagi,nanti malam sekitar jam satu tengah malam aku akan meninggalkan dunia yg fana ini,hal ini sudah tidak bisa ditunda tunda lagi,karena ketentuan ALLAH telah berlaku"
Kemudian beliau membacakan firman ALLAH surat An-Nahal ayat 61 yang berbunyi: "Apabila sudah tiba waktu yang ditentukan maka tidak seorang pun yang dapat mengundurkannya dan juga tidak ada yang dapat mendahulukannya."
mendengar ucapan beliau itu semua yg hadir diam membisu seribu bahasa.
"Nah,waktuku hampir tiba"kata Datu suban memecah kesunyian itu.
"Mari kita berzikir bersama sama untuk mengantarkan kepergianku"kata Datu Suban lagi.
Semua murid dipimpin oleh beliau serentak mengucapkan zikir "Hu Allah...Hu Allah...Hu Allah..."
"Perhatikanlah ..apabila aku turun kurang lebih 40 hasta sampai pada batu berwarna merah sebelah dan hitam sebelah,aku berdiri disana nanti,maka pandanglah aku dengan sebenar benarnya,yang ada ini atau yang tiada nanti,lihatlah akau ada atau tiada,kalau ada masih diriku ini tidak menjadi tiada,berarti ilmu yang kuajarkan kepada kalian belum sejati,tetapi bila aku menjadi tiada berarti ilmu yangkuajarkan kepada kalian adalah ilmu sejati dan sempurna"
Setelah berkata demikian beliau diam,kemudian meletuslah badan Datu Suban dan timbul asap putih,hilang asap putih timbul cahaya (nur) yang memancar mancar sampai keatas ufuk yang tinggi,kemudian lenyap ditelan kemunculn cahaya rembulan.
Semua yang hadir takjub menyaksikan kejadian itu,kemudian terdengar gemuruh ucapan murid murid beliau...Inna lillahi wainna ilaihi raaji'uun.
sumber: - manakib Datu Suban dan para Datu
- cerita Datu-datu terkenal kalimantan selatan
- Halaman Facebook Kisah Para Datu dan Ulama Kalimantan
Senin, 14 Agustus 2017
Profil Ustadz Abdul Somad, Lc. MA
Profil Dan Biodata Ustadz Abdul Somad, Lc. MA Lengkap - Beberapa tahun terakhir, nama ustadz ini sering menjadi perbincangan para netizen dan pegiat media sosial tanah air. Kajian-kajiannya tajam dan menarik sehingga membuat banyak orang suka dengan tausiahnya. Bahkan pengajiannya pun juga banyak yang menjadi viral di media sosial. Kajian mengenai hari kemerdekaan Indonesia beberapa waktu yang lalu misalnya, begitu viral dan dishare oleh banyak orang. Namanya adalah Ustadz Abdul Somad, Lc. MA. Di tanah air, profil dan biodata Ustadz Abdul Somad, Lc. MA mungkin belum begitu populer.
Nama Ustadz Abdul Somad, Lc. MA mungkin belum setenar Ustadz Maulana, Ustadz Zacky Mirza atau ustadz lainnya yang begitu populer dan banyak mengisi tausiah di TV. Namun meski belum populer dan setenar pendahulunya, namun profil dan biodata Ustadz Abdul Somad mulai banyak dikenal di kalangan netizen. Ulasan yang cerdas dan lugas, ditambah lagi dengan keahlian dalam merangkai kata yang menjadi sebuah retorika dakwah, membuat ceramah Ustadz Abdul Somad begitu mudah dicerna dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan masyarakat. Banyak dari ceramah Ustadz Abdul Somad yang mengulas berbagai macam persoalan agama. Dan bahkan bukan itu saja, ceramah Ustadz Abdul Somad juga banyak yang membahas mengenai masalah-masalah kekinian, nasionalisme dan berbagai masalah yang sedang menjadi pembahasan hangat di kalangan masyarakat.
Demikian halnya selain di dunia nyata, ternyata di dunia maya pun nama Ustadz Abdul Somad ini juga mulai banyak dicari banyak orang. Banyak yang mencari informasi siapa sebenarnya profil dan biodata Ustadz Abdul Somad ini. Selain begitu banyak orang yang penasaran dengan nama Ustadz Abdul Somad, tak sedikit pula yang mencari berbagai kajian dan ceramah Ustadz Abdul Somad. Nah, maka dari itu, pada kesempatan kali ini kami akan berusaha menyajikan info mengenai profil dan biodata Ustadz Abdul Somad secara lengkap. Semoga saja info terkait biodata Ustadz Abdul Somad ini bisa menambah pengetahuan Anda mengenai beliau. Untuk lebih jelasnya mengenai profil dan biodata Ustadz Abdul Somad, bisa Anda perhatikan di bawah ini.
Profil Dan Biodata Ustadz Abdul Somad
Biodata Ustadz Abdul Somad
Nama Lengkap : H. Abdul Somad, Lc., MA.
Kelahiran : Rabu petang tanggal 30 Jamada al-Ula 1314 Hijrah
Bertepatan dengan 18 Mei 1977 M.
Pendidikan Ustadz Abdul Somad
SD al-Washliyah, tamat 1990
Mts Mu'allimin al-Washliyah Medan, tamat 1993
Madrasah Aliyah Nurul Falah, Air Molek, In-hu, tamat 1996
S1 Al-Azhar, Mesir.
S2 Dar Al-Hadits Al-Hassania Institute, Kerajaan Maroko
Pengabdian Ustadz Abdul Somad
- Dosen Bahasa Arab di Pusat Bahasa Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.
- Dosen Tafsir dan Hadits di Kelas Internasional Fakultas Ushuluddin UIN Suska Riau.
- Dosen Agama Islam di Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Azhar Yayasan Masmur Pekanbaru.
- Anggota MUI Provinsi Riau, Komisi Pengkajian dan Keorganisasian Periode : 2009 – 2014.
- Anggota Badan Amil Zakat Provinsi Riau, Komisi Pengembangan, Periode : 2009 – 2014.
- Sekretaris Lembaga Bahtsul Masa’il Nahdlatul Ulama Provinsi Riau, Periode : 2009 – 2014.
Karya Ilmiah Ustadz Abdul Somad
a. Thesis
رجال الموطأ والصحيحين الذين ضعفهم النسائي في كتاب الضعفاء والمتروكين: جمعا ودراسة
b. Terjemah (Arab – Indonesia)
- Perbuatan Maksiat Penyebab Kerusakan Rumah Tangga (Judul Asli: Al-Ma’ashi Tu’addi ila Al-Faqri wa Kharab Al-Buyut), Penulis: Majdi Fathi As-Sayyid. Diterbitkan oleh Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, Maret 2008.
- 55 Nasihat Perkawinan Untuk Perempuan, (Judul Asli : 55 Nashihat li al-banat qabla az-zawaj), Penulis: DR. Akram Thal’at, Dar at-Ta’if, Cairo. Diterbitkan oleh Penerbit Cendikia Sentra Muslim-Jakarta, April-2004.
- 101 Kisah Orang-Orang Yang Dikabulkan Doanya (Judul Asli: 101 Qishash wa Qishah li Alladzina Istajaba Allah Lahum Ad-Du’a’, Majdi Fathi As-Sayyid. Diterbitkan oleh Pustaka Azzam – Jakarta, Desember 2004.
- 30 Orang Dijamin Masuk Surga (Judul Asli: 30 al-mubasysyarun bi al-jannah), DR.Mustafa Murad, Dar al-Fajr li at-Turats,Cairo. Diterbitkan oleh Cendikia Sentra Muslim-Jakarta, Juli-2004.
- 15 Sebab Dicabutnya Berkah (Judul Asli: 15 sabab min asbab naz’ al-barakah), Penulis: Abu Al-Hamd Abdul Fadhil, Dar ar-Raudhah-Cairo. Diterbitkan oleh Cendikia Sentra Muslim-Jakarta, Agustus-2004.
- Indahnya Seks Setelah Menikah (Judul Asli : Syahr al-‘asal bi la khajal), DR. Aiman Al-Husaini, diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Progresif, Jakarta, September 2004.
- Beberapa Kekeliruan Memahami Pernikahan (Judul Asli: Akhta’ fi mafhum az-zawaj, Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd, diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Progresif- Jakarta, September 2004.
- Sejarah Agama Yahudi (Judul Asli: Tarikh ad-Diyanah al-Yahudiyyah), diterbitkan oleh Pustaka al-Kautsar, Jakarta, Desember 2009.
Nah teman-teman dan saudaraku semua, itulah profil lengkap Ustadz Abdul Somad yang sedang menjadi trending saat ini. Semoga saja beliau tetap dikaruniai kesehatan dan umur panjang agar bisa menjadi pembimbing bagi kita semua. Dan terkait profil dan biodata Ustadz Abdul Somad di atas, jika dirasa ada kekeliruan atau data yang kurang, kami mohon maaf sebesar-besarnya. Jika Anda memiliki informasi akurat terkait kekurangan data pada profil dan biodata Ustadz Abdul Somad, mohon bisa disampaikan kepada kami melalui kolom komentar. Oh iya, beliau juga ustadz yang mendukung tegaknya khilafah di Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari beberapa ceramah Ustadz Abdul Somad yang mendukung Khilafah. Selain itu, beliau kabarnya juga termasuk pendukung NU Garis Lurus yang dipelopori oleh Ustadz Idrus Ramli.
Sekian dulu dari kami, doakan agar kami selalu bisa mengupdate berbagai profil dan biodata Ustadz, Ulama atau Kyai untuk Anda semua. Atas masukan dan koreksinya kami ucapkan banyak terimakasih.
untuk mendengarkan ceramah dan tausiah beliau silahkan kunjungi dibawah ini :
Download Ceramah Cerdas Ustadz Abdul Somad Lc. MA
Sumber : https://profilbiodataustadz.blogspot.co.id/2016/09/profil-dan-biodata-ustadz-abdul-somad.html
Minggu, 06 Agustus 2017
Beruntung Kita Orang Banjar Memiliki Datu Kelampayan / Syekh Muhammad Arsyad
KENAPA GURU BELIAU BILANG, "INILAH ORANG NO 1 PALING ALIM DI ZAMAN INI
* Sedikit Kisah Abah Guru Sekumpul tentang Padatuan Sidin, Ulama Besar Kalimantan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan)
_________________
BERUNTUNG kita orang banjar dianugrahi dan memiliki ulama yang levelnya mendunia, beliau adalah Datu Kalampayan Maulana Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari bin Abdullah bin Abu Bakar bin Sultan Abdurrasyid Mindanao bin Abdullah bin Abu Bakar Al Hindi bin Ahmad Ash Sholaibiyyah bin Husein bin Abdullah bin Syaikh bin Alhabib Abdullah Al Aydrus Al Akbar (datuk seluruh keluarga Al Aydrus) dan seterusnya nasabnya bersambung ke Rasulullah SAW.
(Sumber: Kitab Sajaratul Arsyadiyah karangan Al'Alimul Alamah Syekh Abdurrahman Siddiq bin Syekh H.M.Afif Albanjari)
Diceritakan oleh Abah Guru Sekumpul bahwa salah satu guru dari banyak guru dari Datu Kalampayan adalah Syaikhul Islam Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al Kurdie ulama dari Mesir yang saat itu beliau adalah ulama nomor 1 dunia karena kealimannya.
Bahkan guru dari Datu Kalampayan di bidang tasawwuf As-Syaikh Samman Al-Madani juga murid dari Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al Kurdie. Jadi Datu kalampayan seperguruan dengan Syaikh Samman Almadani mengaji kepada Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al Kurdie.
Diceritakan suatu waktu Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al Kurdie datang ke Madinah dan beliau sempat mengadakan majlis di sana. Pernah di satu majelis ada seseorang yang menanyakan suatu masalah, mungkin karena belum mengetahui jawabannya maka Syaikh menanyakan kepada semua muridnya siapa yang bisa membantu menjawab masalah itu.
Semua murid beliau tidak ada yang bisa menjawabnya, tetapi tiba-tiba murid yang paling depan menyerahkan selembar kertas dan di situ tertulis jawabannya. Lalu Syaikh menanyakan apakah dia yang menulis itu, dijawab oleh si murid bahwa dia mendapat kertas itu dari temannya yang di belakang, kemudian temannya yang di belakang juga mengatakan yang sama, hingga ke murid yang paling belakang.
Maka akhirnya diketahuilah bahwa yang menulis jawaban di kertas itu adalah Muhammad Arsyad (Datu Kalampayan). Ternyata beliau menyembunyikan dirinya dengan menjawab menulis di kertas itu. Maka dipanggillah beliau maju ke hadapan gurunya.
Dan sang guru memuji kealiman Datu Kalampayan serta beliau berkata, "Inilah orang yang nomor 1 alimnya di zaman ini." (padahal Syaikh Muhammad Sulaiman Al Kurdie yang paling alim di zaman itu, tetapi Datu Kalampayan yang bisa menjawabnya, red).
Setelah lama menuntut ilmu di dua kota suci (Makkah & Madinah), Datu Kalampayan (Syaikh Muhammad Arsyad Al-Banjari) beserta 3 orang sahabatnya yaitu Syaikh Abdusshomad Al Palimbani (pengarang kitab yg kondanga di kalangan pesantren di Kalsel, Hidatus Salikin), Syaikh Abdurrahman Misrie Betawi, Syaikh Abdul Wahhab Bugis berniat meneruskan menuntut ilmu ke Mesir dan niat ini diutarakan kepada gurunya.
Mendengar hal itu Syaikh Muhammad bin Sulaiman Al Kurdie berkata, "Tiada ada di Mesir orang yang lebih ilmunya daripadaku dan ilmu kamu semuanya sudah cukup, kembalilah kamu ke Jawi (Indonesia) supaya kamu nyatakan (ajarkan) agama Muhammadiah (islam yang dibawa Nabi muhammad SAW) di sana." Maksud beliau bahwa tidak usahlah pergi ke mesir, karena menurut hemat beliau ilmu, kecerdasan dan kepandaian mereka sudah melebihi ulama'2 Mesir saat itu, tidak ada lagi guru'2 di mesir yang sanggup memberikan pelajaran kepada mereka. (karena yang paling alim saat itu saja adalah Syaikh Muhammad Sulaiman, kenapa menuntut ilmu kepada ulama di bawahnya. red)
Juga karena masyarakat sudah sangat menunggu dan mengharapkan bimbingan mereka. Maka dengan saran gurunya itu mereka memutuskan kembali ke Indonesia dan akhirnya menyebarkan, mengajarkan ilmu yang telah mereka dapat di sana.
Kealiman, ketinggian maqam kewalian, kesuksesan Datu Kalampayan terbukti dari berkembang pesatnya islam di Kalimantan dan Banjar khususnya, bukan saja bagi umat, bahkan bagi keluarga dan zuriatnya.
Ujar Abah Guru Sekumpul, dari anak, cucu hingga cicit Datu Kalampayan semuanya alim dan berpangkat wali, setelah gamit (turunan dibawah cicit) hanyar bapalih (baru sebagian saja yang wali) karena gamit tidak sempat bertemu dan belajar dengan Datu Kalampayan yang sudah wafat.
Begitu masyhurnya hingga kitab'2 karangan beliaupun tersebar dan diajarkan dibeberapa negeri (di antaranya Kitab Sabilal Muhtadin, Red). Teristimewa lagi rata-rata ulama penyebar islam dan yang berpangkat wali di kalimantan dulu dan kini adalah berasal dari dzuriat / garis keturunan Datu Kalampayan, di antaranya Abah Guru Sekumpul.
Mudah-mudahan kita mendapat faidah dan berkat dengan sebagian riwayat singkat kehidupan dan keistimewaan beliau. Aamiiin..
Rabu, 24 Mei 2017
Manaqib KH. Muhammad Tsani (Pendiri Pondok Pesantren Al Falah Banjarbaru )
Muhammad Tsani dilahirkan di Alabio, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, pada tahun 1918 M. ayahnya bernama H. Zuhri, dan saat ia dilahirkan ayahnya sedang merantau ke Negeri Perak, Malaysia.
Pada saat muda ia belajar di madrasah Ibtidaiyyah Sei Pandan, Alabio, kampung halamannya dan menamatkan pada tahun 1363 H. Setiap hari dihabiskannya untuk belajar ilmu pengetahuan agama islam dengan sistem salafiah di berbagai kampung di Kalimantan Selatan, kepada para ulama yang hidup di masa itu, yang waktu itu terdapat banyak ulama alumnus dari kota Mekkah dan alumnus Mesir. Di daerah Nagara ia sempat menimba ilmu kepada muallim KH. Ahmad Nagara.
Ia sangat rajin membaca kitab-kitab kuning, apalagi ia harus hijrah ke Banjarmasin, di mana seseorang harus banyak membaca dan belajar. Belajar mandiri atau otodidak itu teru menerus dikembangkannya hingga akhir hayatnya.
Sejak muda perjalanan hidupnya sarat dengan upaya perjuangan untuk memajukan perjuangan untuk memajukan dunia pendidikan di masyarakat. Ia banyak mengedepankan masalah fiqih dan tasauf berintikan keikhlasan manusia. Ia juga aktif sebagai muballigh atau sebagai guru agama di mesjid, langgar dan rumah-rumah. Di kota Banjarmasin ia sangat dikenal, khususnya di daerah pasar lama, di mana ia tinggal. Ia juga dikenal sebagai seorang pedagang, khususnya masyarakat alabio, ia dikenal sebagai tuan guru mereka. Faktor pedagang atau ekonomi inlah nantinya yang menjadi faktor utama yang dimafaatkan tuan guru KH. Muhammad Tsani dan kawan-kawannya dalam pendirian pondok pesantren.
Warga kawasan aAntasari Timur, Banjarmasin, di mana ia tinggal, biasa memanggilnya dengan sebutan guru Tani, namun dikalangan pondok pesantren al-falah mereka lebih suka memanggilnya dengan sebutan muallim Tsani, ia dikenal sebagai ulama yang sederhana dan ikhlas dalam berbuat dan bertindak.
Sudah menjadi kebiasaan dalam bulan Ramadhan ia selalu menjamu membukakan orang yang berpuasa di rumahnya. Dan setiap tahun ia menunaikan ibadah haji, yang biasanya ia membawa rombongan ke mekkah al-mukarramah. Tercatat dalam hidupnyaia telah melaksanakan rukun islam yang kelima, yaitu naik haji ke mekkah, sebanyak 22 kali, baik sendirian maupun bersama rombongan.
Dalam perjuangannya di dunia pendidikan ia juga ikut berpartisipasi aktif dan mempunyai andil besar pada pembangunan Pondok Pesantren Darul Ma’rif di Jakarta dan Ummul Qura di Cibodas yang diprakarsai oleh Dr. KH. Ideham Khalid, dengan mengirimkan kayu ulin ke jawa untuk keperluan pembangunan pondok pesantren. Setelah pembangunan selesai ia mendapat tawaran dari Dr. KH. Ideham Khalid untuk memimpin pondok pesantren tersebut. Namun tawaran itu ditolaknya dengan halus. Ia mengatakan bahwa masyarakat Kalimantan Selatan khususnya dan Kalimantan umumnya perlu mendapat perhatiannya. Ia sangat peka sekali dalam menganalisa nilai-nilai pendidikan di suatu daerah. Ia berpendapat bahwa masyarakat Kalimantan masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan daerah lain di Nusantara ini.
Kalimantan sangat jauh ketinggalan dalam segala bidang, khususnya dalam bidang pendidikan pondok pesantren. Inilah rupanya salah satu pemikiran yang menjadi cikal bakkal yang kemudian menjelma pondok pesantren al-falah putra . kemudian diperkembangan selanjutnya, sekitar tahun 1984 didirikan pula pondok pesantren al-falah putri yang berlokasi bersebelahandengan pondok pesantren putra.
Sosok tuan Guru KH. Muhammad Tsani adalah seorang ulama yang rendah hati, zuhud, ikhlas, qa’anah, syukur, tawakkal, ulet, pantang menyerah dan disegani orang. Ia dan para pendirinya bertekad untuk memajukan pendidikan, khususnya pendidikan pondok pesantren. Pondok pesantren menurutnya adalah satu-satunya cara terbaik mengantisipasi ekses-ekses negative bagi anak-anak. Dan dengan pendidikan pondok pesantren pengkaderan ulama islam lebih optimal dan efektif. Pondok pesantren, menurutnya, mempunyai dua fungsi:
Centre of excellence, yang menangani kader-kader pemikir agama
Agent of development, yang menangani pembinaan pemimpin masyarakat, terutama di pedesaan.
Tidak mengherankan jika ulama pondok atau kiyai selalu didukung oleh kekuatan masyarakat, ini disebabkan karena para ulama selalu menyatu dengan umatnya. Dengan berdasarkan butiran mutiara itu ia dengan gigih berjuang tanpa pamrih untuk memajukan pon-pes al-falah dengan dukungan dari dewan pendiri lainnya untuk mencerdaskan kaum muslimin di kawasan ini. Baginya memberikan bimbingan bagi umatnya adalahkewajiban agama, kehormatan dan profesi hidupnya. Doktrin dan sabda Nabi saw. Terpatri didalam dadanya yaitu sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim yang artinya : Dengan sebab perantaraan kamu Allah member petunjuk seseorang itu lebih baik bagimu daripada dunia dan segala isinya.
Hal lain yang mengilhami pendirian pon-pes al-falah adalah al-Mukarram al-Habib Husein dari jawa, yang dalam kunjungannya di Kalimantan Selatan menyatakan dengan jelas, “Alangkah menyedihkan orang alabio tidak punya pesantren padahal mempunyai potensi”.
Seperti diketahui Amuntai pon-pes Rasydiyah Kalidiyah (Rakha), Barabai mempuntai pon-pes Ibnul Amin, Pamangkih, dan Martapura, kota intan Martapura dan serambi Mekkah mempunyai pon-pes Darussalam yang sangat terkenal dan sudah lama berdiri serta sudah banyak menghasilkan ulama.
Maka pada tanggal 9 Juni 1974 atau 19 Rabiul Awwal 1394 H didirikan pon-pes al-Falah dengan Akte Notaris Bachtiar Banjarmasin Nomor 38 tanggal 19 Juli 1985.
Bagi tuan guru KH. Mahammad Tsani sudah merupakan jiwa atau ruhnya, siang malam ia memikirkan pendanaan serta pembangunan untuk kemajuan dan keberhasilan untuk pendidika di pondok. Untuk mencari dana ia tidak saja menghubungi tokoh-tokoh atau para hartawan yang ada di daerah, tetapi mengusahakan pencarian dana tersebut hingga ke luar negeri, yaitu ke kota mekkah al-Mukarramah dan Madinatul Munawwarah.
Kerena hamper setiap tahunnya ia pergi berhaji ke kota Mekkah maka kesempatan ini dimanfaatkannya mencari dana untuk pembangunan pondok. Ia rajin melobi tokoh-tokoh Arab Saudi. Untuk urusan luar negeri ia kadang dibantu oleh bapak H. Muhammad Subli di Jakarta, seorang yang berasal dari Alabio, yang berprofesi pengusaha jasa pemberangkatan jamaah haji dan umrah.
Ia merupakan sosok ulama yang kreatif dalam upaya pembangunan sarana pendidikan agama dan menerapkan sistem yang baik dalam pencarian biaya pembangunannya. Ia selalu menekankan bahwa Pon-Pes al-Falah adalah milik seluruh kaum muslimin, maka sudah harus sepantasnya kita semua harus menjaga, memajukan serta bertanggungjawab untuk keberlangsungan pondik tersebut.
Untuk pencarian dana di kota Banjarmasin ia dibantu oleh para pedagang di pasar-pasar, seperti pasar ujung murung, pasar besar, pasar PPKE, pasar lima dan lainnya. Khususnya pedagang atau pengusaha asal alabio yang berada di Banjarmasin. Sampai-sampai tuan guru KH. Muhammad Tsani diberi gelar oleh mereka Tukang Tagih Pajak, ini disebabkan ketegasannya dalam melaksanakan penagihan, juga disebabkan besarnya sumbangan ditentukan atau ditaksir sendiri olehnya, ini berlaku jika si pedagang seorang yang pelit, atau kata orang banjar ingkin barajut (sangat pelit).
Berkat kegigihannya dalam pembangunan pendidikan, khususnya pendidikan keagamaan, kini pon-pes al-Falah mengasuh tiga ribuan santri dari berbagai daerah, yang mengisi berbagai jenjang pendidikan di pon-pes al-Falah, dari jenjang pendidikan persiapan (thajizi) selama setahun, jenjang pertama (tsanawi) selama tiga tahun, dan jenjang atas (aliah) juga selama tiga tahun. Untuk jenjang pertama dan jenjang atas statusnya dipersamakan. Pon-Pes al-Falah juga memiliki pendidikan tingkat tinggi, yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Falah dengan jurusan pendidikan (tarbiyah). Sekitar 70% pengelola pendidikan di Pon-pes al-Falah berasal dari alumni pondok sendiri.
Sebagian besar alumni pon-pes al-Falah melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi, baik dalam negeri maupun luar negeri, terutama timur tengah, al-Azhar, Mesir, Madinah Islamic Centre, Saudi Arabia dan Universitas al-Ahqaf, yaman dan bahkan ada yang melanjutkan Universitas di Barat, yaitu Eropa.
Akhirnya pada malam senin tanggal 11 Muharram 1407 H bertepatan dengan tanggal 14 September 1986 M, Tuan guru KH. Muhammad Tsani pendiri pon-pes al-Falah berpulang ke rahmatullah dengan tenang di kediamannya, yaitu di Antasari Kecil Timur, Banjarmasin.
Hujan air mata dari para santri serta kaum muslimin.pada hari itu dunia pendidikan kehilangan seorang ulama yang zuhud dan mukhlis, dengan meninggalkan sebuah karya yang abadi, karena ilmu yang bersambung. Ia meninggalkan cahaya yang terang dimana orang-orang dapat berjalan dengan aman karena cahaya tersebut. Ia dimakamkan di komplek pon-pes al-Falah Putra, tepatnya di depan kantor pon-pes al-Falah Putra.
Semoga ruhnya ditempatkan oleh Allah SWT di surge bersama Baginda Nabi Muhammad saw. Amin.
Pada perkembangannya Pon-Pes al-Falah sekarang ini mempunyai lebih tiga ribu santri, baik putra maupun putri yang dating dari berbagai daerah di Kalimantan untuk menuntut ilmu di pondok tersebut, kebanyakan santri tinggal dan memondok di dalam komplek pondok pesantren.
Adapuntingkatan pendidikan yang ada di pon-pes al-Falah sekarang adalah :
- Tajhiziyyah (persiapan) 1 tahun
- Tsanawiyyah (pon-pen dan program kesetaraan, status diakui) 3 tahun
- Aliyah (pon-pen dan program kesetaraan, status diakui) 3 tahun
- Perguruan Tinggi STAI al-Falah, Fakultas Tarbiyah.
Dari sebagian alumnus santri pondok kebanyakan di antaranya yang melanjutkan ke berbagai perguruan tinggi yang ada di tanah air dan yang berada di luar negeri, di antaranya :
- Mesir
- Mekkah
- Madinah
- Yaman
- Dan lain-lain
Adapun kebanyakan dari tenaga pengajar, lebih dari 70%, baik di pondok putra maupun pondok putri adalah alumnus Pon-Pes al-Falah sendiri yang mana mereka telah menyelesaikan studinya di berbagai perguruan tinggi atau pon-pes lainnya, kemudian kembali ke pon-pes al-Falah untuk mengajar dan mengabdikan dirinya.(fy)
Kisah Dua Sahabat Bin Yahya dan Al Habsyi
HABIB ALWI BIN ABDULLAH (KAPTEN ARAB) dan HABIB MUHAMMAD BIN ALI BIN YAHYA (PANGERAN NOTO IGOMO)
Habib Muhammad bin Ali bin Hasan Bin Yahya (Pangeran Noto Igomo) mempunyai seorang sahabat dekat di Barabai. Namanya Habib Alwi bin Abdullah AlHabsyi. Keduanya mempunyai kedudukan terhormat di wilayahnya masing-masing. Habib Muhammad tinggal di Tenggarong selaku penasihat Sultan Kutai, sementara Habib Alwi adalah seorang Kapten Arab berkedudukan di Barabai. Mereka sudah saling mengenal sejak sama-sama tinggal di Hadramaut, Yaman.
Habib Alwi AlHabsyi, sejak di Hadramaut, mengakui keluasan pengetahuan dan kealiman Habib Muhammad Bin Yahya. Habib Muhammad kelahiran tahun 1844, sedangkan Habib Alwi beberapa tahun lebih muda. Tidak diketahui persis tahun kelahiran Habib Alwi.
"Tahun 1917-an, Habib Alwi di Banjar sudah mempunyai 3 anak," ujar Habib Agil bin Salim Bahsin, cucu Habib Alwi.
Jika Habib Muhammad Bin Yahya melalui perjalanan panjang melalui Palembang, Cirebon , Martapura dan akhirnya menetap di Kutai, maka Habib Alwi dari Hadramaut memilih Barabai sebagai tempat tinggal tetap setelah sempat bermukim beberapa tahun di Banjarmasin .
Habib Alwi menikah pertama kali di Banjarmasin dengan Syarifah Raguan binti Syekh AlHabsyi. Dengan istrinya Habib Alwi masih bersaudara dekat karena mereka sama-sama cucu dari Habib Alwi bin Syekh AlHabsyi.
Ketika tinggal di Banjarmasin , Habib Alwi adalah pejabat Kapten Arab pengganti Habib Hasan bin Iderus AlHabsyi (Habib Ujung Murung). Habib Alwi tinggal di kawasan Ujung Murung.
Habib Alwi pindah ke Barabai setelah menikah di sana dengan seorang perempuan asal Nagara-Banua Kupang bernama Hj Masrah. Belakangan Habib Alwi juga menikah dengan perempuan Kandangan bernama Masja.
Sejak melepaskan kedudukan sebagai Kapten Arab, Habib Alwi berdomisili di Barabai. Namun masyarakat tetap memperlakukannya sebagai orang istimewa karena latar belakang dan jasanya.
Jasa terbesar Habib Alwi bagi daerah Hulu Sungai adalah kepeloporan beliau dalam membangun perkebunan karet secara besar-besaran di Barabai. Habib Alwi memiliki kebun karet di Desa Manggasan, Hantakan, Barabai. Bibit karet diperoleh Habib Alwi dari Bogor melalui perantaraan pemerintah Belanda.
Walau tinggal di daerah berbeda dan dipisahkan jarak cukup jauh persahabatan Habib Alwi dan Habib Muhammad tetap terjalin mesra.
"Habib Muhammad yang menyumbang batu dan semen ketika Habib Alwi membangun Pasar Batu," ujar Ami Agil, panggilan sehari-hari Habib Agil bin Salim Bahsin.
Pasar Batu adalah bangunan beton pertama di Hulu Sungai yang merupakan tempat pasar gatah (karet) di paruh pertama abad lalu. Suatu masa kedua sahabat ini bertemu di Samarinda. Dalam pertemuan antara dua sahabat itu mereka tak lupa berfoto bersama dengan gaya masing-masing. Habib Muhammad mengenakan sarung dan baju koko berwarna putih, sementara Habib Alwi memakai busana baju safari dan celana panjang. Persamaan mereka adalah kopiah yang dikenakan serta masing-masing memakai tongkat.
Habib Muhammad masuk ke lingkungan Kesultanan Kutai berkat kelebihan dan kekuatan spiritualnya. Habib Muhammad Bin Yahya yang juga datuk dari aktor terkenal drg Fadly ini masuk ke istana setelah berhasil menyembuhkan penyakit seorang kerabat kesultanan.
Tak lama setelah kejadian itu, Habib Muhammad dinikahkan dengan Aji Raden Lesminingpuri, cucu Sultan AM Sulaiman yang juga anak Sultan AM Alimuddin.
Sedang, Habib Alwi sendiri juga menjadi tokoh kehormatan masyarakat Hulu Sungai terutama Barabai. Ketika Presiden Soekarno berkunjung wilayah Hulu Sunggai dan mampir ke Barabai tahun 1955, terjadi dialog singkat antara Habib Alwi dengan Sang Presiden.
Waktu berjabat tangan, disaksikan oleh tokoh-tokoh masyarakat lainnya mereka berbincang-bincang.
"Siapa nama Pak Haji?" ujar Bung Karno.
“Saya Sayyid Alwi," jawab Habib Alwi.
"Pak Sayyid orang Arab?"
"Ya, saya orang Arab, lahir di Hadramaut."
"Mengapa orang Arab mau membantu perjuangan orang Indonesia ?"
"Saya muslim, dia juga orang muslim. Jadi wajib membantu. Ikhwanul muslimin (persaudaraan sesama orang Islam)."
"Pergi ke Jakarta nanti," Bung Karno menawarkan undangan kepada Habib Alwi.
"Ya, Batavia ." (seorang wedana di Hulu Sungai kemudian membisiki Habib Alwi bahwa yang benar adalah Jakarta ).
"Yakarta," ujar Habib Alwi lagi mengoreksi ucapannya (Habib Alwi menyebut J dengan lafal Y).
Akhir cerita, Habib Alwi tak pernah ke Jakarta mendatangi undangan presiden pertama RI itu.
Habib Alwi AlHabsyi meninggal dunia tahun 1967 waktu berada di Banjarmasin dan dimakamkan di Turbah Sungai Jingah. Sahabatnya, Habib Muhammad Bin Yahya mendahuluinya 20 tahun sebelum itu dan bermakam di pekuburan Kelambu Kuning, Kutai Kertanegara Tenggarong.
semoga Rahmat Allah Subhana Wa Taala senantiasa tercurah buat beliau berdua dan seluruh dzuriat dan kerabatnya beserta seluruh orang orang yag mencintai beliau berdua aamiin Ya Robbal alaamiin...alfatihah.....
sumber : https://www.facebook.com/Kisah.Para.DatudanUlama.Kalimantan/
Menaqib Tuan Guru KH. Muhammad Aini
KH. Muhammad Aini yang sudah lazim pula di kenal dengan sebutan nama tuan guru H. Ayan, lahir di Pematang Karangan pada menjelang subuh harin Senin tanggal 12 Rabiul Awwal 1351 H atau pertepatan tahun 1933 M. ayahandanya bernama H. Ali bin H. Sanusi yang berasal dari Kampung Sungai Rutas, kecamatan candi laras selatan dan ibundanya bernama Basrah putri H. Badar yang berasal dari Pematang Karangan, Kecamatan Tapin Tengah.
Ia dilahirkan dari keluarga yang taat beragama dan sangat memperhatikan pentingnya pendidikan agama. Sehingga hal ini merupakan salah satu faktor yang sangat mendukung keberhasilan beliau dalam bidang ilmu pengetahuan agama, dan disiplin yang tinggi denganpenuh kasih sayang dari kedua orang tuanya. Meskipun kehidupan orangnya yang berada pada sebuah yang cukup terpencil dan kondisi ekonomi yang pas-pasan. Mata pencaharian orang tuanya hanya sebagai petani, namun mereka mepunyai kawasan yang luas tentang arti pentingnya pendidikan terutama pendidikan agama.
1. Riwayat Pendidikan
Setelah tampak pertumbuhan bakat dan kecerdasannya terutama dalam hal pemahaman agama dan semangat yang tinggi untuk memperdalam ilmu-ilmu agama. Maka orang tuanya senantiasa meberikan dorongan dan dukungan untuk terus belajar guna mencapai pengetahuan ilmu agama yang tinggi. Ternyata apa yang diharapkan oleh orang tuanya agar anaknya menjadi orang yang berilmu dapat disikapi dan dipenuhi oleh Muhammad Aini. Hal ini telah terbukti menamatkan pendidikan, baik formal maupun non-formal, bahkan ia dapat menuntut ilmu sampai akhir hayat. Adapun pendidikan yang pernah ia tempuh adalah :
- Pendidikan Dasar (Volks School)
Volks School adalah lembaga pendidikan untuk tingkat dasar pada jaman penjajahan Jepang yang berada di kampung Pandahan sekitar ± 4 km dari kampung Pematang Karangan. Ia belajar di sekolah tersebut selama 3 tahun yang dimulai dari tahun 1942 sampai 1943.
- Madrasah Kulliyatul Mu’alimin (KMI)
Madrasah Kulliyatul Mu’alimin (KMI) merupakan lembaga pendidikan agama yang berada di kampung Tambaruntung. Ia menuntut ilmu di Madrasah ini selama 5 tahun mulai dari tahun 1945 sampai 1949. Seiring dengan kecerdasan dan bakatnya dalam permasalahan agama. Di samping belajar Madrasah Kulliyatul Mu’alimin, ia juga memperdalam ilmu agama seperti tauhid, fiqih, akhlaq, tasauf dengan datang ke rumah guru beliau.
Adapun guru-gurunya antara lain :
Tuan guru H. Abdullah Shiddiq, ia pernah bermukim dan menuntut ilmu agama di mesir selama ±10 tahun.
Tuan guru H. Hidayatullah, pendiri dan pengasuh Madrasah Kulliyatul Mu’alimin di Tambaruntung.
Tuan guru H. Bijuri, ia di samping sebagai guru juga adalah mertua Tuan guru H. Muhammad Aini.
Tuan guru H. Samsuni di Tambaruntung
Tuan guru H. Ali Mansur di Limau gulung Timba’an
Tuan guru H. Mahfuzh
Tuan guru H. Asy’ari di serawi
Tuan guru H. Asmuni di Tambaruntung
- Menuntut Ilmu Kepondok Pesantren Darussalam, Martapura
Setelah menamatkan pendidikan agama di Madrasah Kulliyatul Mu’alimin (KMI) di desa Tambaruntung selama 5 tahun, ia kemudian meneruskan pendidikan di Pondok Pesantren Darussalam, Martapura. Menjalani pendidikan yang terpisah dengan kedua orang tua, bekal yang diberikan agar sedapat mungkin untuk mencukupi karena orang tua hanya sebagai petani.
Namun meski demikian, dengan niat yang tulus dan ikhlas, tekad dan kemauan yang keras untuk memperdalam ilmu pengetahuan. Dukungan orang tua serta do’a yang disampaikan, maka kendala pada waktu itu dapat dilalui dengan kesabaran dan tawakkal. Berkar sabar dan tawakkal itulah kesuksesan dapat diraih yaitu dengan menamatkan pendidikan di Pondok Pesantren Darussalam, Martapura tersebut selama 6 tahun yang dimulai tahun 1950 sampai tahun 1956.
Ia dikenal sebagai seorang yang sangat dicinta denga ilmu, karena sejak kecil oleh orang tua ditanamkan sikap dan dorongan untuk terus menerus menuntut ilmu khususnya ilmu agama islam, baik secara formal maupun mengaji kepada guru-guru agama. Hal inipun ia lakukan tatkala menuntut ilmu di Pondok Pesantren Darussalam, di samping menuntut ilmu secara formal di pesantren, ia juga memperdalam berbagai cabang ilmu dengan cara mendatangi guru-guru.
Adapun guru-guru yang pernah mengajarinya baik di Pondok Pesantren maupun di tempat guru selama menuntut ilmu si Martapura, antara lain:
KH. Semman Mulia
KH. Syarwani Abdan
KH. Husein Qadri
KH. Salman Djalil
KH. Salim Ma’ruf
Tuan guru H. Muhammad Ramli
Tuan guru H. Azhari/ guru Jahri
Tuan guru H. Salman Yusuf
Tuan guru H. Marzuki
10. Tuan guru H. Muhammad Nasrun Thahir yang merupakan guru dalam bidang qiraat al-Quran.
Selepas ia menuntut ilmu di pondok pesantren Darussala, Martapura ternyata bukan akhir kegemarannya dalam menuntut ilmu-ilmu agama. Ia secara rutin dan istiqamah mengikuti pengajian yang dipimpin oleh KH. Muhammad Zaini (guru sekumpul) putra Abdul Ghani putra Abdul Manaf putra Mufti H. Muhammad Khalid putra al-‘Alim al-‘Allamah Hasanuddin putra Syeikh Maulana Muhammad Arsyad al-Banjari, di samping mengaji kepada KH. Semman Mulia.
Selama kurun waktu 24 tahun beliau mengikuti pengajian agama yang dipimpin KH. Muhammad Zaini putra Abdul Ghani (guru sekumpul) yakni mulai tahun 1976 sampai beliau mendekati akhir hayat. Beliau mulai mengikuti pengajian guru sekumpul yang dimulai dari lokasi di daerah Keraton Martapura sampai yang dilaksanakan di Mushalla ar-Raudhah, Sekumpul, Martapura.
Sikap yang ditanamkan oleh kedua orang tuanya ternyata sangat melekat pada kepribadiannya, sehingga tidak heran kalau ia sangat memperhatikan masalah pengaturan waktu yaitu kapan untuk keluarga, mengajar ilmu (dakwah) serta menuntut ilmu.
Lebih-lebih selama pada saat ia mengaji/berguru secara khusus kepada KH. Muhammad Zaini putra Abdul Ghani (guru sekumpul) sekaligus yang memimpin rohaninya. Dalam suatu kesempatan ia pernah mengatakan “Alhamdulillah semangatku untuk menuntut ilmu tidak pernah berubah semenjak dulu hingga sampai ke usia tua, yang berubahhanya kondisi tubuh, kalau semangat malah semakin meningkat”.
Hal ini merupakan wujud dari pengalaman dari kandungan ajaran Rasulullah saw, seperti sabda Rasulullah, yang artinya : Tuntutlah ilmu dari buaian (ayunan) sampai ke liang lahat
Dari perjalanan waktu yang cukup panjang dalam menggali dan memperdalam ilmu begitu sarat dan banyak ilmu serta amalan beserta sanad-sanadnya yang ia peroleh dari KH. Muhammad Zaini putra Abdul Ghani (guru sekumpul). Sehingga dengan penuh hormat dan tawadhunya terhadap guru-gurunya, ia sering mengatakan “Bahwa keadaan kehidupanku ini, Alhamdullah, semuanya berkat peguruan’ (guru-guru beliau)”.
Hal ini menunjukkan betapa besar rasa hormat, adab dan tawadhunya kepada guru-gurunya sehingga tidak heran pula beliau sangat disayangi dan dicintai oleh guru-gurunya. Bukti bahwa guru begitu sayang kepadanya adalah ketika ia menunaikan rukun islam yang kelima (naik haji) guru sekumpul seringa menyebut namanya padahal ia tidak berada di pengajian tersebut. Demikian juga ketika guru sekumpul masih hidup dan tuan guru H. Muhammad Aini sudah meninggal dunia, anak cucunya diundang ke kediaman guru sekumpul ketika hendak pulang, Guru sekumpul berpesan kepada anak tertua titip salam kepada Tuan guru H. Muhammad Aini (tuan guru H. Ayan)
2. Sikap Kepribadian
Seperti diketahui, setelah menamatkan pendidikan pada Pon-Pes Darussalam Martapura, ia kembali ke Kampung halaman membawa bekal ilmu yang cukup untuk menjalani kehidupan sebagai seorang petani disamping berhikmat dengan ilmu karena menurut beliau ilmu adalah untuk diamalkan dengan ikhlas bukan sebagai tujuan dan hujjah tetapi ilmu sebagai jalan untuk mencapai tujuan dan mendapatkan ridha Allah SWT, ia kawin dengan Hj. Siti Aminah putri H. Bijuri yang merupakan anak gurunya.
Dari perkawinan tersebut melahirkan 9 orang anak, yaitu:
- Tuan guru H. Ibrahim
- Hj. Rahmah
- Ustaz H. Muhammad Hasnan
- Ustaz H. Muhammad Syahminan
- Hj. Hamdanah
- H. Muhammad Thahir Zaki
- Hj. Rafikah
- Arfah
- Hj. Rajabiah
Figur KH. Muhammad Aini (guru Ayan) putra H. Ali sungguh mempunyai kehidupan dan kepribadian yang mengagumkan. Sebagi muballigh, dai terkenal sekaligus ulamaa-il ‘aamilin, ia mampu menjalin hubungan baik dan harmonis dengan siapa saja, baik dari kalangan pemerintah maupun masyarakat biasa.
Sebagai tokoh kharismatik, ia tidak pernah menginginkan kedudukan/menjadi pegawai atau pejabat di lungkungan pemerintahan. Namun beliau sangat mendukung kebijakan pemerintahan yang adil, baik dan benar. Begitu pula halnya dengan masalah politik, ia mampu bersikap netral dan beliau lebih memilih kedudukan non-formal sebagai tokoh ulama yang mengayomi semua kelompok dan golongan serta membawa masyarakat menuju khairal ummah.
Hal ini merupakan suatu pilihan sikap yang sangat berani, tegas dan konsekuen (istiqamah), dimana saat pemerintahan pada masa itu ada kecenderungan menjadikan ulama untuk kepentingan pemerintah dan politik. Di samping itu dalam beramar ma’ruf nahi munkar, ia selalu bersikap jujur apa adanya. Ia selalu mengatakan kalau yang benar itu benar dan yang salah itu salah. Beliau juga mempunyai sikap yang sangat disiplin dan teguh memegang janji, ia sangat tidak suka didustai apalagi berdusta kepada orang lain.
Dari pergaulan, ia telah banyak memberikan contoh teladan karena dalam pergaulannya di masyarakat senantiasa membawa misi/tujuan tertentu untuk kemaslahatan masyarakat.
Sebagai ilustrasi (gambaran) suatu ketika ia pernah membaur dengan masyarakat mengadakan kegiatan permaian rakyat “bagasing”. Masyarakat bingung mengapa ia ikut bermain gasing, malah dalam suatu pengajian murid bertanya hukumnya dari sisi agama bermain gasing. Ia tidak menjawab karena tujuan untuk menjalin silaturrahmi masyarakat yang kurang harmonis masih berjalan dan diupayakan. Setelah masyarakat kembali dapat menjalin silaturrahmi dan mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah-tengah kondisi lapisan masyarakat, akhirnya apa yang dilakukannya bertujuan untuk kepentingan kemaslahatan umat.
Kejadian diatas merupakan bentuk dalam mengikuti orang-orang saleh tedahulu dalam berdakwah menyesuaikan kegemaran yang dilakukan oleh masyarakat pada waktu itu. Kalu Wali Songo berdakwah dengan wayangnya, maka ia mempererat dan memperkokoh kesatuan dan persatuan melalui kegiatan “bagasing”.
Pada sisi lain, dalam kehidupan bermsyarakat, ia dikenal dekat dengan masyarakat. Karena ia memang ingin dapat merasakan apa yang dirasakan oleh masyarakat. Sehingga tidak jarang juga melakukan apa yang dilakukan kebanyakan masyarakat seperti bertani, menagkap ikan dengan cara memancing, menjambih, mendandang serta mahalawit. Ini semua merupakan bentuk “riyadhah” dalam menapaki jalan para orang shaleh dan para ulama yang menghimpun antara syariat, thariqat dan haqiqat serta ma’rifat.
3. Usaha Pengembangan Syiar Islam
- Bidang Dakwah
Mayarakat Pematang Karangan sejak dahulu termasuk masyarakat yang religius (agamis). Sejak 10 tahun yang lalu di Pematang Karangan telah berlangsung Kegiatan “Babacaan” atau pengajian agama yang istilah sekarang disebut dengan majelis taklim yang dipimpin oleh tuan guru H. Bijuri putra Dalusman setiap hari Jum’at pagi yang bertempat di Mushalla (langgar) Darul Aman. Tuan guru H. Bijuri dengan penuh kesabaran membimbing masyarakat Pematang Karangan dan sekitarnya dengan berbagai macam ilmu agama seperti, tauhid, fiqih, dan tasauf.
Sekitar tahun 1968, tuan guru H. Bijuri berpulang kerahmatulah dalam usia ±80 tahun dan di makamkan di samping mushalla Darul Aman yang dibangunnya. Setelah meninggalnya tuan guru H. Bijuri, maka yang melanjutkan agar tetap terlaksana syiar islam dan rasa tanggung jawab yang besar terhadap pentingnya pendidikan agama bagi keluarga dan masyarakat. Oleh sebab itu keggigatan “babacaan” di Pematang Karangan dilanjutkan oleh tuan guru H. Muhammad Aini atau yang lebih dikenal dengan sebutan tuan guru H. Ayan dan ia juga merupakan menantu dari tuan guru H. Bijuri.
Setelah berjalan beberapa tahun di bawah asuhan Tuan Guru H. Muhammad Aini (Tuan Guru H. Ayan) ini mengalami perkembangan dan berjalan sangat pesat. Pada awalnya ketika dipimpin oleh Tuan Guru H. Bijuri dilakukan setiap Jum’at pagi, pada masa Tuan Guru H. Ayan kemudian ditambah pada Jum’at malam untuk perempuan dan sabtu malam untuk umum yang didahului dengan pembacaan syair-syair mauled al-Habsyi.
Dalam perkembangannya memang beberapa kali terjadi perubahan waktu kegiatan, karena ia menyesuaikan dengan pengajian yang dipimpin oleh Guru Sekumpul (KH. Muhammad Zaini putra Abdul Ghani) di Sekumpul, Martapura. Perubahan itu berlangsung beberapa kali seperti dilaksanakan pada rabu malam kemudian pada senin malam dan akhirnya dilakukan pada selasa malam.
Figur Tuan Guru H. Muhammad Aini (H. Ayan) dikalangannmasyarakat Pematang Karangan dan Kabupaten Tapin umumnya adalah merupakan ulama yang kharismatik. Sehingga pengajian yang dipimpin olehnya jumlah jemaahnya selalu bertambah banyak hingga mencapai puluhan ribu orang. Desa Pematang Karangan yang dulunya kurang dikenal, setelah adanya pengajian yang dilakukan oleh Tuan Guru H. Muhammad Aini ini makin dikenal bukan saja yang ada di Kabupaten Tapin, tetapi sampai Daerah Hulu Sungai. Beliau dalam memberikan pelajaran agama (pengajian) di samping di rumah dan mushalla Darul Aman, ia juga meluangkan waktu untuk memberikan pengajian agama secara rutin dan bergiliran dimana-mana tempat masyarakat yang menghajatkan baik di mesjid, mushalla atau di sekolah-sekolah.
Selain itu juga, ia sering mengabulkan hajat/undangan masyarakat untuk memberikan ceramah agama baik di mesjid, mushalla, madrasah/sekolah maupun di kantor-kantor pemerintah. Ia juga merupakan seorang da’i/ muballigh yang terkenal pada masa itu tidak saja di Kalimantan Selatan . tetapi juga di Kalimantan Timur dan di Kalimantan Tangah. Beliau aktif melaksanakan dakwah/tabligh akbar yang dilakukan secara berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lainnya uktuk memberikan pencerahan/siraman rohani guna memantapkan keyakinan agama islam dan pengalamannya pada masyarakat.
Tempat yang dilakukan dalam kegiatan tabligh bukan saja di kota tetapi juga dilakukan di desa-desa bahkan sampai pelosok daerah terpencil sekalipun. Untuk mencapai tujuan ada yang menggunakan kendaraan bermotor, sepeda, perahu (kelotok) bahkan juga harus dilakukan dengan jalan kaki.
Ditengah kesibukannya memberikan pengajian dan berdakwah, ia juga tetap aktif memperdalam ilmu agama dan berguru kepada KH. Seman Mulia, Keraton, Martapura dan KH. Muhammad Zaini putra Abdul Ghani (guru Sekumpul). Setelah kurun waktu selama ± 17 tahun ia melaksanakan kegiatan dakwah umum untuk masyarakat, kemudian beliau menghadap KH. Seman Mulia untuk memohon petunjuk dan bimputragan sekaligus memperdalam ilmu agama.
Atas berkat nasehat KH. Seman Mulia yang mengatakan kepada Tuan Guru H. Muhammad Aini putra H. Ali mengatakan : “ untuk memperdalam ilmu nyawa (kamu), maka nyawa (kamu) unda (aku) serahkan kepada Anang (panggilan kesayangan pada KH. Muhammad Zaini putra Abdul Ghani sekaigus yang akan memimpin nyawa (kamu) dan nyawa (kamu) memberikan pengajian agama cukup di rumah dan di langgar (mushalla) saja.
Dengan demikian akhirnya Tuan Guru H. Muhammad Aini putra H. Ali memutuskan dengan tulus ikhlas melaksanakan nasehat guru beliau tersebut. Mulai saat itu beliau tidak lagi melaksanakan pengajian agama di tempat-tempat lain, melainkan hanya memberikan pengajian di rumah dan mushalla di depan rumahnya. Kalau dilihat secara keseluruhan waktunya dalam mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat selama ±45 tahun.
Melihat kiprahnya dalam menyampaikan pengetahuan mengenai agama merupakan sebagai generasi penerus perjuangan Rasulullah saw (waratsatul anbiya-i). ia membaktikan seluruh hidup secara konsisten (istiqamah) menetapi jejak sunah Nabi saw. Untuk pengembangan dakwah dan syiar islam serta berkhidmat dengan ilmu yang penuh keikhlasan, rajin, cermat, dan tanpa pamrih.
Segala niat, sikap dan amal ibadah perjuangan beliau, semoga Allah AWT senatiasa memberikan nilai positif dengan ganjaran tempat yang mulia di sisi-Nya. Amin.
4. Bidang Pendidikan/Pendirian Pesantren
Sebagaimana diketahui bahwa Tuan Guru H. Muhammad Aini putra H. Ali dikenal sebagai seorang yang sangat cinta dengan ilmu. Atas dasar kecintaanya dengan ilmu itulah yang melahirkan ide-ide/gagasan untuk mengembangkan syiar islam dan ilmu pengetahuan agama melalui Lembaga Pendidikan Islam. Hal ini juga melihat keadaan sosial keagamaan pada masyarakat Pematang Karangan dan belum adanya Lembaga Pendidikan Islam yang memadai kecuali Pon-Pes Darussalam di Martapura.
Ide/gagasan yang cemerlang tersebut disambut baik oleh adik iparnya Tuan Guru Abdul Jalil putra Tuan Guru H. Bijuri yang bermakam di dalam kubah samping mushalla Darul Aman pada tanggal 10 Agustus 1985/24 Zulqaidah 1405 H, mulailah direalisasikan ide tersebut oleh Tuan Guru H. Muhammad Aini uang didukung oleh Tuan Guru Abdul jalil. Dalam pendiria pesantren ini juga dibantu oleh Guru H. Abdullah, Guru H. Asnawi, Guru H. Ibrahim (anak), Guru H. Muhammad Hasnan (anak), Guru H. Abdul Khaliq dan H. Junaidi Naseri (menantu) beserta komponen masyarakat lainnya. Lembaga Pendidikan Islam tersebut diberi nama “Pesantren Sulubussalam” dan pada tahap awalnya menyelenggarakan pendidikan untuk tingkat Madrasah Diniyyah Awwaliyah.
Pada s aat pertama dibuka dan belum mempunyai gedung sabagai tempat belajar, maka sementara meminjam tempat di Balai Desa Pematang Karangan. Namun berkat kegigihan beliau bersama panitia pembangunan yang didukung oleh komponen masyarakat serta pemerintah dalam waktu yang relatif singkat dapat dibangun dua buah ruang belajar santri. Seiring dengan perkembangan dan dinamika tuntutan masyarakat untuk menyekolahkan anak-anaknya di pesantren ini disikapinya dengan mengembangkan secara terus menerus, baik segi fisik maupun sarana prasarana serta guru-guru pengajar.
Setelah berjalan selama 5 tahun sejak didirikan pada tahun 1985, perkembangan pesantren berjalan cukup pesat, hai ini denga kebanyakan santri yang sekolah di pesantren ini. Maka memenuhi serta tuntutan masyarakat akan perlunya lanjutan dari Madrasah Diniyah Awwaliyah, pada tahun 1990 dibuka jenjang pendidikan tingkat Madrasah Diniyah Wustho (3 tahun).
Alhamdulillah, kini pesantren Sulubussalam, Pematang Karangan telah mengalami perkembangan yang cukup pesat, diman apada tahun ajaran 2005/2006 santrinya berjumlah 2.152 orang yang didukung 33 orang guru dan fasilitas ruang belajar sebanyak 33 kelas. Kondisi ini tidak terlepas dari figur KH. Muhammad Aini putra H. Ali dengan ikhlas berjuang dengan tenaga, pikiran dan harta selaku pendiri, pimpinan sekaligus pengasuh. Hal ini juga tidak terlepas dari usaha kerja keras dari penerus kepemiminannya beserta komponen masyarakat dan pemerintah.
5. Berpulang Ke Rahmatullah
Pada saat usia Tuan Guru KH. Muhammad Aini putra H. Ali ± 67 tahun, ia mulai sakit-sakitan dan akibat sakit yang dialami sempat beberapa hari dirawat di Rumah Sakit Sari Mulia, Banjarmasin. Kemudian pindah ke Rumah Sakit Umum Ulin, Banjarmasin. Setelah menglami perawatan di Rumah sakit beberapa hari, ia meminta untuk pulang ke Rantau, dalam perjalanan pulang menuju Rantau tersebut sampai Martapura ia menghembuskan nafas terakhir melepas roh yang suci, Inna lilahi wa inna ilahi raji’un.
Ia kembali menghadap ke hadirat Allah pada malam senin 21 Jumadil Awwal 1421 H/20 Agustus 2000 pukul 23.45 WITA.
Ia di makamkan di samping mushalla Darun Aman, desa Pematang Karangan, Kecamatan Tapin Tengah pada siang senin esok harinya sekitar pukul 15.30 WITA menjelang shalat Ashar.
Kini ulama yang ‘waratsatu an-biya’i’ tersebut telah tiada, namun meski demikian semoga kita dapat mewarisi semangat dan meneladani sikap kepribadian dan perjuangan beliau.
Semoga segala amal baik dan ibadah beliau diterima Allah dengan ganjaran maqom (tempat) yang mulia disisi-Nya. Serta kita semua senantiasa mendapat petunjuk, bimbingan dan ridho Allhan berkat kemuliaan beliau dan guru-gurunya. Amin ya Rambal’Alamin.
6. Keramat
Guru H. Muhammad Aini atau yang biasa disebut dengan Tuan Guru H. ayamn mempunyai kelebihan seperti :
- Apabila berkehendak dikabulkan oleh Allah SWT
Pernah tejadi ketika ingin menunaikan ibadah haji untuk yang kedua kali, uang yang ada hanya cukup untuk satu orang saja sedangkan isterinya berkeinginan juga untuk ikut menunaikan rukun islam yang kelima. Pada waktu itu setor haji mendekati keberangkatan boleh saja melunasi tidak seperti sekarang harus setor duluan itupun harus menunggu beberapa tahun karena banyaknya masyarakat yang ingin menunaikan ibadah haji. Sementara menunggu setoran haji, rejeki yang didapat tidak terhingga datangnya, akibatnya dari rejeki yang diperoleh tersebut uangnya cukup untuk dua orang. Bahkan rejeki yang didapat itu cukup untuk bekal selama menunaikan ibadah haji.
- Kubur diziarahi Orang
Banyak masyarakan yang datang ke kuburnya untuk berziarah dan mengabulkan hajat serta memanjatkan do’a. orang yang datang ke kuburnya ada yang membawa kain kuning untuk diletakkan. Ada masyarakat yang datang membaca Yasin dan bertahlil, dan mereka yang berziarah bukan saja masyarakat yang ada di rantau melainkan juga mereka yang berasal dari luar daerah Tapin.
- Memberi Air Tawar (air yang diberi doa)
Masyarakat banyak yang datang ke rumahnya dengan berbagai macam keinginan dan permohonan, mulai dari masalah rumah tangga sampai kepada meminta air tawar dengan berbagai keperluan (hajat).
- Keperluan Haulan Melimpah
Setiap kali keluarganya akan mengadakan haulan untuk mengenang meninggalnya beliau yang setiap tahun diadakan haulan. Dalam pelaksanaan haulan tersebut pihak keluarga tidak terlalu repot memikirkan apa-apa yang diperlukan untuk haulan. Makanan yang akan diberikan kepada masyarakat merupakan pemberian dari masyarakat seperti sapi, beras serta bumbu-bumbu masakan.
Haulan yang dilakukan setiap tahun dibanjiri oleh masyarakat, bukan saja mereka yang datang yang berasal dari Kabupaten Tapin melainkan juga mereka yang datang dari luar Kabupaten Tapin.
- Hujan deras berhenti dengan mendadak
Ini adalah pengalaman admin Kisah Para Datu dan Ulama Kalimantan sendiri ketika berada di tempat beliau,waktu itu seperti kebiasaan masyarakat kabupaten tapin dan masyarakat banjar lainnya setiap malam malam ganjil terakhir bulan Ramadhan untuk melaksanakan Sholat hajat dan sholat Tasbih pada waktu sepertiga malam,saat itu yang berhadir sangat banyaknya,tanpa di sangka sangka ternyata malam itu hujan turun dengan sangat lebatnya,hingga banyaklah jamaah yang pulang hingga cuma tertinggal sekitar ratusan orang,saat itu paman admin sendiri berkata,"kita jangan pulang,kita tunggu saja sampai Abah Guru Keluar rumah,kita buktikan kalau beliau seorang ulama yang mempunyai keramat Insyaallah hujan akan berhenti dengan sendirinya,alhamdulillah Allah menjawab keraguan kami semua,tak lama sebelum waktu acara di mulai beliau keluar dari rumah tanpa memakai payung (padahal waktu itu hujan masih sangat lebat ),kami perhatikan beliau memandang ke arah langit,subhanallah...begitu beliau menjejakkan kakinya ketanah,hujan berhenti dengan tiba tiba,hingga acara bisa di laksanakan dengan lancarnya...Allahumma salli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad
Ditulis oleh :Aby Husein al adamy Yuliansyah Riffa,i
Langganan:
Postingan (Atom)












