Jumat, 24 Mei 2013
Kamis, 02 Mei 2013
Karomah Abah Guru Sekumpul 11
Perampok yang taubat ditangannya.
Dalam usia 10 tahun beliau didatangi oleh seorang bekas perampok yang sangat ditakuti masyarakat akan kejahatan dan kekejamannya . Kedatangan orang tersebut tentunya sangat mengejutkan keluarga di rumah beliau. Namun apa yang terjadi , laki-laki tersebut ternyata ketika melihat guru sekumpul langsung sungkem dan minta ampun agar ilmunya yang selama ini ia amalkan, jika salah atau sesat minta dibetulkan dan iapun minta agar dibimbing untuk bertaubat
mendengar hal itu, beliau lalu masuk serta memberitahukan masalah orang tersebut kepada ayah dan keluarga beliau yang berada didalam rumah, setelah beliau masuk kedalam, ternyata tamu tersebut tertidur. Setelah ia terjaga dari tidurnya, kemudian ia pun diberi makan. Saat tamu itu makan, maka guru sekumpul kecil menemui ayahnya dan menerangkan maksud dan tujuan kedatangan tamu tersebut. Maka kata ayahnya, tanyakan kepadanya apa saja ilmu yang dikajinya.
Setelah selesai makan lalu beliau pun menanyakan kepada tamu tersebut sebagaimana yang dikatakan oleh ayah beliau dan jawabannya langsung beliau sampaikan kepada ayahnya. Kemudian ayah guru sekumpul kecil pun menyuruh guru sekumpul kecil untuk bertanya tentang yang lainnya. Dan jawaban tamu itu pun disampaikan kepada ayahnya pula. Hingga tamu ditanya dengan beberapa pertanyaan.
Maka pada akhirnya ketika guru sekumpul kecil hendak menyampaikan kepada tamu tersebut, , maka tamu tersebut mendekat kepada beliau, sambil badannya gemetaran ia menangis seraya minta tolong untuk di bimbing bertaubat dengan harapan allah swt akan mengampuni dosa-dosanya.
Dalam usia 10 tahun beliau didatangi oleh seorang bekas perampok yang sangat ditakuti masyarakat akan kejahatan dan kekejamannya . Kedatangan orang tersebut tentunya sangat mengejutkan keluarga di rumah beliau. Namun apa yang terjadi , laki-laki tersebut ternyata ketika melihat guru sekumpul langsung sungkem dan minta ampun agar ilmunya yang selama ini ia amalkan, jika salah atau sesat minta dibetulkan dan iapun minta agar dibimbing untuk bertaubat
mendengar hal itu, beliau lalu masuk serta memberitahukan masalah orang tersebut kepada ayah dan keluarga beliau yang berada didalam rumah, setelah beliau masuk kedalam, ternyata tamu tersebut tertidur. Setelah ia terjaga dari tidurnya, kemudian ia pun diberi makan. Saat tamu itu makan, maka guru sekumpul kecil menemui ayahnya dan menerangkan maksud dan tujuan kedatangan tamu tersebut. Maka kata ayahnya, tanyakan kepadanya apa saja ilmu yang dikajinya.
Setelah selesai makan lalu beliau pun menanyakan kepada tamu tersebut sebagaimana yang dikatakan oleh ayah beliau dan jawabannya langsung beliau sampaikan kepada ayahnya. Kemudian ayah guru sekumpul kecil pun menyuruh guru sekumpul kecil untuk bertanya tentang yang lainnya. Dan jawaban tamu itu pun disampaikan kepada ayahnya pula. Hingga tamu ditanya dengan beberapa pertanyaan.
Maka pada akhirnya ketika guru sekumpul kecil hendak menyampaikan kepada tamu tersebut, , maka tamu tersebut mendekat kepada beliau, sambil badannya gemetaran ia menangis seraya minta tolong untuk di bimbing bertaubat dengan harapan allah swt akan mengampuni dosa-dosanya.
Sumber : Habib Ahmad bin Faqih basyaiban
Dikutip dari buku : 12 ULAMA KHARISMATIK INDONESIA
Halaman : 275-276
Selasa, 30 April 2013
Karomah Abah Guru Sekumpul 10
Kisah karomah abah guru
Waktu kami lagi dihalaman rumah banjar abah cempaka , dihalaman itu hamparan halamannya penuh batu dari pendulangan.
Abah keluar dari rumah yg biasa abah istirahat lalu beliau berjalan
perlahan dihalaman rumah banjar kami yang hadir mengikuti , tiba2 abah
menunjuk batu dekat kami.
kata beliau" dibatu itu ada tulisan Allah , tolong ambilkan ? Lalu org yg dekat yg ditunjuk tadi mencari batu itu , sulit tuk mencarinya tidak ketemu ketemu , lalu dibantu yg lainnya tidak ketemu juga , kemudian kata Abah " ngalih jua amun tajajak , ( sulit juga klaunya terinjak) terus abah sendiri mengambil batu itu
padahal dilokasi itu juga ,
terus abah lihatkan kepada yg hadir , betul juga
urat batu yg warna putih ada tulisan Allah , batunya kata seseorang sdh pecah
, dlm pecahan itu terlihat ke emasan tulisan emas , lalu ada salah satu
yg hadir barucap " bah ulun mintanya lah batu ini ? Jwb " eh ambil ha "
Subhanallah pandangan abah guru tidak terhijab sampai batu yg ada
tulisan Allah nmpak dilihat dihamparan ribuan batu yg terhampar
Moga kita mengisahkan ini dan mmbacanya dapat rahmat Allah dan berkah abah guru .. Aamiin
Sumber : Ahmad Ya habiby http://www.facebook.com/groups/191179884364953/
Senin, 29 April 2013
Diantara Sifat Ketawadduan Abah Guru Sekumpul
Diceritakan kembali Oleh Hamid Sekumpul
Diantara sifat ketawadhuan/ rendah hatinya Abah Guru Sekumpul QS,yang
ulun dengar langsung dari yang punya riwayat bahwa suatu malam Senin
sekitar jam 11 malam, Pa Haji yang rumahnya berdekatan atau sekomplek dengan Abah Guru dalam regol Ar
raudah Sekumpul menelpon Abah Guru.
kata beliau' lagi dimana Bah
kata Abah Guru” Aku dibelakang Langgar,!( saya Dimbelakang Mushalla)
Begitu didatangi Pa Haji itu,
ternyata Abah Guru Sekumpul ada di
sekitar WC umum Musholla Arraudhah.
sendirian membersihkan WC
yang banyak itu, tanpa ada orang yg membantu, Saat itu,terkejutlah pa Haji tersebut ketika melihat Abah Guru membersihkan WC yg
banyak itu sendirian.
kemudian pa Haji tersebut mendangi Abah Guru dan lekas-lekas memberikan sabun untuk
Abah Guru untuk membersihkan tangan Abah Guru dengan rasa malu sekaligus takjub.melihat ulama besar membersihkan WC-wc sendirian saja.
Sesudah itu pa Haji tersebut bertanya bertanya
"kenapa Pian Bah menggawi ini?"(mengapa sampeyan kerjakan ini Bah)
Kata Abah Guru..ini semua saya lakukan hanya ingin membantu membersihkan bekas yang dipakai oleh anak dan cucu yang hadir pengajian dan maulidan disini.
Sejak itulah maka
dibentuk dan ditugaskan panitia yang lain untuk membersihkan WC musholla
secara teratur.
kisah ini
asli ulun mendengar dari yang menceritakannnya, salah seorang Anak Murid
Abah Guru Sekumpul yg bertempat tinggal didalam komplek/regol Arraudhah
Sekumpul.inilah ketawadhuaan Sidin sebagai Wali dan Ulama Besar yang
patut kita tiru dan kita teladani beliau tidak menghiraukan kedudukan atau derajat beliau apapun yang beliau kerjakan beiau lakukan dengan sendiri .. wassalam
Sumber : Jali bos & Hamid Sekumpul para pencinta Abah Guru Sekumpul
Diantara sifat ketawadhuan/ rendah hatinya Abah Guru Sekumpul QS,yang ulun dengar langsung dari yang punya riwayat bahwa suatu malam Senin sekitar jam 11 malam, Pa Haji yang rumahnya berdekatan atau sekomplek dengan Abah Guru dalam regol Ar raudah Sekumpul menelpon Abah Guru.
kata beliau' lagi dimana Bah
Begitu didatangi Pa Haji itu,
ternyata Abah Guru Sekumpul ada di sekitar WC umum Musholla Arraudhah.
kemudian pa Haji tersebut mendangi Abah Guru dan lekas-lekas memberikan sabun untuk Abah Guru untuk membersihkan tangan Abah Guru dengan rasa malu sekaligus takjub.melihat ulama besar membersihkan WC-wc sendirian saja.
Sesudah itu pa Haji tersebut bertanya bertanya "kenapa Pian Bah menggawi ini?"(mengapa sampeyan kerjakan ini Bah)
Kata Abah Guru..ini semua saya lakukan hanya ingin membantu membersihkan bekas yang dipakai oleh anak dan cucu yang hadir pengajian dan maulidan disini.
Sejak itulah maka dibentuk dan ditugaskan panitia yang lain untuk membersihkan WC musholla secara teratur.
kisah ini asli ulun mendengar dari yang menceritakannnya, salah seorang Anak Murid Abah Guru Sekumpul yg bertempat tinggal didalam komplek/regol Arraudhah Sekumpul.inilah ketawadhuaan Sidin sebagai Wali dan Ulama Besar yang patut kita tiru dan kita teladani beliau tidak menghiraukan kedudukan atau derajat beliau apapun yang beliau kerjakan beiau lakukan dengan sendiri .. wassalam
Minggu, 28 April 2013
karomah Abah Guru Sekumpul 9
" Ada Seorang Sayyid setiap Hari duduk duduk Di Tempat Perjudian,Sampai suatu Saat Ajal Datang menjemputnya,Orang-Orang Kampung Tidak ada yang Tahu Siapa Dia sebenarnya,di Saat wafatnya,Hanya Istri Dan Anaknya Yang Menghadapi Jenazahnya,Tidak ada Satu Tetangga pun Datang,Tidak ada satu pun tetangga Yang Mau Memandikan ,Mengkafani 'Mensholatkan Jenazahnya,Sang Istri Menangis Melihat Keadaan Suaminya.
Sang Istri
Berdo'a : Yaa Allah.....Bagaimana Dengan Jenazah Suamiku,Apakah Aku
Buang Ke sungai Mahakam ini,Atau Aku Biarkan Sampai Membusuk......!!!
Engkau Yang Maha Luas Rohmat-Mu,Berilah Petunjuk.....!!!
Tiba-tiba,Masuk
Seorang Tampan Tinggi Rupawan "Assalamu'alaikum Yaa Syarifah......!!!
Tampak Puluhan Orang Berjubah Dan Bersorban Mengiringi Dibelakangnya.....!!!
Wa'alaikumsalam Warohmatullah ......!!!
Saat Melihat Sang Guru,Si Syarifah Tersentak Kaget Bukan Main,Yang
Datang Adalah Al Imam Al Quthubul Akwan Assyeikh Muhammad Zaini Bin
Abdul Ghoni Sekumpul
Syarifah Bertanya;Kapan Pian Kesini
Guru,....Kal-tim Dan Kal-sel sangatlah jauh,apalagi kami di daerah Hulu
Mahakam Kembang Janggut ini
Jawab guru Sekumpul: Allah Yang Memudahkan,...
Tiba-tiba Dari Luar Banyak Orang kampung datang,Dan Terperanjat
Seketika tahu yang datang Guru sekumpul,Maka mereka keheranan dan Salah
satu dari penduduk berkata:Wahai guru,ini adalah orang yang senang
berjudi,tiap hari Duduk duduk Di tempat perjudian...
Guru sekumpul
tersenyum dan berkata: apakah kamu belihat beliau sendiri main
judi,atau beliau cuma duduk duduk saja disitu tanpa main judi
Sang penduduk terdiam,Kata Abah guru sekumpul "beliau ini yang tiap hari
kalian lihat di tempat perjudian adalah seorang dzuriat rasulullah SAW
beliau ini Yang jadi Penyandang Bala di kampung sini,beliau ini yang
setiap malam pada saat kalian tidur beliau bangun dan sholat tahajud
mendo'a kan kalian ,beliau juga yang rela setiap hari duduk di tempat
perjudian berdzikir dan memohon ampun untuk para penjudi agar mereka
sadar.tapi kalian tidak tahu kalian cuma melihat dengan pandangan
dzohir saja,beliau tidak terkenal dalam pandangan masyarakat bumi tapi
sangat terkenal di langit.
Maka Para penduduk menjerit dan
menangis,yang biasa berjudi langsung Sujud dan memohon ampun kepada
Allah ,Lalu Jenazah beliau Dimandikan dikafani dan disholatkan Lalu
diantar ke pemakaman.
Hujan pun Turun dgn Derasnya usai pemakaman
.
Jangan Lagi kalian berkelakuan seperti itu,biar bagaimanapun dhuhirnya
kalau sudah wafat Bila Wafat Sama Sangka Baik dengan Makhluqnya Allah
SWT,Dan Hati-Hati kata beliau...........Kalau itu Dzurriyah Sayyidil
Wujud SAW,kalau tadi tetap di biarkan seperti itu, Sampai Syarifah itu
Sakit Hati......Tenggelam nanti desa kalian ini......Murka Rasulullah
SAW,Murka Juga Allah SWT....
setelah itu Abah Guru Sekumpul beserta
rombongan pamit pulang naik kapal ,Tapi ada yang aneh.....Kapal yang di
tumpangi Abah guru Sekumpul beserta rombongan itu tidak ada di
kaltim,sepertinya itu Kapal Alam Jabbarut kata Habib Husein Alaydrus
Singa Mahakam .
(Habib Abdillah al aydrus عبدالله العيدروس )
sumber : Yuliansyah Riffai
Sabtu, 27 April 2013
sehari sebelum wafat nya Guru Semman Mulya
Bismillahirrohmanirrohim..
Kisah Abah Guru.
sehari sebelum wafat nya Guru Semman Mulya, Abah Guru Sekumpul sendirian yang
membersihkan kuku-kuku Beliau, dari tangan sampai kaki. abah guru bertanya kepada Guru Semman,
Abah:"Besok pulang kan?"
Guru semman: "InsyaAllah"
Abah:"siapa yg mandikan?"
Guru semman:"kamu"
abah:"siapa yg meimami?"
Guru Semman:"kamu"
Abah:"siapa yg talqin?"
Guru Semman:"kamu"
Abah:"siapa yg memasukkan dlm kubur?"
Guru Semman:"teserah"
Abah:"siapa yg baca tahlil?"
Guru Semman:"teserah"
Abah:"siapa yg baca doa arwah?"
Guru Semman:"teserah"
Abah:"gimana kalo di sholatkan dirumah?"
Guru Semman:"bagus"
Abah:"dibawa kesekumpul dan disholatkan di musholla Ar-Raudhah?"
Guru Semman:"bagus"
Abah:"bagaimana umpama dibawa pakai mobil ambulance?"
lalu Guru Semman tediam. ujar Abah:"mobil ambulance punya kita juga"
Guru Semman:"bagus"
Abah:"bagaimana kalo dijaga polisi?"
Guru Semman:"Bagus"
setelah itu Abah Guru Btakun soal jemaah/murid sidin.
Abah:"bagaimana murid-murid sampeyan hari sabtu perempuan?"
Guru Semman: (dengan isyarat menunjuk ke arah sekumpul).
kemudian Guru Semman minta ambilkan kertas. lalu Abah Guru ambilkan
kertas wan pulpen. wktu itu Guru Semman mulai pina sesak bhinak, sambil
bapadah, "tulis, WASIAT HAJI SEMMAN, KALAU MENINGGAL DUNIA, TANAM
DISEKUMPUL".
pas baucap kaitu, nangis Guru Semman. wasiat
selanjutnya, "Uang yg ada di lemari besi, sepertiga utk Khoirot
(kebaikan2), termasuk bearwah" wasiat ke-3, "Siti (Adik Beliau) bawa
kesekumpul". pas mndngar itu, adik beliau kehimungan bnr, soalnya beliau
sudah lws menantikan hndk satu rumah lwn kaka beliau, yaitu Hj.
Masliah. selanjutnya, "Muhammad dan Maisaroh (dua Anak Beliau), (sambil
mnunjuk keatas) artinya diserahkan kepada Allah. dan terakhir, Guru
Semman mbari isyarat minta talqin akan lwn Abah Guru wktu itu juga.
setelah itu Abah Guru mndekat ke telinga beliau, lalu Guru Semman
mmejamkan kedua mata. selesai betalqin, Abah Guru dan Guru Semman
bersalaman, berasuk tangan dan berpelukan. setelah itu kdd satu kata2
lagi.
waktu berjalan, sampai wktu subuh, Guru Semman mandi, berwudhu
sorangan. kemudian Abah Guru mnyiapkan pakaian utk beliau sholat,
sarung putih, kupiah putih.
setelah bepakaian, Guru Semman duduk di
sajadah. setelah itu beliau besiap sholat subuh, membaca niat Sholat
subuh, Takbiratul ihram, ruku' , I,tidal, pas sujud pertama kd
bebangun-bangun lagi. INNALILLAHI WA INNAILAHI ROJI'UN.
Telah
berpulang ke Rahmatulloh, Syekh Semman Mulya, tepat pada hari selasa
akhir bulan jumadil akhir, sesudah waktu subuh, tepat pada sujud yg
pertama di raka'at yg pertama...
(Kisah Abah Guru Sekumpul ketika acara Haul Almarhumah Hj. Masliyah)
Allahumma Sholli 'ala Sayyidina Muhammad...
sumber : http://www.facebook.com/groups/191179884364953/
Kamis, 25 April 2013
Gelar Abah Guru Sekumpul waktu kecil
Tegak di samudera pasir yang luas, seperti sebuah keajaiban yang muncul di tengah-tengah misteri ketidakpastian. Tidak mungkin rasanya bangunan tersebut milik salah satu suku Arab, lantas, kenapa hanya ada satu, di mana yang lainnya?, bila ternyata bangunan itu milik seorang musafir, lalu kenapa terlihat berdiri kokoh, menyiratkan bahwa ia adalah sebuah tempat tinggal untuk jangka waktu yang tidak sebentar?.
Langkah kaki Abah Guru terhenti manakala jarak yang tersisa antara dia dan bangunan itu hanya tinggal beberapa langkah, siapa pemilik bangunan, apakah dia sedang berada didalam, sebuah pertanyaan menyelimuti benaknya. Tiba-tiba di tingkat atas muncul seorang wanita Arab, yang meskipun busananya tertutup namun kecantikannya memancar menembus sekat-sekat bernama kain, melemparkan sesuatu kepada Abah Guru , Abah Guru memungut benda itu sambil hatinya bertanya-tanya. Namun keheranannya itu tidak membuatnya surut untuk terus melangkah. Ditengah semesta diamnya, yang mengitari pikirannya. Abah guru tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah goncangan, bumi yang dipijak terasa bergetar.. Abah Guru tersentak, apa yang terjadi, suara apa itu, dari mana asalnya?, berbagai pertanyaan muncul tanpa rekayasa.
Abah Guru yang keheranan terus melangkahkan kakinya, sampai tidak jauh dari bangunan itu dia bertemu dengan dua orang pemuda, tegap, tampan, bahkan sangat tampan. Pemuda pertama yang lebih tua, terlihat penuh kharisma sekaligus menunjukkan kesantunan yang menyentuh relung hati setiap orang yang memandangnya, sementara yang lebih muda, nampak kekar bagai seorang mujahid, yang setiap saat siap menghadapi berbagai tantangan, sosok pria pemberani tergambar jelas dari raut mukanya.
Abah gurupun akhirnya terlibat dialog dengan kedua orang tersebut, sampai akhirnya..
“Kamu, kami berikan gelar Zainal Abidin”.
Abah Guru terdiam, Zainal Abidin …. sebuah gelar yang pernah mengukir sejarah, yang bahkan kebakaran di rumahnya sendiri tidak sanggup mengusiknya dari ibadah, dialah Sayyidina Ali Zainal Abidin, satu-satunya putera Sayyidina Husein sang Syahid Agung, yang selamat dari pembantaian di medan Karbala, putera Sayyidatina Fathimah az-Zahra; puteri Rasulullah SAW. Dialah orang pertama yang menyandang gelar Zainal Abidin; perhiasan cantik para ahli ibadah, karena ‘abid yang manapun, dari belahan bumi manapun, akan tertunduk malu bila berhadapan dengan catatan sejarah hidupnya, hanya dengan kisah tentang ibadahnya… apalagi kalau bertemu dan melihat langsung bagaimana asyiknya dia bersama Rabb-nya.
Abah Guru mungkin merasa malu, bagaimana tidak? Karena gelar tersebut bukan sembarang gelar, gelar adalah gambaran dari orang yang menyandangnya dibahunya, arti hakiki dari gelar tersebut, pertanda apa sehingga dia mendapatkan anugerah sebesar ini.
Saat ia merenung, ia melihat tanah yang berada di samping bangunan tersebut tiba-tiba bergerak laksana gelombang air laut. Kemudian Abah Guru bertanya kepada keduanya :
“Kenapa bumi tadi bergetar?” ucapnya.
“Itu adalah makam ayahanda, Ali Ibn Abi Tholib”
Abah Guru bertanya lagi kepada mereka berdua tentang perempuan yang melempar sesuatu kepadanya tadi :
“Kalau perempuan yang diatas bangunan tadi?”,
“Ibunda Fathimah” jawab mereka berdua.
Jawaban itu menjadi tafsir yang menguak tabir misteri ketiga orang ini. Yah, karena ketiga manusia yang mengundang kekaguman itu adalah al-Bathul; Sayyidatina Fathimah, sang pemuka para wanita surga, al-Hasan dan al-Husein, dua pemuda penghulu sorga, cucu dan pendingin mata Baginda Rasulullah SAW. Mereka adalah tiga orang ahlul kisaa , yang mengiringi turunnya ayat Tathir dalam surah al-Ahzab :
إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ البَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً
mereka adalah ahlu bait-nya Musthofa SAW.
Sebuah mimpi yang teramat indah, yang mungkin didambakan semua muhibbin ahli bait-nya Rasulullah SAW. Mimpi yang merupakan sebuah pertanda baik atau bisyarah untuk seorang hamba Allah yang sedang meniti jalan hidupnya menuju sebuah “kehambaan” yang sebenarnya, kedudukan yang paling tinggi di hadapan Sang Penguasa Semesta, Pencipta jagat raya, Allah SWT.
Meski Abah Guru mendapat bisyarah, mimpi bertemu dengan orang-orang mulia itu, namun dia tidak pernah menceritakan mimpi itu kepada siapapun, semua tetap mengendap dalam otaknya. Hingga suatu saat diceritakan oleh Guru Marzuki saat bertemu dengan Zaini di sebuah acara. Guru Zuki, begitu panggilan beliau, melemparkan pertanyaan yang membuat Zaini terkejut.
“Ikam wayah ini bangaran Zainal Abidin kah?” (Kamu sekarang ini bernama Zainal Abidin kan?) tanya Guru Zuki.
Zaini hanya diam, pertanyaan ini mengingatkannya pada mimpi yang dialaminya itu.
“Ada kalu ikam tamimpi?” (Bukankah kamu ada bermimpi?) sambung Guru Zuki. Zaini hanya menunduk, ternyata ulama yang satu ini tahu perihal mimpinya, padahal sebelumnya dia tidak pernah bercerita kepada siapapun tentang mimpi itu.
Notes : Kubah Guru Zuki dibelakang Kubah Guru Kasyful Anwar di Kampung
Melayu Martapura
Moga menambah kecintaan kita pada abah guru dan mendapatkan Rahmat Allah mengisahkan para Kekasih-Nya ( Aulia Allah ) … aamiinn
Langganan:
Postingan (Atom)






