Minggu, 10 Desember 2017

Baik Sangka Kepada Allah SWT



Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Allah Ta’ala berfirman, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku” (Muttafaqun ‘alaih). Hadits ini mengajarkan bagaimana seorang muslim harus huznuzhon pada Allah dan memiliki sikap roja‘ (harap) pada-Nya.

Sebagian ulama mengatakan bahwa maknanya adalah Allah akan memberi ampunan jika hamba meminta ampunan. Allah akan menerima taubat jika hamba bertaubat. Allah akan mengabulkan do’a jika hamba meminta. Allah akan beri kecukupan jika hamba meminta kecukupan. Ulama lainnya berkata maknanya adalah berharap pada Allah (roja’) dan meminta ampunannya.

Inilah bentuk husnuzhon atau berprasangka baik pada Allah yang diajarkan pada seorang muslim. Jabir berkata bahwa ia pernah mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat tiga hari sebelum wafatnya beliau,


لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلاَّ وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللَّهِ الظَّنَّ

“Janganlah salah seorang di antara kalian mati melainkan ia harus berhusnu zhon pada Allah” (HR. Muslim no. 2877). Husnuzhon pada Allah, itulah yang diajarkan pada kita dalam do’a. Ketika kita berdo’a pada Allah kita harus yakin bahwa do’a kita akan dikabulkan dengan tetap melakukan sebab terkabulnya do’a dan menjauhi berbagai pantangan yang menghalangi terkabulnya do’a. Karena ingatlah bahwasanya do’a itu begitu ampuh jika seseorang berhusnuzhon pada Allah.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Ghofir/ Al Mu’min: 60) “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)

Jumat, 08 Desember 2017

Mengharap Ridha Allah

harap 


Abul Qasim Junaid bin Muhammad, seorang ulama sufi yang tinggal di Baghdad, karena itu lebih dikenal dengan nama Imam Junaid al Baghdadi, suatu ketika mengalami sakit mata yang cukup parah.

Suatu malam seorang dokter mata dipanggil & setelah melakukan pemeriksaan & pengobatan, sang dokter berkata, “Jika engkau ingin matamu selamat, jangan sampai kena air!!” Salah satu amalan istiqomah yang tidak pernah ditinggalkan Imam Junaid adalah shalat 2 rakaat sebelum tidur.

Baginya, ancaman kerusakan mata bila terkena air, tidaklah seberapa beratnya jika dibandingkan kehilangan 2 rakaatnya tersebut. Begitu dokter itu pergi, ia segera mengambil air untuk berwudhu & shalat 2 rakaat. Imam Junaid tidak memperdulikan lagi rasa sakit & resiko yang terjadi dengan matanya, yang terpenting ia tidak meninggalkan amalan istiqomahnya demi untuk memperoleh keridhoan Allah.



Setelah itu ia tidur, Menjelang waktu subuh, Imam Junaid bangun dari tidurnya, & ia keheranan karena rasa sakit di matanya telah hilang. Bahkan penglihatannya jauh lebih baik dibandingkan sebelum sakit. Dalam keheranannya itu, tiba-tiba ia mendengar suara tanpa wujud (hatif), “Junaid telah berani mengorbankan matanya untuk ridho-Ku. Seandainya para ahli neraka jahanam (yakni orang-orang yang suka bermaksiat kepada Allah) meminta (ampunan) kepada-Ku dengan semangat yang dimiliki Junaid, pastilah Aku akan memenuhi permintaan mereka!!” Keesokan harinya, dokter mata itu datang lagi untuk memeriksa keadaan Imam Junaid & ia ter-heran-heran karena matanya telah sembuh total. Sang dokter berkata, “Apa yang telah engkau lakukan dengan matamu itu?” Aku berwudhu & shalat 2 rakaat!!” Kata Junaid. Dokter itu terkesima dengan jawaban Imam Junaid, berwudhu berarti terkena air, tetapi ternyata matanya malah sembuh.

Segera saja ia berkata, “Itu adalah obat dari Tuhan Yang Maha Pencipta, bukan obat dari mahluk. Sesungguhnya akulah yang selama ini sakit mata (hati) & engkau, wahai Junaid sebagai dokter Kemudian dokter mata yang beragama Nashrani itu mengucap syahadat, menyatan masuk Islam dihadapan Junaid.

Apa Itu Maqam



Maqam adalah tahapan adab (etika) seorang hamba dalam wushul kepada-Nya dengan macam upaya, di-wujud-kan dengan suatu tujuan pencarian dan ukuran tugas.

Masing-masing berada dalam tahapannya sendiri ketika dalam kondisi tersebut, serta tingkah laku riyadhah menuju ke pada-Nya. Syaratnya, seorang hamba tidak akan menaiki dari satu maqam ke maqam lainnya sebelum terpenuhi hukum-hukum maqam tersebut.

Barangsiapa yang belum sepeuhnya qana’ah, belum bisa mencapai tahap tawakkal. Dan siapa yang belum bisa tawakal tidak sah bertaslim. Siapa yang tidak bertobat, tidak sah pula ber inabat, dan barang siapa tidak wara’ tidak sah untuk ber zuhud.



Al-Maqam berarti iqamah, sebagaimana kata al-wadkhal berarti idkhaal, dan al-makhraj berarti al-ikhraaj. Tidak seorang pun sah menahapi suatu maqam, kecuali dengan penyaksian terhadap kedudukan Allah SWT. terhadap dirinya dengan maqam tersebut, yang dengannya struktur bangunan ruhaninya benar menurut pondasi yang shahih.

Saya mendangar Abu ali- al-Daqqaq r.a. berkata :
“Ketika al-Wasithy masuk ke Naisabur, bertanyalah ia kepada santri Abu Utsman, : “Apa yang diperintahkan Syeikh kalian kepada kalian? Mereka menjawab :
“Kami diperintah untuk menetapi taat serta melihat dan meneliti penyimpangan di dalamnya.”

Maka al-Wasithy berkata, “Syeikh kalian memerintah dengan cara Majusi murni? Apakah Syeikh kalian tidak memerintah diri kalian dengan hal yang gaib dengan memandang ke pada Yang Memunculkan dan Menjalankan yang gaib? Maksud al- Wasithy dengan kata-kata itu, agar mereka menjaga diri dari posisi takjub. Bukannya menaiki ke arah wilayah penyimpangan atau keteledoran
(taqshir), karena yang demikian bisa merusakkan adanya cacat dalam adab

Selasa, 05 Desember 2017

Imam Bukhori Kecil Hafal 10.000 Hadis



Dikutipkan dalam catatan Al Habib Ahmad bin Ali bin Ahmad bin Abdullah bin Tholib al-atthos, Habib Ali bin muhammad Al Habsyi menceritakan bahwa ada 2 orang yang sedang berjalan di kampung yang ditempati oleh Imam Bukhari, yang ketika itu Imam Bukhari masih sangat muda.

Ketika mereka berjalan sambil berbincang-bincang, mereka melihat Imam Bukhari yang sedang bermain, dan salah satu dari 2 orang ini mengenal Imam Bukhari kemudian dia berkata pada sahabatnya : "lihatlah anak yang di tepi jalan sana yang sedang bermain?, dia anak yang luar biasa, anak kecil itu sudah menghafal 1000 hadist beserta sanad" dan Imam Bukhari mendengar perbincangan mereka berdua kemudian Imam Bukhari menghampiri mereka dan berkata: "kalian mengatakan aku anak kecil yang baru menghafal 1000 hadist, dan kalian kagum? kalian salah, aku tidak menghafal 1000 hadist tetapi lebih dari 10.000 hadist Nabi Muhammad SAW.

Subhanallah beliau usia sekitar 7-11 tahun telah mencapai kedudukan yang sangat tinggi, beliau habiskan seluruh hidupnya untuk merangkum dan mengumpulkan hadist-hadist Nabi Muhammad SAW beserta sanadnya, usia semuda itu beliau telah menghafal ribuan hadist beserta sanadnya,maka bagaimana ketika beliau telah mencapai usia tua.

Amalan Penguat Ingatan



Seorang Ulama, Wali besar, dan Guru para wali-wali besar Al-Imam Al-'Allamah Al-Quthb Al-Arifbillah, Salah seorang keturunan Rasulullah SAW yang senantiasa mengikuti jejak leluhurnya, A1Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (Mu'allif Simtud Durrar) telah berkata :

"Surat Al-A'la mengandung rahasia besar dan serba mencakup. Setiap orang yang mengeluh kepadaku tentang kelemahan daya ingat, maka aku akan menganjurkan kepadanya untuk membaca surat ini, dan ketika sampai pada ayat : "Sanuq-ri-uka falaa tansaa" "Kami akan membacakan kepadamu (Rasulullah) maka kamu tidak akan lupa" (QS. Al-Ala, 87;6)

Hendaknya ia mengulang ayat itu paling sedikit 7 kali, lalu menyelesaikan surat tersebut"
Manaqib Al Imam Al-Quthbil Wujud Asy-Syahir Al Habib Ali bin muhammad Al-Habsyi Shabibul Maulid Simtud Durrar)

Faedah-Faedah Khusus Pada Hari Jum'at



فوائد تختص بسيد الأيام يوم الجمعة
Faedah-faedah khusus yang diamalkan pada Rajanya Hari yaitu hari JUM'AT.

مستفاد من مجالس الحبيب زين بن سميط والحبيب سالم الشاطري نفع الله بهما.
Diambil dari majelis-majelis Al-Habib Zein bin Sumaith dan Al-Habib Salim Asy-Syathiri (Semoga dengan berkat mereka ALLAH berikan kita manfa'at).

١. من قال بعد غسل الجمعة مائة مرة "يامهيمن" رزقه الله المهابة والجلال
1. Barang siapa setelah mandi sunnah jumat mengucapkan "Yaa Muhaimin" 100kali maka ALLAH akan memberikan rezeki berupa haibah (kemuliaan) dan keluhuran.



٢. من قرأ بين أذاني الجمعة سورة القدر ٧ مرات قضى الله دينه
2. Barang siapa membaca surah Al-Qadr 7kali diantara 2 adzan jumat yaitu sesudah adzan yang pertama, maka ALLAH akan menunaikan/melunaskan hutangnya.

٣. من قال ساعة الدعاء للمؤمنين والمؤمنات في الخطبة "ياغني يامغني" أربعين مرة؛ يقول في رأس كل عشر منها : أغنني .. إلا وسع الله عليه رزقه.
3. Barang siapa yang saat khatib berdoa untuk kaum mu'minin, ia membaca "Yaa Ghoniyyu yaa mughniy" 40kali, setiap 10kalinya baca aghniniy.. 1 kali, maka ALLAH akan meluaskan rezekinya.

٤. من قال بعد صلاة الجمعة ٣٣ مرة "يا باطن" جعله الله من أهل الباطن
4. Barang siapa yang membaca "Yaa Baathin" 33kali setelah selesai sholat jum'at, maka ALLAH akan menjadikannya ahlil batin.

Sifat Para Waliyullah



Mereka tidak akan membedakan sikap di depan orang , baik saat mereka berada di depan pencuri, penjahat, politikus, pejabat negara, di depan si kaya, di depan si miskin, di depan si muda, atau di depan yang lebih tua, mereka para wali akan memperlakukan sama hormatnya, jika di depan pencuri, penjahat, ahli maksiat, para wali beranggapan bahwa mereka itu lah yang perlu di kasihi, di sayangi, di perhatikan.

Kasih sayang seorang wali persis seperti kasih sayang Nabi pada Umat nya.
Kasih sayang wali persis seperti kasih sayang Allah pada Umat manusia dan seluruh makhluq,
Walaupun manusia selalu berbuat dosa, lihatlah Allah masih memberi mereka makan, memberi kesehatan, itu manifestasi sifat Allah yang Rahman, Itu pula yang dimiliki oleh setiap para wali,
Sifat para wali adalah sifat Rabbani/ ketuhanan.

Allah memiliki sifat Rahman dan Rahim
Wali juga senantiasa bersifat pengasih dan penyayang kepada semua makhluq baik manusia, hewan atau tumbuhan. Allah memiliki sifat Lathif/lemah lembut.



Begitu juga para wali, mereka senantiasa berlemah lembut kepada semua makhluq. Allah memiliki sifat ghofuur/pemaaf.

Begitu juga para wali, senantiasa bersifat pemaaf kepada semua makhluq baik manusia ataupun hewan.

Allah memiliki sifat Ash-Shabur/penyabar.

Begitu juga para wali, senantiasa penyabar menghadapi hidup, ujian, menghadapi umat, melayani umat.

Allah memakaikan kepada para wali sifat-sifat Rabbani.

Jika ingin seperti mereka rubahlah sifat kebinatangan dalam diri kita, Jangan membedakan sifat dan sikap kepada orang lain, Itu standar ganda yang hanya melindungi kepentingan pribadi yang justru cenderung egois.