Jumat, 18 Januari 2013

Pertemuan penyanyi legandaris Chrisye dengan Abah Guru Sekumpul


Kelahiran, hidup dan kematian itu Allah yang mengaturnya. Bukankah sebelum manusia lahir ke dunia sudah berjanji kepada Allah, dan mengakui Allah sebagai Tuhan dan yang mengaturnya. Intinya manusia memegang janji itu selama kehidupannya.


Chrismansyah Rahadi atau yang akrab kita kenal dengan sebutan Chrisye. Seorang penyayi legendaris yang karyanya banyak memberikan motivasi cinta. Disukai sebab lirik lagunya yang nyaman didengar dan disanjung banyak orang , pencipta lagu seakan-akan karena merekalah lagu itu diperuntukkan.


Hikmah yang terbesar dalam diri dan kehidupan Chrisye adalah ia mempunyai kesempatan untuk memeluk agama Islam dan meninggalkan agamanya yang terdahulu. Keislamannya tidak lepas dari bimbingan Syech Muhammad Zaini Ghani.


Asal muasal pertemuan Chrisye dengan Abah Guru, ketika saudaranya mengajak ke Martapura untuk menemui Abah Guru. Dikatakan saat itu Chrisye sangat antusias sekali. Karena selama ini kesuksesan yang diperolehnya hampa tiada makna tanpa ada bimbingan agama, harus ada perimbangan yang bersifat spritual dan meneguhkan iman. Akhirnya Chrisye menginjakkan kaki pertama kali di Sekumpul sekitar tahun 90’an.


Sejak itu Chrisye sering ke Martapura, ikut mengaji di tengah-tengah para hadirin majelis Abah Guru di Sekumpul. Chrisye juga tidak henti-hentinya meminta nasehat dengan beliau. Ketika Abah Guru mengatakan “Kamu memang sedang digodok oleh Allah”, Chrisye semakin meneguhkan keyakinan dan memantapkan keimanannya kepada Allah.


Nasehat Abah Guru, agar Chrisye sering bersilaturrahmi kepada para ulama, kiai dan habaib. Terlebih Chrisye tinggal di Jakarta. Abah Guru menyarankan ia mengikuti pengajian Habib Abu Bakar di Jakarta. Sesuai yang disarankan Abah Guru, Chrisye pun bersama keluarga rajin mengikuti pengajian tersebut setiap hari ahad. Selain berupa pengajian, Chrisye dan keluarga membaca Maulid Simtut Durrar dan Ratib Al-Haddad di majelisnya Habib Abu Bakar.


Nasehat Abah Guru lagi, agar jika mampir ke Solo, jangan lupa sowan meluangkan waktu bersilaturrahmi ke tempat Habib Anis. Perkenalan Chrisye dengan Habib Anis berawal dari konser di Surabaya, Solo, Bandung, dan Jakarta. Nah, ketika konser di Solo itu, Chrisye meminta diantar ke tempat Habib Anis. Sayangnya, mereka yang membuat konser bukan kalangan yang mengerti tentang hal-hal yang seperti ini. Tetapi dengan semangat mereka bekerja keras mencari tempat Habib Anis. Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga. Begitulah, setiap Habib Anis ke Jakarta Chrisye tidak pernah lupa untuk bersilaturahmi dan meminta nasehat kepada beliau.


Subhanallah.. Itulah Chrisye, meski dia seorang muallaf namun mempunyai keimanan yang teguh. Ia menjaga amanah keimanannya sebagai ruh agama. Karena umur yang diberikan Allah kepada kita adalah amanah. Sekarang Chrisye telah tiada dan berhasil menjaga amanah keimanannya. Ia meninggal dalam keadaan tenang. diringi bacaan Al-Qur’an anak dan istrinya. Ia sukses membina keluarga sakinah mawaddah sesuai tuntunan agama. Ia menghadap keharibaan Allah Swt di malam mulia nan istimewa jum’at al-mubarak. Siang jum’atnya jenazah Chrisye disaksikan oleh banyak umat Islam dan dishalatkan ketika shalat jum’at diadakan.

Saat-Saat Kelahiran Abah Guru Sekumpul


Bertepatan kedatangan tentara Jepang Tahun 1942 ke Martapura . Fitnah sungguh merajalela, keluarga, Abdul Ghani mengungsikan keluarganya mencari tempat yang paling aman, agar istrinya dapat melahirkan dengan selamat. Dengan sembunyi-sembunyi dibawalah istrinya yang sudah hamil tua tersebut, bersama ibu (Salabiah), dengan menggunakan jukung (perahu kecil) melewati sawah dan sungai menuju Desa Tunggul Irang Seberang, menuju ke rumah salah seorang paman Salabiah yang bernama Abdullah, dimana rumahnya berdampingan dengan rumah Tuan Guru H. Abdurrahman tokoh ulama masyarakat Tunggul Irang Seberang. Meskipun Masliah bukanlah keponakan ujud (langsung) dari Paman Abdullah, perhatian dan perlakuan beliau terhadap mereka sangatlah baik, padahal kehidupan beliau sendiri sangatlah kekurangan.

Dipilihnya Desa Tunggul Irang Seberang sebagai tempat untuk berlindung adalah karena dianggap paling aman di saat itu. Selama masa Tuan Guru H. Adu (Panggilan Tuan Guru H. Abdurrahman) tinggal dan dibesarkan di Desa Tunggul Irang tersebut, tentara kolonial tidak pernah menginjakkan kakinya di desa ini. Sebab setiap kali akan menuju desa tersebut, selalu saja mendapat halangan dan rintangan yang tidak terduga, sebagaimana beberapa kali perahu tentara Belanda yang akan melewati Desa Tunggul Irang selalu saja kandas dan tenggelam, dengan alasan yang tidak dimengerti oleh mereka.

Baru beberapa hari tinggal di Desa Tunggul Irang Seberang, tibalah waktunya Masliah akan melahirkan anaknya. Dikala malam bertambah larut, waktu yang terbaik untuk munajat kepada Sang Khalik, ketika angin bertiup lembut, Masliah melahirkan bayinya yang pertama. Malam itu, tepatnya Rabu tanggal 27 Muharram 1361 H bertepatan dengan 11 Februari 1942 M, seorang bayi laki-laki mungil lagi montok telah lahir, berkat bantuan seorang bidan yang bernama Datu Anjang. Beliau adalah nenek Tuan Guru Husein Dahlan yang merupakan sepupu dua kali dengan Masliah.

Sekalipun kehadiran bayi tersebut di malam hari yang kelam, sekelam dan sepekat nasib negeri dan bangsa ini ketika itu, namun betapa bahagia dan bersyukurnya sang ayah, apalagi bagi sang ibu yang telah mengandungnya selama lebih sembilan bulan lamanya.

Sungguh diluar dugaan, bayi yang baru lahir di saat orang-orang sedang terlelap dalam tidurnya, seharusnya terjaga akibat mendengar tangisannya, sebagaimana layaknya bayi-bayi lain yang baru lahir, ternyata sang bayi tidak menangis, hanya diam tidak sedikitpun mengeluarkan suara. Matanya tertutup, seperti tidak ada tanda kehidupan. Kejadian itu berlangsung selama hampir satu jam lamanya. Warna kulit badannya sudah mulai membiru. Berbagai macam usaha sudah dicoba, namun bayi itu masih diam, tak ada jerit tangis, sampai-sampai neneknya Salabiah yang juga hadir saat kelahiran bayi tersebut berkata :
“Mati jua cucuku…?”
Bayi yang keadaannya membuat cemas itu kemudian dibawa pergi ke rumah Tuan Guru H. Abdurrahman untuk mendapatkan pertolongan. Setibanya di hadapan Tuan Guru H. Adu, bayi tersebut dipeluk dan ditiupi beliau dengan do’a-do’a, hingga akhirnya samar-samar mulai tampak tanda-tanda kehidupan, nafas sang bayi mulai turun naik, warna kulitnya berangsur-angsur menjadi kemerah-merahan, dan tangisnya pun mulai terdengar.

Sejak tangis sang bayi sudah mulai terdengar, syukur dan puji dihaturkan keharibaan Allah yang Maha Kuasa, sebab Dia-lah yang menghidupkan dan Dia pula yang mematikan, Dia-lah yang merubah dari gelap menjadi terang. Bayi yang tangisannya mulai terdengar, pertanda haus dan lapar telah merasuki perasaannya, maka sang bayi pun diserahkan kepada ibunya yang akan menyusuinya, membelainya dengan sentuhan lembut, serta memberikan perhatian dengan kasih dan sayang.

Bayi yang berada dalam pelukan ibunya terus menangis, hingga keluarga yang hadir ikut berusaha untuk membuatnya terlena dalam pangkuan ibunya. Ibunya berusaha memberikan air susu. Namun tetaplah bayi tersebut menangis. Begitulah seterusnya, bayi tersebut selalu menolak saat diberikan air susu ibunya, apalagi minuman lain. Setelah berjam-jam menangis, bayi yang baru lahir tersebut akhirnya dibawa lagi kepada Tuan Guru H. Adu untuk meminta kembali bantuan beliau.

Sesudah diterima kembali oleh beliau bayi yang masih menangis itu dipangkuannya, beliau menjulurkan lidahnya ke mulut bayi. Maka bayi itupun menghisap lidah beliau dengan lahapnya, seakan-akan ia menyusu kepada ibunya. Setelah ia puas menghisap lidah Tuan Guru H. Adu, maka lidah itupun dilepasnya, sehingga berhenti pulalah tangisan sang bayi. Kejadian seperti ini berulang-ulang hingga beberapa kali.

Suatu ketika Masliah mencoba menyusui anaknya di dalam kamar yang tertutup, tanpa ada orang yang melihat. Tak disangka bayi itu mulai menghisap susu ibunya. Maka mengertilah Masliah bahwa bayinya tersebut seakan-akan enggan menyusu bila dilihat oleh orang lain. Sang bayi sepertinya berusaha memelihara ibunya dari membuka aurat di hadapan orang lain. Mungkinkah ini salah satu pertanda akan ‘kemuliaan’ sang bayi di masa hidupnya kelak?

Pada hari keenam belas setelah kelahiran tersebut, bayi kecil yang kelihatan masih lemah itu diboyong oleh orang tuanya dari tempat kelahirannya, pindah ke tempat lain, ke sebuah rumah kecil antara Desa Pasayangan dan Desa Keraton Martapura, berjarak kurang lebih satu kilometer dari Desa Tunggul Irang Seberang Martapura, di tempat inilah mereka akan memulai kehidupan yang baru.

Tetapi bagaimanapun juga tempat kelahiran adalah sebuah kenangan. Setiap anak manusia di manapun di dunia ini, tanah kelahiran selalu menyisakan kenangan yang amat khusus, pada gilirannya -seiring berlalunya waktu- ia akan tetap meninggalkan nostalgia, walaupun sekilas riwayat dan cerita didengarnya dari penuturan orang tua tentang tempat kelahiran dan kejadian sesudah kelahirannya, suatu ketika akan terkenang dalam kehidupan setiap orang.

Mungkin yang sangat berkesan justru masyarakat Desa Tunggul Irang Seberang itu sendiri, bahwa desa mereka ditakdirkan oleh Allah Yang Maha Kuasa menjadi persada bagi kelahiran seorang putra yang mereka kenal dari kalangan keluarga yang sangat sederhana namun bermartabat serta berbudi. Sebagaimana masyarakat Islam, baik di dalam maupun di luar negeri mengenalnya di kemudian hari sebagai “Al al-‘Alimul ‘Allamah Al ‘Arif billah As Syeikh Muhammad Zaini Bin Abdul Ghani” dari Martapura.

Saat akan meninggalkan Desa Tunggul Irang Seberang, atas do’a dan restu Tuan Guru H. Adu, Abdul Ghani dan istrinya Masliah beserta bayinya yang diberi nama Muhammad Qusyairi , beranjak pulang dengan menggunakan sebuah mobil yang disebut masyarakat sekitar dengan Mobil Jamban. Di masa penjajahan Jepang yang terkenal kejam, rasa was-was akan keselamatan menghantui masyarakat Martapura pada masa itu, rombongan di mobil itupun merasakan kekhawatiran serupa. Akhirnya kecemasan yang mencekam dalam perjalanan pulang itu sirna sudah, rombongan sampai ketujuan dengan selamat berkat bantuan seorang Habib bernama Habib Hasan, yang ikut mengantar mereka hingga ke tujuan. Padahal di hari itu, tidaklah berbeda dengan hari-hari sebelumnya, patroli-patroli dari tentara penjajah yang bertikai masih berkeliaran dimana-mana, namun seakan-akan mereka tidak mendengar atau melihat mobil yang melintas di hadapan mereka, hingga akhirnya sampailah rombongan dengan selamat ke tujuan.

Moga dengan mengisahkan para Aulia Allah akan turun Rahmat bagi kita semua … aamiin



Foto ini adalah Tuan Guru H. Adu (Panggilan Tuan Guru H. Abdurrahman)

Tuan Guru Haji Abdurrahman (Guru Adu Tunggul Irang) bin Tuan Guru Haji Zainuddin Al-Banjari. Tuan Guru Haji Abdurrahman (guru Adu) yang setiap malam mengaji kepada gurunya Tuan Guru Haji Said Wali al-Banjari sehingga ia dapat menguasai berbagai ilmu pengetahuan Agama. selain itu beliau juga belajar kepada Tuan Guru Haji Kasyful Anwar al-Banjari di kampung Melayu Martapura.

sumber : http://www.facebook.com/groups/parapencinta.abahguru/

Mimpi Abah Guru Sekumpul pada waktu kecil



suatu malam, abah guru mendapatkan mimpi, merasakan seolah-olah berada disebuah padang pasir, sejauh mata memandang hanya sahara yang membentang, dari kejauhan tampak fatamorgana seperti genangan air, meski sebenarnya hanyalah biasan cahaya matahari.


Tegak di samudera pasir yang luas, seperti sebuah keajaiban yang muncul di tengah-tengah misteri ketidakpastian. Tidak mungkin rasanya bangunan tersebut milik salah satu suku Arab, lantas, kenapa hanya ada satu, di mana yang lainnya?, bila ternyata bangunan itu milik seorang musafir, lalu kenapa terlihat berdiri kokoh, menyiratkan bahwa ia adalah sebuah tempat tinggal untuk jangka waktu yang tidak sebentar?.

Langkah kaki Abah Guru terhenti manakala jarak yang tersisa antara dia dan bangunan itu hanya tinggal beberapa langkah, siapa pemilik bangunan, apakah dia sedang berada didalam, sebuah pertanyaan menyelimuti benaknya. Tiba-tiba di tingkat atas muncul seorang wanita Arab, yang meskipun busananya tertutup namun kecantikannya memancar menembus sekat-sekat bernama kain, melemparkan sesuatu kepada Abah Guru , Abah Guru memungut benda itu sambil hatinya bertanya-tanya. Namun keheranannya itu tidak membuatnya surut untuk terus melangkah. Ditengah semesta diamnya, yang mengitari pikirannya. Abah guru tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah goncangan, bumi yang dipijak terasa bergetar.. Abah Guru tersentak, apa yang terjadi, suara apa itu, dari mana asalnya?, berbagai pertanyaan muncul tanpa rekayasa.

Abah Guru yang keheranan terus melangkahkan kakinya, sampai tidak jauh dari bangunan itu dia bertemu dengan dua orang pemuda, tegap, tampan, bahkan sangat tampan. Pemuda pertama yang lebih tua, terlihat penuh kharisma sekaligus menunjukkan kesantunan yang menyentuh relung hati setiap orang yang memandangnya, sementara yang lebih muda, nampak kekar bagai seorang mujahid, yang setiap saat siap menghadapi berbagai tantangan, sosok pria pemberani tergambar jelas dari raut mukanya.

Abah gurupun akhirnya terlibat dialog dengan kedua orang tersebut, sampai akhirnya..
“Kamu, kami berikan gelar Zainal Abidin”.

Abah Guru terdiam, Zainal Abidin …. sebuah gelar yang pernah mengukir sejarah, yang bahkan kebakaran di rumahnya sendiri tidak sanggup mengusiknya dari ibadah, dialah Sayyidina Ali Zainal Abidin, satu-satunya putera Sayyidina Husein sang Syahid Agung, yang selamat dari pembantaian di medan Karbala, putera Sayyidatina Fathimah az-Zahra; puteri Rasulullah SAW. Dialah orang pertama yang menyandang gelar Zainal Abidin; perhiasan cantik para ahli ibadah, karena ‘abid yang manapun, dari belahan bumi manapun, akan tertunduk malu bila berhadapan dengan catatan sejarah hidupnya, hanya dengan kisah tentang ibadahnya… apalagi kalau bertemu dan melihat langsung bagaimana asyiknya dia bersama Rabb-nya.

Abah Guru mungkin merasa malu, bagaimana tidak? Karena gelar tersebut bukan sembarang gelar, gelar adalah gambaran dari orang yang menyandangnya dibahunya, arti hakiki dari gelar tersebut, pertanda apa sehingga dia mendapatkan anugerah sebesar ini.

Saat ia merenung, ia melihat tanah yang berada di samping bangunan tersebut tiba-tiba bergerak laksana gelombang air laut. Kemudian Abah Guru bertanya kepada keduanya :

“Kenapa bumi tadi bergetar?” ucapnya.
“Itu adalah makam ayahanda, Ali Ibn Abi Tholib”

Abah Guru bertanya lagi kepada mereka berdua tentang perempuan yang melempar sesuatu kepadanya tadi :

“Kalau perempuan yang diatas bangunan tadi?”,
“Ibunda Fathimah” jawab mereka berdua.

Jawaban itu menjadi tafsir yang menguak tabir misteri ketiga orang ini. Yah, karena ketiga manusia yang mengundang kekaguman itu adalah al-Bathul; Sayyidatina Fathimah, sang pemuka para wanita surga, al-Hasan dan al-Husein, dua pemuda penghulu sorga, cucu dan pendingin mata Baginda Rasulullah SAW. Mereka adalah tiga orang ahlul kisaa , yang mengiringi turunnya ayat Tathir dalam surah al-Ahzab :

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ البَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً
mereka adalah ahlu bait-nya Musthofa SAW.

Sebuah mimpi yang teramat indah, yang mungkin didambakan semua muhibbin ahli bait-nya Rasulullah SAW. Mimpi yang merupakan sebuah pertanda baik atau bisyarah untuk seorang hamba Allah yang sedang meniti jalan hidupnya menuju sebuah “kehambaan” yang sebenarnya, kedudukan yang paling tinggi di hadapan Sang Penguasa Semesta, Pencipta jagat raya, Allah SWT.

Meski Abah Guru mendapat bisyarah, mimpi bertemu dengan orang-orang mulia itu, namun dia tidak pernah menceritakan mimpi itu kepada siapapun, semua tetap mengendap dalam otaknya. Hingga suatu saat diceritakan oleh Guru Marzuki saat bertemu dengan Zaini di sebuah acara. Guru Zuki, begitu panggilan beliau, melemparkan pertanyaan yang membuat Zaini terkejut.

“Ikam wayah ini bangaran Zainal Abidin kah?” (Kamu sekarang ini bernama Zainal Abidin kan?) tanya Guru Zuki.
Zaini hanya diam, pertanyaan ini mengingatkannya pada mimpi yang dialaminya itu.
“Ada kalu ikam tamimpi?” (Bukankah kamu ada bermimpi?) sambung Guru Zuki. Zaini hanya menunduk, ternyata ulama yang satu ini tahu perihal mimpinya, padahal sebelumnya dia tidak pernah bercerita kepada siapapun tentang mimpi itu.

Notes : Kubah Guru Zuki dibelakang Kubah Guru Kasyful Anwar di Kampung
Melayu Martapura

Moga menambah kecintaan kita pada abah guru dan mendapatkan Rahmat Allah mengisahkan para Kekasih-Nya ( Aulia Allah ) … aamiin

sumber :  http://www.facebook.com/groups/parapencinta.abahguru/

Kamis, 29 November 2012

Kedekatan Habib Zein Bin Muhammad al-Habsy Dengan Abah Guru Sekumpul


Diantara Habaib yang selalu membela dan mendukung Guru Zaini adalah Habib Zein Bin Muhammad al-Habsyi. Beliau adalah seorang habib kelahiran Hadhramaut, termasuk salah seorang murid dari Al-Arif billah Al-Habib ‘Ali Bin Muhammad Bin Husein al-Habsyi (Pengarang Maulid Simthud Duror/Maulid Al-Habsyi) di Hadramaut.

Pada usia 40 tahun Habib Zein hijrah dari Hadramaut ke Kalimantan Selatan bersama keluarga beliau, dan beliau memilih Martapura sebagai tempat bermukim. Sedangkan saudara beliau lainnya yaitu Habib Ahmad al-Habsyi, Habib Umar, Habib Salim al-Habsyi memilih tinggal di Banjarmasin.


Ayah beliau Habib Muhammad al-Habsyi sudah lebih dahulu tinggal dan wafat di Banjarmasin serta dimakamkan di Alkah Turbah Sungai Jingah. Begitu juga dengan sepupu beliau yang bernama Habib Ibrahim al-Habsyi yang telah bermukim dan wafat di Kota Negara Hulu Sungai Selatan.

Kedatangan Habib Zein dan keluarga beliau lainnya ke Kalimantan Selatan adalah suatu berkah tersendiri bagi masyarakat Kalimantan Selatan, karena mereka semua datang dari negeri yang penuh dengan ilmu agama yang murni berdasarkan Ahlussunnah wal Jamaah yaitu negeri Tarim Hadhramaut.
Pada usia 45 tahun Habib Zein menikah dengan Syarifah Tholhah anak dari Habib Abdullah As-Seggaf Kampung Melayu Martapura. Dan sebelumnya Habib Zein juga mempunyai isteri di Mekkah dan mempunyai beberapa orang anak disana.

Beliau adalah seorang yang pemurah dan kasih sayang. Suatu ketika beliau melihat gerobak sapi yang sarat dengan muatan kayu bakar untuk dijual, sedangkan si penjual kayu terus menerus memukulkan cambuk kepada sapi yang sudah terlihat sangat letih dan lapar. Maka Habib Zein memanggil si penjual kayu dan membeli kayu tersebut, disebabkan rasa kasihan dengan sapi itu, padahal masih banyak persedian kayu bakar di rumah beliau. Begitu pula sifat kasih sayang beliau yang tidak pernah memarahi anak-anaknya. Bahkan apabila seorang anaknya menangis, beliau selalu membelikan makanan kecil untuknya. Seringkali beliau menasehati anak-anaknya apabila waktu senja tiba agar jangan ada lagi yang masih di luar rumah, untuk bersiap-siap menyambut malam dengan diawali shalat Magrib berjamaah. Beliau sendiri sebelum tiba waktu shalat Dzuhur dan Ashar bersegera menutup jualan dan ikut shalat berjamaah di Masjid Jami’ Martapura.

Pada suatu kejadian pernah seorang yang kebingungan dan bersedih karena dagangannya baru ditipu orang. Orang itu lewat di depan Habib Zein yang sedang berjualan minyak wangi, kitab, tasbih dan sebagainya di Pasar Martapura. Maka beliau memanggilnya dan mengusap kepala pedagang tadi seraya berkata : “Insya Allah nanti kamu akan dapat rizqi yang lebih dari itu” serta mendo’akannya. Padahal si pedagang itu tidak pernah bercerita kepada siapapun tentang musibah yang ia alami, namun Habib telah mengetahui kegundahan hatinya. Tidak beberapa lama setelah musibah itu, pedagang tadi mendapat rizqi yang banyak dan usahanya lebih baik dari sebelumnya.

Habib Zein al-Habsyi adalah seorang yang ‘Alim dan sangat cinta kepada ulama dan para penuntut ilmu, beliau lebih banyak melakukan Dakwah Bil Haal (memberi contoh dengan keperibadian yang mulia) serta mendorong Ahli Qaryah (Masyarakat) untuk bersama-sama menimba ilmu, warisan dari Baginda Rasulullah SAW kepada guru-guru yang ada di masa itu.

Walaupun beliau seorang yang kaya akan ilmu agama, namun beliau sangat Tawadhu’ dan hanya ikut di tengah-tengah majelis ilmu berbaur bersama para penuntut ilmu lainnya. Diantara Ulama yang selalu beliau ikuti yaitu al-‘Alimul ‘Allamah Tuan Guru H. Abdurrahman atau yang lebih dikenal dengan Tunji Adu, al-‘Alimul ‘Allamah Mufti H. Ahmad Zaini, al-‘Alimul Fadhil Tuan Guru H. Husin Qadri, al-‘Alimul Fadhil Tuan Guru H. Semman Mulia secara turun temurun, hingga sampai saat Guru Zaini mulai membuka majelis, beliau juga selalu hadir di sana.


Sejak kedatangan Habib Zein al-Habsyi ke Martapura, majelis-majelis ilmu agama menjadi lebih hidup dengan keberadaan beliau di tengah-tengah penuntut ilmu. Lebih lagi pada majelis pengajian Guru Zaini di Keraton, beliau selalu mendampingi kemanapun Guru Zaini diundang, baik untuk membacakan Maulid maupun pengajian agama, beliau selalu ikut hadir.


Habib Zein adalah seorang yang lembut hatinya, apabila beliau mendengar nasehat agama maupun maulid atau qashidah yang dibacakan oleh Guru Zaini beliau sering meneteskan air mata, lebih-lebih apabila Guru Zaini menceritakan tentang sejarah perjalanan hidupnya Rasulullah SAW, beliau terlihat mengusap air matanya seraya berseru: “Allahumma Sholli ‘Alaih”… “Allahumma Sholli ‘Alaih…” hingga dijawab diikuti oleh para hadirin, “Shalallahu ‘alaih..” sehingga suasana majelis menjadi lebih berkesan dengan kehadiran beliau.

Hubungan Habib Zein dengan Guru Zaini sangatlah erat, beliau menganggap Guru Zaini adalah seperti anak kandungnya sendiri. Kedekatan Habib Zein dengan Guru Zaini ini sangat terlihat pada waktu Guru Zaini menikah.


Sebagaimana anak dan ayah kandung pada umumnya mereka selalu bertukar pikiran membicarakan masalah ilmu dan kemaslahatan umat. Apabila ada masalah, Guru Zaini selalu minta nasehat dan do’a kepada beliau maka tangan Habib Zein disentuhkannya ke telinga Guru Zaini dan dari lidah Habib selalu keluar kalimat “jangan dilawani pun”, dan dengan penuh hikmat yang menunjukkan kasih sayangnya yang mendalam membacakan ayat Al-Qur’an :
ان الله مع الصابرين ان الله مع الصابرين

Demikianlah kecintaan serta dukungan Habib Zein kepada Guru Zaini, beliau selalu mendo’akan dan menjaga lahir bathin Guru Zaini dengan mewasiatkan kepada para habaib sepeninggal beliau, karena beliau melihat dengan jelas zhohir, bathin, akhlaq dan niat Guru Zaini yang semata-mata Ittiba’ kepada Rasulullah SAW.

Kecintaan Habib Zein kepada Guru Zaini jelas terlihat, menjelang hari wafatnya, beliau berwasiat kepada saudara sepupunya Habib Ali bin Hasan al-Habsyi yang juga berasal dari Hadramaut, beliau berkata:

“Hai Ali, aku mungkin kada lawas lagi akan Tawajjuh meninggal dunia, maka anak kita ‘Guru Zaini’ banyak musuhnya, jadi ikam hai Ali, menemani Zaini ini, itu aja pesanku”,
Dijawab oleh Habib Ali: “Insya Allah”.



Maka setelah mendapat wasiat itu Habib Ali bin Hasan al-Habsyi selalu mengikuti majelis Guru Zaini, demikian pula di bulan Ramadhan Habib Ali bin Hasan ikut shalat Tarawih satu bulan penuh baik di langgar Darul Aman Keraton maupun di langgar Ar-Raudhah Sekumpul dan beliau yang membacakan do’anya. Kemudian Habib Ahmad Bin Abdurrahman As-seggaf Seiwun Hadhramaut datang ziarah ke Sekumpul atas perintah Sayidina Faqih Muqaddam di dalam Ijtima’ beliau dan bertemu Habib Ali maka Habib Ali berpesan kepada Habib Ahmad untuk tinggal di Sekumpul menemani Guru Zaini.

Kata Habib Ali bin Hasan al-Habsyi : “Ahmad.. Aku sudah hampir masanya Tawajjuh menghadap Allah, ini Guru Zaini banyak musuhnya banyak nang mehiri’i inya, aku mengharap.. Ahmad.. ikam tinggal di Martapura mendampingi akan Zaini, kasian Zaini kalau kada didampingi, inya banyak nang mehiri’ i dan memusuhi. Dan sedikit sekali nang membela dan membantu inya” maka setelah mendapat wasiat itu Habib Ahmad lama tinggal di Sekumpul.

Habib Zein Bin Muhammad al-Habsyi berpulang ke Rahmatullah pada hari Sabtu, tanggal 27 Sya’ban 1402 H / 19 Juni 1982 M, dalam usia 100 tahun lebih. Dimakamkan di belakang rumah beliau di jalan A.Yani KM. 39 Kelurahan Kampung Jawa, Martapura.


Sumber : http://www.facebook.com/groups/parapencinta.abahguru/
             : http://www.facebook.com/cintadanrinduGuruSekumpul


Senin, 26 November 2012

karomah Abah Guru Sekumpul 8



Abah Guru ketika berangkat haji yang kedua kalinya sekitar tahun 1980.
Layaknya ulama-ulama dari segala penjuru, jika sedang menunaikan haji ke Makkah, selalu menyempatkan sowan ke tempat para ulama Makkah. Begitu pula yang dilakukan oleh Abah Guru. Ketika itu yang menjadi pengantar Abah jika ingin sowan ke tempat para ulama di Makkah adalah Tuan Guru Hatim Salman dan Tuan Guru Sya’rani Toyyib.

 Pada suatu hari, Abah Guru ingin bertamu kepada salah seorang habaib di kota Makkah. Seperti biasa, Guru Hatim selalu ada dan siap mengantar kemana saja beliau ingin pergi. Guru Hatim yang saat itu berada di dekat Abah Guru, dipinta oleh Abah menelpon terlebih dahulu Habib yang nantinya akan didatangi, agar kedatangan Abah Guru sudah ada janji sebelumnya dengan sang Habib. Mendengar Abah Guru begitu, Guru Hatim buru-buru menuju tangga naik ke atas tingkat dua untuk menelpon Habib yang dimaksud. Namun pada saat itu, Abah Guru segera mencegah Guru Hatim yang akan menaiki tangga. Ujar Abah Guru, “Tim (panggilan Abah kepada Guru Hatim), menelpon pakai ini saja (sambil meletakkan tangan ke dada).. Merasa dicegah, Guru Hatim meurungkan niatnya menelpon sang Habib tadi.

Pada saat yang telah ditentukan, berangkatlah Abah Guru bersama Guru Hatim dan Guru Sya’rani pergi menuju rumah sang Habib. Ternyata, sesaat ketika Abah Guru sampai di depan rumah Habib. Sang Habib telah duluan menunggu Abah Guru dengan berdiri di depan pintu sambil di tangannya memegang kipas ayaman dari buluh ; berkipas-kipas ringan. Sontak, kedua penggiring Abah yakni Guru Hatim dan Guru Sya’rani kaget, padahal sebelum berangkat ke sini tadi, sang Habib tidak jadi ditelpon, tetapi kenapa oleh sang Habib sudah mengetahuinya duluan, buktinya sang Habib sudah di depan menunggu, apalagi sang Habib berucap, saya telah menunggu kalian dari tadi.

Setelah diingat-ingat. Barulah disadari, bahwa isyarat Abah Guru tadi meletakkan tangan ke dada yang dimaksud adalah hati. Artinya hubungan antara Abah Guru dan Habib sudah terjalin melalui hati bathiniyah. Sehingga tidak perlu lagi memakai alat keduniaan seperti telpon tadi..

Senin, 19 November 2012

Menyelusuri Jejak Ulama Banjar


“Ulama bukanlah malaikat dari langit yang turunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali ke langit. Ulama adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam masa yang panjang, sampai waktu mereka habis”.

Perjalanan sejarah dari masa ke masa tak luput dari kilasan perjalanan sosok para ulama. Merekalah garda terdepan semangat juang yang tengah dikobarkan. Merekalah guru bagi peradaban yang agung. Peradaban yang melahirkan jundi-jundi yang ikhlas mempertaruhkan dirinya atas nama dien yang mulia, al-Islam.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai jasa-jasa para pahlawannya. Ungkapan klasik ini memiliki makna penting dalam pembangunan bangsa ke depan. Begitu pula umat yang besar adalah umat yang mau menghargai, mengenang, menelusuri dan mengikuti jejak langkah para ulamanya. Sebab sangat jelas, ulama adalah pewaris para nabi, karena peran dan perjuangan para ulama yang telah mendahului perjuangan para penerusnya saat inilah, akhirnya dakwah sampai kepada kita.

Karena itulah sudah seharusnya bila kiprah dan sumbangsih para ulama tersebut perlu diapresiasi, dihargai, dikenang, dipelihara, diteruskan dan dikembangkan untuk kepentingan pembangunan masyarakat dan bangsa Indonesia, untuk menghadapi tantangan global.

Dari sekian banyak tokoh ulama yang perlu diketahui oleh anak bangsa dan para penerus perjuangan, mereka adalah para ulama Indonesia yang berasal dari pulau Kalimantan (Borneo). Karena peran mereka yang sangat berarti bagi negara dan bangsa, khususnya di bumi Kalimantan.

Nama Syaikh Muhammad Arsyad menempati hati masyarakat Kalimantan dan Indonesia sebagai ulama besar dan pengembang ilmu pengetahuan dan agama. Belum ada tokoh yang mengalahkan kepopuleran nama Syaih Arsyad Al-Banjari. Karya-karyanya hingga kini tetap dibaca orang di masjid dan disebut-sebut sebagai rujukan. Nama kitabnya Sabilal Muhtadin diabadikan untuk nama Masjid Raya di Banjarmasin. Nama kitabnya yang lain Tuhfatur Raghibin juga diabadikan untuk sebuah masjid yang tak jauh dari makan Syaikh Arsyad.

Tak hanya itu, hampir seluruh ulama di Banjarmasin masih memiliki tautan dengannya. Baik sebagai keturunan atau muridnya. Sebut saja nama almarhum K.H. Muhammad Zaini, yang dikenal dengan nama Guru Sekumpul itu, adalah keturunan Syaikh Arsyad. Hampir semua ulama di Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Malaysia, pernah menimba ilmu dari syaikh atau dari murid-murid syaikh.

Bumi Kalimantan tidak hanya melahirkan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dengan karyanya “Sabilal Muhtadin” yang masyhur itu. Dari pulau yang dilintasi garis khatulistiwa ini juga mengorbit sebuah bintang yang kini menempati gugusan ulama terkemuka Nusantara. Dialah Syekh Muhammad Nafis Al-Banjari yang salah satu karyanya, “Durr Al-Nafis”, masih dibaca sampai sekarang.

Setelah Arsyad Al-Banjari, Muhammad Nafis adalah ulama paling berpengaruh di Kalimantan. Muhammad Arsyad lebih masyhur sebagai ulama fiqh lewat karyanya yang monumental tadi, sedangkan Muhammad Nafis lebih terkenal sebagai ahli tasawuf, melalui karyanya yang juga beredar luas di Nusantara.

Muhammad Nafis bin Idris bin Husain Al-Banjari berasal dari keluarga bangsawan. Beliau dilahirkan di Martapura, Kalimantan Selatan, pada tahun 1148 Hijriah atau tahun 1735 Masehi. Nafis hidup dalam kurun waktu yang sama dengan Syekh Arsyad, yang lahir pada 1122/1710. Jika Arsyad meninggal tahun 1227/1812, Nafis belum diketahui tahun wafatnya. Yang kita ketahui, peristirahatan terakhir beliau di desa Kelua, sekitar 125 kilometer dari Banjarmasin.

Sederet nama-nama besar terus menghias panggung sejarah bumi Kalimantan dari masa ke masa. Nama dan dedikasi mereka tertoreh dengan tinta emas. Sebut saja di antaranya, ada Mufti Jamaluddin al-Banjari, mufti Banjar pertama. Syeikh Sa’duddin, pelopor dakwah di Banua Anam, KH. Muhammad Kasyful Anwar, sang penggagas perubahan Darussalam yang rendah hati, Syeikh Muhammad Afif, pemancang tiang guru mesjid al-Karomah. Qadhi KH. Husein Qadri, Qadhi sekaligus penulis yang murah senyum. KH Badruddin, ulama, pendidik dan politikus ulung, KH. Muhammad Rasyad, ulama yang ulet menyampaikan dakwah Islam, KH. Zainal Ilmi, ulama yang tegas, berwibawa dan selalu merendah. KH. Muhammad Syarwani Abdan, kyai santun nan rendah hati, pencetak kader ulama. Syeikh H. Anang Sya’rani, muhaddits pertama Kalimantan. KH. Saman Jalil, ulama sang astronom. KH. Muhammad Hanafi Gobet, kyai pendidik sekaligus politikus yang berwibawa.

Kisah-kisah para ulama yang malang melintang di “jagad” dakwah itu, adalah jua tetesan hikmah yang dapat menjadi ibroh bagi para penyeru dienullah yang mulia ini. Refleksi mereka adalah refleksi kita. Masalah yang mereka hadapi juga kita hadapi, entah kemarin, kini atau esok. Idealisme mereka adalah juga idealisme kita.

Di tengah kelangkaan apresiasi ummat terhadap figur tokoh-tokoh ulama yang telah wafat, yang tersebar di bumi Borneo, agaknya penting bagi kita untuk menghargai jerih payah perjuangan dari tokoh-tokoh ulama tersebut. Karena kita sadar bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu merealisasikan cita-cita para pendahulunya, sebaliknya satu bangsa akan menjadi kerdil bila ia mengkhianati cita-cita perjuangan para pendahulunya. Umat akan menjadi merosot bila cita-cita perjuangan yang telah ditanamkan dan disemai oleh para ulama, kemudian mereka tidak bisa menjalankan jejak langkahnya.

Bagi generasi muda masa kini, kita berharap saatnya untuk mengenang kembali, kemudian menghargai dan meneruskan cita-cita dan perjuangan mereka dalam konteks kekinian. Selain itu, menelusuri jejak-jejak sejarah ulama mampu merekatkan kembali jalinan psikologis dan spiritual dari para ulama tersebut. Dari peran mereka kita dapat mengetahui akar-akar pemikiran, akar-akar perjuangan, serta pengaruh yang muncul dalam fenomena kebangsaan kita. Sehingga paparan ini dapat memberikan gambaran utuh mata rantai perjuangan tokoh-tokoh Islam dulu, kini dan esok.

Gambaran tersebut akan sangat berarti bagi individu-individu yang ingin mempelajari dan menelaah kembali jaringan ulama Kalimantan yang mempersembahkan dedikasi dan loyalitasnya untuk pembangunan bangsa.

Lewat penggalan kisah para ulama itu, kita dapat beroleh hikmah. Hikmah yang mendalam. Bagaimana pahit getir, susah senang mereka dalam mengembangkan payung dakwah ini. Bagaimana tekad mereka dalam membumikan kalimat Laa ilaha illallah di tanah di mana mereka berpijak. Semoga hikmah ini menjadi amunisi yang membuat semangat kita berkobar-kobar.

Harapan kita, ummat dapat senantiasa mengenang dan memahami kembali sejarah perjuangan masa lalu, akar-akar intelektual, perjuangan dan kiprah para tokoh ulama Borneo, untuk kemudian meneruskan dan mengembangkan cita-cita dan perjuangan yang mungkin saja belum selesai, bisa jadi pelanjutnya lebih pintar memberi kesan happy ending, dengan kemasan yang proporsional dengan semangat zaman.

Akhirnya, kita berharap, proyek penulisan tokoh dan ulama Kalimantan bisa diwujudkan secara bertahap pada masa mendatang, sehingga pada akhirnya menjadi sebuah buku biografi tradisi bangsa-bangsa yang menghargai ulamanya.

Dari lubuk hati terdalam, perkenankan kami anak bangsa pasang tabik, haturkan hormat padamu Kusuma Bangsa. Sampai akhir hayatmu engkau menjadi cahaya yang tak henti-hentinya berpedar menerangi persada Nusantara hingga jiwa kami bergelora

Apimu mendorong langkah kami ke depan agar semakin berlimpah pencapaian.

(Salam ta’zhim tuk seluruh zuriyat dan kerabat alm.Abah Guru KH.Zaini Abdul Ghani, Sekumpul; KH. Anang Jazuli, KH. Asywadie Syukur, Lc.MA, dan KH. Husein Nafarin, MA).

Sabtu, 10 November 2012

Pandangan Habib Ahmad Semarang tentang Abah Guru Sekumpul Waktu Muda


Sekitar tahun 1964 para guru2 Darussalam mengadakan perjalanan ziarah ke pulau jawa untuk tabbarruk kepada aulia yg masih hidup maupun ziarah ke kubah 2 para aulia Allah , Rombongan itu terdiri dari : al-‘Alimul Fadhil Semman Mulya, al-‘Alimul Fadhil Guru Semman Komplek, al-‘Alimul Fadhil Husein Wali, Guru Badruddin, Abah Guru dan
Guru Zaini Mursyid.

Setelah star mulai Surabaya berakhir di Jakarta . Di Jakarta rombongan singgah ke tempat H. Abdul Qadir di Jakarta orang Martapura asli . Ketika itui Habib Ahmad bin Muhammad Assegaf dari Semarang juga berkunjung, beliau bertanya kepada Abah Guru :

“Kamu sekarang membaca kitab apa?”
“Kitab Irsyadul Ibaad” jawab Abah Guru
“Bagus, nanti kamu akan aku ajari kitab Irsyadul Qulub.”

Habib Ahmad Semarang dengan kasyaf menceritakan gawian Abah Guru selama setahun , padahal Abah Guru tidak bisa bakisah sebelumnya .

Ketika Abah Guru lagi berada dibelakang rumah Habib Ahmad Semarang memanggil :

“Zein..” kata Habib
“Labbaik…”
“Kesinilah ente!” ujar beliau, “Ayat Alam Nasyrah sudah turun tidak ? Kenapa kamu suka melamun?”

Habib menjelaskan bahwa suatu hari Rasulullah SAW keluar dalam keadaan lapang dan gembira dan penuh senyuman, beliau berkata, “Satu kesulitan tidak akan mampu mengalahkan dua kemudahan, satu kesulitan tidak akan mampu mengalahkan dua kemudahan. (Beliau kemudian membaca ayat 5-6 surah al-Insyirah) Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.” Pengulangan kata “’Usr/kesulitan” dalam ayat tersebut, yang bersifat Makrifah/spesifik memiliki makna satu kali, sedangkan pengulangan kalimat “Yusr/kemudahan” yang bersifat Nakirah/umum memiliki makna dua kali

“Sekarang jangan melamun lagi ya” suruh beliau. “Zein…Semman Mana? Cari !”
“Ada Bib..” sahut Abah Guru , saat itu Guru Semman yang berada di kamar masih belum tidur
“Panggil kemari!” kata beliau
Abah Guru kemudian beranjak menuju kamar tamu.
“Apa Nang?” Ujar Guru Semman
“Itu Habib Ahmad memanggil” Keduanya kemudian langsung menemui Habib Ahmad.
“Semman, saksikan Zaini ini anak angkatku Dunia dan Akherat, wa ila Hadratin Nabi Al-Fatihah.”
Kemudian mereka membaca Surah Al-Fatihah. Habib bertanya lagi :

“Badruddin Mana?”
“Tidur Bib” kata Abah Guru
“Bangunin!” perintah Habib Ahmad

Sekali lagi Guru Zaini beranjak dari tempat duduknya. Ia kemudian membangunkan Guru Badruddin yang sedang tidur.
“Ada kabar apa Guru Zaini ?” tanya Guru Badruddin.
“Itu Habib Ahmad memanggil.” Segera mereka kembali ke tempat Habib Ahmad berada. Habib Ahmad langsung berkata :
“Badruddin, kamu dan Semman saksinya, Zaini ini Anak angkatku Dunia Akherat.”

Habib Ahmad bin Muhammad Assegaf Semarang, beliau adalah seorang Waliyullah yang Majdzub, Keika Abah Guru umur 17 tahun, pernah berkunjung kerumah guru H. Badruddin di Kampung Jawa, Banyal yang bertamu ingin berjumpa dengan Habib Ahmad bin Muhammad As-segaf, setelah selesai semua yang hadir disuruh beliau pulang ke rumah masing-masing, saat itulah seorang ulama bertamu kepada beliau, Guru Zaini ketika itu masih berdiri disamping Habib. Kemudian ulama tersebut bersalaman kepada Habib Ahmad bin Muhammad Assegaf, sehabis itu baru bersalaman kepada Zaini Muda, saat bersalaman kepada Zaini inilah Habib Ahmad As-seggaf menyeru kepada ulama tersebut : “Cium tangan Zaini, Cium tangan Zaini, Cium tangan Zaini, ini quthb cilik, ini quthb cilik” kata beliau. Saksi hidup yang menyaksikan kejadian ini adalah Guru Mu’in Dalam Pagar .

Moga menambah kecintaan dan keyakinan kita lewat kisah ini … aamiin

sumber : http://www.facebook.com/groups/parapencinta.abahguru/