Senin, 12 Februari 2018

Istilah Tasawuf Al-Ghaibah Wa Al -Hudlur



Gaibah adalah ketiadaan (kekosongan) hati dari ilmu yang berlaku bagi ahwal (kondisi atau perilaku) makhluk karena (terhalang oleh) kesibukan rasa dengan “sesuatu yang datang” (warid, kehadiran rasa alam spiritual) kepadanya. Kemudian, keberadaan rasa terhadap diri dan lainnya menjadi ghaibah (gaib atau hilang) sebab kehadiran warisitu yang berwujud dalam bentuk kesadaran akan ingatan pahala dan siksa.


Diriwayatkan bahwa ketika Rabi’bin Khaitsam berkunjung ke rumah Ibnu Mas’ud r.a. dan lewat di depan kedai seorang pandai besi, dia melihat sepotong besi yang dibakar di tungku perapian besi dalam keadaan merah membara. Tiba-tiba matanya tidak kuat memandang lalu pingsan seketika. Setelah siuman, Rabi’ ditanya, lalu menjawab, “Saya ingat keadaan penduduk neraka (yang sedang dibakar)di neraka”.

Sebuah kejadian yang sangat aneh pernah menimpa Ali bin Husin. Rumah yang ditempatinya terbakar saat dia menjalankan salat, dan dia tidak bergeming sedikitpun dari sujudnya ketika api mulai menjalar ke tempatnya salat dan kemudian memusnahkan rumahnya. Para tetangganya heran, lalu menanyakan keadaannya”. Api yang amat besar sangat menggelisahkanku dari pada api ini” jawabnya.

Terkadang kondisi ghaibah disebabkan oleh ketersingkapan sesuatu dalam dirinya dengan Al-Haqq, kemudian keberadaannya berbeda menurut perbedaan ahwal-nya

Keadaan(hal) yang mengawali Abu Hafsh An-Naisaburi saat meninggalkan pekerjaannya di kedai pandai besinya dimulai dari peristiwa pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dia dengar dari seorang qari’. Bacaan itu mempengaruhi hatinya sehingga membuatnya lupa tentang “rasa “ saat suatu warid datang menguasai jiwanya. Kemudian tangannya dimasukkan ke dalam api dan mengeluarkan potongan besi panas yang sedang membara tanpa merasakan panas sedikit pun. Seorang muridnya melihatnya dengan heran lalu berteriak, “Wahai Guru, ada apa ini?” Abu Hafsh sendiri heran, lalu melihat apa yang terjadi. Semenjak itu, dia bangun dan meninggalkan pekerjaannya sebagai pandai besi.



Saya pernah mendengar Abu Nasher, seorang muazin Naisabur yang sangat saleh, menuturkan pengalaman spiritualnya, “Saya pernah baca Al-Qur’an di majelis Abu Ali Ad-Daqaq ketika beliau di Naisabur. Beliau banyak mengupas masalah haji sampai fatwanya sangat mempengaruhi hati sya. Pada tahun itu juga saya berangkat ke Mekkah utuk melaksanakan ibadah haji dan meninggalkan pekerjaan dan semua aktivitas keduniaan. Ustadz Abu Ali sendiri, semoga Allah merahmatinya, juga berangkat menunaikan haji pada tahun itu pula. Ketika beliau masih tinggal di Naisabur sayalah yang melayani keperluan beliau juga membacakan Al-Quran di majelisnya. Suatu hari saya melihat beliau di padang sahara sedang bersuci dan lupa (meninggalkan) sebuah tempayan yang tadi di bawanya. Lalu saya ambil dan mengantarkannya ke binatang tunggangannya dan meletakkan di sisinya. “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas apa yang kamu bawakan ini”, sambutnya sederhana. Kemudian beliau memandang saya cukup lama, seakan-akan belum pernah melihat saya sama sekali.”Saya baru melihatmu, siapakah Anda?”.

Subhanallah!Permohonan bantuan memang hanya pada Allah. Saya telah lama melayani Tuan. Saya keluar dan meninggalkan rumah dan harta bendaku gara-gara Tuan. Padang sahara yang sangat luas kemudian memutusku, dan sekarang Tuan mengatakan , saya baru melihatmu…!”

Adapun Hadhur adalah keberadaan “hadir” bersama Al-Haqq karena jka seseorang mengalami ghaibah (gaib) dari keberadaan semua makhluk, maka dia “hadir” (hadhur) bersama Al-Haqq. Artinya, keberadaannya seakan-akan “hadir” dikarenakan dominasi ingatan Al-Haqq (zikir) pada hatinya. Dia hadir dengan hatinya dihadapan Tuhannya. Dengan demikian, ke-ghaibah-annya dari keberadaan makhluk menjadikannya hadhur(hadir) bersama Al-Haqq. Jika semua yang ada ini pada sirna, maka keberadaan hadhur mengada menurut tingkat ghaibah-nya. Jika dikatakan “fulan hadir”, artinya dia hadir dengan hatinya ke haribaan Tuhannya dan lupa pada selain-Nya, kemudian dalam ke-hadhur-annya segalanya menjadi tersingkap menurut derajatnya dengan curahan sejumlah makna( pengertian, kesadaran, dan kerahasiaan ketuhanan) yang dikhususkan Allah untuknya.

Terkadang dikatakan (bahwa keberadaan hadhur) dikarenakan kembalinya Salik pada rasanya dengan ahwal jiwanya, dan ahwal kemakhlukan yang kembali (kepada Tuhannya)dari alam ghaibah-nya. Yang pertama hadhur denganAl-Haqq, dan yang kedua hadhur dengan makhluk. Ahwal manusia dalam maqam ghaibah berbeda-beda. Sebagian mengalaminya tidak terlalu lama, sebagian lagi dalam masa yang abadi (sampai mati).

Dikisahkan bahwa DzunNun Al-Mishri, seorang guru sufi besar, pernah mengutus seseorang dari pengikutnya datang ke rumah Abu Yazid Al-Busthami untuk mempelajari sifat-sifatnya. Setibanya di kota Bustham, utusan ini bertanya pada seseorang tentang rumah Abu Yazid, kemudian pergi menuju tempat yang ditunjuk dan bertamu kerumahnya. Di sana terjadi dialog teologis yang sangat menawan.

“Apa yang kamu kehendaki?” Tanya Abu Yazid

“Tuan Abu Yazid.”

Siapakah Abu Yazid? Di mana Abu Yazid? Saya sendiri dalam pencarian Abu Yazid?”

Utusan ini keluar seraya berteriak, “Dia Gila!” Kemudian dia kembali ke rumah gurunya, Dzun Nun dan melaporkan semua yang disaksikan. Tiba-tiba Dzun Nun menangis, “Saudaraku. Abu Yazid telah pergi bersama orang-orang yang pergi menuju Allah.”

Ingin Di Cium Rasulullah SAW



Dalam dunia tasawuf, dikenal seorang yang bernama Syibli. Lengkapnya: Abu Bakar Dalf bin Jahdar as-Syibli. Orang menyebutnya majnun, alias gila, sinting, nyeleneh.

Dia pernah memakai celak mata yang dicampur dengan garam, supaya ia tidak tertidur di waktu malam. Dengan begitu, ia bisa menghidupkan malam dengan shalat-shalat sunnat.

Jika datang bulan Ramadhan, maka ia makin giat beribadah melebihi orang-orang di masanya. Mungkin inilah sebagian dari ke-sinting-an Syibli. Syibli lahir dan besar di Baghdad. Dia bersahabat dengan Junayd al-Baghdadi dan para ulama di masanya. Dia bermazhab Maliki. Wafat pada tahun 334 H atau 946 M, dan dimakamkan di Baghdad.

Syibli memang punya karamah. Dalam kitab Syarh Ratib al-Haddad, diceritakan bahwa Syibli mendatangi majelis Abu Bakar bin Mujahid. Melihat Syibli datang, Abu Bakar bangun dari duduknya, menyambutnya, memeluknya,dan mencium keningnya.



Setelah kejadian itu, Abu Bakar ditanya oleh salah satu muridnya, "Duhai Guruku, engkau melakukan yang demikian kepada Syibli? Padahal, engkau dan semua penduduk Baghdad menganggapnya sinting?"

Abu Bakar bin Mujahid menjawab, "Apa yang aku lakukan kepadanya adalah karena mencontoh yang dilakukan Rasulullah kepadanya. Aku pernah bermimpi melihat Syibli datang kepada Rasulullah. Lalu Rasulullah bangun dari duduknya dan mencium kening Syibli. Lalu dengan heran aku bertanya kepada Rasulullah, "Duhai Rasulullah, engkau berbuat demikian kepada Syibli?" Rasululullah menjawab, "Ya begitulah. Itu karena orang ini (Syibli) sehabis shalat senantiasa membaca ayat: ۞Laqod jaa akum rasulun min anfusikum ‘aziizun ‘alaihi maa ‘anittum hariishun ‘alaikum bil mu’miniina ro-uufurrohiim ۞ ‘Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin
(at-Taubah: 128)

Akhlaqul kharimah Imam Alhaddad



Diceritakan suatu saat tatkala mendekati waktu Idul Adha berkata ayah kepada seorang anaknya, “Bawalah pisau kita ini ke tukang besi untuk diasah?! (Namun, anak ini rupanya agak sedikit bodoh! Sebab, tatkala mendengar "Haddad" yang dipikirannya hanya teringat Imam Abdullah ibn Alwi Al Haddad). Kemudian dibawanya pisau tadi itu kerumah Imam Al Haddad. Tatkala sampai disana, Si Anak ini bersalam kepada Habib Abdullah ibn Alwi Al Haddad dan berkata, “Ayahku bilang pisau ini tolong diasahkan dan perbaikilah karena Hari Ied sudah dekat?!” Kata Habib Abdullah ibn Alwi Al Haddad, “Marhaba/Baiklah.” (Sebenarnya Habib Abdullah ibn Alwi Al Haddad sudah faham apa maksud ayah Si Anak ini menyuruh agar pergi ke Haddad, yaitu tukang besi dipasar yang memang sudah terbiasa bekerja mengasah besi). Namun demikian kata Habib Abdullah ibn Alwi Al Haddad, “Taruhlah (pisaunya) disitu, besok engkau datang kemari lagi.” Si Anak itu pun pergi meninggalkan kediaman habib.

Selang beberapa saat Habib Abdullah ibn Alwi Al Haddad memanggil seorang temannya dan berkata, “Bawalah pisau ini ketukang besi dipasar, tolong mintakan untuk diperbaiki dan pertajamlah, setelah itu engkau bawakan pisau ini kemari lagi.” Akhirnya pisau itu pun diperbaiki dan diserahkan kembali kepada Habib Abdullah ibn Alwi Al Haddad. Kemudian, keesokan harinya datang Si Anak tersebut. Lalu Si Anak ini pun berkata, “Berapakah ongkosnya?” Kata Habib, “Katakanlah pada ayahmu tidak ada ongkosnya?! Kalau dengan kami tidak pakai ongkos!? Ambillah, ini sudah siap?!” Maka Si Anak tersebut pun pulang ke rumahnya. Lalu Si Anak ini berkata kepada ayahnya,



“Haddad/tukang besi itu tidak mau dibayar?” Ayahnya ini kaget, “Hhaa.. siapa Haddad yang tidak mau dibayar? Memangnya dimana dia?” Kata Si Anak, “Di Alhawi.” Si Ayah berkata, “Alhawi mana?? Apa daerah tempat tinggal Imam Haddad?? Kalau Haddad itu ya dipasar sini dekat kita!!!

Mendengar hal tersebut, sebenarnya Ayahnya ini agak marah, “Bagaimana bisa di Alhawi???” Kata Si Anak, “Al Haddad !! Yaa, Abdullah ibn Alwi Al Haddad.”

Serentak ayahnya berkata, “Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rojiuun??? Emangnya Engkau ini pergi kemana? Jawab Si Anak, “Ke Haddad.” Kata Si Ayah, “Lalu engkau serahkan ke siapa?” Jawab Si Anak, “Aku serahkan sendiri.” Kata Si Ayah, “Siapa yang menerimanya?” Jawab Si Anak, “Dia sendiri yang menerimanya dan katanya kembali lagi besok hari.” Lalu Si Ayah berkata, “Alangkah bodohnya kamu nak !! Kau pergi ke orang yang Alim, yang Sholeh, lalu kau minta perbaiki pisau ??? Akhirnya, Si Ayah anak ini pergi ke Habib Abdullah ibn Alwi Al Haddad untuk meminta maaf. Kemudian Imam Haddad berkata kepada Si Ayah anak tersebut, “Tidak apa-apa, jangan engkau masukkan ke dalam hati. Jika tahun ini kalian bener-bener berkurban kami pun akan ikut mendapatkan pahala lantaran sebab anak ini.” MasyaAllah!

Ilmu Yang Bermanfaat



Imam Malik pernah mengatakan:"Ilmu bukanlah dengan mengetahui banyaknya riwayat, melainkan ilmu adalah cahaya yang Allah SWT masukkan ke dalam hati seseorang.

Imam Idrus bin Umar Alhabsyi mengatakan:"Ilmu jika terletak dihatinya merupakan cahaya, Dan jika terletak didalam diri merupakan api".

Habib Abdullah bin Muhsin Al-Attas mengatakan: "ilmu itu ada dua yaitu pertama ilmu yang menjadikan pemiliknya memiliki rasa takut kepada Allah SWT dan merupakan cahaya. Setiap kali ilmu ini bertambah pada diri seseorang bertambah pula pengenalannya terhadap dirinya dan dapat memastikan bahwa dia tidak mengetahui ilmu sedikitpun. Kedua ilmu lisan, setiap kali ilmu ini bertambah pada seseorang bertambah pula pengakuan pengakuannya,dan menyangka bahwa tak ada orang yang ilmunya seperti dirinya".



Syekh Ali bin Abubakar mengatakan sesungguhnya ilmu yang hukumnya fardhu 'ain ada tiga macam:
1.Mengenal Allah SWT yakni mengenal Dzatnya,mengetahui sifat sifatnya dan perbuatan perbuatannya agar engkau mengetahui siapa yang engkau sembah dan menaati siapa yang engkau tuju.

2.Mengetahui segala yang diwajibkan atas seorang hamba pada lahiriahnya dari hukum-hukum syariat dan manfaat manfaatnya.

3.Segala yang diwajibkan atas seorang hamba pada batiniahnya, yaitu ilmu tentang hati, ilmu ini sangat penting bagi kita dan zaman sekarang sudah banyak yang meninggalkannya.

Golongan Barisan Kekasih Allah



Allah telah menjadikan golongan ini sebagai barisan kekasih-kekasih-Nya. Dan Allah telah mengutamakan mereka di atas seluruh hamba-hamba-Nya, setelah para Rasul dan Nabi-Nya. Semoga Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada mereka.

Allah menjadikan hati mereka sebagai sumber rahasia-Nya, dan memberikan keistimewaan di antara para ummat melalui kecemerlangan cahaya-Nya.

Mereka adalah para penolong bagi makhluk. Mereka memerankan tingkah lakunya bersama dan dengan kehendak Al-Haq(Allah).

Allah menjaga mereka di tempat-tempat musyahadah, ketika ditempatkan hakikat-hakikat Ahadiyah-Nya pada mereka.



Allah menolong mereka dalam menegakkan adab ubudiyah, dan Allah menempatkan secara nyata kepada mereka jalan-jalan hukum rububiyah. Lalu mereka menegakkan sesuai dengan kewajiban dan tugas, dan mereka mewujudkan apa yang telah dianugerahkan Allah SWT. melalui kreasi dengan segala kejujuran fakir dan sifat leburnya jiwa.

Mereka sama sekali tidak mengandalkan apa yang telah dihasilkan itu, sebagai buah amalnya. Atau kejernihan ilmu yang lahir dari tingkah laku sebagai ilmu mereka.Segalanya dari Keagungan dan Keluhuran Allah SWT. Yang berbuat sesuai dengan kehendak-Nya, memilih siapa yang diinginkan-Nya, di antara para hamba. Dia(Allah) tidak dihukumi oleh makhluk. Pahala-Nya
merupakan awal dari fadhal, dan siksa-Nya merupakan hukum keadilan, sedangkan amar -Nya meruppakan qadha'

RIsau dan Gundah Kerana Memikirkan Dosa dapat Menggugurkan Dosa



Suatu hari seorang pemuda menemui Rasulullah SAW dengan wajah gusar, nampak gelisah dan begitu khawatir. Perlahan pemuda tersebut menghampiri Rasulullah SAW dan bertanya: “Wahai Rasulullah, betulkah segala perbuatan kita, baik maupun buruk, akan dibalas? ”Wajah pemuda tersebut sungguh risau.

Rasulullah dengan akhlak yang selalu saja terpancar dari wajahnya, tersenyum teduh & menjawab.. : “Tentu saja, janji Allah itu pasti. Tiada yang lebih pasti dari janji-Nya.”
“Barangsiapa mengerjakan kebaikan sekecil apa pun, niscaya dia akan mendapat balasannya. & barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sekecil apa pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula.” – QS. Al Zalzalah: 7-8



Melihat wajah pemuda yang semakin gusar, Rasulullah pun bertanya: “Wahai pemuda.. apakah gerangan yang membuatmu begitu risau? Dan mengapa kamu bertanya demikian?” Pemuda itu pun menjawab dengan suara pelan : “Wahai Rasulullah.. aku merisaukan perbuatan" dosaku yang aku pun tak sanggup menghitungnya. Sungguh berbuat dosa itu bisa sangat tak terasa. Aku khawatir akan balasannya di dunia maupun di akhirat kelak.. ”Rasulullah kembali menatap pemuda tersebut dengan pandangan yang teduh & senyum yang menentramkan hati, kemudian balik bertanya : “Wahai pemuda.. kamu pernah sakit? Pernah dikhianati? Pernah tak enak hati? Pernah gundah tanpa sebab yang pasti? Pernah mendapat masalah yang besar?

”Mendengar rangkaian pertanyaan itu, pemuda tersebut mengangguk, “Tentu saja pernah ya Rasulullah.. ”Rasulullah semakin melembutkan suaranya : “Sesungguhnya sakitmu, perasaan tak enak hatimu, kegundahan tanpa sebabmu, juga masalah" besarmu itu Allah hadirkan ke dalam kehidupanmu untuk menggugurkan setiap dosa yang kau khawatirkan itu. ”Mendengarnya,pemuda tersebut berurai air mata penuh syukur. Bersyukur sangat dalam karena baru menyadari bahwa segala hal yang dianggapnya musibah dalam hidup, ternyata adalah karunia, yang dihadirkan untuk menggugurkan dosa".

Minggu, 11 Februari 2018

Pengertian Fana Dan Baqa



Sejumlah Sufi mengisyaratkan Fana’ pada gugurnya sifat-sifat tercela, sementara baqa’ diisyaratkan sebagai kejelasan sifat-sifat terpuji. Kalau pun seorang hamba tidak terlepas dari salah satu sifat tersebut, maka dapatlah dimaklumi, sebenarnya salah satu bagian apabila tidak dijumpai dalam diri nanusia, maka dapatlah ditemui sifat satunya lagi.

Barangsiapa fana’ dari sifat-sifat tercela, maka yang tampak adalah sifat-sifat terpuji. Sebaliknya, jika yang mengalahkan adalah sifat-sifat yang hina, maka sifat-sifat yang terpuji akan tertutupi.

Perlu diketahui, bahwa predikat yang menjadi sifat hamba mengandung perbuatan, akhlak dan tingkah laku.

Perbuatan-perbuatan tersebut merupakan daya manusia melalui ikhtiarnya. Sedangkan akhlak merupakan pembawaan. Namun sifat itu berubah menurut konsistensi kebiasaannya. Sedangkan tingkah laku merupakan suatu perilaku yang dikembalikan kepada hamba dari segi permulaannya. Hanya saja, penjernihannya muncul setelah pembersihan amal. Seperti akhlak dalam satu segi.



Demikian pula manakala sang hamba terus menerus membersihkan perbuatannya, melalui upaya yang telah diberikan kepadanya. Allah SWT memberikan anugerah kepadanya melalui penjernihan tingkah laku, bahkan melalui penyempurnaan tingkah laku tersebut.

Siapa yang berupaya meninggalkan perbuatan kehinaan dengan bahasa syariat, maka ia telah fana’ dari syahwatnya. Jika telah fana’ dari syahwatnya, akan kekallah bangunan dirinya serta keikhlasan dalam ubudiyahnya.siapa yang zuhud di dunia dengan hatinya, maka ia telah fana’ dari
kesenangannya. Dan jika telah fana’ kesenangannaya, berarti telah kekal melalui kejujuran kembali dirinya.

Barangsiapa menerapi (mengobati) akhlaknya dari penyakit kalbu seperti dengki, angkuh, bakhil, sangat bakhil, marah, sombong dan sebagainya dari keangkuhan nafsu, maka berarti telah fana’
dari kebejatan akhlak. Kalau sudah demikian, yang kekal dalam dirinya adalah ketidakpeduliannya kepada kepentingan pribadinya (futuwwah) dan kejujuran pada diri sendiri.

Barangsiapa menyaksikan berlakunya qudrat dalam mekanisme hukum dan aturan,
maka dapat dikatakan : Ia telah fana’ dari tanggungan perkara pertama dari makhluk.

500 lebih Foto Abah Guru Sekumpul

Arsip Blog