Rabu, 23 November 2016

Keistimewaan Guru Zuhdi " Hujan Lebat Berhenti Setelah Ucapan Beliau "


Sebelum majelis ilmu di mesjid jami sei jingah,dulu Majelis ilmu di sebuah rumah(ulun lupa nama pemilik rumah nya) tepat nya di seberang gang Maluku dan di samping SDN pasar lama. Waktu itu kebetulan masuk musim penghujan. Karena jemaah yang waktu itu sudah banyak maka jemaah sampai ke halaman rumah itu untuk mencari tempat duduk.

Sedangkan Abah Guru Zuhdi di dalam rumah beserta jemaah yang lain. Hujan mulai gerimis tapi tidak menggangu para jemaah untuk tetap sholat berjamaah. Sampai waktu masuk pembacaan kitab maka hujan turun dengan lebat nya dan jemaah pun kocar kacir mencari tempat berteduh,sebagian masuk kedalam rumah bekajalan(bersesakan) dengan jemaah lain dan sebagian di luar mencari perlindungan.

Abah Guru Zuhdi pun berucap...oh hujan labat kah di luar,han bukahan dapat nya hujan,ayu ja aku meminta lawan malaikat Mikail yang meatur hujan supaya hujan nya kelain gen dahulu sampai tuntung majelis ilmu. Minta setumat dulu lawan malaikat Mikail minta pindah kan tapi stumat ja pang sampai tuntung majelis ja kasian jemaah han bukahan.Maka selesai Abah Guru Zuhdi berucap seperti itu maka tiba tiba hujan nya berhenti dan jemaah pun kembali ketempat nya semula utk duduk.

Setelah pengajian selesai dan habis sholat isya kami ke parkiran mengambil kendaraan masing masing. Dan saat mau pulang hujan pun turun dengan lebat nya. Teman ulun berkata.. pas banar Guru ne baucap minta jangan hujan sampai habis majelis jaka tadi Guru baucap minta jangan hujan pas jemaah masing masing sudah di rumah kada kehujanan bulik nya jar kawan ulun sambil tetawa.

Sumber : Pencinta Waliyullah


Keistimewaan Guru Zuhdi " Anak Lebih Alim Daripada Ayahnya"


Setelah wafat nya Guru Mualim syukur peguruan dari Abah Haji Guru Zuhdi,beliau tidak tahu lagi dengan siapa akan belajar ilmu agama. Sampai waktu malam hari bermimpi bertemu Guru Mualim Syukur dimana Guru Mualim Syukur menyerahkan Guru Zuhdi kepada seseorang, akan tetapi Guru Zuhdi tidak kenal dengan Guru tersebut.

Dan esok hari nya saat penguburan Guru Mualim Syukur maka datang dan berkumpulan semua ulama kalimantan selatan di tempat itu termasuk dengan Guru yang ada dalam mimpi Guru Zuhdi lalu Abah Haji berbicara dengan Ayahanda beliau Guru Muhammad bahwa Guru Zuhdi di serahkan kepada Guru yang Guru itu ada hadir di pemakaman tersebut.

Dan setelah di beritahu oleh Guru Zuhdi orang nya maka berkata Ayahandanya kepada  Guru Zuhdi kalo nama Guru itu adalah Syeihk Muhammad Zaini Abdul Gani atau Abah Guru sekumpul. Maka di serahkan lah Abah Haji Guru Zuhdi kepada Abah Guru sekumpul oleh ayahnya Guru Muhammad untuk di didik dan di ajarkan berbagai ilmu.

Dan Abah Guru sekumpul yang Kasyap berkata,Muhammad anak ikam ini akan lebih alim daripada ikam nantinya. Menurut Guru guru yang juga belajar dengan Abah Guru sekumpul,Abah Haji Guru Zuhdi termasuk orang yang sangat cerdas dan cepat hapal serta mengerti bahkan kata guru guru tersebut waktu yang biasa orang belajar ilmu agama ,baru alim sampai mengaji 8 tahun maka bagi Abah Haji Guru Zuhdi di tempuh hanya dalam 2 tahun kerena kecerdasan nya  Guru Zuhdi.

Guru Saiful Rahman salah satu murid dari Abah Guru Sekumpul bercerita waktu pengajian dimana para Guru guru berkumpul untuk mengaji dengan Abah Guru Sekumpul termasuk Abah Haji Guru Zuhdi maka Abah Guru Sekumpul meminta Abah Haji Guru Zuhdi untuk membacakan kitab nya dan Abah Guru Sekumpul yang menjelaskan isi nya. Padahal kata Guru Saiful Rahman usia Guru Zuhdi waktu itu masih sangat muda dan paling muda di antara Guru guru yang hadir saat itu.

Tapi Abah Guru sekumpul memberi keistimewaan itu kepada Guru Zuhdi kerena kecerdasan dan kealiman Abah Haji. Mutholaah kitab adalah hobi dan teman dari Abah Haji. Beliau sering lebih banyak di kamar untuk mutholaah kitab dan berteman dengan kitab kitab dan dgn Guru guru beliau, sehingga Beliau pun di beri kecerdasan dan pemahaman serta kealiman oleh Allah.. Subhanallah

Selasa, 22 November 2016

Manaqib " Wali Katum" Muhammad Ramli bin Anang Katutut


Nama “Wali Katum” sudah tidak asing lagi bagi warga asli Kota Banjarmasin khususnya, dan masyarakat Kalimantan Selatan pada umumnya.

Nama beliau sebenarnya adalah Muhammad Ramli bin Anang Katutut, di masa kecil beliau bernama Artum Ali, beliau hidup apa adanya tanpa berusaha (bekerja), hari-hari beliau habiskan hanya untuk mengabdi kepada Allah SWT.

kata Katum diambil dari bahasa Arab yang berarti sembunyi. Diceritakan, beliau pergi selalu membawa Alqur’an apabila berhenti beliau akan membacanya, hingga akhir hayat beliau Alqur’an tersebut tidak persegi melainkan lonjong karena sisi-sisinya sudah aus terkikis lantaran sering dibaca.

Beliau suka khalwat dan uzlah (melatih melawan hawa nafsu) selama 30 tahun dan waktu khalwat itu beliau sekeluarga makan cuma 1 genggam beras perhari tapi bila ada orang yang memberi beliau lebih dari itu beliau menolak dan beliau punya pakaian hanya beberapa saja.
Rumah beliau berdinding daun rumbia dan berlantai pelepah rumbia.


Sebagian dari karomah beliau:
-Mengetahui barang tercecer
-tidak kering minyak pada lampu duduk. Pada waktu beliau mengajar pada saat itu masih tidak ada lampu listrik jadi pakai lampu duduk aja..nah lampu duduk itu minyaknya gak habis sampai beliau slesai mengajar padahal nyata minyak di lampu itu 0,5 cm yang diperkirakan 15 menit habis dan pasti padam lampunya tapi sampai siang gak padam” lampunya.
-mengetahui keadaan orang yg berkunjung.
-bisa kemana saja dalam sekejab
-Pekerjaan yang dibantu beliau membawa berkah
.-Tubuh beliau tidak pernah digigit nyamuk pada waktu beliau khalwat
– Kalo beliau memasak nasi dgn menggunakan kayu dari pelepah nyiur yg masih hijau dan panci nya tempurung kelapa, tapi sebanyak apapun orang makan bersama beliau nasi itu pasti cukup.


Beliau wafat tgl 24 juni 1982 M bertepatan dengan tgl 29 Sya’ban 1402 H pada usia sekitar 70 tahun. Makam Wali Katum terletak di desa Tabu Darat Kecamatan Labuan Amas Selatan Kabupaten Hulu Sungai Tengah Kalimantan Selatan.


Sumber (MANAKIB WALI KATUM)


Senin, 07 November 2016

Masyaallah ...! Hadist Ini lah Yang Ditakutkan Para Waliyullah



para wali Allah itu tidak takut penjara,tidak takut miskin,tidak takut apapun yang menimpa mereka didunia ini,meskipun di siksa dengan silet,dicambuk,ditoreh,dilukai dengan benda panas,apalagi cuma di hina,pokoknya mereka itu tidak pernah takut dengan apapun, tidak pernah lagi ada rasa kesedihan karena hal hal duniawi,mereka hanya takut kepada Allah,mereka takut membuat Allah murka,pokoknya setiap waktu,setiap saat mereka menjaga hati mereka agar jangan bermaksiat (menjaga anggota tubuh apakan lagi) kalau sedikit saja hati mereka bermaksiat,maka cepat cepat mereka menangis bertaubat juta'an kali,supaya cinta kasih Allah kepada mereka jangan ada perubahan,karena kalau berubah,maka pangkat kewalian mereka akan dicopot,kecintaan Allah berubah kemurkaan,dan kematian yang mengerikan (su-ul khatimah) akan menanti mereka,

ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون

dan hal terbesar yang paling ditakuti oleh para wali Allah adalah pada waktu roh berpisah dari jasad,
disana itu lah babak penentuan hidup kita,apakah celaka (syaqiyyun) ataukh bahagia (sa'idun).
pedoman para wali Allah ini adalah sebuah hadist yang berbunyi:

ﻋﻦ ﺃﺑﻲ ﻋﺒﺪ اﻟﺮﺣﻤﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻣﺴﻌﻮﺩ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ ﻗﺎﻝ: ﺣﺪﺛﻨﺎ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﻫﻮ اﻟﺼﺎﺩﻕ اﻟﻤﺼﺪﻭﻕ: "ﺇﻥ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻳﺠﻤﻊ ﺧﻠﻘﻪ ﻓﻲ ﺑﻄﻦ ﺃﻣﻪ ﺃﺭﺑﻌﻴﻦ ﻳﻮﻣﺎ ﻧﻄﻔﺔ، ﺛﻢ ﻳﻜﻮﻥ ﻋﻠﻘﺔ ﻣﺜﻞ ﺫﻟﻚ، ﺛﻢ ﻳﻜﻮﻥ ﻣﻀﻐﺔ ﻣﺜﻞ ﺫﻟﻚ، ﺛﻢ ﻳﺮﺳﻞ ﺇﻟﻴﻪ اﻟﻤﻠﻚ ﻓﻴﻨﻔﺦ ﻓﻴﻪ اﻟﺮﻭﺡ، ﻭﻳﺆﻣﺮ ﺑﺄﺭﺑﻊ ﻛﻠﻤﺎﺕ: ﺑﻜﺘﺐ ﺭﺯﻗﻪ ﻭﺃﺟﻠﻪ ﻭﻋﻤﻠﻪ ﻭﺷﻘﻲ ﺃﻭ ﺳﻌﻴﺪ. ﻓﻮ اﻟﻠﻪ اﻟﺬﻱ ﻻ ﺇﻟﻪ ﻏﻴﺮﻩ ﺇﻥ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻟﻴﻌﻤﻞ ﺑﻌﻤﻞ ﺃﻫﻞ اﻟﺠﻨﺔ ﺣﺘﻰ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻨﻬﺎ ﺇﻻ ﺫﺭاﻉ ﻓﻴﺴﺒﻖ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﻜﺘﺎﺏ ﻓﻴﻌﻤﻞ ﺑﻌﻤﻞ ﺃﻫﻞ اﻟﻨﺎﺭ ﻓﻴﺪﺧﻠﻬﺎ، ﻭﺇﻥ ﺃﺣﺪﻛﻢ ﻟﻴﻌﻤﻞ ﺑﻌﻤﻞ ﺃﻫﻞ اﻟﻨﺎﺭ ﺣﺘﻰ ﻣﺎ ﻳﻜﻮﻥ ﺑﻴﻨﻪ ﻭﺑﻴﻨﻬﺎ ﺇﻻ ﺫﺭاﻉ ﻓﻴﺴﺒﻖ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﻜﺘﺎﺏ ﻓﻴﻌﻤﻞ ﺑﻌﻤﻞ ﺃﻫﻞ اﻟﺠﻨﺔ ﻓﻴﺪﺧﻠﻬﺎ" ﺭﻭاﻩ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻭﻣﺴﻠﻢ.

kata nabi: demi Allah yang tiada tuhan lagi selain dia,sesungguhnya ada seseorang yang selama hidupnya rajin beribadah,beramal dengan amalan para ahli sorga,sampai-sampai jarak antara dia dan sorga tinggal sehasta,namun tulisan dikitab lauh mahfuz dia masuk neraka,lalu di detik-detik akhir hayatnya dia dimudahkan untuk beramal dengan amalan ahli neraka,lalu dia mati,dan pada akhirnya dia masuk neraka,su-ul khatimah


sebaliknya ada juga seseorang yang selama hidupnya beramal dengan amalan ahli neraka,(memacari anak orang,mangacak susu anak orang,mancium pipi bibir anak orang,kada kawa malihat susu ta'antang lalu ja handak mangacak,melihat burit handak mangacak,nang makan zenit inya jua,nang ma'uluakan judi inya jw,puluhan ikung binian digombalinya,smpy kawa main diranjang,smpai 5 ikung di hamilinya binian,nang manyuntan inya jw,nang membajak menagih duit paksa inya jua,betato,pokoknya bini orang bini inya jua,sudahnya dipambatuan inya terkenal dah tukang rasai lahung-lahung disana brata'an)

sampai-sampai jarak antara dia dan neraka tinggal sehasta,
namun tulisan di kitab lauh mahfuz dia ini ahli sorga,akhirnya di detik detik akhir hayatnya dia diberi taufik dan hidayah,bertaubat dengan sungguh2 beramal ibadah dengan amal ahli sorga,dia menangis hingga air matanya habis dan wafat saat itu,
akhirnya dia mati husnul khatimah,masuk sorga,

hadist ini lah yang paling di takuti oleh para wali,sehingga para wali itu mereka mensiasatinya dengan cara setiap detik setiap nafas selalu mengingat Allah, bahkan ada wali yang satu detik saja bila dia lupa kepada Allah,maka dia hukumkan dirinya kafir,
kenapa para wali harus melakukan ini?
karena saat hadist ini datang,ada hadist tandingan yang bisa memprediksi syaqiyyun (celaka) dan sa'idun (bahagia) pada diri seseorang itu,yg berbunyi:

كل ميسر لما خلق له
setiap orang akan dimudahkan untuk menuju takdirnya

jika dia ditakdirkan akan masuk neraka,maka selama dia hidup dia akan dimudahkan untuk beramal amalan ahli neraka,sulit untuk beramal amalan ahli sorga,menghadiri pengajian malas2n,mendengar ayat alquran kepanasan,membela orang kafir yg menistakan alquran,menghina zuriyat rasulullah,menghina para wali Allah,membela wali syaithon,dll...

jika dia ditakdirkan akan masuk sorga,maka disini jalan atau thoriqah para wali,mereka dalam setiap detik,setiap saat takkan melupakan Allah,slalu mengingat Allah dalam hati,dalam pandangan,dalam pendengaran,dalam langkah,dalam gerakan,dalam setiap aktivitas,agar nanti di akhir hayat akan dimudahkan juga seperti itu,
ibadah setiap waktu slalu memandang nur muhammad,takkan tergeser walau sekejap,

sekarang tinggal pilih,kemana arah tujuan hidup kita,apakah ngikut hamba akhirat (para wali Allah,dan ulama yang berjuang menghancurkan musuh Allah)
ataukah ngikut hamba dunia (ulama yang membela musuh Allah demi kepentingan perut ataupun golongan),

Sumber : Awi Mahmud

Kamis, 27 Oktober 2016

Pengajian Guru Zuhdi Kitab Al ‘Ilmunnibros Malam Jum'at Tanggal 27 Oktober 2016.



Ilmu adalah harta yang paling berharga dan harus di dapatkan dari guru ke guru sampai kepada Rasulullah SAW. Maka ilmu yang di dapat seperti itu akan dapat hubungan dengan Rasulallah.
Menghadiri majelis ilmu sangat beruntung kerena di gabungkan di kelompokan dengan Rasulallah.
Adapun orang yg selalu mencari dunia maka akan di kumpulkan dengan firaun,Qorun.

Setelah mengaji ilmu maka di amalkan. Modal beramal jangan merasa dapat mengerja amal ibadah. Karena merasa tidak bisa mengerja amal ibadah maka meminta kepada Allah yang Arrohman dan Arrohim. Kita minta bukan hanya nikmat yang besar besar tapi juga nikmat yang kecil kecil.

Setelah belajar ilmu wudhu maka kita minta bantuan kepada Allah untuk berwudhu,minta untuk di buatkan pekerjaan berwudhu. Dan saat beramal beribadat merasa sekira bukan karena bantuan Allah tidak akan bisa beramal ibadah(jaka kada Allah yg menolongi).

Apapun yang di rasa dan di dengar nikmat maka itu semua kebaikan Allah.
Walau ada usaha dan ikhtiar tetap tidak memberi bekas. Seperti saat kita bernapas dan kita usaha dengan menarik lalu coba menahan apakah bisa menahan tentu tidak bisa,artinya usaha menarik itu tidak memberi bekas kerena saat menahan kita tdk bisa.

Walau ada usaha ikhtiar tetapi tanpa anugerah pertolongan Allah tidak akan bisa apa apa (kada kawa beapa apa).Meyakini diri kada kawa beapa apa (tidak bisa apa apa) maka itu awal awal dari Rasa. Rasa kada kawa (tidak bisa apa apa) itu yang di cari kerena rasa itu yang sangat penting.
Urang bahari apabila sudah merasa mendapat Rasa itu (rasa kada kawa beapa apa) maka itulah anugerah yang besar.

Rasa yang penting. Ucapan ya Allah pian aja lagi nang ulun hadang. Maka itu anugerah dan nikmat yang luar biasa.Akan tetapi Rasa itu di dapat saat dalam keadaan tegapit(terjepit).
Orang orang yang sudah habis pikir adalah orang yang mendapat hari raya. Datang nya rasa tidak ada yang bisa menolongi lagi selain Allah maka itulah hari raya bagi Orang Soleh.

Tujuan ilmu supaya beramal dan tujuan ilmu supaya dapat Rasa.
Mengambil ilmu supaya dapat Rasa dan Rasa yang di dapat kada kawa beapa apa (tidak bisa berbuat apa apa) itulah awal awal rasa.

Untuk mendapatkan Rasa itu degan mencari Guru dan apabila tidak menemukan guru maka dengan memperbanyak membaca sholawat.
Rasa yg pertama yang membuat ilmu itu berguna yaitu Lahawla wala quata illa billah.Rasa ulun kada kawa beapa beapa.

Kita terjebak dengan rasa selalu kawa (selalu mampu). Padahal mengangkat cangkir hal yang kecil tidak akan bisa kita tanpa pertolongan Allah. Akan tetapi kerena terbiasa merasa kawa merasa mampu sehingga tidak pernah meminta pertolongan Allah. Itulah kita selalu mengucap Bismillah dalam setiap melakukan apapun agar kita selalu meminta pertolongan Allah dalam hal apapun. Karena kita punya Rasa kada kawa beapa apa (tidak mampu berbuat apa apa).

Saat mengerja sholat malam lalu dpt 100 rakaat akan tetapi merasa ini kerjaan diri bukan anugerah dari Allah dan sebagian nya minta puji makhluk. Maka di lihat nya itu adalah kebaikan padahal itu racun.

Lalu ada pelacur yang merasa paling hina paling banyak dosa sehingga pelacur ini jadi sangat tawadhu maka dari Dosa timbul Rasa tawadhu sehingga jadi lah orang yang beruntung. Dan dari ibadat timbul rasa ujub,takabur,sum` ah sehingga jadilah orang yang tidak beruntung.

Untuk mendapatkan Rasa itu harus dengan memperbanyak membaca Sholawat.
Mengaji Al quran selembar lalu merasa nyaman maka membaca lagi sampai dapat sepuluh lembar dan merasa lelah dan dari lelah timbul malas membaca nya lagi. Dan saat nyaman membaca tadi itu lah urang (pertolongan Allah) dan saat lelah membaca lalu jadi malas membaca itu lah diri kita sebenar nya. Dan semua itu letak nya di Rasa bukan untuk di pander(di ucapkan).

Kita adalah hamba yang tidak bisa beapa apa dan tidak punya apa apa.
Karena hamba maka tidak ada sedikitpun minta pujian kerena lahawla wala quata illabillah.
Asal pinandu dengan diri ,asal tahu diri dan kenal diri tidak akan pernah sombong dan ujub.
Seseorang yang dulu nya kaya lalu miskin maka saat miskin berucap aku faqir maka ucapan nya itu lah Rasa yg di cari. Karena memang kita sebenarnya Faqir.

Orang yang selalu merasa diri nya Faqir maka Allah pun jadi maras (kasihan) dan makhluk pun juga maras. Dan Allah luruk (curahkan) pemberian yang banyak bagi orang yang selalu merasa diri nya faqir.
Dan orang yg merasa faqir ini berdoa ya Allah apabila engkau memberi hamba rejeki yang banyak tapi hamba tidak ingin rasa ini engkau hilang kan(rasa faqir).

Rasa itu yang kita cari siang dan malam karena rasa itu yang membuat kita tahu diri.
Kita selalu merasa hebat,mulia,kaya,alim. Lalu Allah beri rasa itu kepada hambanya dengan meletakan orang itu jadi bangkrut sehingga ada muncul rasa faqir tidak lagi ada rasa kaya.
Allah letakan hamba itu dengan kehinaan sehingga selalu di hina sehingga mendapat rasa diri hina tidak ada lagi rasa mulia.

Dan apabila sudah dapat rasa itu selalu berdoa kepada Allah agar Allah tidak mencabut rasa itu.
Hanya Allah yang bisa menyelamatkan kita. Minta kepada Allah dengan selalu berdoa Ihdinas sirotol mustaqim.

Sumber : pencinta Waliyullah


Manaqib Syeikh Hasan Al Bashri

ilustrasi foto

Hasan al-Basri (642 – 728 atau 737); Abu Sa’id al-Hasan ibn Abi-l-Hasan Yasar al-Basri) ialah ahil teologi Arab terkenal dan cendekiawan Islam.

Hassan al-Basri dilahirkan di Madinah pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin al-Khattab pada tahun 21 Hijrah (642 Masihi). Pernah menyusu pada Ummu Salmah, isteri Rasulullah S.A.W., ketika ibunya keluar melaksanakan suruhan beliau. al-Hassan al-Basri pernah berguru kepada beberapa orang sahabat Rasul S.A.W. sehingga beliau muncul sebagai ulamak terkemuka dalam peradapan Islam. al-Hassan al-Basri meninggal di Basrah, Iraq, pada 110 Hijrah (728 Masihi). Beliau pernah hidup pada zaman pemerintahan Khalifah Abdul Malik b. Marwan.

Al-Hasan bin Yasar (30…???-110 H)


Suatu hari ummahatul mu’minin, Ummu Salamah, menerima khabar bahwa mantan “maula” (pembantu wanita)-nya telah melahirkan seo¬rang putera mungil yang sehat. Bukan main gembiranya hati Ummu Salamah mendengar berita tersebut. Diutusnya seseorang untuk mengundang bekas pembantunya itu untuk menghabiskan masa nifas di
rumahnya.

Ibu muda yang baru melahirkan tersebut bernama Khairoh, orang yang amat disayangi oleh Ummu Salamah. Rasa cinta ummahatul mu’minin kepada bekas maulanya itu, membuat ia begitu rindu untuk segera melihat puteranya. Ketika Khairoh dan puteranya tiba, Ummu Salamah memandang bayi yang masih merah itu dengan penuh sukacita dan cinta. Sungguh bayi mungil itu sangat menawan. “Sudahkah kau beri nama bayi ini, ya Khairoh?” tanya Ummu Salamah. “Belum ya ibunda. Kami serahkan kepada ibunda untuk menamainya” jawab Khai¬roh. Mendengar jawaban ini, ummahatul mu’minin berseri-seri, seraya berujar “Dengan berkah Allah, kita beri nama Al-Hasan.” Maka do’apun mengalir pada si kecil, begitu selesai acara pembe¬rian nama.

Al-Hasan bin Yasar – atau yang kelak lebih dikenal sebagai Hasan Al-Basri, ulama generasi salaf terkemuka – hidup di bawah asuhan dan didikan salah seorang isteri Rasulullah SAW: Hind binti Suhail yang lebih terkenal sebagai Ummu Salamah. Beliau adalah seorang puteri Arab yang paling sempurna akhlaqnya dan paling kuat pendiriannya, ia juga dikenal – sebelum Islam – sebagai penulis yang produktif. Para ahli sejarah mencatat beliau sebagai yang paling luas ilmunya di antara para isteri Rasulullah SAW.

Waktu terus berjalan. Seiring dengan semakin akrabnya hubun¬gan antara Al-Hasan dengan keluarga Nabi SAW, semakin terbentang luas kesempatan baginya untuk ber”uswah” (berteladan) pada ke¬luarga Rasulullah SAW. Pemuda cilik ini mereguk ilmu dari rumah-rumah ummahatul mu’minin serta mendapat kesempatan menimba ilmu bersama sahabat yang berada di masjid Nabawiy.

Ditempa oleh orang-orang sholeh, dalam waktu singkat Al-Hasan mampu meriwayatkan hadist dari Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Musa Al-Asy’ari, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, Anas bin Malik dan sahabat-sahabat RasuluLlah lainnya.
Al-Hasan sangat mengagumi Ali bin Abi Thalib, karena keluasan ilmunya serta kezuhudannya. Penguasan ilmu sastra Ali bin Abi Thalib yang demikian tinggi, kata-katanya yang penuh nasihat dan hikmah, membuat Al-Hasan begitu terpesona.

Pada usia 14 tahun, Al-Hasan pindah bersama orang tuanya ke kota Basrah, Iraq, dan menetap di sana. Dari sinilah Al-Hasan mulai dikenal dengan sebutan Hasan Al-Basri. Basrah kala itu terkenal sebagai kota ilmu dalam Daulah Islamiyyah. Masjid-masjid yang luas dan cantik dipenuhi halaqah-halaqah ilmu. Para sahabat dan tabi’in banyak yang sering singgah ke kota ini.
Di Basrah, Hasan Al-Basri lebih banyak tinggal di masjid, mengikuti halaqah-nya Ibnu Abbas. Dari beliau, Hasan Al-Basri banyak belajar ilmu tafsir, hadist dan qiro’at. Sedangkan ilmu fiqih, bahasa dan sastra dipelajarinya dari sahabat-sahabat yang
lain. Ketekunannya mengejar dan menggali ilmu menjadikan Hasan Al-Basri sangat ‘alim dalam berbagai ilmu. Ia terkenal sebagai seorang faqih yang terpercaya.



Keluasan dan kedalaman ilmunya membuat Hasan Al-Basri banyak didatangi orang yang ingin belajar langsung kepadanya. Nasihat Hasan Al-Basri mampu menggugah hati seseorang, bahkan membuat para pendengarnya mencucurkan air mata. Nama Hasan Al-Basri makin harum dan terkenal, menyebar ke seluruh negeri dan sampai pula ke telinga penguasa.

Ketika Al-Hajaj ats-Tsaqofi memegang kekuasan gubernur Iraq, ia terkenal akan kediktatorannya. Perlakuannya terhadap rakyat¬ terkadang sangat melampaui batas. Nyaris tak ada seorang pun penduduk Basrah yang berani mengajukan kritik atasnya atau menen¬tangnya. Hasan Al-Basri adalah salah satu di antara sedikit penduduk Basrah yang berani mengutarakan kritik pada Al-Hajaj. Bahkan di depan Al-Hajaj sendiri, Hasan Al-Basri pernah menguta¬rakan kritiknya yang amat pedas.

Saat itu tengah diadakan peresmian istana Al-Hajaj di tepian kota Basrah. Istana itu dibangun dari hasil keringat rakyat, dan kini rakyat diundang untuk menyaksikan peresmiannya. Saat itu tampillah Hasan Al-Basri menyuarakan kritiknya terhadap Al-Hajaj:
“Kita telah melihat apa-apa yang telah dibangun oleh Al-Hajaj. Kita juga telah mengetahui bahwa Fir’au membangun istana yang lebih indah dan lebih megah dari istana ini. Tetapi Allah menghancurkan istana itu … karena kedurhakaan dan kesombongannya …”
Kritik itu berlangsung cukup lama. Beberapa orang mulai cemas dan berbisik kepada Hasan Al-Basri, “Ya Abu Sa’id, cukupkanlah kritikmu, cukuplah!” Namun beliau menjawab, “Sungguh Allah telah mengambil janji dari orang-orang yang berilmu, supaya menerangkan kebenaran kepada manusia dan tidak menyembunyikannya.”

Begitu mendengar kritik tajam tersebut, Al-Hajaj menghardik para ajudannya, “Celakalah kalian! Mengapa kalian biarkan budak dari Basrah itu mencaci maki dan bicara seenaknya? Dan tak seo¬rangpun dari kalian mencegahnya? Tangkap dia, hadapkan kepadaku!” .

Semua mata tertuju kepada sang Imam dengan hati berge¬tar. Hasan Al-Basri berdiri tegak dan tenang menghadapi Al-Hajaj bersama puluhan polisi dan algojonya. Sungguh luar biasa ketenan¬gan beliau. Dengan keagungan seorang mu’min, izzah seorang muslim dan ketenangan seorang da’i, beliau hadapi sang tiran.

Melihat ketenangan Hasan Al-Basri, seketika kecongkakan Al-Hajaj sirna. Kesombongan dan kebengisannya hilang. Ia langsung menyambut Hasan Al-Basri dan berkata lembut, “Kemarilah ya Abu Sa’id …” Al-Hasan mendekatinya dan duduk berdampingan. Semua mata memandang dengan kagum.

Mulailah Al-Hajaj menanyakan berba¬gai masalah agama kepada sang Imam, dan dijawab oleh Hasan Al-Basri dengan bahasa yang lembut dan mempesona. Semua pertanyaan¬nya dijawab dengan tuntas. Hasan Al-Basri dipersilakan untuk pulang. Usai pertemuan itu, seorang pengawal Al-Hajaj bertanya, “Wahai Abu Sa’id, sungguh aku melihat anda mengucapkan sesuatu ketika hendak berhadapan dengan Al-Hajaj. Apakah sesungguhnya kalimat yang anda baca itu?” Hasan Al-Basri menjawab, “Saat itu kubaca: Ya Wali dan PelindungKu dalam kesusahan. Jadikanlah hukuman Hajaj sejuk dan keselamatan buatku, sebagaimana Engkau telah jadikan api sejuk dan menyelamatkan Ibrahim.”

Nasihatnya yang terkenal diucapkannya ketika beliau diundang oleh penguasa Iraq, Ibnu Hubairoh, yang diangkat oleh Yazid bin Abdul Malik. Ibnu Hubairoh adalah seorang yang jujur dan sholeh, namun hatinya selalu gundah menghadapi perintah-perintah Yazid yang bertentangan dengan nuraninya. Ia berkata, “Allah telah memberi kekuasan kepada Yazid atas hambanya dan mewajibkan kita untuk mentaatinya. Ia sekarang menugaskan saya untuk memerintah Iraq dan Parsi, namun kadang-kadang perintahnya bertentangan dengan kebenaran. Ya, Abu Sa’id apa pendapatmu? Nasihatilah aku …”

Berkata Hasan Al-Basri, “Wahai Ibnu Hubairoh, takutlah kepada Allah ketika engkau mentaati Yazid dan jangan takut kepada Yazid¬ketika engkau mentaati Allah. Ketahuilah, Allah membelamu dari Yazid, dan Yazid tidak mampu membelamu dari siksa Allah. Wahai Ibnu Hubairoh, jika engkau mentaati Allah, Allah akan memelihara¬mu dari siksaan Yazid di dunia, akan tetapi jika engkau mentaati Yazid, ia tidak akan memeliharamu dari siksa Allah di dunia dan akhirat. Ketahuilah, tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam ma’siat kepada Allah, siapapun orangnya.” Berderai air mata Ibnu Hubairoh mendengar nasihat Hasan Al-Basri yang sangat dalam itu.

Pada malam Jum’at, di awal Rajab tahun 110H, Hasan Al-Basri memenuhi panggilan Robb-nya. Ia wafat dalam usia 80 tahun. Pendu¬duk Basrah bersedih, hampir seluruhnya mengantarkan jenazah Hasan Al-Basri ke pemakaman. Hari itu di Basrah tidak diselenggarakan sholat Ashar berjamaah, karena kota itu kosong tak berpenghuni.

Selasa, 25 Oktober 2016

Manaqib Sayid Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli Pengarang Kitab ( Dalail Khoirat )



Segala puji bagi Allah yang menganugerahi hidayah kepada kita berupa iman dan Islam, yang memberikan kenikmatan kepada kita dengan suka bersholawat salam kepada baginda Rosul sebaik - baik manusia, beliaulah yang kita mintai syafa’at dan beliau pula yang mensyafa’ati
kita, yang menjadi juru selamat dihari kiamat kelak.

Saya bersaksi sesungguhnya tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan hanya Allah, tiada sekutu bagi-Nya. Dan saya bersaksi sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, shalawat salam atas beliau, keluarga dan para sahabatnya.

Tulisan ini adalah sebagian dan sejarah perjalanan hidup seorang Imam yang alim dan amil, seorang wali Allah yang besar dan sempurna yang ma’rifat kepada Allah, yang muhaqqik dan wasil kepada-Nya, seorang tokoh terkemuka pada zamannya, yang berbeda pada masanya, Sayid Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman Al-Jazuli rodliyallah ‘anhu yang mengarang kitab dalailul Khoirot

Nasab

Adapun nasabnya adalah Sayid Abu Abdillah Muhammad bin Sulaiman bin Abdurrohman bin Abu Bakar bin Sulaiman bin Ya’la bin Yakhluf bin Musa bin ‘Ali bin Yusuf bin Isa bin Abdulloh bin Jundur bin Abdurrohman bin Muhammad bin Ahmad bin Hasan bin Isma’il bin Ja’far bin Abdulloh bin Hasan bin Hasan bin Ali bin Abu Tholib Karramallahu Wajhah.


Kelahiran

Beliau dilahirkan di Jazulah yaitu di sebuah kabilah dari Barbar di pantai negeri Maghrib {Maroko} Afrika. Beliau belajar di Fas yaitu sebuah kota yang cukup ramai yang terletak tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat dengan Mesir. Jarak antara Fas dan Mesir kira-kira 36 derajat 17 daqiqoh atau sekitar 4.064 km. Dikota Fas beliau belajar hingga menjadi sangat banyak menguasai ilmu yang bermacam-macam sehingga namanya tersohor, kemudian beliau mengarang kitab “Dalail al Khoirat”.


Sejarah Menjelang Mengarang Kitab Dalailul Khoirot

Adapun sebab musabah beliau mengarang kitab Dalailul Khoirot adalah karena pada suatu saat beliau singgah di suatu desa bertepatan dengan waktu (habisnya) sholat dhuhur; tetapi beliau tidak menjumpai seorangpun yang dapat beliau tanyai untuk mendapatkan air wudlu.

Akhirnya beliau menemukan sebuah sumur yang tidak ada timbanya, maka beliau berputar-putar di sekitar sumur itu dalam keadaan bingung karena tidak ada alat untuk menimba air. Tetapi kemudian beliau dilihat oleh seorang anak perempuan kecil yang berusiya sekitar tujuh tahun. Anak itu bertanya kepada Sayid Muhammad al-Jazuli,


“Ya Syekh, mengapa anda nampak bingung berputar-putar disekitar sumur Syekh menjawab,”Saya Muhammad bin sulaiman”.

Anak itu bertanya lagi, “Apa yang hendak tuan kerjakan ?“.

Syekh menjawab, “Waktu sholat dhuhurku sudah sempit, tetapi saya belum mendapatkan air untuk berwudlu”.

Anak kecil itu bertanya, apakah dengan namamu yang sudah terkenal ia tidak bisa (hanya sekedar) mendapatkan air wudlu dan dalam sumur? Tunggulah sebentar!“

Kemudian anak kecil itu mendekat ke bibir sumur dan meniupnya sekali, tiba-tiba airnya mengalir dan memancarkan di sekitar sumur seperti sungai besar.

Kemudian anak kecil itu pulang kerumahnya, dan Syekh Muhammad Al-Jazuli pun segera berwudlu dan melaksanakan sholat dluhur.

Setelah  itu Syekh Muhammad bergegas mendatangi anak perempuan kecil itu, sesampainya di sana beliau mengetuk pintu. Anak kecil itu berkata, “Siapa itu ?“, maka syekh menjawab, “Wahai anak perempuanku, saya bertanya kepadamu, demi Allah dan kemahaagungan-Nya yang menciptakan kamu dan menunjukan kepadamu terhadap Nabi Muhammad Saw. sebagai Nabi dan Rasulmu yang diharap-harapkan syafaatnya, saya harap engkau mau menemuiku, saya hendak menanyakan tentang satu hal”.

Ketika anak itu menemui beliau, Syekh Muhammad Al-Jazuli bersumpah, “Aku bersumpah kepadamu demi kemahaagungan Allah, demi kemahakuasaan-Nya, demi kemahamemberi-Nya, demi kemahasempurnaan-Nya dan demi Nabi Muhammad yang sholawat salam atas beliau, para shahabat, isteri dan putra-putra beliau, demi risalah beliau dan demi syafaat beliau, aku mohon kamu mau menceritakan kepadaku dengan apakah kamu bisa mendapatkan martabat yang tinggi {sehingga dapat mengeluarkan air dan sumur tanpa menimba} ?“.

Anak perempuan kecil itu menjawab, : “Kalaulah tidak karena sumpahmu itu wahai Syekh, tentulah aku tidak mau menceritakannya. Saya mendapatkan keistimewaan yang demikian itu karena membaca sholawat kepada Nabi Muhammad Saw.” Setelah peristiwa itu kemudian Syekh Muhammad Al-Jazuli radliallahu anhu mengarang kitab “Dalail al Khairat” di kota Fas. Dan sebelum beliau mensosialisasikan kitab itu ia mendapat ilham untuk pulang kembali ke tanah kelahirannya. Maka beliau kembali dan Fas kedesa beliau ditepi daerah Jazulah. Kemudian beliau dengan kesendiriannya itu bertemu Syekh Abu Abdilah Muhammad bin Abdullah Al-Shaghir seorang penduduk dipinggiran desa dan beliau berguru Dalail kepadanya.

Kemudian Syekh Muhammad Al-Jazuli melaksanakan kholwat untuk beribadah selama 14 tahun dan kemudian keluar dan kholwatnya untuk mengabdikan din dan menyempurnakan pentashihan (pembetulan) kitab “Dalait al Khoirot” pada hari jum’at, 6 Rabi’ul Awwal 82 H. delapan tahun sebelum hari wafatnya.

Adapun Thoriqoh beliau disandarkan pada Syekh Syadzili yang belajar dan Sayyid Abu Abdillah Muhammad bin Abdul Mudhor Al-Munithi dan Sayid Abu Utsman Sa’id Al-Hartanai dan Sayid Abi Zaid Abdurrahman Al-Rajnaji dan Sayid Abul Fadhil Al-Hindi dan Syekh Ihus Uwais Zamanihi dan Sayid Abu Abdilah Al-Maghribi seorang pengembara yang dimakamkan di Damnaliur AlBukhairoh dan pengikut para orang sholih dan kelompok Thoriholnya muslikin dan seagung-agungnya orang-orang ma’nifat dan Imamnya para wasil, Abul Aqthob yang diperlihatkan oleh Allah terhadap semua pengikutnya sebagai penerus barisan para keturunan Al Hasyimiyyah dan keturunan Nabi, Sayid Abul Hasan ‘Ali Al-Syadzali radtiyallahu ‘anhu yang dilahirkan pada tahun 595 H. dan wafat pada tahun 656 H



Dinegerinya sebelum beliau merealisasikanSepuluh hal sebagaimana beliau berkata: “Masih ada sepuluh tahun untukmu”, dan beliau mewariskan banyak teman. Adapun murid-murid beliau banyak sekali, diantaranya adalah Syekh Abu Abdillah Muhammad Al-Shoghir Al-Sahli dimana beliau adalah yang tertua dan sahabatnya yang lain, yang menemaninya dalam meriwayatkan Dalail. Kemudian Syekh Abu Muhammad Abdul Karim Al-Mandari dan juga Syekh Abdul ‘Aziz Ab-Tiba’ dan beliaulah Sayid dan Gum Sanadku (Mu’aUif dintana Guru saya Sayid Ahmad Musa Al-Samlali berguru kepadanya dan kemudian Sayid Ahmad bin Abbas A1-Shom’i berguru kepadanya dan kemudian Sayid Mufri Abdul Qodir Al-Fasi belajar kepadanya dan kemudian Sayid Ahmad bin Al-Haj belajar kepadanya kemudian Sayid Muhammad bin Ahmad bin Ahmad bin Al-Matsani belajar kepadanya dan kemudian Sayid Muhammad bin Abmad A1-Mudghiri belajar kepadanya dan kemudian Sayid All bin Yusuf Al-Hariri Al-Madanibelajar kepadanya dan kemudian Sayid Muhammad Amin Al-Madani belajar kepadanya dan kemudian Al-Quthbu Al-Rais Sayid Muhammad Idris belajar kepadanya dan kemudian Al Quthbu Al-Rasyid Sayid Abdul Mu’id radliyallahu ‘anhurn dan santrinya yang dijuluki dengan Muhammad Ma’ruf yang belajar kepadanya.


Syekh Muhammad Al-Jazuli Mendidik

Syekh Muhammad Al-Jazuli pada mulanya mulai mendidik para muridin dipinggiran Asafi di mana banyak sekali orang yang sadar dan bertaubat atas bimbingannya. Dzikirnya begitu terkenal, tersebar dan diamaikan orang-orang diberbagai negeri dan nampaklah keistimewaan yang besar dan keramat-keramatnya. Syekh Muhammad Al-Jazuli senantiasa berpegang teguh terhadap hukum-hukum Allah SWT dengan melaksanakan ajaran A1-Qur’an dan Sunnah rosul shallalluhu ‘alaihi wassalani. Kemudian beliau pindah dan Asafi kesuatu tempat yang terkenal dengan afrigal. Kemudian beliau membangun masjid dan menetap ditempat itu untuk tetap mendidik dan membimbing para muridin ke jalan yang benar sesuai petunjuk Allah.

Jelaslah cahaya keberkahan beliau, nampaklah tanda-tanda kerahasiaannya dan para faqir dan orang-orang yang tekun membaca dan dzikir kepada Allah dan membaca sholawat Nabi semakin banyak Dzikir-dzikir beliau dikenal disegenap penjuru dan pam pengikutnya pun tersebar disetiap bagian negeri sehingga menjadi semarak dan hiduplah negeri Maghribi. Syekh Muhammad Al-Jazuli memperbaharui Thoriqot di Maghribi setelah pengaruh-pengaruh dari pengajarannya. Syekh Muhammad Al-Jazuli benar-benar seorang yang mencurahkan waktunya untuk menolong dan memberikan manfa’at kepada ummat Beliau juga mengutus para sahabatnya keberbagai negeri untuk menda’wahkan hukum Allah dan mendorong mereka ke jalan Allah.

Banyak sekali orang mengikuti dan mengamalkan Thoriqotnya. Mereka juga banyak yang datang langsung kepada Syekh Muhammad A1-Jazuli untuk bertaqurrub dan mencari ridho Allah. Junilali dan pengikut itu mencapai 12665 orang dimana kesemuanya itu bisa mendapatkan fadhilah menurut kadar martabat dan kedekatan mereka dengan Syekh Muhammad Al-Jazuli.


Wafatnya Syekh Muhammad Al Jazuli

Beliau wafat waktu melaksanakan sholat subuh pada sujud yang pertama (atau pada sujud yang kedua menurut satu riwayat) tanggal 16 Rabi’ul Awwal 870 H. Beliau dimakamkan setelah waktu sholat dhuhur pada hari itu juga di tengah masjid yang beliau bangun.

Sebagian dan keramatnya adalah setelah 77 tahun dan wafat beliau, makam beliau dipindahkan Maralisy, dan ternyata ketika jenazah beliau dikeluarkan dan kubur, keadaan jenazah itu masih utuh seperti ketika beliau dimakamkan. Rambut dan jenggot beliau masih nampak bersih dan jelas seperti pada hari beliau dimakamkan. Makam beliau di Markasy sering diziarahi oleh banyak orang.


Sebagian besar dan peziarah itu membaca Dalil al Khairat disana, sehingga dijumpai di makam itu bau minyak misik yang amat harum karena begitu banyak di bacakan sholawat salam kepada nabi muhamad, para sahabat dan keluarga beliau. kisah wangi semerbak itu adalah sebagian dari sejarah yang lain tentang beliau bahwa para orang sholeh dari berbagai penjuru dari masa ke masa senantiasa membaca dan mengamalkan kitab beliau yaitu dalail al khoirot.


Akhirnya beliau mendapat perdikat sebagai seutama-utamanya orang yang bersama Rosul SAW kelak karena banyaknya pengikut beliau untuk membaca Sholawat, sebagai mana Rosululloh SAW bersabda, “Seutama utama manusia bersamaku pada hari kiamat adalah orang yang paling banyak membaca Sholawat untukku”


Syekh al-Khafidh Abu Na’im berkata, “ Sejarah besar tentang Syeh Muhamad Al-Jazuli ini benar-benar sesuai dengan hadist dan fatwa para sahabat tentang membaca sholawat kepada Nabi ni saya telah menuqilnya meskipun banyak para ulama’ yang mengetahuinya secara pasti, sebagai mana disabdakan Nabi, “Sedekat-dekatnya orang yang lebih berhak mendapat syafa’atku pada hari kiamat besok adalah orang yang paling banyak membaca sholawat pada waktu ia masih di dunia”

Segala puji bagi Alloh tanpa batas, Sholawat salam atas Rosululloh SAW para sahabat dan keluarganya. Amien

500 lebih Foto Abah Guru Sekumpul