Jumat, 06 April 2018

Pengalaman Seorang Santri Dengan abah Guru Sekumpul Sewaktu Mondok Di Darussalam Martapura




Oh ya, ada satu yang mengganjal dalam fikiran saya.
Saat nyantri di Darussalam, Abah Guru Sekumpul sudah jarang aktif ngajar di Pesantren,
beliau lebih fokus di Majelis.
Angkatan sebelum saya, tidak ada satu hari pun Abah Guru Sekumpul masuk mengajar.
Padahal, kepingin sekali saya merasakan bagaimana rasanya belajar dengan Abah Guru di Darussalam.
Apakah cara mengajar dan bahasa yang disampaikan sama dengan di Majelis atau berbeda..??

Waktu berlalu, saya pun duduk di kelas III Ulya (Tingkat Atas),
kelas terakhir di Darussalam. Di kelas III Ulya, saya ditempatkan di lokal B.
Guru-guru yang mengajar di tingkat ini adalah para kyai senior,
di antaranya Syaikh Muhammad Rosyad
(mufassir... masih ingat dibenak saat test baca tafsir Marah al-Labid
karya Syaikh Nawawi Banten beliau bilang “Ikam bagus baca kitab”.
Narsis banget ya... hehe yg jelas saya berusaha jujur)
dan Syaikh Muhammad Syukeri Unus
(Ahli Ilmu Alat dan Tashawwuf, pengasuh Majelis Ta’lim Sabilul Anwar).
Nah, sebagai pengajar akhlak (kitab Minhajul Abidin Imam al-Ghazali)
di kelas III Ulya dijadwalkan Abah Guru Sekumpul.

Apakah tahun ini Abah Guru yang jadwalnya begitu padat
dan terkadang sakit punya waktu untuk mengajar di Darussalam,
sedangkan angkatan sebelumnya beliau tidak ada satu hari pun masuk..?
Wallahu A’lam, kami hanya bisa berharap dan berdo’a.
Lagipula Abah Guru tidak terikat dengan Darussalam,
beliau tidak mau menerima gaji dari Darussalam.
Belum lagi kalau mengingat jadwal yang ditetapkan untuk Abah Guru adalah hari Rabu jam terakhir.
Artinya setelah selesai di Darussalam beliau mesti bersiap untuk memimpin
Sholat Zhuhur, kemudian memberi pengajian di Majelis ar-Raudhah dan
malamnya Ba’da Maghrib memimpin Majelis Menaqib dan Tarekat.
Kapan beliau istirahat..?



Allah Maha Tahu apa yang ada dibenak kami
dan inilah Keajaiban Sekumpul lagi-lagi saya rasakan.
Hari Rabu pertama di tahun ajaran waktu itu, kami harap-harap cemas.
Lonceng tanda jam pelajaran sudah berbunyi.
Sebagian kawan-kawan yang merasa tidak mungkin Abah Guru punya waktu untuk mengajar di Darussalam
(sebagaimana angkatan sebelum kami) memilih untuk tidak masuk kelas,
karena ditahun-tahun sebelumnya tidak ada kyai yang berani menggantikan
posisi (mewakili) Abah Guru dalam mengajar akhlak.
Tidak berapa lama, ada becak berhenti di depan Darussalam
dan seorang laki-laki dengan baju koko dan sarung plus peci putih turun dari becak.
Apakah itu Abah Guru Sekumpul..?? Memang mirip...
Namun, meragukan. Karena biasanya dalam majelis ta’lim beliau mengenakan gamis dan jubah,
juga serban melilit di kepala. Pula jarak antara rumah beliau di Komplek ar-Raudhah
dengan Darussalam lumayan jauh. Kalau memang itu Abah Guru Sekumpul,
kenapa tidak menggunakan Mercedes Benz keluaran terbaru yang ada di garasi beliau..?
Hai... Ternyata beliau memang benar Abah Guru Sekumpul, dengan tampilan yang sederhana.
Kebahagiaan yang tidak terperi menyelimuti hati kami.
Kami punya kesempatan belajar di kelas, yang tentu suasananya berbeda dengan di majelis.

Apakah ini sebuah keajaiban..?? Entah menurut anda,
menurut saya sih iya dan ini tidak perlu kita persoalkan.

Kenapa Abah Guru naik becak..??
entahlah, mungkin beliau lama ga naik becak.. hehhe.. untuk menghemat bensin..??
Ga juga, karena abang penarik becak menurut kabar
yang saya dengar waktu itu beliau kasih Rp.50.000,-
(pecahan terbesar waktu itu dan nilainya sangat besar.
Ingat, kejadian ini sebelum krismon, dimana nilai USD hanya sekitar RP.2.500,-).
Apa Mungkin beliau bermaksud menjaga hati kami,
yang sebagai santri dan belum memiliki penghasilan
tentu akan terbelalak bahkan mungkin menetes air liur melihat Baby Benz,
karena jangankan untuk beli, mengkhayalkan numpang saja ga berani.
Entahlah.. Hanya beliau yang tahu.

Yang jelas, beliau mampu menciptakan kharisma diri dan menebarkan kesejukan bagi kami.
Bandingkan dengan para pejabat atau wakil rakyat
(entah rakyat mana yang diwakilinya)
yang dengan seenaknya menggunakan mobil mewah (parahnya lagi, mobil dinas)
dan dengan pongahnya melewati kerumunan rakyat jelata.
Wajar (menurut saya) bila Abah Guru sukses membuat manusia lain mencintainya
dan para pejabat atau wakil rakyat tersebut sukses membuat manusia muak.
Apakah ini karomah..?? Entahlah.

Sumber :https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1188540721230684&set=t.100005668984538&type=3&theater

Rabu, 28 Maret 2018

Benci Menjadi Cinta Berkah Abah Guru Sekumpul



Kisah Ini Nyata Dan Langsung aLfaqir Saksinya.
Kemarin Ada Seorang Jama'ah Haul Yang Datang Dari Sulawesi Tepatnya Dimakassar.
Beliau Datang ke Martapura Bersama Anak Dan Isteri Beliau.

Dulunya Beliau Adalah Pegawai Disalah Satu Bank Dimakassar Tapi Sekarang Beliau Menjadi Orang Yang Berada.Beliau Mempunyai Rumah Makan Dan Mempunyai 3 Cabang Dimakassar.
Kata Beliau,,"Ditahun 2014 Saat Itu Aku Sering Buka Facebook.Saat Itu Aku Masih Sendiri Belum Punya Isteri.Dan Saat Itu Juga Aku Masih Menjadi Seorang Pegawai Bank.

Setiap Hari Aku Buka Facebook Namun Diberandaku Selalu Ada Postingan Tentang Guru Sekumpul.Aku Sering Membaca Tentang Postingan Foto Dan Video Guru Sekumpul Di Fb.Saat Itu Hatiku Tidak Percaya Bahwa Guru Sekumpul Itu Adalah Wali.Bahkan Hatiku Sering Berbicara Guru Sekumpul Itu Adalah Ulama Palsu Dan Ajarannya Menyesatkan.

Ditahun 2015 Aku Dipecat Dari Pekerjaanku Karena Ada Suatu Kesalahan Yang Ku Perbuat.
Kemudian Aku Nganggur Dirumah Beberapa Bulan.

Setiap Hari Aku Buka FB Yang Selalu Ada Diberandaku Adalah Guru Sekumpul.
Aku Berusaha Mencari Pekerjaan Namun Tidak Ada Yang Menerima Aku.

Kemudian Hati Kecilku Merasa Aku Ada Salah Sama Allah Dan Dosaku Sangat Amat Banyak.
Akhirnya Aku Ingin Shalat Tahajjud Minta Kepada Allah Agar Jalan Hidupku Bermanfaat.

Kemudian Sesudah Shalat Tahajjud Aku Ketiduran Diatas Sajadah.Tapi Aku Bermimpi Ada Seorang Ulama Yang Bergamis Putih Dan Berbolang Persis Seperti Guru Sekumpul Yang Aku Lihat Diberanda Fbku.

Didalam Mimpiku Itu Guru Sekumpul Mendo'akan Aku Agar Aku Menjadi Orang yang Sholeh Dan Mendapatkan Isteri dan Dzurriyat Yang Sholeh Sholehah.

Tak Lama Kemudian Aku Terbangun Dan Terkejut Kalau Aku Bermimpi Orang Yang Persis Dengan Guru Sekumpul.



Akhirnya Hatiku Percaya Dan Sangat Membenarkan Kalau Guru Sekumpul Itu Adalah Wali.
Dan Aku Bernadzar Kalau Do'a Beliau Didalam Mimpi Itu Terkabul Maka Aku Akan Ziaroh Kesekumpul.

Tak Lama Kemudian Cuma Beberapa Hari Aku Mendapatkan Isteri Yang Sholehah Dan Isteriku Itu Adalah Salah Seorang Pecinta Guru Sekumpul.

Dia mengajarkan Aku Tentang Guru Sekumpul.
Diakhir Tahun 2015 Aku Menikah Dengan Dia.

Alhamdulillah Hatiku Menjadi Cinta Dengan Guru Sekumpul.Semenjak Hatiku Percaya Kalau Guru Sekumpul Itu Wali Sejak Itulah Rezekiku Lancar Sehingga Aku Bisa Buka Usaha Rumah Makan Dan Mendapatkan Isteri Dan Anak Yang Sholeh Dan Sholehah.

Sekarang Aku Punya 1 Orang Anak Dan Saat Ini Isteriku Mengandung 2 Bulan.
Itulah Kisah Beliau Yang Pada Awalnya Beliau Sangat Benci Kepada Guru Sekumpul Tapi Akhirnya Benci Itu Menjadi Cinta.

Kata Beliau,Semua Ini Berkah Dari Guru Sekumpul Dan Aku Selalu Bertawasshul Kepada Guru Sekumpul Kalau Aku Ada Masalah.

Dan Lagi Kata Beliau,Aku Selalu Berdo'a Dan Sangat Berharap Aku Terkumpul Bersama Guru Sekumpul Diakhirat Berkat Aku Cinta Kepada Beliau

Kisah Ini Adalah Bukti Allah Kepada Hambanya Bahwa Allah Mampu Dan Kuasa Membolak Balikkan Hati Hambanya.Dan Juga Kisah Ini Membuktikan Kalau Alhm.Guru Disekumpul Memang Betul2 Walinya Allah Ta'ala.Serta Kisah Ini Menambah Nambah Cinta Kita Kepada Alhm.Guru Disekumpul.

Mudah2an Berkat Kita Cinta Kepada Beliau Kita Selalu Mendapatkan Keberkahan Dari Beliau.
Mudah2an Berkat Beliau Segala Dosa2 Kita Diampuni Allah Ta'ala.
Dan Mudah2an Berkat Beliau,Qobul Segala Hajat Selamat Dunia Akhirat,Dan Terkumpul Didalam Surga Bighoiri Hisaab,,Aamiin...!!!

Benarkah KIta Sudah Cinta Kepada Abah Guru Sekumpul..?



Saya adalah orang awam yang tak pantas berbicara apapun. Namun, jiwa ini merasa perlu untuk mengutarakan sisi lain dari sebuah pemikiran kebanyakan.

Saat ini, H-1 acara haul terbesar di Asia akan diselenggarakan. Puluhan ribu relawan siap dikerahkan untuk membantu acara. Tidak ada unsur politik, tidak ada bagi-bagi kursi ulama, tidak ada saracen ataupun cebong-cebong nakal yang menghasut para jemaah agar go to Sekumpul. Ini murni acara haul, sebuah acara peringatan meninggalnya seorang Waliyullah, Syaikh Zaini Abdul Ghani atau lebih akrab disapa dengan sebutan Abah Guru, Guru Sekumpul atau Guru Ijay. Guru yang ketampanan, kesolehan dan kemasyhurannya yang luar biasa. Buya Yahya mengagumi, Ustadz Abdul Shomad juga mengagumi, bahkan Ustadz Arifin Ilham juga akan berhadir di acara haul 2018 ini.

MasyaAllah, siapa yang tak kenal beliau? Seorang ulama yang diberi gelar wali kutub yang masyhur di tanah Kalimantan Selatan. Banyak kalangan pejabat dari tahun bahuela yang datang ke tempat beliau. Seperti Gusdur, dll. Dan, terakhir mungkin Pak Jokowi di acara haul ke -13 ini, sungguh tak di luar dugaan.

Jamaah Haul, saudara saudari yang saya cintai...

Kita adalah jamaah...

Mungkin benar kita pernah duduk di majelis beliau, atau kita hanya sempat menonton beliau di acara televisi atau cuma pernah mendengarkan ceramah beliau di radio, atau kita hanya diceritakan oleh orangtua kita bahwa ada ulama yang menawan, pintar, qonaah dan terkenal yakni Abah Guru Sekumpul.

Lantas, kita menjadi cinta karena kisah, kita menjadi cinta karena mendengarkan beliau ceramah, atau menjadi cinta karena tabarruk bahwa guru kita cinta, atau kita menjadi cinta karena banyak tulisan orang lain di facebook yang mengatakan CINTA.

Marilah.. Kita renungi kembali... Apakah betul kita cinta dengan Abah Guru? Apakah hanya euforia semata? Temen berangkat, kita berangkat. Temen aplut foto, kita juga tak mau kalah, ikut-ikutan aplut foto.

Laa haulaa wa laa quwwata ilaa billaah...

Banyak saya menyaksikan, para jemaah yang tersebar di seantero negeri, dari kota terdekat di Martapura, hingga ke Mancanegara saling lempar foto. Ada foto selfie dengan kendaraan, selfie di dalam pesawat, dan lain-lain.



Gembira? Tentu kita sangat gembira sebab karomah Waliyullah Guru kita tercinta dipancarkan melalui cahaya cinta jamaahnya. Siapa yang tidak gembira jika Umat Islam dikumpulkan dengan begitu mudahnya pada acara haul akbar ini? Siapa yang tidak gembira, banyak para pedagang, tukang pentol, tukang galon, dan penjual baju koko gamis seperti saya jadi terciprat berkah rejekinya? Siapa yang tidak gembira jika dengan acara ini, banyak keluarga bertolak ke Martapura padahal sebelumnya berkumpul di rumah saja susah bukan main? Siapa yang tidak berbahagia?

Tetapi, setiap kolam ikan pasti ada ikan yang mati. Begitulah juga dalam perayaan haul guru kita ini. Tiada ada yang sempurna. Tetapi, tugas kita adalah bagaimana mengurangi ketidaksempurnaan.

Hal itu sudah dapat dibuktikan oleh Bupati, Pemerintah dan para relawan. Jika dahulu, acara haul membuat jalan menjadi macet total, sehingga banyak pengguna jalan lain yang tidak mengikuti acara haul menjadi tertanggu, sekarang pelaksanaannya tidak semacet dahulu. Jika dahulu angka kecelakaan banyak, mungkin sekarang bisa sedikit atau tidak sama sekali. Saya ucapkan terimakasih pada semua yang berkontribusi.

Saya bertanya lagi, apakah memang benar kita cinta dengan Abah Guru?

Kita mengaku cinta, tetapi posting foto yang memperlihatkan aurat kita?

Kita mengaku cinta, tetapi banyak wanita yang tidak risih aurotnya dilihat lelaki saat berwudhu di tempat acar?

Kita mengaku cinta, tetapi saat di acara merokok sana merokok sini bahkan asapnya terkena balita.

Kita mengaku cinta? Tetapi bukannya asyik zikir, kita malah foto foto, rekam aplut instastory mengabarkan aktivitas ibadah kita.

Kita mengaku cinta? Tapi berangkat ke acara haul naik ojek sama pacar, pelukan, gandengan tak ada rasa "supan"??

Kita mengaku cinta? Bahkan, berangkat ke acara haul pun tak sedikit pun berizin kepada ibu dan ayah, apalagi berlutut di pangkuannya.

Saudara saudariku..

Bukankah yang membuat kita kagum adalah kewalian beliau? Kewalian beliau yang terpancar melalui keilmuan beliau?

Beliau yang selalu mengajak kita kepada kebaikan? Selalu mengajak kita pada sunah Nabi? Selalu mengajak kita untuk mencintai Allah dan RasulNya melebihi cinta kita pada manusia?

Tentu, Abah Guru tak suka dipuja-puji berlebihan. Abah Guru mungkin tak perlu pujian berlebihan. Tetapi beliau perlu bukti bahwa jamaahnya cinta pada beliau. Apa buktinya? Adalah rasa takut, cinta dan harap pada Allah dan RasulNya melebihi pada sesiapa saja. Konkritnya? Ibadah makin kenceng, sedekah makin banyak, sholat makin rajin, riya semakin hilang, ke pengajian makin sering, zikir makin banyak, sholawat makin mantap, dan sebagainya yang Abah Guru pesankan.

MasyaAllah.. Semoga niat kita diluruskan kembali. Sikap kita diperhatikan kembali.

Jangan sampai niat kita beribadah membaca sholawat dalam acara haul, sholat berjamaah dengan jutaan jamaah, adalah hanya karena ikut ikutan sahaja, hanya untuk abadikan momen lalu aplut dan kejar eksis semata.

Kalau memang benar kita cinta? Janganlah membuat Guru Sekumpul ditanya tentang sikap-sikap para jemaahnya yang ghuluw atau mungkin hanya ngikut tren saja. Saya yakin, Abah Guru akan senang dan ditambah pahalanya dan kenikmatannya ketika kita para jamaahnya kerjakan amal sholeh karena beliau sebagai wasilahnya, sehingga amal jariyah mengucur pada guru kita tercinta. Aamiin Allahummaa Amiin...

Akhirul kalam.
Afwan, dari pecinta Abah Guru

Selvia Stiphanie (Penulis buku Perempuan Kertas, Sahabat Surgaku, 7 Rahasia Cinta, Roman Hamidi dari Kalimantan Selatan)

sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1706759376052390&set=a.397729793622028.89864.100001550338426&type=3&theater

Selasa, 20 Maret 2018

Al Haal Dalam Tassawuf



Al-Haal (kondisi ruhani) menurut banyak orang merupakan arti yang intuitif dalam hati, tanpa adanya unsur sengaja, usaha menarik, dan usaha lainnya, dari rasa senang atau sedih, leluasa atau tergenggam, rindu atau berontak, rasa takut atau suka cinta, maka setiap al-Haal merupakan karunia.

Dan setiap Maqam adalah upaya. Pada al-Haal datang dari Wujud itu sendiri, sedang al-Maqam
diperoleh melalui upaya perjuangan. Orang yang memilik Maqam, menempati maqamnya, dan orang yang berada dalam Haal, bebas dari kondisinya.

Salah seorang guru berkata : “Beberapa al-Haal seperti kilatan kalau menetap, itu
sekedar omongan nafsu.”

Mereka berkata : “Al-Haal sebagaimana namanya, yakni al-Haal seperti ketika
menempati dalam kalbu, kemudian hilang.



Kalau tidak menempati, pasti tidak dinamakan haal. Dan setiap yang menempati, pastilah
hilang,

Lihatlah pada bayangan ketika sampai ujungnya Berkuranglah ketika ia memanjang
Beberapa kalangan mengisyaratkan abadinya al-Haal. Mereka berkata :
“Sebenarnya jika al-Haal tidak abadi dan tidak terdelegasi, itu hanyalah kilatan belaka. Pelakunya tidak sampai pada al-Haal yang sebenarnya. Apabila predikat tersebut menetap terus, dinamakan al-Haal.”

Di sinilah Abu Utsman al-Hiry berkata:
“Aku tidak pernah benci terhadap maqam yang telah diberikan Allah SWT kepadaku.” Ia
mengisyaratkan ketetapan abadinya dalam ridha. Dan ridha merupakan bagian dari al-
Haal.

Seharusnya dikatakan : Orang yang mengisyaratkan abadinya al-Haal, maka apa yang dikatakannya benar. Terkadang al-Haal berarti bagian dari seseorang kemudian terpelihara di dalamnya. Tetapi yang memiliki al-Haal ini memiliki beberapa ihwal, yaitu jalan-jalan yang tak menetap di atas ihwal-
ihwalnya yang menjadi bagiannya. Bila jalan-jalan yang ditempuh menetap secara konsisten, seperti menetapnya ihwal-ihwal tersebut, ia naik ke ihwal lain yang lebih lembut. Dan begitu selanjutnya, naik ke tahap seterusnya.

Senin, 19 Maret 2018

Beberapa Istilah Penting dalam Ilmu Tasawuf



1. Al-Maqamat: yaitu posisi ruhani yang dilalui oleh seorang sufi dalam proses mujahadahnya, dimana ia berada dalam posisi itu untuk sementara waktu, kemudian melalui mujahadahnya ia akan terus merambat naik ke posisi yang lebih tinggi.

2. Al-Ahwal: hembusan ruhani yang merasuk ke dalam hati tanpa disengaja ataupun diusahakan. Al-ahwal adalah anugerah, sedangkan al-maqamat bisa diusahakan. Al-ahwal datang tidak berujud dan berbentuk, sedangkan al-maqamat diperoleh dengan usaha yang sungguh-sungguh.(19) (lihat ar-Risalah, hal. 118-119).

3. Al-Fana’: yakni gugur dan hilangnya sifat-sifat tercela dalam diri sufi, sedangkan al-Baqa’: adalah muncul dan berkembangnya sifat-sifat terpuji dalam diri sufi.(20) (lihat Risalah, hal. 128).

4. Al-Ghaibah: yaitu hilangnya kemampuan hati untuk mengetahui ahwal atau kondisi diri, dikarenakan terlalu sibuk dengan urusan-urusan yang bersifat materi (sesuatu yang dapat dicerna oleh panca indera), sedangkan al-Hudhur: datangnya Kebenaran (Al-Haq/Allah Swt) dalam hati, karena hati seorang sufi dikondisikan dengan mengingat Allah Swt dan melalaikan selain-Nya.

5. At-Takhalli yaitu membuang seluruh potensi buruk dan jahat dari hati dan nafsu, sedangkan at-Tahalli adalah menghiasi diri dan hati dengan sifat-sifat terpuji.

6. Assitru: tertutupnya hijab Allah Swt dari hati manusia, sedangkan at-Tajalli: adalah terbuka hijab Allah dari hati manusia.(21) (lihat ar-Risalah, hal. 133 dan 147).

7. Al-Muhadharah, al-Mukasyafah dan al-Musyahadah, ketiga istilah tersebut berkaitan dengan ma’rifat kepada Allah swt. Al-Muhadharah adalah tahap pertama, yang berarti hadirnya hati untuk selalu mengingat Allah Swt, al-Mukasyafah adalah tahap kedua yang berarti hadirnya hati untuk mulai membuka tabir yang menghalangi antara hati dengan Allah Swt, dan al-Musyahadah merupakan tahap paling tinggi yaitu hadirnya Allah Swt dalam hati, sehingga terbukalah semua tabir penghalang antara keduanya.

8. At-Talwin yaitu sifat-sifat yang dimiliki oleh ahl ahwal (sufi yang masih berproses), sedangkan at-Tamkin adalah sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh ahl haqa’iq (sufi tertinggi yang telah mencapai tahap hakikat).(22) (lihat ar-Risalah, hal. 148 dan 151).

9. As-syari’ah yaitu perintah untuk menetapi dan konsisten beribadah, sedangkan al-Haqiqah adalah terbukanya tabir penghalang antara hati sufi dengan Allah Swt (musyahadah) .

10. Ilmu al-Yaqin, ‘Ain al-Yaqin, Haq al-Yaqin, adalah istilah berkaitan dengan ulum al-jaliyyah (ilmu yang jelas). Yang pertama dengan syarat adanya dalil atau burhan, yang kedua karena dibuktikan dengan keterangan (bayan), sedangkan yang ketiga dibuktikan secara langsung dengan mata kepala.(23) (lihat ar-Risalah, hal. 155 dan 157).

Demikian beberapa istilah penting dalam ilmu tasawuf dari sekian banyak istilah yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu dalam tulisan ini. Untuk lebih memperdalam kajian tentang istilah-istilah ini, anda bisa merujuk langsung kepada ar-Risalah al-Qusyairiyyah dan kitab-kitab tasawuf lain yang telah penulis perkenalkan di atas.



Sepintas tentang Beberapa Aliran Tarekat dan Para Tokohnya

A. Definisi, Organisasi dan Spesifikasi Tarekat
Mendefinisikan tarekat tentu saja tidak dapat dilepaskan dengan sejarah dan perkembangan tasawuf itu sendiri, karena pada hakekatnya ia lahir sebagai bentuk implementasi dari nilai dan ajaran tasawuf dan sebagai wadah bagi kalangan sufi untuk mengaktualisasikan kecenderungan tasawuf mereka. Oleh karenanya, para ulama tasawuf mengkategorikan tarekat sebagai “al-harakah al-‘amaliyah li at-tasawwuf al-Islami” atau gerakan aktualisasi tasawuf Islam.

Dr. Amir an-Najjar menyatakan bahwa kata “at-thariq” sebagai sebuah kata yang berasal dari bahasa Arab paling tidak mengandung dua pengertian istilah dalam perspektif tasawuf Islam. Pengertian Pertama, tarekat pada abad ketiga dan keempat hijriah berarti “metode atau manhaj untuk melatih jiwa agar menetapi prinsip-prinsip akhlak dan prilaku terpuji”. Pengertian Kedua, tarekat setelah abad kelima hijriah merupakan “seperangkat tatanan ritual kejiwaan yang dipergunakan oleh komunitas sufi tertentu dalam kerangka mencapai tataran kejiwaan tertinggi (ma’rifat) sekaligus menjalin ukhuwah Islamiyah”. Kemudian pada fase berikutnya mulai dikenal istilah bai’at, mursyid, naqib, khalifah dan sebagainya.

Adapun organisasi tarekat meliputi:

1. Murid
2. Khalifah
3. Khalifah al-Khulafa’
4. Na’ib al-Bandar
5. Na’ib al-Markaz
6. Na’ib al-Muhafadzah
7. Syaikh ‘Umum at-Tariqah.(24) (Lihat at-Thuruq as-Shufiyyah fi Mishr, Dr. Amir an-Najjar, hal. 20-21)

Tarekat memiliki spesifikasi di antaranya:
1. Dzikir
2. Sima’ (sya’ir-syair pujian yang dinasyidkan)
3. Hizib dan Wirid (setiap tarekat biasanya memiliki hizib atau wirid tertentu yang menjadi ciri khasnya).
4. Mawalid (mengadakan ritual peringatan kelahiran Keluarga Rasulullah Saw maupun para syuyukh tarekat tersebut).(25) (Lihat at-Thuruq as-Shufiyyah fi Mishr, hal. 24)

B. Mengenal Beberapa Aliran Tarekat dan Tokohnya

Tarekat Rifa’iyyah
Pendirinya adalah Ahmad ar-Rifa’i, seorang sufi yang lahir di desa “Hasan” atau lebih dikenal dengan nama “umm ‘Ubaidah” di Irak pada tahun 512 H dan wafat pada tahun 578 H. Ar-Rifa’i dikenal sangat konsisten terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah, tekun dalam beribadah, rendah hati, toleran dan sangat mencintai sesamanya.
Pokok-pokok ajaran tarekat ini terdiri dari 5 hal, yaitu:
1. Konsisten terhadap sunnah Rasulullah Saw.
2. Mengikuti prilaku para salaf shalihin.
3. Memakai pakaian sederhana, sebagai lambang kezuhudan terhadap dunia.
4. Siap menanggung beban penderitaan dan cobaan dari Allah Swt.
5. Memakai baju yang ada tambalan sebagai lambang kerendahan hati.

Dzikir wajib yang berlaku dalam tarekat ini adalah kalimat tauhid dan shalawat yang dibaca rutin setiap setelah selesai shalat fardhu dengan jumlah sesuai kemampuan, yaitu 50 kali, 500 kali atau 2500 kali, dan bisa lebih dari itu. Salah satu ritual khas lain dari tarekat ini adalah ritual “Muharram”, yaitu menyepi dan memperbanyak dzikir pada tahun baru Islam tersebut selama 7 hari berturut-turut.

Tarekat Qadiriyyah
Didirikan oleh Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qadir bin Abi Shalih Janki al-Jailani (w. 521 H). Nasabnya sampai kepada Sahabat Ali bin Abi Thalib Ra. Ia dikenal sebagai seorang yang sangat peduli terhadap masalah pendidikan dan dakwah. Majelis taklimnya dihadiri oleh banyak kalangan ulama dan fuqaha di Irak, tempat asal al-Jailani.
Prinsip-prinsip ajaran tarekat ini di antaranya:
1. Berpegang teguh terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah.
2. Jujur dan benar.
3. Bersungguh-sungguh.
4. Berakhlaq mulia.

Dzikir wajib dalam tarekat ini adalah kalimat tauhid, dan dibaca setiap setelah selesai shalat wajib sebanyak minimal 165 kali.

Tarekat Syadziliyah
Pendirinya adalah Abu al-Hasan as-Syadzili, seorang sufi dari Maroko yang lahir pada tahun 593 H di desa “ghamarah” Maroko. Nasabnya sampai kepada Sahabat Ali bin Abi Thalib Ra. Tarekat ini memiliki cabang yang cukup banyak, terutama di negara-negara Afrika Utara, seperti Tunis , Aljazair dan Libia.
Prinsip-prinsip ajaran tarekat ini terdiri dari lima hal:
1. Bertaqwa kepada Allah Swt dalam kondisi sendirian maupun bersama orang lain.
2. Berpegang teguh kepada as-Sunnah, baik dalam ucapan maupun perbuatan.
3. Tidak terlalu bergantung kepada makhluk.
4. Ridha dengan sedikit maupun banyak.
5. Kembali kepada Allah Swt dalam keadaan senang maupun susah.(26) (Lihat at-Thuruq as-Shufiyyah fi Mishr, hal. 63 dan setelahnya).

Tarekat Naqsyabandiyyah
Pendirinya adalah Muhammad Baha’uddin an-Naqsyabandi al-Uwaisi al-Bukhari. Lahir di “Qashr al-‘Arifan”, sebuah desa dekat Bukhara pada tahun 717 H. Tarekat ini dalam berdzikir lebih mengedepankan cara sir atau tidak terdengar. Dzikir yang berlaku adalah kalimat tauhid dan shalawat serta melakukan khataman “khawajikan” atau membaca riwayat para guru. Dzikir “khawajikan” memiliki tata cara tersendiri, yaitu:
1. Khudu’, khusyu dan hudhur.
2. Membaca surat al-Fatihah 7 kali.
3. Shalawat kepada Rasulullah Saw sebanyak 100 kali.
4. Membaca surat al-Insyirah 79 kali.
5. Membaca surat al-Ikhlas 1001 kali.
6. Membaca surat al-Fatihah (yang kedua kali) 7 kali.
7. Shalawat kepada Nabi Saw (yang kedua kali) 100 kali.

Adapun prinsip-prinsip ajaran tarekat ini adalah:
• Kesemprnaan iman.
• Kesempurnaan Islam.
• Kesempurnaan ihsan.(27) (lihat at-Tariqah an-Naqsyabandiyyah wa ‘A’lamuha, Dr. Muhammad Ahmad Darniqah, hal.18 dan setelahnya).

Demikian pengenalan sepintas tentang beberapa tarekat yang memiliki pengikut dengan jumlah yang signifikan. Masih banyak tarekat lain yang tidak dapat penulis sebutkan dialam tulisan ini, karena bagaimanapun tulisan ini hanya bersifat pengantar. Apabila anda berminat untuk mengkaji tentang tarekat secara lebih detail, silahkan merujuk pada buku-buku tarekat yang cukup banyak beredar di Negeri ini.

Senin, 12 Februari 2018

Istilah Tasawuf Al-Ghaibah Wa Al -Hudlur



Gaibah adalah ketiadaan (kekosongan) hati dari ilmu yang berlaku bagi ahwal (kondisi atau perilaku) makhluk karena (terhalang oleh) kesibukan rasa dengan “sesuatu yang datang” (warid, kehadiran rasa alam spiritual) kepadanya. Kemudian, keberadaan rasa terhadap diri dan lainnya menjadi ghaibah (gaib atau hilang) sebab kehadiran warisitu yang berwujud dalam bentuk kesadaran akan ingatan pahala dan siksa.


Diriwayatkan bahwa ketika Rabi’bin Khaitsam berkunjung ke rumah Ibnu Mas’ud r.a. dan lewat di depan kedai seorang pandai besi, dia melihat sepotong besi yang dibakar di tungku perapian besi dalam keadaan merah membara. Tiba-tiba matanya tidak kuat memandang lalu pingsan seketika. Setelah siuman, Rabi’ ditanya, lalu menjawab, “Saya ingat keadaan penduduk neraka (yang sedang dibakar)di neraka”.

Sebuah kejadian yang sangat aneh pernah menimpa Ali bin Husin. Rumah yang ditempatinya terbakar saat dia menjalankan salat, dan dia tidak bergeming sedikitpun dari sujudnya ketika api mulai menjalar ke tempatnya salat dan kemudian memusnahkan rumahnya. Para tetangganya heran, lalu menanyakan keadaannya”. Api yang amat besar sangat menggelisahkanku dari pada api ini” jawabnya.

Terkadang kondisi ghaibah disebabkan oleh ketersingkapan sesuatu dalam dirinya dengan Al-Haqq, kemudian keberadaannya berbeda menurut perbedaan ahwal-nya

Keadaan(hal) yang mengawali Abu Hafsh An-Naisaburi saat meninggalkan pekerjaannya di kedai pandai besinya dimulai dari peristiwa pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dia dengar dari seorang qari’. Bacaan itu mempengaruhi hatinya sehingga membuatnya lupa tentang “rasa “ saat suatu warid datang menguasai jiwanya. Kemudian tangannya dimasukkan ke dalam api dan mengeluarkan potongan besi panas yang sedang membara tanpa merasakan panas sedikit pun. Seorang muridnya melihatnya dengan heran lalu berteriak, “Wahai Guru, ada apa ini?” Abu Hafsh sendiri heran, lalu melihat apa yang terjadi. Semenjak itu, dia bangun dan meninggalkan pekerjaannya sebagai pandai besi.



Saya pernah mendengar Abu Nasher, seorang muazin Naisabur yang sangat saleh, menuturkan pengalaman spiritualnya, “Saya pernah baca Al-Qur’an di majelis Abu Ali Ad-Daqaq ketika beliau di Naisabur. Beliau banyak mengupas masalah haji sampai fatwanya sangat mempengaruhi hati sya. Pada tahun itu juga saya berangkat ke Mekkah utuk melaksanakan ibadah haji dan meninggalkan pekerjaan dan semua aktivitas keduniaan. Ustadz Abu Ali sendiri, semoga Allah merahmatinya, juga berangkat menunaikan haji pada tahun itu pula. Ketika beliau masih tinggal di Naisabur sayalah yang melayani keperluan beliau juga membacakan Al-Quran di majelisnya. Suatu hari saya melihat beliau di padang sahara sedang bersuci dan lupa (meninggalkan) sebuah tempayan yang tadi di bawanya. Lalu saya ambil dan mengantarkannya ke binatang tunggangannya dan meletakkan di sisinya. “Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas apa yang kamu bawakan ini”, sambutnya sederhana. Kemudian beliau memandang saya cukup lama, seakan-akan belum pernah melihat saya sama sekali.”Saya baru melihatmu, siapakah Anda?”.

Subhanallah!Permohonan bantuan memang hanya pada Allah. Saya telah lama melayani Tuan. Saya keluar dan meninggalkan rumah dan harta bendaku gara-gara Tuan. Padang sahara yang sangat luas kemudian memutusku, dan sekarang Tuan mengatakan , saya baru melihatmu…!”

Adapun Hadhur adalah keberadaan “hadir” bersama Al-Haqq karena jka seseorang mengalami ghaibah (gaib) dari keberadaan semua makhluk, maka dia “hadir” (hadhur) bersama Al-Haqq. Artinya, keberadaannya seakan-akan “hadir” dikarenakan dominasi ingatan Al-Haqq (zikir) pada hatinya. Dia hadir dengan hatinya dihadapan Tuhannya. Dengan demikian, ke-ghaibah-annya dari keberadaan makhluk menjadikannya hadhur(hadir) bersama Al-Haqq. Jika semua yang ada ini pada sirna, maka keberadaan hadhur mengada menurut tingkat ghaibah-nya. Jika dikatakan “fulan hadir”, artinya dia hadir dengan hatinya ke haribaan Tuhannya dan lupa pada selain-Nya, kemudian dalam ke-hadhur-annya segalanya menjadi tersingkap menurut derajatnya dengan curahan sejumlah makna( pengertian, kesadaran, dan kerahasiaan ketuhanan) yang dikhususkan Allah untuknya.

Terkadang dikatakan (bahwa keberadaan hadhur) dikarenakan kembalinya Salik pada rasanya dengan ahwal jiwanya, dan ahwal kemakhlukan yang kembali (kepada Tuhannya)dari alam ghaibah-nya. Yang pertama hadhur denganAl-Haqq, dan yang kedua hadhur dengan makhluk. Ahwal manusia dalam maqam ghaibah berbeda-beda. Sebagian mengalaminya tidak terlalu lama, sebagian lagi dalam masa yang abadi (sampai mati).

Dikisahkan bahwa DzunNun Al-Mishri, seorang guru sufi besar, pernah mengutus seseorang dari pengikutnya datang ke rumah Abu Yazid Al-Busthami untuk mempelajari sifat-sifatnya. Setibanya di kota Bustham, utusan ini bertanya pada seseorang tentang rumah Abu Yazid, kemudian pergi menuju tempat yang ditunjuk dan bertamu kerumahnya. Di sana terjadi dialog teologis yang sangat menawan.

“Apa yang kamu kehendaki?” Tanya Abu Yazid

“Tuan Abu Yazid.”

Siapakah Abu Yazid? Di mana Abu Yazid? Saya sendiri dalam pencarian Abu Yazid?”

Utusan ini keluar seraya berteriak, “Dia Gila!” Kemudian dia kembali ke rumah gurunya, Dzun Nun dan melaporkan semua yang disaksikan. Tiba-tiba Dzun Nun menangis, “Saudaraku. Abu Yazid telah pergi bersama orang-orang yang pergi menuju Allah.”

Ingin Di Cium Rasulullah SAW



Dalam dunia tasawuf, dikenal seorang yang bernama Syibli. Lengkapnya: Abu Bakar Dalf bin Jahdar as-Syibli. Orang menyebutnya majnun, alias gila, sinting, nyeleneh.

Dia pernah memakai celak mata yang dicampur dengan garam, supaya ia tidak tertidur di waktu malam. Dengan begitu, ia bisa menghidupkan malam dengan shalat-shalat sunnat.

Jika datang bulan Ramadhan, maka ia makin giat beribadah melebihi orang-orang di masanya. Mungkin inilah sebagian dari ke-sinting-an Syibli. Syibli lahir dan besar di Baghdad. Dia bersahabat dengan Junayd al-Baghdadi dan para ulama di masanya. Dia bermazhab Maliki. Wafat pada tahun 334 H atau 946 M, dan dimakamkan di Baghdad.

Syibli memang punya karamah. Dalam kitab Syarh Ratib al-Haddad, diceritakan bahwa Syibli mendatangi majelis Abu Bakar bin Mujahid. Melihat Syibli datang, Abu Bakar bangun dari duduknya, menyambutnya, memeluknya,dan mencium keningnya.



Setelah kejadian itu, Abu Bakar ditanya oleh salah satu muridnya, "Duhai Guruku, engkau melakukan yang demikian kepada Syibli? Padahal, engkau dan semua penduduk Baghdad menganggapnya sinting?"

Abu Bakar bin Mujahid menjawab, "Apa yang aku lakukan kepadanya adalah karena mencontoh yang dilakukan Rasulullah kepadanya. Aku pernah bermimpi melihat Syibli datang kepada Rasulullah. Lalu Rasulullah bangun dari duduknya dan mencium kening Syibli. Lalu dengan heran aku bertanya kepada Rasulullah, "Duhai Rasulullah, engkau berbuat demikian kepada Syibli?" Rasululullah menjawab, "Ya begitulah. Itu karena orang ini (Syibli) sehabis shalat senantiasa membaca ayat: ۞Laqod jaa akum rasulun min anfusikum ‘aziizun ‘alaihi maa ‘anittum hariishun ‘alaikum bil mu’miniina ro-uufurrohiim ۞ ‘Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin
(at-Taubah: 128)

500 lebih Foto Abah Guru Sekumpul