Jumat, 08 Juli 2016

Tata Cara Berwudhu Menurut Rasulullah SAW


Secara syari’at wudhu’ ialah menggunakan air yang suci untuk mencuci anggota-anggota tertentu yang sudah diterangkan dan disyari’at kan Allah subhanahu wata’ala. Allah memerintahkan:
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak melakukan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan , kedua mata-kaki (Al-Maaidah:6).
Allah tidak akan menerima shalat seseorang sebelum ia berwudhu’ (HSR. Bukhari di Fathul Baari, I/206; Muslim, no.255 dan imam lainnya).
Rasulullah juga mengatakan bahwa wudhu’ merupakan kunci diterimanya shalat. (HSR. Abu Dawud, no. 60).
Utsman bin Affan ra berkata: “Barangsiapa berwudhu’ seperti yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu, dan perjalanannya menuju masjid dan shalatnya sebagai tambahan pahala baginya” (HSR. Muslim, I/142, lihat Syarah Muslim, III/13).
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Barangsiapa menyempurnakan wudhu’nya, kemudian ia pergi mengerjakan shalat wajib bersama orang-orang dengan berjama’ah atau di masjid (berjama’ah), niscaya Allah mengampuni dosa-dosanya” (HSR. Muslim, I//44, lihat Mukhtashar Shahih Muslim, no. 132).
Maka wajiblah bagi segenap kaum muslimin untuk mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam dalam segala hal, lebih-lebih dalam berwudhu’. Al-Hujjah kali ini memaparkan secara ringkas tentang tatacara wudhu’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam melakukan wudhu’:
1. Memulai wudhu’ dengan niat.
Niat artinya menyengaja dengan kesungguhan hati untuk mengerjakan wudhu’ karena melaksanakan perintah Allah subhanahu wata’ala dan mengikuti perintah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Salam.
Ibnu Taimiyah berkata: “Menurut kesepakatan para imam kaum muslimin, tempat niat itu di hati bukan lisan dalam semua masalah ibadah, baik bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, memerdekakan budak, berjihad dan lainnya. Karena niat adalah kesengajaan dan kesungguhan dalam hati. (Majmu’atu ar-Rasaaili al-Kubra, I/243)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menerangkan bahwa segala perbuatan tergantung kepada niatnya, dan seseorang akan mendapatkan balasan menurut apa yang diniatkannya… (HSR. Bukhari dalam Fathul Baary, 1:9; Muslim, 6:48).

2. Tasmiyah (membaca bismillah)
Beliau memerintahkan membaca bismillah saat memulai wudhu’. Beliau bersabda:
Tidak sah/sempurna wudhu’ sesorang jika tidak menyebut nama Allah, (yakni bismillah) (HR. Ibnu Majah, 339; Tirmidzi, 26; Abu Dawud, 101. Hadits ini Shahih, lihat Shahih Jami’u ash-Shaghir, no. 744).
Abu Bakar, Hasan Al-Bashri dan Ishak bin Raahawaih mewajibkan membaca bismillah saat berwudhu’. Pendapat ini diikuti pula oleh Imam Ahmad, Ibnu Qudamah serta imam-imam yang lain, dengan berpegang pada hadits dari Anas tentang perintah Rasulullah untuk membaca bismillah saat berwudhu’. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Berwudhu’lah kalian dengan membaca bismillah!” (HSR. Bukhari, I: 236, Muslim, 8: 441 dan Nasa’i, no. 78)
Dengan ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam: ”Berwudhu’lah kalian dengan membaca bismillah” maka wajiblah tasmiyah itu. Adapun bagi orang yang lupa hendaknya dia membaca bismillah ketika dia ingat. Wallahu a’lam.

3. Mencuci kedua telapak tangan
Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam mencuci kedua telapak tangan saat berwudhu’ sebanyak tiga kali. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam juga membolehkan mengambil air dari bejancdengan telapak tangan lalu mencuci kedua telapak tangan itu. Tetapi Rasulullah melarang bagi orang yang bangan tidur mencelupkan tangannya ke dalam bejana kecuali setelah mencucinya. (HR. Bukhari-Muslim)

4. Berkumur-kumur dan menghirup air ke hidung
Yaitu mengambil air sepenuh telapak tangan kanan lalu memasukkan air kedalam hidung dengan cara menghirupnya dengan sekali nafas sampai air itu masuk ke dalam hidung yang paling ujung, kemudian menyemburkannya dengan cara memencet hidung dengan tangan kiri. Beliau melakukan perbuatan ini dengan tiga kali cidukan air. (HR. Bukhari-Muslim. Abu Dawud no. 140)
Imam Nawawi berkata: “Dalam hadits ini ada penunjukkan yang jelas bagi pendapat yang shahih dan terpilih, yaitu bahwasanya berkumur dengan menghirup air ke hidung dari tiga cidukan dan setiap cidukan ia berkumur dan menghirup air ke hidung, adalah sunnah. (Syarah Muslim, 3/122).
Demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam menganjurkan untuk bersungguh-sungguh menghirup air ke hidung, kecuali dalam keadaan berpuasa, berdasarkan hadits Laqith bin Shabrah. (HR. Abu Dawud, no. 142; Tirmidzi, no. 38, Nasa’i )



5. Membasuh muka sambil menyela-nyela jenggot.
Yakni mengalirkan air keseluruh bagian muka. Batas muka itu adalah dari tumbuhnya rambut di kening sampai jenggot dan dagu, dan kedua pipi hingga pinggir telinga. Sedangkan Allah memerintahkan kita:
”Dan basuhlah muka-muka kamu.” (Al-Maidah: 6)
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Humran bin Abaan, bahwa cara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam membasuh mukanya saat wudhu’ sebanyak tiga kali”. (HR Bukhari, I/48), Fathul Bari, I/259. no.159 dan Muslim I/14)
Setalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam membasuh mukanya beliau mengambil seciduk air lagi (di telapak tangan), kemudian dimasukkannya ke bawah dagunya, lalu ia menyela-nyela jenggotnya, dan beliau bersabda bahwa hal tersebut diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala. (HR. Tirmidzi no.31, Abu Dawud, no. 145; Baihaqi, I/154 dan Hakim, I/149, Shahih Jaami’u ash-Shaghir no. 4572).
6. Membasuh kedua tangan sampai siku
Menyiram air pada tangan sampai membasahi kedua siku, Allah subhanahu wata’ala berfirman:
”Dan bashlah tangan-tanganmu sampai siku” (Al-Maaidah: 6)
Rasulullah membasuh tangannya yang kanan sampai melewati sikunya, dilakukan tiga kali, dan yang kiri demikian pula, Rasulullah mengalirkan air dari sikunya (Bukhari-Muslim, HR. Daraquthni, I/15, Baihaqz, I/56)
Rasulullah juga menyarankan agar melebihkan basuhan air dari batas wudhu’ pada wajah, tangan dan kaki agar kecemerlangan bagian-bagian itu lebih panjang dan cemerlang pada hari kiamat (HR. Muslim I/149)
7. Mengusap kepada, telinga dan sorban
Mengusap kepala, haruslah dibedakan dengan mengusap dahi atau sebagian kepala. Sebab Allah subhanahu wata’ala memerintahkan:
”Dan usaplah kepala-kepala kalian…” (Al-Maidah: 6).
Rasulullah mencontohkan tentang caranya mengusap kepala, yaitu dengan kedua telapak tangannya yang telah dibasahkan dengan air, lalu ia menjalankan kedua tangannya mulai dari bagian depan kepalanya ke belakangnya tengkuknya kemudian mengambalikan lagi ke depan kepalanya. (HSR. Bukhari, Muslim, no. 235 dan Tirmidzi no. 28 lih. Fathul Baari, I/251)
Setelah itu tanpa mengambil air baru Rasulullah langsung mengusap kedua telingannya. Dengan cara memasukkan jari telunjuk ke dalam telinga, kemudian ibu jari mengusap-usap kedua daun telinga. Karena Rasulullah bersabda: ”Dua telinga itu termasuk kepala.”(HSR. Tirmidzi, no. 37, Ibnu Majah, no. 442 dan 444, Abu Dawud no. 134 dan 135, Nasa’i no. 140)
Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits adh-Dha’ifah, no. 995 mengatakan: “Tidak terdapat di dalam sunnah (hadits-hadits nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam) yang mewajibkan mengambil air baru untuk mengusap dua telinga. Keduanya diusap dengan sisa air dari mengusap kepala berdasarkan hadits Rubayyi’:
Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengusap kepalanya dengan air sisa yang ada di tangannya. (HR. Abu Dawud dan lainnya dengan sanad hasan)
Dalam mengusap kepala Rasulullah melakukannya satu kali, bukan dua kali dan bukan tiga kali. Berkata Ali bin Abi Thalib ra : “Aku melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam mengusap kepalanya satu kali. (lihat _Shahih Abu Dawud, no. 106). Kata Rubayyi bin Muawwidz: “Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam berwudhu’, lalu ia mengusap kepalanya yaitu mengusap bagian depan dan belakang darinya, kedua pelipisnya, dan kedua telinganya satu kali.“ (HSR Tirmidzi, no. 34 dan Shahih Tirmidzi no. 31)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam juga mencontohkan bahwa bagi orang yang memakai sorban atau sepatu maka dibolehkan untuk tidak membukanya saat berwudhu’, cukup dengan menyapu diatasnya, (HSR. Bukhari dalam Fathul Baari I/266 dan selainnya) asal saja sorban dan sepatunya itu dipakai saat shalat, serta tidak bernajis.
Adapun peci/kopiah/songkok bukan termasuk sorban, sebagaimana dijelaskan oleh para Imam dan tidak boleh diusap diatasnya saat berwudhu’ seperti layaknya sorban. Alasannya karena:
Peci/kopiah/songkok diluar kebiasaan dan juga tidak menutupi seluruh kepala.
Tidak ada kesulitan bagi seseorang untuk melepaskannya.
Adapun Kerudung, jilbab bagi wanita, maka dibolehkan untuk mengusap diatasnya, karena ummu Salamah (salah satu isteri Nabi) pernah mengusap jilbabnya, hal ini disebutkan oleh Ibnu Mundzir. (Lihat al-Mughni, I/312 atau I/383-384).
8. Membasuh kedua kaki sampai kedua mata kaki
Allah subhanahu wata’ala berfirman: ”Dan basuhlah kaki-kakimu hingga dua mata kaki” (Al-Maidah: 6)
Rasulullah menyuruh umatnya agar berhati-hati dalam membasuh kaki, karena kaki yang tidak sempurna cara membasuhnya akan terkena ancaman neraka, sebagaimana beliau mengistilahkannya dengan tumit-tumit neraka. Beliau memerintahkan agar membasuh kaki sampai kena mata kaki bahkan beliau mencontohkan sampai membasahi betisnya. Beliau mendahulukan kaki kanan dibasuh hingga tiga kali kemudian kaki kiri juga demikian. Saat membasuh kaki Rasulullah menggosok-gosokan jari kelingkingnya pada sela-sela jari kaki. (HSR. Bukhari; Fathul Baari, I/232 dan Muslim, I/149, 3/128)
Imam Nawai di dalam Syarh Muslim berkata. “Maksud Imam Muslim berdalil dari hadits ini menunjukkan wajibnya membasuh kedua kaki, serta tidak cukup jika dengan cara mengusap saja.”
Sedangkan pendapat menyela-nyela jari kaki dengan jari kelingking tidak ada keterangan di dalam hadits. Ini hanyalah pendapat dari Imam Ghazali karena ia mengqiyaskannya dengan istinja’.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “…barangsiapa diantara kalian yang sanggup, maka hendaklahnya ia memanjangkan kecermerlangan muka, dua tangan dan kakinya.” (HSR. Muslim, 1/149 atau Syarah Shahih Muslim no. 246)
9. Tertib
Semua tatacara wudhu’ tersebut dilakukan dengan tertib (berurutan) muwalat (menyegerakan dengan basuhan berikutnya) dan disunahkan tayaamun (mendahulukan yang kanan atas yang kiri) [Bukhari-Muslim]
Dalam penggunaan air hendaknya secukupnya dan tidak berlebihan, sebab Rasulullah pernah mengerjakan dengan sekali basuhan, dua kali basuhan atau tiga kali basuhan [Bukhari]
10. Berdoa
Yakni membaca do’a yang diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam:

“Asyahdu anlaa ilaa ha illalah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abdullahi wa rasuulahu. Allahummaj ‘alni minattawwabiina waja’alni minal mutathohhiriin (HR. Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah)

Dan ada beberapa bacaan lain yang diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam

untuk lebih jelasnya lihat video Habib Umar Alhafiz berwudhu

Semoga tulisan ini menjadi risalah dalam berwudhu’ yang benar serta merupakan pedoman kita sehari-hari.


Maksud Perkataan Syekh Muhammad Arsyad Albanjari Tentang Tidak Bolehnya Keluarga Mayyit Menyediakan Makanan


karena hari ini haulan datuk kita kalampayan,dan ada sebagian wahabers yg mengatakan bhw datu kalampayan sebenarnya melarang tahlilan haulan berdalil apa yg tertulis di kitab beliau Kitab Kuning Sabilal Muhtadin ditulis oleh Syaikh Muhammad Arsyad AlBanjari,Pada halaman 87 juz 2,
beliau mengatakan :
Makruh lagi bid'ah bagi yang kematian memperbuat makanan yang diserukannya sekalian manusia atas memakannya,sebelum dan sesudah kematian seperti yang sudah menjadi kebiasaan di masyarakat,
.
.
supaya jangan salah faham dgn ibaroh milik datuk kita yg agung ini,mari kita kaji dl,
.
.
jd di sini deskripsi masalahnya adalah:
bagi yang kematian memperbuat makanan yang diserukannya sekalian manusia atas memakannya
.
.
waktunya:
sebelum dan sesudah kematian
.
.
gambarannya:
seperti yang sudah menjadi kebiasaan di masyarakat
.
.
hukumnya:
makruh lagi bid'ah
.
.
guruku di ma'had 'aly (kh.hatim salman lc) dahulu di haulan kalampayan 3thn yg lalu didalam pagar beliau merincikan daftar pustaka kitab2 maraji' (pengambilan2) sabilal muhtadin ini,kebanyakannya diambil dr syarah dan hasyiah minhaj (mugni,tuhfah dan nihayah),
mari kt kembali ke permasalahan diatas,
jd masalah diatas ini datuk kt kalampayan sangat singkat saja beliau tls redaksinya,tp kalau kt kembali merujuk ke kitab tuhfahnya,maka akan kita temukan pembahasan panjang tentang masalah ini,beserta perincian khilafiahnya dan jg illat hukum nya,
aku sangat yakin permasalahan diatas ini beliau ambil dari kitab tuhfatul muhtaj,
begini ibaroh dalam ktb tuhfah:
.
.
(ﻭﻳﺤﺮﻡ ﺗﻬﻴﺌﺘﻪ ﻟﻠﻨﺎﺋﺤﺎﺕ) ﺃﻭ ﻟﻨﺎﺋﺤﺔ ﻭاﺣﺪﺓ ﻭﺃﺭﻳﺪ ﺑﻬﺎ ﻫﻨﺎ ﻣﺎ ﻳﺸﻤﻞ اﻟﻨﺎﺩﺑﺔ ﻭﻧﺤﻮﻫﺎ (ﻭاﻟﻠﻪ ﺃﻋﻠﻢ) ﻷﻧﻪ ﺇﻋﺎﻧﺔ ﻋﻠﻰ ﻣﻌﺼﻴﺔ ﻭﻣﺎ اﻋﺘﻴﺪ ﻣﻦ ﺟﻌﻞ ﺃﻫﻞ اﻟﻤﻴﺖ ﻃﻌﺎﻣﺎ ﻟﻴﺪﻋﻮا اﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﺪﻋﺔ ﻣﻜﺮﻭﻫﺔ ﻛﺈﺟﺎﺑﺘﻬﻢ ﻟﺬﻟﻚ ﻟﻤﺎ ﺻﺢ ﻋﻦ ﺟﺮﻳﺮ ﻛﻨﺎ ﻧﻌﺪ اﻻﺟﺘﻤﺎﻉ ﺇﻟﻰ ﺃﻫﻞ اﻟﻤﻴﺖ ﻭﺻﻨﻌﻬﻢ اﻟﻄﻌﺎﻡ ﺑﻌﺪ ﺩﻓﻨﻪ ﻣﻦ اﻟﻨﻴﺎﺣﺔ ﻭﻭﺟﻪ ﻋﺪﻩ ﻣﻦ اﻟﻨﻴﺎﺣﺔ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺷﺪﺓ اﻻﻫﺘﻤﺎﻡ ﺑﺄﻣﺮ اﻟﺤﺰﻥ ﻭﻣﻦ ﺛﻢ ﻛﺮﻩ ﻻﺟﺘﻤﺎﻉ ﺃﻫﻞ اﻟﻤﻴﺖ ﻟﻴﻘﺼﺪﻭا ﺑﺎﻟﻌﺰاء ﻗﺎﻝ اﻷﺋﻤﺔ ﺑﻞ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﺃﻥ ﻳﻨﺼﺮﻓﻮا ﻓﻲ ﺣﻮاﺋﺠﻬﻢ ﻓﻤﻦ ﺻﺎﺩﻓﻬﻢ ﻋﺰاﻫﻢ ﻭﺃﺧﺬ ﺟﻤﻊ ﻣﻦ ﻫﺬا ﻭﻣﻦ ﺑﻄﻼﻥ اﻟﻮﺻﻴﺔ ﺑﺎﻟﻤﻜﺮﻭﻩ ﻭﺑﻄﻼﻧﻬﺎ ﺑﺈﻃﻌﺎﻡ اﻟﻤﻌﺰﻳﻦ ﻟﻜﺮاﻫﺘﻪ ﻷﻧﻪ ﻣﺘﻀﻤﻦ ﻟﻠﺠﻠﻮﺱ ﻟﻠﺘﻌﺰﻳﺔ ﻭﺯﻳﺎﺩﺓ ﻭﺑﻪ ﺻﺮﺡ ﻓﻲ اﻷﻧﻮاﺭ ﻧﻌﻢ ﺇﻥ ﻓﻌﻞ ﻟﺃﻫﻞ اﻟﻤﻴﺖ ﻣﻊ اﻟﻌﻠﻢ ﺑﺄﻧﻬﻢ ﻳﻄﻌﻤﻮﻥ ﻣﻦ ﺣﻀﺮﻫﻢ ﻟﻢ ﻳﻜﺮﻩ
ﻭﻓﻴﻪ ﻧﻈﺮ ﻭﺩﻋﻮﻯ ﺫﻟﻚ اﻟﺘﻀﻤﻦ ﻣﻤﻨﻮﻋﺔ ﻭﻣﻦ ﺛﻢ ﺧﺎﻟﻒ ﺫﻟﻚ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﻓﺄﻓﺘﻰ ﺑﺼﺤﺔ اﻟﻮﺻﻴﺔ ﺑﺈﻃﻌﺎﻡ اﻟﻤﻌﺰﻳﻦ ﻭﺃﻧﻪ ﻳﻨﻔﺬ ﻣﻦ اﻟﺜﻠﺚ ﻭﺑﺎﻟﻎ ﻓﻨﻘﻠﻪ ﻋﻦ اﻷﺋﻤﺔ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﻓﺎﻟﺘﻘﻴﻴﺪ ﺑﺎﻟﻴﻮﻡ ﻭاﻟﻠﻴﻠﺔ ﻓﻲ ﻛﻼﻣﻬﻢ ﻟﻌﻠﻪ ﻟﻷﻓﻀﻞ ﻓﻴﺴﻦ ﻓﻌﻠﻪ ﻟﻬﻢ ﺃﻃﻌﻤﻮا ﻣﻦ ﺣﻀﺮﻫﻢ ﻣﻦ اﻟﻤﻌﺰﻳﻦ ﺃﻡ ﻻ ﺃﻣﺮ ﻣﺎ ﺩاﻣﻮا ﻣﺠﺘﻤﻌﻴﻦ ﻭﻣﺸﻐﻮﻟﻴﻦ ﻻ ﻟﺸﺪﺓ اﻻﻫﺘﻤﺎﻡ ﺑﺄﻣﺮ اﻟﺤﺰﻥ ﺛﻢ ﻣﺤﻞ اﻟﺨﻼﻑ ﻛﻤﺎ ﻫﻮ ﻭاﺿﺢ ﻓﻲ ﻏﻴﺮ ﻣﺎ اﻋﺘﻴﺪ اﻵﻥ ﺃﻥ ﺃﻫﻞ اﻟﻤﻴﺖ ﻳﻌﻤﻞ ﻟﻬﻢ ﻣﺜﻞ ﻣﺎ ﻋﻤﻠﻮﻩ ﻟﻐﻴﺮﻫﻢ ﻓﺈﻥ ﻫﺬا ﺣﻴﻨﺌﺬ ﻳﺠﺮﻱ ﻓﻴﻪ اﻟﺨﻼﻑ اﻵﺗﻲ ﻓﻲ اﻟﻨﻘﻮﻁ ﻓﻤﻦ ﻋﻠﻴﻪ ﺷﻲء ﻟﻬﻢ ﻳﻔﻌﻠﻪ ﻭﺟﻮﺑﺎ ﺃﻭ ﻧﺪﺑﺎ ﻭﺣﻴﻨﺌﺬ ﻻ ﺗﺘﺄﺗﻰ ﻫﻨﺎ ﻛﺮاﻫﺘﻪ ﻭﻻ ﻳﺤﻞ ﻓﻌﻞ ﻣﺎ ﻟﻠﻨﺎﺋﺤﺎﺕ ﺃﻭ اﻟﻤﻌﺰﻳﻦ ﻋﻠﻰ اﻷﻭﻝ ﻣﻦ اﻟﺘﺮﻛﺔ ﺇﻻ ﺇﺫا ﻟﻢ ﻳﻜﻦ ﻋﻠﻴﻪ ﺩﻳﻦ ﻭﻟﻴﺲ ﻓﻲ اﻟﻮﺭﺛﺔ ﻣﺤﺠﻮﺭ ﻭﻻ ﻏﺎﺋﺐ ﻭﺇﻻ ﺃﺛﻤﻮا ﻭﺿﻤﻨﻮا ﻭاﻟﺬﺑﺢ ﻋﻠﻰ اﻟﻘﺒﺮ ﻗﺎﻝ ﺑﻌﻀﻬﻢ ﻣﻦ ﺻﻨﻴﻊ اﻟﺠﺎﻫﻠﻴﺔ اﻩـ ﻭاﻟﻈﺎﻫﺮ ﻛﺮاﻫﺘﻪ ﻷﻧﻪ ﺑﺪﻋﺔ ﻓﻼ ﺗﺼﺢ اﻟﻮﺻﻴﺔ ﺑﻪ ﺃﻳﻀﺎ
.
.
untuk maknanya harap maknai sendiri ja lah,haha..karena kalau menterjemahkan tuhfah ini mudah aja,tp menerangkan fahamanx itu nah nang liwar ngalihnya,mun sekelas aku ni kdkw lgsg situ saini menerangkanx,harus dimuta'alahi bjr2 dl,lain mun sekelas alm abah guru sekumpul,alm ayah kh.abd syukur atau alm kh.ruyani (guru yani) atau guru asikin sei lulut,guru rifani kampg melayu,itu sdn biar kd bmuta'alahan gen lgsg kw nerangkan fahaman tuhfah ni,mun aku jujur ja kd sanggup menerangkan kecuali mutala'ah dl smpy 4 5x,,sdangkan pagi ini aku hndk tulak jw ke dalam pagar nah,jd kt menerangkan yg penting2 ja,,
.
.
jd ibarat yg ada di sabilal begini kan:
Makruh lagi bid'ah bagi yang kematian memperbuat makanan yang diserukannya sekalian manusia atas memakannya,sebelum dan sesudah kematian seperti yang sudah menjadi kebiasaan di masyarakat
.
ibarat yg ada di tuhfahnya begini:
ﻭﻣﺎ اﻋﺘﻴﺪ ﻣﻦ ﺟﻌﻞ ﺃﻫﻞ اﻟﻤﻴﺖ ﻃﻌﺎﻣﺎ ﻟﻴﺪﻋﻮا اﻟﻨﺎﺱ ﻋﻠﻴﻪ ﺑﺪﻋﺔ ﻣﻜﺮﻭﻫﺔ.
dan yg sdh menjadi kebiasa'an dari mengolahnya si ahli mayit akan makanan untuk menyarukan orang2 atas memakannya itu adalah bid'ah yg makruh
.
naah dari penyatuan 2 ibarat ini bisa kita fahami bhw ibarat yg ada di sabilal di kalimat " seperti yang sudah menjadi kebiasaan di masyarakat" ini bukanlah masyrakat banjar (zaman pengarang sabilal) tp masyrakat mesir atau mekah (zaman pengarang tuhfah)
.
lalu kenapa sampai ada timbul hukum kemakruhan dan kebid'ahan,ini yg di sabilal beliau tdk mengemukakan alasan atau illatnya,sehingga ini yg menjadi alasan wahabi melarang tahlilan dan haulan,dari fahaman mereka yg pendek itu,
pdhl datu kalampayan tdk ada sama skali menyinggung haulan maupun tahlilan dsini,kok bisa bisanya mereka para wahabi memberi kesimpulan spt itu,pantas lah mereka dberi predikat kaum pendek akal,hehe..
.
setelah kt merujuk ke dalam tuhfahnya ternyata kt dapati alasannya bkn melarang tahlilan dan haulan,tp yg dilarang itu niyahahnya (menggoret2,tdk ridho dgn kematian si mayit mengajak orang lain ikut bersedih lalu supaya marameakan dbuatkan makanan supaya orang bnyak datangan umpat menggoret2 jw lwn inya),
ini ibarat tuhfahnya (illatnya):
ﻟﻤﺎ ﺻﺢ ﻋﻦ ﺟﺮﻳﺮ ﻛﻨﺎ ﻧﻌﺪ اﻻﺟﺘﻤﺎﻉ ﺇﻟﻰ ﺃﻫﻞ اﻟﻤﻴﺖ ﻭﺻﻨﻌﻬﻢ اﻟﻄﻌﺎﻡ ﺑﻌﺪ ﺩﻓﻨﻪ ﻣﻦ اﻟﻨﻴﺎﺣﺔ
kata jarir: kami memasukkan dalam hukum niyahah (goret2) "berkumpulnya orang2 menuju ahli mayit dan membuatkan mereka makanan stlh dikubur"
ﻭﻭﺟﻪ ﻋﺪﻩ ﻣﻦ اﻟﻨﻴﺎﺣﺔ ﻣﺎ ﻓﻴﻪ ﻣﻦ ﺷﺪﺓ اﻻﻫﺘﻤﺎﻡ ﺑﺄﻣﺮ اﻟﺤﺰﻥ ﻭﻣﻦ ﺛﻢ ﻛﺮﻩ ﻻﺟﺘﻤﺎﻉ ﺃﻫﻞ اﻟﻤﻴﺖ ﻟﻴﻘﺼﺪﻭا ﺑﺎﻟﻌﺰاء
alasan pemasukan itu kpd niyahah,karena di dalamnya ada terdapat kekecewa'an yg bersengatan (modelnya kd tarima dgn kematian si mayit,lalu emosi meolah makanan habis2n ongkosnya,bakiawan orang skampungan), nah mun ada kejadian kyni jgn di datangi ahli mayitnya,itu makruh bid'ah,
tp mun beundangan tahlilan,haulan,kifayah,itu kdd hubunganx dgn mslh ini,krn itu bedakan mana tahlilah,mana haulan,mana niyahah,jgn disamakan
.
keringkasannya begini:
apa yg di tulis oleh datu kalampayan di atas itu td adalah kemakruhan membikin makanan oleh si ahli mayit,krn emosi berlebihan sehingga habis2n biaya khusus gasan membuat orang tertarik datang kerumahnya agar supaya sama2 dgn inya manangisan,sedih2n kd tarima takdir,ini alasannya,
amun membuat makanan untk mengundang orang tahlilan,haulan yg mana makanan ini di niatkan shadaqah untk si mayit yg telah wafat ini malahan dianjurkan oleh syari'at,begitu jg oleh datu kt kalampayan,krn itu haul besar2n itu termasuk melaksanakn sunah bkn bid'ah

(Copas dari tulisan Guru Awi Mahmud Hafizhohullah, alumni pertama Tahfizh al-Qur'an Darussalam).

Minggu, 03 Juli 2016

16 Kata Kata Mutiara kehidupan Al Allimul Al Allamah Abah Haji Guru Zuhdi


Banyak sekali kata kata,kalimat yang mengandung Hikmah yang di ucap kan oleh Al Allimul Al Allamah Abah Haji Guru Zuhdi Banjarmasin.
Setiap selesai mejelaskan satu bab dari ilmu maka di akhir penjelasan itu Abah Haji Guru Zuhdi akan menyimpulkan penjelasan ilmu itu dalam satu kalimat Hikmah. Dimana kalimat ini adalah kesimpulan dari penjelasan akan ilmu yg beliau terangkan.

Adapun kalimat dan ucapan Hikmah dari Abah Haji Guru Zuhdi.

  1. Masalah boleh datang dalam kehidupan kita tapi pandanglah selalu kebaikan Allah jangan meniadakan kebaikan Allah, Walau hidup susah tapi di mulut masih terucap Alhamdulilah.
  2. Barang siapa bisa melihat kisah Allah di dunia maka bisa melihat zat Allah di akhirat,Barang siapa tidak bisa melihat kisah Allah di dunia maka tidak bisa melihat dan buta dari melihat zat Allah di akhirat.
  3. Orang meminta dunia bukan untuk dunia tapi untuk ibadat,kerena ibadat menjadi kan orang jadi mulia, Minta panjangkan umur bukan untuk dunia tapi untuk ibadat.
  4. Bukan mati yang harus di takuti tapi pengertian saat menghadapi mati,bahwa mati ini ridho Allah maka akan mudah saat menghadapi mati.
  5. Jangan putus asa, Allah akan selalu mengampuni dosa hambanya.
  6. Orang putus asa adalah orang yang gagal dalam hidup, orang yang terus berjuang orang yang berhasil walau pun belum terlihat keberhasilan nya.
  7. Selalu sangka baik kepada Allah. Obat Penawar untuk selalu menerima apapun dari Allah dengan selalu KHUSNOZAN ( sangka baik kepada Allah)
  8. Apabila dapat rasa tidak punya kebaikan, maka selalu memandang kebaikan Allah maka itulah rasa yg benar, Dan saat memandang keadilan Allah, yang kita harapkan hanya lah Rahmat Allah, tidak memandang pada amal ibadat dan kebaikan diri,hanya selalu mengharap Rahmat Allah maka itulah rasa yang benar.
  9. Orang yang selalu berkhusnuzon bersangka baik maka akan meninggal dalam keadaan khusnul khotimah.
  10. Hidup jangan mencari pujian dan jangan merasa pantas di puji. Apabila di hina jangan merasa hinaan itu tidak pantas buat kita tapi hinaan itu pantas buat kita kerena kita penuh dengan kekurangan.
  11. Selalu belajar mengerti,belajar berkhusnozan, Kita mampu memaafkan orang kerena kita punya pengertian, Seluas pengertian seluas itu pintu maaf, seluas pengertian seluas itu dalam nya perasaan.
  12. Bila kita memandang akan diri maka pandang lah kekurangan kita, pandang lah dosa dosa kita, Dan Saat kita melakukan kebaikan,memandang kebaikan pada diri maka pandang lah ini Fadlun Minallah,ini semua Anugerah Allah.
  13. Orang yang asik memandang alam semesta maka terdinding dari Allah dan hanya meyakini akan Allah,tapi orang yang asik memandang kisah Allah di dalam alam semesta maka tidak terdinding dari Allah dan melihat Allah melihat kisah Allah melihat cerita Allah, Orang yang masih terdinding tidak bisa melihat (kisah)Allah tapi meyakini akan Allah.
  14. Orang yang menemani kita dan tahu kekurangan kita belum tentu masih mau berteman dengan kita tapi Allah tidak, Allah tetap menemani kita, Begitu pun Akhlaknya Rasulullah sebagai mazhar nya Akhlak Allah.
  15. Berharap kepada Allah mati dalam perlawanan nafsu walau tidak berhasil tapi ada usaha.
  16. Masuk rumah sakit bukan untuk sehat tapi untuk mencari ridho Allah. Sehingga masuk rumah sakit agar Allah senang kerena menjunjung perintah Allah,sehinngga saat tidak sembuh tidak lah sakit hati, Dan saat meninggal,maka meninggal dalam keadaan tidak berdosa, Dan meninggal dalam ridho Allah, Maka orang seperti ini di beri Allah kesempatan selalu memandang anugerah Allah.

sumber : Salman Yusrie alaydarus


Selasa, 28 Juni 2016

Karamah Abah Guru Sekumpul : Berbicara Dengan Orang Sudah Lama Wafat


ini pengalaman nyata yang dialami ayahanda penulis, Tuan Guru H. Muhammad ideram.
Suatu ketika sekitar awal tahun 2000 an, selesai majelis Mushalla Arraudah sekumpul, Abah Guru Sekumpul memanggil Ayahanda untuk masuk kekamar Mihrab, Setelah ketemu, Abah Guru bilang : 
" Mad, aku sudah istiharah beberapa kali, pinanya yang terlintas dihadapanku ni ikam haja, Aku minta tolong lawan ikam cariakan aku wasi sampana carita, dibinuang atau di rantau".
Ayahanda sebagai murid, meski mengaku awam masalah besi besi bertuah, langsung mengiyakan.
"Inggih, Insyaallah" jawab Ayah.

Sesudah pertemuan itu  Ayah mencari dan menanyakan kemana mana jejak besi yang di sebut Sampana Carita tersebut. Ketika melihat keris yang terlihat nampak bertuah, bersama penulis, langsung mengantar kesekumpul. sampai beberapa kali mengantar, setelah diperiksa Abah Guru, ternyata bukan yang dimaksud. hal itulah yang membuat kami berdua seringkali berkunjung dan bertemu dengan Abah Guru Sekumpul.

Sampai beberapa bulan Ayah, dibantu penulis terus mencari, tetapi jejak Sampana Carita ini belum juga diketemukan. Namun tanpa lelah Ayah terus mencarinya,Hingga suatu saat Ayah dipanggil oleh Abah Guru Sekumpul lagi, meski belum ketemu barangnya Ayah menghadap Abah Guru. 
"kayapa mad, belum dapatkah"? tanya Abah Guru Sekumpul seperti tahu kondisi ayah saat itu.
Ayah jawab jujur : "inggih Guru, belum". Guru Maklum apa yang disampaikan Ayah. Lalu Abah Guru Sekumpul sedikit bercerita : " Sampana Carita tue mad ae sebujurnya ada parak ikam, ikam tahu lah H. Johan, Mad..? Tanya Abah Guru. Inggih itu buhan anak Angkat ulun jua" jawab ayah. 
"Abah  H, Johan, H Usman kalo ngarannya, sudah datang mad ae, kesini,memadahkan bahwa Sampana Carita itu ada wadah H. Johan".kata Abah Guru Sekumpul.

Ayah manggut manggut mendengar cerita Abah Guru Sekumpul, ini sebuah keganjilan, kerena H. Usman itu sebenarnya sudah meninggal puluhan tahn sebelumnya. sebuah karamah nyata, beliau bisa berjumpa dan berbicara dengan orang yang sudah lama wafat.

Mengakhiri pertemuan itu Abah Guru bilang pada Ayah : " jadi ikam mad ae, datangi kena ke wadah H. Johan, pabila inya kawa kesini bawa inya kesini. kaena telpon dulu aku". "Inggih" jawab Ayah
sekalian pamit untuk pulang. pada saat di tentukan, setelah Ayah menelpon, Ayah dan penulis dan H. Johan sekeluarga sowan ke sekumpul untuk menyerahkan besi Sampana carita tersebut.

catatan 
Sumber :Buku 100 Karamah dan Kemulian Abah Guru Sekumpul
penulis : KH. M. Anshari Kariem

Senin, 27 Juni 2016

Sholawat Nabi : Grup Maroko


رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ دَخَلَ عَلَيْهِ رَمَضَانُ ثُمَّ انْسَلَخَ قَبْلَ أَنْ يُغْفَرَ لَهُ وَرَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ أَدْرَكَ عِنْدَهُ أَبَوَاهُ الْكِبَرَ فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ

"Celakalah seseorang, aku disebut-sebut di depannya dan ia tidak mengucapkan shalawat kepadaku. dan celakalah seseorang, bulan Ramadhan menemuinya kemudian pergi sebelum ia mendapatkan ampunan, dan celakalah seseorang yang kedua orang tuanya berusia lanjut namun kedua orangtuanya tidak dapat memasukkannya ke dalam surga (karena kebaikannya)." (HR. Tirmidzi)




Dari Abu Bakar as-Shiddiq berkata bahwa aku mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihi wa sallam bersabda bersabda:

من صلي علي كنت شفيعه يوم القيامة

Barangsiapa yang bershalawat kepadaku, maka aku akan memberinya syafaat pada hari kiamat. (Hadits riwayat Ibnu Syahiin dalam at-Targhib dan Ibnu Basykawal).

sholawat Nabi : Sufi bershalawat Alhabib Mustafa

Pada suatu pagi Rasulullah tampak bahagia seperti terlihat dari kecerahan wajahnya. Para sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, pagi ini Engkau tampak bahagia seperti terlihat dari kecerahan wajahmu." Beliau bersabda, "Memang benar. Semalam aku ditemui oleh seorang utusan Tuhanku Yang Mahaagung. Dia berkata, 'Barang siapa di antara umatmu yang bershalawat kepadamu sekali, maka Allah menuliskan baginya sepuluh kebaikan, menghapuskan dari dirinya sepuluh keburukan, meninggikannya sebanyak sepuluh derajat, dan mengembalikan kepadanya sepuluh derajat pula'." (HR Ahmad).



إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوْا عَلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ فِيْهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوْضَةٌ عَلَيَّ قَالَ فَقَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ قَالَ يَقُوْلُوْنَ بَلِيْتَ قَالَ إِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ

"Sesungguhnya hari Jum'at adalah di antara hari-hari kalian yang terbaik, maka perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu, karena sesungguhnya shalawat kalian disampaikan kepadaku." Para sahabat bertanya; “Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami disampaikan kepadamu, sementara engkau telah meninggal dunia?” Beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala telah mengharamkan bumi atas jasad para Nabi" (HR. Abu Dawud)


Sholawat Nabi : Nasid shalawat bersama Habib Umar bin Hafiz

Dari Abu Ad-Darda Radhiyallaahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ حِينَ يُصْبِحُ عَشْرًا وَحِينَ يُمْسِي عَشْرًا أَدْرَكَتْهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barangsiapa yang bersholawat kepadaku di pagi hari 10 kali dan di sore hari 10 kali, maka dia akan mendapatkan syafaatku pada hari kiamat.” (HR. ath-Thabrani dan dinyatakan Basan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’).



hendaklah kita memperbanyak shalawat kepada nabi tiap hari.


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

500 lebih Foto Abah Guru Sekumpul

ARTIKEL BARU

Recent Posts Widget