Minggu, 22 Oktober 2017

Mu'adz bin Amr bin Jamuh RA dan Mu'awidz bin Afra RA



Ketika perang Badar sedang berkecamuk dengan sengitnya, dua orang pemuda Anshar menghampiri Abdurrahman bin Auf RA yang berada di ujung tombak pasukan, salah satunya bertanya, "Wahai paman, tunjukkan padaku mana yang namanya Abu Jahal?"                                                                       
     Ketika Abdurrahman bin Auf menanyakan keperluannya dengan Abu Jahal, pemuda tersebut, yang adalah Mu'adz bin Amr bin Jamuh RA, dengan semangat menjawab, "Kudengar ia suka mencaci maki Rasulullah SAW, demi Allah yang diriku di tanganNya, jika aku sudah melihatnya, takkan kubiarkan ia lolos hingga siapakah di antara kami berdua yang terlebih dahulu mati...!!"
     Ibnu Auf melihat kepada pemuda satunya, pemuda ini, yang tak lain adalah Mu'awidz bin Afra (nama sebenarnya Muawwidz bin Harits bin Rifaah, Afra dinisbahkan kepada nama ibunya) juga menegaskan pernyataan yang sama. Abdurrahman bin Auf  memandang berkeliling mencari keberadaan Abu Jahal.




     Ketika ia telah menunjukkan sosok tokoh kafir Quraisy tersebut, dua pemuda ini langsung menghambur ke arah Abu Jahal. Saat itu Abu Jahal tengah naik kuda, Mu'awidz menyabet kaki kudanya hingga jatuh, dan Mu'adz menebas kaki Abu Jahal hingga putus. Tetapi kemudian Ikrimah bin Abu Jahal datang, ia menyerang Mu'adz dan mengenai pundaknya hingga hampir putus, sementara Mu'awidz sekali lagi menyerang Abu Jahal hingga sekarat. Mu'adz terus bertempur dengan satu lengan hampir putus, dan karena terganggu dengan keadaan lengannya itu, sekalian saja ia memotongnya.             
                      
     Setelah robohnya Abu Jahal, mereka berdua menemui Rasulullah SAW dan menceritakan apa yang mereka lakukan terhadap Abu Jahal. Masing-masing mengaku sebagai pembunuh Abu Jahal, karena itu beliau meminta mereka menunjukkan pedangnya. Setelah memeriksa pedang-pedang itu, beliau bersabda, "Kalian berdua telah membunuh Abu Jahal..!"                                                                               
     Usai peperangan, Nabi SAW memerintahkan para sahabat mencari Abu Jahal. Akhirnya Abdullah bin Mas'ud menemukannya tengah sekarat, ia memotong kepalanya dan membawanya kepada Rasulullah SAW.                                                                         
     Semua harta rampasan perang milik Abu Jahal diserahkan kepada Mu'adz bin Amr karena Mu'awidz ternyata syahid dalam perang Badar ini.

Ummu Sulaim



Ummu Sulaim, nama aslinya Rumaisha binti Milhan telah memeluk Islam, ketika Abu Thalhah, salah seorang yang terpandang dari penduduk Madinah yang masih musyrik melamarnya. Ia adalah seorang janda dari pernikahannya di masa jahiliah dengan Malik bin Nadhar. Sedangkan anaknya, Anas bin Malik RA adalah salah satu sahabat Nabi yang banyak sekali meriwayatkan hadits beliau.
     Atas lamaran Abu Thalhah itu, ia berkata,  "Wahai Abu Thalhah, Demi Allah tidak ada wanita yang akan menolak lamaran orang yang sepertimu. Tetapi aku seorang wanita muslimah dan engkau seorang yang kafir, karenanya aku tidak dibenarkan menikah denganmu. Jika engkau mau, masuklah kamu ke dalam agama Islam, dan itulah mahar yang kuminta, dan tidak akan meminta mahar yang lainnya lagi!"

     Karena memang terlanjur suka, Abu Thalhah menyetujui permintaan Ummu Sulaim untuk memeluk Islam. Mahar telah diberikan oleh Abu Thalhah, yakni keislamannya tersebut, maka Ummu Sulaim berkata kepada anaknya, "Hai Anas, nikahkanlah ibumu ini dengan Abu Thalhah."

     Seorang sahabat bernama Tsabit berkata, "Aku tidak pernah mendengar seorang perempuan yang mahar pernikahannya lebih utama daripada maharnya Ummu Sulaim."


     Dari pernikahannya dengan Abu Thalhah, Ummu Sulaim mempunyai anak yang bernama Abu Umair. Nabi SAW sering bercanda dengan Abu Umair ketika berkunjung ke rumah Abu Thalhah. Suatu ketika Abu Umair menderita sakit yang cukup parah. Pada saat yang sama, Abu Thalhah sedang ada keperluan keluar dalam waktu agak lama, dan ketika itu anaknya meninggal dunia. Karena suaminya tidak ada di rumah, Ummu Sulaim mengurus sendiri jenazah anaknya. Ia memandikan dan mengkafaninya serta membaringkannya di tempat tidur.
     Hari itu Abu Thalhah sedang berpuasa sunnah, karena itu Ummu Sulaimpun menyiapkan makanan bagi suaminya untuk berbuka. Ia juga berhias dan memakai wangi-wangian untuk menyambut suaminya. Malam harinya Abu Thalhah pulang, ia berbuka dengan makanan yang disiapkan istrinya. Ia bertanya tentang keadaan anaknya yang sakit, dan Ummu Sulaim menjawab, "Alhamdulillah, dia dalam keadaan yang baik-baik saja. Engkau tidak perlu memikirkan keadaannya lagi."




    Tentu, maksudnya adalah menenangkan suaminya tanpa ia harus mendustainya. Karena sudah meninggal, jelas saja tidak perlu dipikirkan lagi. Tetapi Abu Thalhah menjadi tenang, ia meneruskan makannya. Malam itu ia juga menggauli istrinya, kemudian tertidur.
     Ketika bangun pagi harinya, Ummu Sulaim yang sudah bangun terlebih dulu bertanya, "Wahai suamiku, seandainya seseorang diberi suatu amanah, kemudian pemiliknya mengambilnya kembali, haruskan ia mengembalikannya kembali?"

     "Tentu," Kata Abu Thalhah, "Dia harus mengembalikannya, ia tidak punya hak untuk menyimpannya!"

     Mulailah Ummu Sulaim menjelaskan keadaan anaknya, "Suamiku, Allah telah mengamanatkan Abu Umair kepada kita, namun kini Dia telah memanggilnya kembali kemarin."

     Mendengar penuturan ini Abu Thalhah jadi sedih, bahkan sedikit marah. Ia menyesali kenapa Ummu Sulaim tidak memberitahukannya semalam. Ia menemui Nabi SAW dan mengadukan apa yang dilakukan istrinya. Ternyata Rasulullah SAW memuji kesabaran dan apa yang dilakukan Ummu Sulaim tersebut, beliau juga mendoakan, "Semoga Allah SWT memberkati hubunganmu tadi malam dengan istrimu."

     Doa ini menjadi kenyataan. Dari hubungannya itu Ummu Sulaim melahirkan seorang anak yang diberi nama Abdullah bin Abu Thalhah. Dan lama berselang setelah Nabi SAW wafat, Abdullah mempunyai sembilan anak yang semuanya hafal Qur'an (al Hafizh)

     Walaupun seorang wanita, Ummu Sulaim juga terlibat dalam beberapa pertempuran. Dalam perang Uhud, bersama Ummu Mukminin Aisyah RA, ia mengisi tempat-tempat air dan memberikan pada para mujahid yang memerlukannya. Ia juga merawat mereka yang sakit dan terluka dalam pertempuran itu.
     Dalam Perang Hunain, ketika  itu ia sedang mengandung anaknya, Abdullah bin Abu Thalhah, tidak menghalanginya untuk ikut berjuang. Ia berdiri di dekat kemah Nabi SAW sambil memegang tombak. Ketika Nabi SAW menanyakan tentang tombaknya, ia berkata, "Jika ada orang kafir yang akan mendekatimu, aku akan melemparkan tombak ini ke perutnya."

Amr bin Jamuh RA



Amr bin Jamuh RA adalah pemuka dari Bani Salimah, kisah keislamannya termasuk unik. Semua itu berasal dari keisengan dua pemuda Bani Salimah yang telah memeluk Islam, yang salah satunya adalah anaknya sendiri, yaitu Muadz bin Amr bin Jamuh dan Muadz bin Jabal, keduanya memeluk Islam dan berba'iat kepada Nabi SAW di Aqabah.
      Suatu malam, dua orang pemuda ini masuk ke rumah Amr dan mengambil berhala sembahannya. Berhala yang biasa dipanggil "manat" itu dilemparkan ke lubang pembuangan kotoran dalam keadaan menungging, kepala menghunjam ke kotoran. Keesokan harinya, Amr marah-marah karena kehilangan tuhannya, iapun mencarinya dan menemukannya di lubang kotoran. Setelah mengambil dan membersihkannya,
     Amr meletakkan kembali di tempatnya semula dan berkata kepada berhala itu, "Demi tuhan, jika aku tahu siapa yang melakukan kekejian ini kepadamu, aku pasti akan membalasnya."
      Pada malam harinya, kedua pemuda ini mengulang perbuatannya, dan membuangnya pada tempat yang sama. Pada pagi harinya, Amr terbangun dalam keadaan marah-marah karena sekali lagi kehilangan tuhannya. Ia mencarinya dan menemukannya di tempat yang sama. Ia membersihkan dan menempatkannya kembali seperti semula. Kejadian ini berulang sampai beberapa kali. Karena jengkel hal ini berulang tanpa tahu siapa yang melakukannya, ia meletakkan pedang di pundak berhala tersebut dan berkata, "Sesungguhnya aku tidak tahu siapa yang bertanggung jawab atas perbuatan ini. Jika engkau memang mempunyai kekuatan, pertahankanlah dirimu sendiri dengan pedang ini."



     Kedua pemuda inipun kembali mengambil berhala tersebut. Melihat ada pedang tergantung, keisengannya-pun bertambah, mereka menggantungkan pula bangkai anjing pada berhala itu, dan kali ini membuangnya pada lubang kotoran dari Bani Salimah yang digunakan oleh orang banyak. Sama seperti sebelumnya, berhala itu dalam keadaan menungging.
     Pagi harinya ketika Amr terbangun dan tidak menemukan berhalanya, ia mencari ke tempat biasa, tetapi ia tidak menemukannya di sana. Ketika ia melihat kerumunan orang di lubang kotoran yang lainnya, ia menghampirinya, dan ia mendapati "tuhannya" terhunjam ke kotoran dengan pedang dan bangkai anjing di pundaknya. Amrpun sadar, berhala yang selama ini disembahnya tidak mempunyai kekuatan apa-apa, bahkan untuk mempertahankan dirinya sendiri walaupun senjata tersedia.
     Beberapa orang Bani Salimah yang telah memeluk Islam menghampirinya dan menceritakan tentang agama Islam kepadanya, dan akhirnya ia memeluk Islam.

     Amr bin Jamuh RA adalah seorang sahabat yang kakinya pincang. Anak-anaknya selalu menyertai Nabi SAW dalam perjuangan membela Islam. Dalam perang Uhud, ia ingin ikut serta seperti anaknya, tetapi kaum kerabatnya melarang, keadaan kakinya dijadikan alasan agar ia tinggal saja di Madinah. Ia hanya bisa berkata, "Sungguh menyedihkan, anak-anakku masuk surga sedangkan aku ketinggalan di belakang."

     Istrinya, Ummu Walad, sangat gencar mendorong suaminya untuk mengikuti perang Uhud. Karena itu ketika ia kembali ke rumah, istrinya jadi uring-uringan, ia berkata, "Wahai suamiku, aku tidak percaya mereka melarangmu mengikuti pertempuran itu. Tampaknya engkau takut menyertai mereka dalam pertempuran."

     Mendengar penuturan istrinya itu, ia berangkat lagi untuk menemui Nabi SAW. Setelah keluar pintu rumahnya ia menghadapkan wajah ke kiblat dan berdoa, "Ya Allah, janganlah engkau kembalikan aku kepada keluargaku..!"

     Ia mengucapkannya dua kali, dan Ummu Walad-pun mendengarnya. Ia melangkahkan kaki menuju masjid, dan setelah bertemu Nabi SAW, ia berkata, "Wahai Rasulullah, aku sangat menginginkan gugur syahid di medan pertempuran, tetapi kaum kerabatku selalu melarangnya. Aku tidak bisa lagi menahan keinginanku, ya Nabi SAW, ijinkanlah aku mengikuti pertempuran ini. Aku berharap dapat berjalan-jalan di surga dengan kakiku yang pincang ini."

     Nabi SAW menasehatinya untuk tetap tinggal karena ia mempunyai udzur syar'i untuk tidak mengikuti jihad atau pertempuran. Tetapi Amr tetap memaksa, sehingga akhirnya Rasulullah SAW mengijinkannya.
     Dalam perang Uhud itu, ia  berjuang bersisian dengan anaknya, Walad bin Amr RA, dengan gigih ia menyerang musuh, sambil terus berteriak, "Demi Allah, aku sangat mencintai surga!"

     Dua orang anak dan bapak ini akhirnya menemui syahidnya. Usai peperangan, istrinya, Ummu Walad yang juga mendatangi medan perang Uhud, menaikkan dua jenazah ini ke atas untanya, dan juga jenazah saudaranya, Abdullah, untuk dibawa ke Madinah. Tetapi untanya ini tak mau bergerak, walau dipukul dan dicambuk.
     Melihat hal itu, Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya unta ini diperintahkan berlaku demikian. Apakah Amr mengatakan sesuatu ketika meninggalkan rumah?"

     "Benar, ya Rasulullah," Kata Ummu Walad, "Sebelum meninggalkan rumah untuk menyertai pertempuran ini, ia menghadapkan wajah ke kiblat dan berdoa agar tidak dikembalikan kepada keluarganya."

     Mendengar penjelasan ini, akhirnya Rasullullah SAW memakamkan tiga syuhada ini di bukit Uhud. Atas perintah Nabi SAW, Amr dimakamkan satu lobang dengan Abdullah bin Amr bin Haram (Abu Jabir) karena keduanya saling mengasihi dan selalu bersama-sama dalam kehidupan dunia.

Abdullah bin Rawahah RA



Suatu saat Abdullah bin Rawahah tiba-tiba saja menangis, melihat keadaan itu istrinya ikut menangis, iapun bertanya kepada istrinya,  "Mengapa engkau ikut menangis?"
      "Apa yang menyebabkan engkau menangis, itulah yang membuatku ikut menangis." Kata istrinya.   
      Mendengar jawaban itu, Abdullah berkata,  "Ketika aku ingat, bahwa aku akan menyeberangi neraka melalui shirat, aku tidak tahu apakah aku akan selamat atau akan celaka?"


     Ketika Rasulullah SAW mempersiapkan pasukan ke Mu'tah, Beliau berpesan bahwa pimpinan pasukan adalah Zaid bin Haritsah, jika ia gugur penggantinya adalah Ja'far bin Abu Thalib, dan jika Ja'far gugur penggantinya adalah Abdullah bin Rawahah.
     Saat itu hari jum'at, saat pasukan telah berangkat, Ibnu Rawahah tidak ikut serta karena ingin shalat jum'at dahulu bersama Rasulullah SAW, baru setelah itu ia akan menyusul. Usai shalat jum'at, ketika Nabi SAW melihat Ibnu Rawahah, Beliau bertanya, "Apa yang menghalangimu untuk berangkat pagi-pagi bersama sahabat-sahabatmu?"
     Ibnu Rawahah menjelaskan kalau masih ingin shalat jum'at bersama Beliau, tetapi justru Nabi SAW mencela sikapnya itu. Beliau bersabda, "Jika engkau mampu bersedekah dengan semua yang ada di muka bumi, tentu engkau tidak akan mencapai pahala yang mereka peroleh sejak pagi ini!"
     Mendengar teguran Nabi SAW tersebut, Ibnu Rawahah segera memacu tunggangannya menyusul induk pasukan yang telah berangkat, dan langsung bergabung dengan mereka.
     Ketika pasukan muslim telah berkemah di Maan, mereka memperoleh berita bahwa Hiraqla (Hiraklius) juga telah berkemah di Maab, di wilayah Balqa, dengan seratus ribu pasukannya, ditambah dengan seratus ribu pasukan dari para sekutunya. Sementara pasukan muslim hanya sekitar tiga ribu orang. Beberapa sahabat mengusulkan untuk mengirimkan surat kepada Nabi SAW tentang jumlah musuh yang harus mereka hadapi, sehingga beliau akan menambah jumlah pasukan, atau beliau akan memberi perintah lain.
     Mendengar usulan tersebut, Abdullah bin Rawahah berkata, "Wahai sahabat-sahabatku, Demi Allah, sesungguhnya apa yang kalian tidak suka, itulah yang sebenarnya kita cari, yakni kesyahidan. Kita memerangi musuh tidak karena jumlah dan kekuatan mereka, tetapi karena agama ini yang dengannya Allah telah memuliakan kita. Marilah...sesungguhnya apapun akhirnya hanya kebaikan bagi kita, kemenangan atau kesyahidan…"




     Sebagian besar sahabat membenarkan pendapat Ibnu Rawahah, mereka bergerak mendekati posisi pasukan Romawi yang kemudian bertemu di daerah Mu'tah. Pertempuran tidak berimbang terjadi dengan sengitnya, tetapi itu tidak mengurangi semangat pasukan muslim untuk terus berjuang. Zaid gugur, panji diambil Ja'far bin Abu Thalib. Ketika Ja'far juga gugur, Abdullah bin Rawahah mengambil alih panji tersebut dan meneruskan pertempuran. Ia bergerak sambil bersyair untuk menyemangati diri dan anggota pasukannya.
     Ketika pertempuran terhenti sejenak, seorang lelaki dari bani Murrah bin Auf mendekatinya dan memberikan sepotong tulang berdaging, sambil berkata, "Kuatkanlah punggungmu dengan daging ini, karena engkau telah mengalami kelaparan hari-hari ini..!"

     Ibnu Rawahah memakan sedikit dagingnya, kemudian terdengar suara menderu pertanda adanya serangan. Ia berseru, "Sesungguhnya engkau hanyalah dunia…"

     Ia mencampakkan daging tersebut dan mengambil pedangnya kemudian berperang menghadang serangan musuh sehingga ia menemui syahidnya.
     Tiga orang panglima perang yang ditunjuk Rasulullah SAW telah gugur. Sempat terjadi kebingungan dan hampir saja pasukan muslim ditumpas habis oleh pasukan Romawi. Kemudian komando pasukan diserahkan kepada Khalid bin Walid atas persetujuan dan kesepakatan para sahabat yang lebih senior dalam keislaman. Ketika itu Khalid bin Walid memang baru memeluk Islam. Dengan strategi dan keahliannya memimpin pasukan, ia berhasil lolos dari kepungan pasukan Romawi dan terhindar dari kemusnahan total (terbunuh semua).

Kemuliaan Ummul Mukminin Aisyah Istri Rasulullah SAW



Beliau adalah Ummul Mukminin Ummu Abdillah Aisyah binti Abu Bakr, Shiddiqah binti Shiddiqul Akbar, istri tercinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau lahir empat tahun setelah diangkatnya Muhammad menjadi seorang Nabi. Ibu beliau bernama Ummu Ruman binti Amir bin Uwaimir bin Abdi Syams bin Kinanah yang meninggal dunia pada waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup yaitu tepatnya pada tahun ke-6 H.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Aisyah dua tahun sebelum hijrah melalui sebuah ikatan suci yang mengukuhkan gelar Aisyah menjadi ummul mukminin, tatkala itu Aisyah masih berumur enam tahun. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun rumah tangga dengannya setelah berhijrah, tepatnya pada bulan Syawwal tahun ke-2 Hijriah dan ia sudah berumur sembilan tahun. Aisyah menceritakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku pasca meninggalnya Khadijah sedang aku masih berumur enam tahun, dan aku dipertemukan dengan Beliau tatkala aku berumur sembilan tahun. Para wanita datang kepadaku padahal aku sedang asyik bermain ayunan dan rambutku terurai panjang, lalu mereka menghiasiku dan mempertemukan aku dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Lihat Abu Dawud: 9435). Kemudian biduk rumah tangga itu berlangsung dalam suka dan duka selama 8 tahun 5 bulan, hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia pada tahun 11 H. Sedang Aisyah baru berumur 18 tahun.

Aisyah adalah seorang wanita berparas cantik berkulit putih, sebab itulah ia sering dipanggil dengan “Humaira”. Selain cantik, ia juga dikenal sebagai seorang wanita cerdas yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mempersiapkannya untuk menjaid pendamping Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mengemban amanah risalah yang akan menjadi penyejuk mata dan pelipur lara bagi diri beliau. Suatu hari Jibril memperlihatkan (kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) gambar Aisyah pada secarik kain sutra berwarna hijau sembari mengatakan, “Ia adalah calon istrimu kelak, di dunia dan di akhirat.” (HR. At-Tirmidzi (3880), lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi (3041))

Selain menjadi seorang pendamping setiap yang selalu siap memberi dorongan dan motivasi kepada suami tercinta di tengah beratnya medan dakwah dan permusuhan dari kaumnya, Aisyah juga tampil menjadi seorang penuntut ilmu yang senantiasa belajar dalam madrasah nubuwwah di mana beliau menimba ilmu langsung dari sumbernya. Beliau tercatat termasuk orang yang banyak meriwayatkan hadits dan memiliki keunggulan dalam berbagai cabang ilmu di antaranya ilmu fikih, kesehatan, dan syair Arab. Setidaknya sebanyak 1.210 hadits yang beliau riwayatkan telah disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim dan 174 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Bukhari serta 54 hadits yang hanya diriwayatkan oleh Imam Muslim. Sehingga pembesar para sahabat kibar tatkala mereka mendapatkan permasalahan mereka datang dan merujuk kepada Ibunda Aisyah.

KEDUDUKAN AISYAH DI SISI RASULULLAH

Suatu hari orang-orang Habasyah masuk masjid dan menunjukkan atraksi permainan di dalam masjid, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Aisyah, “Wahai Humaira, apakah engkau mau melihat mereka?” Aisyah menjawab, “Iya.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di depan pintu, lalu aku datang dan aku letakkan daguku pada pundak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan aku tempelkan wajahku pada pipi beliau.” Lalu ia mengatakan, “Di antara perkataan mereka tatkala itu adalah, ‘Abul Qasim adalah seorang yang baik’.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Apakah sudah cukup wahai Aisyah?” Ia menjawab: “Jangan terburu-buru wahai Rasulullah.” Maka beliau pun tetap berdiri. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengulangi lagi pertanyaannya, “Apakah sudah cukup wahai Aisyah?” Namun, Aisyah tetap menjawab, “Jangan terburu-buru wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aisyah mengatakan, “Sebenarnya bukan karena aku senang melihat permainan mereka, tetapi aku hanya ingin memperlihatkan kepada para wanita bagaimana kedudukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadapku dan kedudukanku terhadapnya.” (HR. An-Nasa’i (5/307), lihat Ash Shahihah (3277))

CANDA NABI KEPADA AISYAH

Aisyah bercerita, “Suatu waktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang untuk menemuiku sedang aku tengah bermain-main dengan gadis-gadis kecil.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadaku, “Apa ini wahai Aisyah.” Lalu aku katakan, “Itu adalah kuda Nabi Sulaiman yang memiliki sayap.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun tertawa. (HR. Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat (8/68), lihat Shahih Ibnu Hibban (13/174))

Suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlomba lari dengan Aisyah dan Aisyah menang. Aisyah bercerita, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlari dan mendahuluiku (namun aku mengejarnya) hingga aku mendahuluinya. Tetapi, tatkala badanku gemuk, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak lomba lari lagi namun beliau mendahului, kemudian beliau mengatakan, “Wahai Aisyah, ini adalah balasan atas kekalahanku yang dahulu’.” (HR. Thabrani dalam Mu’jamul Kabir 23/47), lihat Al-Misykah (2.238))

KEUTAMAAN-KEUTAMAAN AISYAH

Banyak sekali keutamaan yang dimiliki oleh Ibunda Aisyah, sampai-sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan dalam sabdanya:

“Orang yang mulia dari kalangan laki-laki banyak, namun yang mulia dari kalangan wanita hanyalah Maryam binti Imron dan Asiyah istri Fir’aun, dan keutamaan Aisyah atas semua wanita sepeerti keutamaan tsarid atas segala makanan.” (HR. Bukhari (5/2067) dan Muslim (2431))

Beberapa kemuliaan itu di antaranya:
Pertama: Beliau adalah satu-satunya istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dinikahi tatkala gadis, berbeda dengan istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain karena mereka dinikahi tatkala janda.

Aisyah sendiri pernah mengatakan, “Aku telah diberi sembilan perkara yang tidak diberikan kepada seorang pun setelah Maryam. Jibril telah menunjukkan gambarku tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diperintah untuk menikahiku, beliau menikahiku tatkala aku masih gadis dan tidaklah beliau menikahi seorang gadis kecuali diriku, beliau meninggal dunia sedang kepalanya berada dalam dekapanku serta beliau dikuburkan di rumahku, para malaikat menaungi rumahku, Al-Quran turun sedang aku dan beliau berada dalam satu selimut, aku adalah putri kekasih dan sahabat terdekatnhya, pembelaan kesucianku turun dari atas langit, aku dilhairkan dari dua orang tua yang baik, aku dijanjikan dengna ampunan dan rezeki yang mulia.” (Lihat al-Hujjah Fi Bayan Mahajjah (2/398))

Kedua: Beliau adalah orang yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kalangan wanita.

Suatu ketika Amr bin al-Ash bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling engkau cintai?” Beliau menjawab, “Aisyah.” “Dari kalangan laki-laki?” tanya Amr. Beliau menjawab, “Bapaknya.” (HR. Bukhari (3662) dan Muslim (2384))




Maka pantaskah kita membenci apalagi mencela orang yang paling dicintai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?!! Mencela Aisyah berarti mencela, menyakiti hati, dan mencoreng kehormatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Na’udzubillah.

Ketiga: Aisyah adalah wanita yang paling alim daripada wanita lainnya.

Berkata az-Zuhri, “Apabila ilmu Aisyah dikumpulkan dengna ilmu seluruh para wanita lain, maka ilmu Aisyah lebih utama.” (Lihat Al-Mustadrak Imam Hakim (4/11))

Berkata Atha’, “Aisyah adalah wanita yang paling faqih dan pendapat-pendapatnya adalah pendapat yang paling membawa kemaslahatan untuk umum.” (Lihat al-Mustadrok Imam Hakim (4/11))

Berkata Ibnu Abdil Barr, “Aisyah adalah satu-satunya wanita di zamannya yang memiliki kelebihan dalam tiga bidang ilmu: ilmu fiqih, ilmu kesehetan, dan ilmu syair.”

Keempat: Para pembesar sahabat apabila menjumpai ketidakpahaman dalam masalah agama, maka mereka datang kepada Aisyah dan menanyakannya hingga Aisyah menyebutkan jawabannya.

Berkata Abu Musa al-Asy’ari, “Tidaklah kami kebingungan tentang suatu hadits lalu kami bertanya kepada Aisyah, kecuali kami mendapatkan jawaban dari sisinya.” (Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi (3044))

Kelima: Tatkala istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi pilihan untuk tetap bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengna kehidupan apa adanya, atau diceraikan dan akan mendapatkan dunia, maka Aisyah adalah orang pertama yang menyatakan tetap bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bagaimanapun kondisi beliau sehingga istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain mengikuti pilihan-pilihannya.

Keenam: Syari’at tayammum disyari’atkan karena sebab beliau, yaitu tatkala manusia mencarikan kalungnya yang hilang di suatu tempat hingga datang waktu Shalat namun mereka tidak menjumpai air hingga disyari’atkanlah tayammum.

Berkata Usaid bin Khudair, “Itu adalah awal keberkahan bagi kalian wahai keluarga Abu Bakr.” (HR. Bukhari (334))

Ketujuh: Aisyah adalah wanita yang dibela kesuciannya dari langit ketujuh.

Prahara tuduhan zina yang dilontarkan orang-orang munafik untuk menjatuhkan martabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lewat istri beliau telah tumbang dengan turunnya 16 ayat secara berurutan yang akan senantiasa dibaca hingga hari kiamat. Allah Subhanahu wa Ta’ala mempersaksikan kesucian Aisyah dan menjanjikannya dengan ampunan dan rezeki yang baik.

Namun, karena ketawadhu’annya (kerendahan hatinya), Aisyah mengatakan, “Sesungguhnya perkara yang menimpaku atas diriku itu lebih hina bila sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tetnangku melalui wahyu yang akan senantiasa dibaca.” (HR. Bukhari (4141))

Oleh karenanya, apabila Masruq meriwayatkan hadits dari Aisyah, beliau selalu mengatakan, “Telah bercerita kepadaku Shiddiqoh binti Shiddiq, wanita yang suci dan disucikan.”

Kedelapan: Barang siapa yang menuduh beliau telah berzina maka dia kafir, karena Al-Quran telah turun dan menyucikan dirinya, berbeda dengan istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain.

Kesembilan: Dengan sebab beliau Allah Subhanahu wa Ta’ala mensyari’atkan hukuman cambuk bagi orang yang menuduh wanita muhShanat (yang menjaga diri) berzina, tanpa bukti yang dibenarkan syari’at.

Kesepuluh: Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sakit, Beliau memilih tinggal di rumah Aisyah dan akhirnya Beliau pun meninggal dunia dalam dekapan Aisyah.

Berkata Abu Wafa’ Ibnu Aqil, “Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih untuk tinggal di rumah Aisyah tatkala sakit dan memilih bapaknya (Abu Bakr) untuk menggantikannya mengimami manusia, namun mengapa keutamaan agung semacam ini bisa terlupakan oleh hati orang-orang Rafidhah padahal hampir-hampir saja keutamaan ini tidak luput sampaipun oleh binatang, bagaimana dengan mereka…?!!”

Aisyah meninggal dunia di Madinah malam selasa tanggal 17 Ramadhan 57 H, pada masa pemerintahan Muawiyah, di usianya yang ke 65 tahun, setelah berwasiat untuk dishalati oleh Abu Hurairah dan dikuburkan di pekuburan Baqi pada malam itu juga. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala meridhai Aisyah dan menempatkan beliau pada kedudukan yang tinggi di sisi Rabb-Nya. Aamiin.

Mutiara Teladan
Beberapa teladan yang telah dicontohkan Aisyah kepada kita di antaranya:

Perlakuan baik seorang istri dapat membekas pada diri suami dan hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi seorang suami yang akan selalu ia kenang hingga ajal menjemputnya.
Hendaklah para wanita menjaga mahkota dan kesuciannya, karena kecantikan dan keelokan itu adalah amanah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang harus senantiasa ia jaga dan tidaklah boleh dia peruntukkan kecuali kepada yang berhak atasnya.
Hendaklah para istri mereka belajar dan mencontoh keShalihan suaminya. Istri, pada hakikatnya adalah pemimpin yang di tangannya ada tanggung jawab besar tentang pendidikan anak dan akhlaknya, karena ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.
Wallahu A’lam.

Sumber: Majalah Al-Furqon, Edisi 06 Tahun kiadhan 1427 H / Oktober 2006

Read more http://kisahmuslim.com/1738-kemuliaan-dan-keutamaan-aisyah.html

Asal Usul Sejarah Tentang Sholat Lima Waktu


Nabi Muhammad SAW merupakan nabi terakhir yang diutuskan oleh Allah SWT untuk membimbing manusia ke arah jalan kebenaran. Tidak seperti umat nabi-nabi yang lain, umat nabi Muhammad telah diperintahkan untuk mengerjakan solat 5 waktu setiap hari. Ini merupakan kelebihan dan anugerah Allah SWT terhadap umat nabi Muhammad dimana solat tersebut akan memberikan perlindungan ketika di hari pembalasan kelak. Berikut diterangkan asal-usul bagaimana setiap solat mula dikerjakan.

Subuh:

Manusia pertama yang mengerjakan solat subuh ialah Nabi Adam a.s. iaitu ketika baginda keluar dari syurga lalu diturunkan ke bumi. Perkara pertama yang dilihatnya ialah kegelapan dan baginda berasa takut yang amat sangat. Apabila fajar subuh telah keluar, Nabi Adam a.s. pun bersembahyang dua rakaat.
Rakaat pertama: Tanda bersyukur kerana baginda terlepas dari kegelapan malam.
Rakaat kedua: Tanda bersyukur kerana siang telah menjelma.

Zohor:

Manusia pertama yang mengerjakan solat Zohor ialah Nabi Ibrahim a.s. iaitu tatkala Allah SWT telah memerintahkan padanya agar menyembelih anaknya Nabi Ismail a.s.. Seruan itu datang pada waktu tergelincir matahari, lalu sujudlah Nabi Ibrahim sebanyak empat rakaat.

Rakaat pertama: Tanda bersyukur bagi penebusan.
Rakaat kedua: Tanda bersyukur kerana dibukakan dukacitanya dan juga anaknya.
Rakaat ketiga: Tanda bersyukur dan memohon akan keredhaan Allah SWT.
Rakaat keempat: Tanda bersyukur kerana korbannya digantikan dengan tebusan kibas.



Asar:

Manusia pertama yang mengerjakan solat Asar ialah Nabi Yunus a.s. tatkala baginda dikeluarkan oleh Allah SWT dari perut ikan Nun. Ikan Nun telah memuntahkan Nabi Yunus di tepi pantai, sedang ketika itu telah masuk waktu Asar. Maka bersyukurlah Nabi Yunus lalu bersembahyang empat rakaat kerana baginda telah diselamatkan oleh Allah SWT daripada 4 kegelapan iaitu:

Rakaat pertama: Kelam dengan kesalahan.
Rakaat kedua: Kelam dengan air laut.
Rakaat ketiga: Kelam dengan malam.
Rakaat keempat: Kelam dengan perut ikan Nun.

Maghrib:

Manusia pertama yang mengerjakan solat Maghrib ialah Nabi Isa a.s. iaitu ketika baginda dikeluarkan oleh Allah SWT dari kejahilan dan kebodohan kaumnya, sedang waktu itu telah terbenamnya matahari. Bersyukur Nabi Isa, lalu bersembahyang tiga rakaat kerana diselamatkan dari kejahilan tersebut iaitu:

Rakaat pertama: Untuk menafikan ketuhanan selain daripada Allah yang Maha Esa.
Rakaat kedua: Untuk menafikan tuduhan dan juga tohmahan ke atas ibunya Siti Mariam yang telah dituduh melakukan perbuatan sumbang.
Rakaat ketiga: Untuk meyakinkan kaumnya bahawa Tuhan itu hanya satu iaitu Allah SWT semata-mata, tiada dua atau tiganya.

Isyak:

Manusia pertama yang mengerjakan solat Isyak ialah Nabi Musa a.s.. Pada ketika itu, Nabi Musa telah tersesat mencari jalan keluar dari negeri Madyan, sedang dalam dadanya penuh dengan perasaan dukacita. Allah SWT menghilangkan semua perasaan dukacitanya itu pada waktu Isyak yang akhir. Lalu sembahyanglah Nabi Musa empat rakaat sebagai tanda bersyukur.

Rakaat pertama: Tanda dukacita terhadap isterinya.
Rakaat kedua: Tanda dukacita terhadap saudaranya Nabi Harun.
Rakaat ketiga: Tanda dukacita terhadap Firaun.
Rakaat keempat: Tanda dukacita terhadap anak Firaun

sumber darulnuman.com

Tingkatan Nikmat Manusia



Dalam solat kita memanjatkan doa kepada Allah. "Ya Allah, tunjukkanlah kami jalan yang lurus. Yakni, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka. Bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan orang-orang yang sesat. "(Surah al-Fatihah [1]: 6-7).

Siapakah orang-orang yang telah diberi nikmat itu? Allah SWT mempertegasnya dalam surah an-Nisa 'ayat 69, iaitu an-nabiyyin (para nabi), ashshiddiqin (orang-orang yang benar dan jujur), asy-syuhada (orang-orang yang mati syahid), dan ash-shalihin (orang -orang yang soleh).

Tentu saja, kenikmatan yang mereka perolehi tidak pada bendawi, tapi nikmat iman dan Islam. Itulah nikmat yang paling tinggi nilainya. Nikmat yang menjadikan segala nikmat duniawi menjadi berharga dan maslahat. Jika tanpa nikmat iman dan Islam, semuanya boleh menjadi malapetaka yang menjerumuskan.
Sungguh nikmat Allah SWT begitu banyak tak terhingga. Sekiranya kita menghitung, tak sanggup menghitungnya. Kerana itulah, Allah SWT tidak menyuruh kita menghitung, tapi bersyukur. (Surah [2]: 152,172, [31]: 12). Kenyataannya, sedikit sekali manusia yang bersyukur. (Surah [7]: 10, [14]: 34, [23]: 78, [67]: 23). "Lalu nikmat Tuhanmu mana lagi yang kaudustakan?" Sebanyak 31 kali diulang dalam surah ar-Rahman.



Ada tiga kategori kenikmatan yang sekaligus menjadi tingkatan yang ingin diraih manusia. Pertama, kenikmatan fizikal. Kategori ini paling rendah dan menjadi keperluan asas manusia (basic needs). Kenikmatan fizikal (material) berkaitan dengan jasmaniah, yakni makan dan minum (termasuk buang hajat), harta, tidur, dan seks. Tidak jauh dari sejengkal dari pusat ke atas (perut) dan ke bawah (kemaluan).

Kedua, kenikmatan sosial. Kalau manusia meraih nikmat fizikal, bererti dia telah memperoleh kelazatan dunia wi (lazaat) yang sifatnya individual. Tapi, dia belum mencapai kebahagian (assa'adah). Sebenarnya, binatang juga tidak boleh hidup tenang hanya dengan fizikal belaka. Mereka memerlukan keluarga dan masyarakat (sosial). Demikian pula manusia. Nikmat sekali hidup seorang yang masih punya isteri / suami, orang tua, kanak-kanak, ahli keluarga, sahabat, dan jiran yang baik. Jika tak bertemu, rasa rindu tak terkira. Keletihan dan penderitan sepanjang mudik pada Hari Raya terabai.

Ketiga, kenikmatan spiritual. Ketika seseorang memiliki harta, kedudukan, sihat, rumah yang indah, kenderaan yang bagus, isteri dan anak yang soleh, peduli pada tetangga dan kaum dhuafa, serta mustadh'afin. Masya Allah, nikmat sekali hidupnya. Tapi, kedua-dua nikmat tersebut masih nisbi dan boleh hilang tak berbekas dalam sekejap. Kedua kenikmatan itu akan lebih bermakna lagi jika kita meraih kenikmatan spiritual.

Kenikmatan spiritual bersifat rohaniah (ilahiah) yang diperolehi ketika seseorang berjaya membersihkan hati, fikiran, dan perbuatan dari segala macam keburukan (Surah [91]: 9-10). Sehingga, cahaya ilahi merasuk ke dalam kalbu, fikiran, dan perbuatan.

Dia akan merasakan nikmat menjalani keadaan apa pun. Musibah bukan lagi derita, melainkan jalan bahagia. Tidak hanya merasa nikmat ketika lapang, tetapi dalam derita dan perjuangan. Wallahu a'lam.
Sumber republika.co.id

Doa Supaya Mustajab Makanlah Yang Halal



Dibacakan ayat disisi Rasulullah, "Wahai sekalian manusia makanlah oleh kamu apa-apa yang ada di muka bumi secara halal lagi baik".

Lalu Sa'ad bin Abi Waqqash berdiri seraya berkata, "Ya Rasulullah doakan aku agar Allah menjadikan aku sebagai hamba yang dikabulkan doanya". Maka Nabi Muhammad bersabda kepadanya, "Wahai Sa'ad makanlah yang halal (baik zat atau caranya), nescaya doa-doanya dimakbulkan Allah".

"Demi Dzat yang jiwa Nabi Muhammad berada dalam genggaman kuasaNya, seorang hamba apabila ia memasukkan sesuap barang haram dalam mulutnya, maka amal ibadahnya tidak akan diterima selama 40 hari, dan siapa saja seorang hamba yang tumbuh dagingnya dari barang yang haram, maka nerakalah yang lebih pantas jadi tempat tinggalnya "(HR Thabarani).

Jadi rezeki dan makanan yang halal membuat Allah Ridho untuk mengijabah doa-doa kita dan hidup selalu dalam keberkatan Allah, sebaliknya yang haram walau sesuap membuat doa dan semua amal ibadah tidak berkat dunia akhirat.

Inilah jawapan mengapa doa dan hidup kita tidak berkat, "Allahumma ya Allah berkati kami dengan rezeki dan makanan yang halal ... aamiin".

sumber republika.co.id

Khasiat Duduk Iftirash Dari Segi kesehatan



Kebanyakan kita tidak mengetahui hikmat duduk Iftirash dari segi kesihatan. Kalau kita lihat gambar rajah Refleksologi, bila dalam duduk Iftirash ini, kaki kanan kita dapat tekanan di bahagian atas kaki & kaki kiri kita dapat tekanan bawah & tengah kaki. Duduk Iftirash ini memberi 'tekanan refleksologi' yang menyeluruh. Tapi bagi orang yg tidak menegakkan kaki kanan, mereka hanya mendapat 'tekanan refleksologi' utk sebahagian tubuh sahaja (tidak meliputi bahagian - Brain, Neck, throat, heart, voice sinus, pituitary glands etc. spt dalam gambar rajah).

Ini merugikan! Eloklah kita cuba duduk secara Iftirash yg sempurna semoga kita dapat pahala kerana ikut sunnah & juga kesihatan yg menyeluruh melalui 'indirect reflexology exercise' utk bahagian kritikal - Brain, Neck, throat, heart, voice sinus, pituitary glands etc brain, neck, throat etc.
Didoakan agar kita semua dirahmati Allah SWT. Dari Abu Hamid al-Sa`idi (r.a.) katanya: "Aku melihat Nabi Muhammad (s.a.w.).. Apabila Baginda saw duduk pada rakaat yg kedua (Utk membaca Tahiyyat Awal), ia duduk di atas kaki kirinya & menegakkan kaki kanan (Duduk Iftirash)....." (Hadith shohih riwayat Bukhari)



 Pengajaran Hadith

 1. Disunatkan duduk Iftirash pada tahiyyat pertama.

2. Duduk Itirash juga disunatkan semasa duduk antara dua sujud & ketika duduk Istirahah (iaitu duduk sesudah bangkit dari sujud yg kedua)

 3. Amalan duduk Iftirash adalah sunnah Rasul (s.a.w.) & apabila kita mengamal & menyampaikannya kepada orang lain untuk mengamalkannya adalah mendapat pahala & keberkatan dari Allah (s.w.t.)

 4. Amalan-amalan Rasul (s.a.w.) adalah bercahaya & boleh mendekatkan diri seseorang kepada Allah (s.w.t.) sumber kbakti.multiply.com
Anda mungkin juga meminati:
Tiga hikmah berwudhu bagi Kesihatan
Lima Perkara Bid’ah Terhadap Jenazah (Yang Sering ...
Nuzul Al-Quran: Dari Gua Hira hingga Padang Arafah (2)

Inilah Sebab Kenapa Guru Bakeri Suka Berlucu-lucuan Di Majelis Pengajian



Dikisahkan Abah Guru Banjar Indah (KH Syaifuddin Dzuhri)
___________________________
Sewaktu Guru Bakrie (KH Ahmad Bakrie, pendiri & pengasuh Ponpes Al-Mursyidul Amin, Gambut, Kab Banjar, Kalsel) ) masih belajar di pondok pesantren Darussalam Martapura, tepatnya di kelas 3 Ulya, kebetulan wali kelasnya adalah Abah Guru Sekumpul sendiri.

Hari itu Abah Guru memberikan PR kepada semua santri di kelas itu dengan pelajaran tasawuf melalui kitab Minhajul Abidin. Kemudian Abah Guru Sekumpul memberikan soal2 kepada para santri, kata Abah Guru, besok dikumpul tugasnya. Tiba2 Guru Bakrie menjawab langsung dengan lisan kepada Abah Guru tanpa melihat ke kitab.

Abah Guru pun tersenyum dan berkata, "Bakrie kada usah lagi digawe tugasnya karena sudah dijawab lisan." Hal inilah yg menjadi sebab kenapa Guru Bakrie jadi murid kesayangan Abah Guru di kelas. Sejak mondok Guru Bakrie memang sudah menunjukkan kecerdasannya. Beliau selalu menjadi juara kelas dan santri teladan.

Pada tahun 1993 saat Guru Bakrie ‘mangaji baduduk’ di rumah Abah Guru di Sekumpul, pada waktu itu, turut mengaji bersama beliau adalah Guru Sufiannur dan Guru Usuf.



Ketika Abah Guru hendak memulai belajaran, beliau sambil bercanda berpesan lawan Guru Bakrie, "Lamun nyawa Bakrie'ae malajari murid, baiknya tu dilucu2i, supaya murid nyawa lakas paham.”
Pesan Abah Guru ini diingat bujur oleh Guru Bakrie. Makanya dari itu, di setiap pengajian di mana saja, Guru Bakrie selalu saja ada baisi kisah2 nang lucu2 dengan niat tiada lain supaya orang yang mendengarkan bisa cepat paham, dan nang jelas itu atas suruhan Abah Guru Sekumpul. Abah Guru memang kasyaf, menyadari bahwa Guru Bakrie bakal menjadi salah satu ulama besar di Banua ini.
Akhirnya, cara Guru Bakrie mengajar dan berceramah di depan Jemaah, dengan melontarkan kisah dan joke2 lucu menjadi ciri khas dia. Dan itu didukung oleh dialek pahuluan yg kental sehingga suasana jadi cair dan gampang diterima umat. Dan itu dikatujui banyak orang Banua.

Cara pengajian Guru Bakrie persis sama dengan apa nang dilakukan oleh Abah Guru Sekumpul.
KH Ahmad Bakrie (akrab dipanggil Guru Bakrie atau Abah Guru Gambut) lahir tahun 1956 di Amuntai (Kab Hulu Sungai Utara, Kalsel) dan wafat pada tanggal 1 Februari 2013 / 20 Robi'ul Awwal 1434 H. Beliau adalah pendiri Pondok Pesantren Al-Mursyidul Amin, Gambut. Pondok pesantren beliau di jalan Beringin, Desa Makmur, Kec Gambut, Kab Banjar, Kalsel, hingga kini diteruskan oleh para murid beliau dan aktif mendidik para santri meneruskan ajaran pendirinya bersambung kpd Abah Guru Sekumpul.

Mudahan anak cucu juriat kita bisa menjadi alim dan sugih ilmu kaya Guru Bakrie, disenangi banyak urang dan dikatujui paguruan. Takumpul wan buhan auwlia Allah di akhirat kaena. Aamiiin ya Allah….. Al Fatihan gasan Abah Guru Gambut.
FOTO: (Alm) Guru Bakrie & Abah Guru Sekumpul.
______________
Sumber akun FB Ahbab Muhammad (Zein Elreal)

Sabtu, 21 Oktober 2017

Rindu Rasulullah Kepada Umatnya



Suasana di majlis pertemuan itu hening sejenak. Semua yang hadir diam membatu. Mereka seperti sedang memikirkan sesuatu. Lebih-lebih lagi Saidina Abu Bakar. Itulah pertama kali dia mendengar orang yang sangat dikasihi melafazkan pengakuan demikian.

Seulas senyuman yang sedia terukir dibibirnya pun terungkai. Wajahnya yang tenang berubah warna. "Apakah maksudmu berkata demikian wahai Rasulullah? Bukankah kami ini saudara-saudaramu? " Saidina Abu Bakar bertanya melepaskan gumpalan teka-teki yang mula menyerabut fikiran.

"Tidak, wahai Abu Bakar. Kamu semua adalah sahabat-sahabatku tetapi bukan saudara-saudaraku (ikhwan)," suara Rasulullah bernada rendah.

"Kami juga ikhwanmu, wahai Rasulullah," kata seorang sahabat yang lain pula. Rasulullah menggeleng-gelangkan kepalanya perlahan-lahan sambil tersenyum. Kemudian baginda bersuara:

"Saudaraku ialah mereka yang belum pernah melihatku tetapi mereka beriman denganku sebagai Rasul Allah dan mereka sangat mencintaiku. Malahan kecintaan mereka kepadaku melebihi cinta mereka kepada anak-anak dan orang tua mereka."


Menangis Kerena 3 Hari Tidak Bermimpi Rasulullah SAW



Dahulu Al Habib Umar punya kebiasaan di musim dingin atau musim panas supaya anak-anak ada refresing sedikit dengan membawa para santri ke ribat yang ada di kota sihr di mukala.

suatu malam saya mencari-cari akhina Habib Munzir hingga ke kamarnya pun tidak ada , maka saya naik ke lantai atas dan saya dapati beliau duduk di pojok sendirian padahal malam itu betul- betul dingin dan ada rintikan hujan, dilihatnya beliau memegang tasbih maka saya mendekat dan berkata “masuk ya habib istirahat ‘’ dan saya melihat beliau menangis ‘’ kenapa engkau menangis ada apa ? Maka Habib munzir mengatakan ‘’ saya sudah 3 hari tidak bermimpi Rasulullah Saw ‘’

Maka Habib Umar Bin Idrus Bin Sahab mengatakan banyak ya Habib orang berbulan –bulan tidak mimpi bertemu Rasulullah Saw walaupun dia tolabul ilim , dia orang Alim , namun dia tidak menangis sepertimu yang hanya 3 hari tidak bermimpi Rasulullah saw.

Maka beliau Habib Munzir mengatakan ‘’ saya takut ada dosa yang menghijab saya untuk bertemu dengan Rasulullah Saw ‘’

Dan beliau Habib Munzir Mengatakan ‘’ wahai akhina Umar asal engkau tau puncak keinginan ku datang ke tarim ini yaitu untuk aku selalu bisa bersambung dengan baginda Rasulullah Saw dengan berkat bersambung dengan Rasulullah itu lah yang menyambungkan aku dengan guru –guru kita.
Lihat bagaimana kecintaan dari pada Habib Munzir kepada Rasulullah SAW perhatian beliau pada adab yang beliau ambil dari guru –guru beliau


Jumat, 20 Oktober 2017

Download Ceramah Guru Bakeri Gambut



Alhamdulillah kali ini saya akan menyajikan download ceramah Guru Bakeri Gambut yang mana file ceramah ini sudah lama saya simpan didalam data hardisk laptop saya, mungkin file ceramah beliau ini tidak terlalu banyak yang bisa saya bagikan tetapi  mungkin ini bisa mengobati keriduan kita terhadap beliau, sewaktu dulu ceramah2 ceramah beliau masih bisa kita dengarkan di radio2 kesayanagan kita biasanya ceramah bila disiarkan langsung oleh radio RRI sewaktu beliau masih aktif dalam pengajian beliau di Mesjid Sabilal Muhtadin, Banjarmasin.

mungkin generasi muda kita sekarang ini mungkin ada yang belum tau siapa Guru Bakeri, dibawah ini ada sedikit profile beliau untuk kita ketahui. 

K.H Ahmad Bakrie atau biasa dikenal Guru Bakrie (lahir di Amuntai, Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan tahun 1956 – meninggal di Banjarmasin, 1 Februari 2013 pada umur 57 tahun) adalah salah satu ulama berpengaruh di Kalimantan Selatan hingga Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Ia adalah pendiri Pendiri Pondok Pesantren Al Mursyidul Amin Gambut. Selain dikenal sebagai ulama kharismatik ia juga dikenal sebagai tokoh organisasi seperti NU dam PKB.

Ia meninggal pada hari Jumat, 1 Februari 2013 di RSUD Ulin, Banjarmasin pada pukul 21:35 WITA.Pemakamannya dihadiri ribuan pelayat dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Ia dimakamkan di komplek pemakaman Pondok Pesantren Al Musyidul Amin Gambut.



nah itulah sekilas profil beliau, sekarang silahkan anda download  dengan senang hati
file ceramah Guru Bakeri Gambut dibawah ini

  1. MUKJIZAT_SHALAT.mp3
  2. FAKTOR FAKTOR SUNAT.mp3
  3. AL QUR'AN PENUNTUN HIDUP.mp3
  4. ISRA DAN MI'RAJ.mp3
  5. PERJALANAN HIDUP MANUSIA .mp3
  6. PERISTIWA MASUK KUBUR.mp3
  7. JAUHI BAHAYA NARKOBA.mp3
  8. AMALAN MALAM DAN HARI JUMAT.mp3
  9. MATI MALAM DAN HARI JUMAT.mp3
  10. MATI DALAM KEADAN BERWUDHU.mp3
  11. TUNTUTLAH ILMU SAMPAI LIANG LAHAT.mp3
  12. SURAH_YASIN.mp3
Semoga Postingan kali ini bisa bermanfaat bagi kita semua.. Amiiinnnn

Kedatangan Pemuda Dari Batam Yang Sudah Ditunggu Abah Guru Sekumpul



Suatu hari ada seorang pemuda datang ber'ziaroh ke kubah Kelampayan (Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari dan zurriyat beliau), pemuda itu terlihat bingung, kemudian di tanya oleh penunggu kubah, ternyata dia dari batam dan baru sekali ke Martapura.

Dia mengaku di suruh oleh ayah angkatnya yaitu guru dimyati untuk datang ke Martapura dan mendatangi/berziaroh kedua tempat, pertama ke Kelampayan dan yang kedua kekediaman abah guru sekumpul, namun katanya pemuda tersebut :
"Saya bingung karna baru sekali kesini dan lebih bingung lagi karena ongkos sudah habis sejak turun dari Bandara..."

Akhirnya ringkas cerita, penunggu kubah menyarankan kepada tukang ojek supaya mengantar orang tersebut ke Sekumpul, tukang ojek nya juga bingung..
Kata nya: "bagaimana bisa ketemu sama Abah Guru, kebetulan tukang ojeknya cara berpakaiannya agak gaya anak muda, kendaraan di pretelnya, lalu kata penunggu kubah:
"Kalian yakinkan aja kalau memang di perintah Guru Dimyati insya Allah, Abah Guru pasti sudah menunggu..."

Berangkat lah tukang ojek bersama pemuda tadi yang bergelar pancar sembilan dari batam.
Tiga hari kemudian tukang ojek tadi datang lagi ke Kelampayan mencari penunggu kubah tersebut dan akhirnya ketemu, lalu ia bercerita, bahwa ketika mereka sampai di Sekumpul Abah Guru sudah menunggu mereka dimuka rumah beliau, kemudian mereka berdua di suruh masuk, pemuda dari batam tersebut di suruh mandi dan lalu di beri pakaian serba selembar kemudian mereka makan bersama, lalu di beri masing-masing satu amplop kata tukang ojek tadi.



Jadi ulun (saya) mancari pian (anda) ini sekarang hendak berbagi rezeki katanya tukang ojek tersebut kepada penunggu kubah Kelampayan, amplop ulun (saya) isinya 5 juta rupiah dan ulun (saya) memberi pian (anda) 5 ratus ribu katanya.

Adapun pemuda batam tadi, kembali pulang ke Batam. Amplopnya wallohu a'lam berapa.
Subnallah..!!!

Dari kesah (hikayat) ini bisa kita ambil pelajaran, bahwa Abah Guru Sekumpul, beliau kasyaf...Beliau menunggu tamu tersebut datang.

Dan akhlak beliau luar biasa memuliakan tamu, yang walaupun hanya seorang pemuda dan tukang ojek sahaja.

Beliau sangat pemurah dengan hartanya. Itu lah akhlak Wali allah ta'ala. ( pemurah dan tidak pemarah )

Dan kesah (hikayat) ini tidak terlepas dari bekah A-Mukarrom Guru Idam/Dimyathi Al-Banjari yang menyuruh anak angkat beliau datang ke Sekumpul. ( beliau mengetahui lebih dahulu keadaan anak angkatnya tersebut )


Mudah-mudaan kita dapat keberkahan Wali-wali-Nya Allah Ta'ala, dengan berkat menceritakan dan membacanya kembali akan cerita ini... Aamiin Allohumma aamiin.
Salah khilaf mohon ma'af, sumber cerita adalah penunggu kubah Datu Kelampayan. Wassalam.

Aulia Rahman

Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen



Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen (meninggal 8 Desember 1986) adalah seorang guru Sufi yang berbahasa Tamil dari pulau Sri Lanka yang pertama kali datang ke Amerika Serikat pada tanggal 11

Oktober 1971da
n mendirikan Bawa Muhaiyaddeen Fellowship di Philadelphia. Dari Philadelphia, dengan sekitar 1.000 pengikutnya, cabang Fellowship telah menyebar di seluruh Amerika Serikat dan Kanada, serta Australia dan Inggris. Masyarakat pengikut sudah ada di Jaffna dan Kolombo, Sri Lanka sebelum kedatangannya di Amerika Serikat.

Sangat sedikit yang diketahui tentang beliau pada periode sebelum itu. Sedikit sepihan data mengenai beliau yang berhasil diperoleh adalah bahwa beliau datang ke Sri Lanka pada tahun 1884—yang ketika itu disebut dengan Ceylon—dari perjalanannya berkelana di seputar India, kemudian ke Baghdad, Yerusalem, Madinah, Mesir, Roma, dan kemudian kembali lagi ke Ceylon untuk menetap. Data lainnya yang berhasil didapatkan adalah bahwa pada tahun 1930-an ia pindah ke Jaffna, dan kemudian pada tahun 1960-an ia tinggal di Colombo, Sri Lanka.

Beliau sendiri tidak pernah mengatakan berapa usianya sebenarnya. Ia telah melewatkan seluruh umurnya untuk mempelajari pelbagai agama yang ada di dunia, dan sebagai pengamat rahasia-rahasia paling tersembunyi dari pelbagai ciptaan Tuhan. Jika ditanya tentang dirinya, ia hanya mengatakan bahwa dirinya hanyalah seorang manusia kecil (manusia semua, ant man) yang hanya menjalankan tugas yang diperintahkan Allah kepadanya. Ia mengatakan bahwa perihal mengenai dirinya tidaklah penting untuk diketahui, dan hanya pertanyaan tentang Allah-lah yang lebih layak untuk diketahui.

Sejak masih tinggal di hutan-hutan Ceylon, nama beliau telah dikenal masyarakat kota maupun pedesaan sebagai seorang Guru yang kata-katanya memberikan ‘pencerahan’ dan mampu menjawab segala macam persoalan orang-orang yang datang kepadanya. Ia membantu segala macam manusia yang datang menemuinya, dari segala macam bangsa maupun derajat, menjawab segala macam pertanyaan mereka tentang kehidupan maupun persoalan mereka, menyembuhkan penyakit mereka, bahkan hingga membantu membuka hutan dan membajak ladang mereka, serta memberikan saran-saran pertanian.

Nama ‘Muhaiyaddeen’ secara harfiah berarti ‘yang menghidupkan kembali Ad-Diin,’ dan memang, selama sisa hidupnya itu Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen ral. mengabdikan dirinya untuk membangkitkan kembali keyakinan akan Tuhan di dalam kalbu orang-orang yang datang kepadanya.

Sebagai seorang guru sufi, beliau memiliki kemampuan yang unik, yaitu kemampuan memurnikan esensi kebenaran dari semua agama.Selama lima puluh tahun terakhir kehidupannya, beliau membagi pengalaman-pengalamannya ini kepada ribuan orang dari seluruh dunia. Walaupun beliau memberikan pelajarannya dalam kerangka sufistik Islam, orang-orang dari agama Kristiani, Yahudi, Buddha, maupun Hindu, tetap datang kepadanya dan duduk bersama-sama, selama berjam-jam, di dalam majelisnya untuk mencari secercah pemahaman akan Kebenaran. Beliau sangat dihormati para akademisi, juga para pemikir filsafat maupun pemimpin serta kelompok-kelompok spiritual tradisional karena kemampuannya memperbarui keyakinan di dalam hati manusia yang datang kepadanya.

Kehidupan awalMenurut Sri Lanka siswa yang lebih tua, Bawa Muhaiyaddeen muncul dari hutan negara itu pada awal 1940-an dan bertemu peziarah yang mengunjungi tempat ibadah di utara. Laporan dari mimpi atau pertemuan mistik yang mendahului sebuah ‘fisik’ pertemuan oleh siswa awal tidak lazim

Menurut perkiraan dari tahun 1940-an, Bawa Muhaiyaddeen telah menghabiskan waktu di ‘Kataragama’, sebuah pertapaan hutan di selatan. pulau, dan dalam lembaga ‘Jailani’, sebuah pesulukan tebing yang didedikasikan untuk Syeikh Abd al-Qadir al-Jilani di Baghdad. Hubungannya dengan Syaikh menunjukkan bahwa ia memiliki koneksi silsilah Sthariqah dengan Qodoriyah.

Banyak. Pengikutnya yang tinggal di sekitar kota utara Jaffna, disana banyak orang-orang Hindu yang memandangnya sebagai guru suci. Perannya sering sebagai penyembuh dari penyakit medis dan spiritual, termasuk menyembuhkan kerasukan setan.

Akhirnya sebuah tempat pendidikan Sufi dibentuk di Jaffna, dan aktivitas pertanian dimulai selatan kota itu. Setelah para pebisnis pelancong dari selatan negara itu bertemu Bawa Muhaiyaddeen, mereka mengundang dia untuk mengunjungi di Columbo, ibukota Sri Lanka. Pada tahun 1967, ‘Serendib Sufi Studi Circle’ dibentuk oleh para mahasiswa Colombo yang didominasi Muslim. Sebelumnya pada tahun 1955, Bawa Muhaiyaddeen telah menetapkan dasar-dasar untuk sebuah ‘Rumah Allah’ atau masjid di kota Mankumban, di pantai utara.

Ini adalah hasil pertemuan spiritual dengan Mariam, ibunda Nabi Isa as. Setelah dua dekade,. Gedung ini selesai dibangun oleh mahasiswa dari Amerika Serikat yang mengunjungi pesulukan Jaffna . Ini secara resmi dibuka dan dibaktikani pada 17 Februari 1975.

Bawa Muhaiyaddeen sering mengajar melalui penggunaan dongeng. Ini mencerminkan latar belakang pelajar atau pendengar dan termasuk para pendengarnya adalah orang-orang Hindu, Kristen, dan ummat Islam tradisional. Ia menyambut orang-orang dari semua tradisi dan latar belakang

Di Amerika Serikat Bawa Muhaiyaddeen FellowshipPada tahun 1971, Bawa Muhaiyaddeen menerima undangan dari seorang wanita Amerika untuk mengunjunginya di Philadelphia. Dia telah merasakan kesesuaian dengan dia setelah diperkenalkan oleh seorang mahasiswa dari Sri Lanka. Dia dan rekan-rekannya membuat pengaturan untuk perjalanan ke Amerika Serikat dan untuk tinggal di Philadelphia. Pada 1973., sekelompok pengikutnya membentuk Bawa Muhaiyaddeen Fellowship, yang menjadi tuan rumah pertemuan yang menawarkan beberapa pertemuan publik seminggu sekali.

Seperti sebelumnya di Sri Lanka, orang-orang dari semua latar belakang agama, sosial dan etnis akan bergabung untuk mendengar dia berbicara. Di seluruh Amerika Serikat, Kanada dan Inggris, ia mendapatkan pengakuan dari ulama, wartawan, pendidik dan pemimpin dunia. Perserikatan Bangsa-Bangsa Asisten Sekretaris Jenderal, Robert Muller, meminta bimbingan Bawa Muhaiyaddeen atas nama seluruh umat manusia selama wawancara pada tahun 1974.



Selama tahun 1978-1980 ketika krisis sandera Iran terjadi, ia menulis surat kepada para pemimpin dunia seperti Khomeini, Perdana Menteri Begin, Presiden Sadat dan Presiden Carter untuk mendorong resolusi damai untuk konflik di wilayah tersebut.

Majalah Time, selama krisis tahun 1980., mengutip pandangannya yang mengatakan bahwa ketika Iran memahami Al Qur’an “mereka akan merilis kondisi para sandera secepatnya”. Wawancara muncul dalam Psychology Today, Harvard Divinity Bulletin, dan di Philadelphia Inquirer dan surat kabar Pittsburgh Press. Ia melanjutkan pengajarannya dan bimbingan pribadi untuk murid-muridnya serta para tamu, hingga wafatnya tanggal 8 Desember 1986.

WarisanPada bulan Mei, 1984, Masjid Syaikh MR Bawa Muhaiyaddeen diselesaikan atas dasar Bawa Muhaiyaddeen Fellowship, 5820 Overbrook Avenue, Philadelphia. Bangunan masjid diseselaikan dalam waktu 6 bulan dan hampir semua pekerjaan dilakukan oleh anggota Bawa Muhaiyaddeen Fellowship di bawah arahan Bawa Muhaiyaddeen.

The Bawa Muhaiyaddeen Fellowship Farm memiki area 100 hektar (0,40 km2) lahan pertanian yang terletak di Chester County, Pennsylvania tepat di sebelah selatan kota kecil Coatesville pada 99 Fellowship Drive. Titik pusat peternakan adalah makam Bawa Muhaiyaddeen atau Mazar. Hal itu dimulai segera setelah kematiannya dan diselesaikan pada tahun 1987. Ini adalah tempat ziarah bagi sufi dan Syaikh mereka, serta sebagai Muslim dan pengikut bahkan ada pengikut agama lain.Bawa Muhaiyaddeen didirikan vegetarianisme sebagai norma bagi masyarakat dan produk daging tidak diizinkan di pusat Fellowship di Philadelphia atau di Farm Fellowship.

Dia adalah seorang seniman, sebuah lukisan dibuat dan gambar yang melambangkan hubungan antara manusia dan Allah. Dia menggambarkan karya seni sebagai “pekerjaan jantung.” Dua contoh yang direproduksi dalam bukunya berjudul Kebijaksanaan Manusia dan lain adalah sampul depan buku Empat Langkah Menuju Iman Sejati. Pada 1976, Bawa Muhaiyadeen album dzikr kontemplasi direkam dan dirilis, pada Folkways Records berjudul, Into the Secret of the Heart by Guru Bawa MuhaiyaddeenBawa Muhaiyaddeen menulis lebih dari 25 buku. Kitab-kitab ini dibuat lebih dari 10.000 jam transkripsi rekaman audio dan video dari wacana dan lagu-lagu di Amerika Serikat 1971-1986. Beberapa judul berasal dari Sri Lanka sebelum kedatangannya di AS dan kemudian ditranskrip. The Bawa Muhaiyaddeen Fellowship terus mengajarkan dan menyebarkan repositori ajarannya ini,i tidak menunjuk pemimpin baru atau Syekh untuk menggantikan perannya sebagai guru dan panduan pribadi.

Gelar kehormatanBawa Muhaiyaddeen disebut sebagai Guru atau Swami atau Syeikh atau ‘His Holiness’, tergantung pada latar belakang pembicara atau penulis. Dia juga sebagai ‘Bawangal’ oleh orang-orang Tamil yang dekat dengan dia dan yang ingin menggunakan tanda hormat. Ia sering menyebut dirinya sebagai ‘manusia semut’, karena saking kecilnya dalam kehidupan semesta ciptaan Allah swt.

Setelah kedatangannya di Amerika Serikat pada tahun 1971, ia paling sering dipanggil dengan Guru Bawa dan ia mendirikan Guru Bawa Fellowship. Pada tahun 1976, ia merasa bahwa istilah ‘guru’ telah disalahgunakan oleh orang lain yang belum guru sejati dalam estimasi-nya. Pada tahun itu, ia memutuskan untuk membuang nama Guru dalam organisasinya, dan hanya menjadi nama Bawa Muhaiyaddeen Fellowship saja. Sebagian besar mahasiswa Amerikanya menggunakan nama akrab ‘Bawa’ ketika berbicara tentang dia.



Makam Syaikh Muhammad Raheem Bawa Muhaiyaddeen

Pada tahun 2007, sebuah kehormatan baru, namun gelar ini dari para muridnya sebagai Quthb, telah digunakan oleh murid-muridnya dalam publikasi pembicaraan Bawa Muhaiyaddeen’s . Quthb secara harfiah berarti tiang atau sumbu., Dan menandakan pusat spiritual yang menjelaskan dan mengungkapkan melalui kebijaksanaan Ilahi hakikat manusia. Nama Muhaiyaddeen itu sendiri berarti ‘pemberi hidup untuk keyakinan agama’ dan telah dikaitkan dengan Qutbs sebelumnya.. Dengan menggunakan judul yang tinggi, murid-muridnya sedang melakukan presentasi dia sebagai seorang guru universal untuk era ini.

Diantara kata-katanya

“Doa yang Anda lakukan, tugas yang Anda lakukan, amal dan cinta yang Anda berikan adalah sama hanya satu tetes. Tetapi jika Anda menggunakan satu tetes, terus melakukan tugas Anda, dan terus menggali dalam, maka musim semi Rahmat Allah swt, dan sifat-sifat-Nya akan mengalir dalam kelimpahan.”

"Orang dengan kebijaksanaan akan tahu bahwa penting untuk memperbaiki kesalahan mereka sendiri, sementara orang tanpa kebijaksanaan merasa perlu untuk menunjukkan kesalahan orang lain. Orang dengan iman yang kuat tahu bahwa penting untuk membersihkan hati mereka sendiri, sedangkan mereka yang goyah iman berusaha untuk menemukan kesalahan dalam hati dan kesalahan ibadah orang lain. Ini menjadi kebiasaan dalam hidup mereka.. Tetapi mereka yang berdoa kepada Allah swt, dengan iman, tekad, dan kepastian, akan mengetahui bahwa hal yang paling penting dalam hidup adalah menyerahkan hati mereka kepada Allah swt. "

"Hal-hal yang senantiasa berubah ini bukanlah kehidupan nyata kita. Di luar diri kita ada satu sosok lain dan keindahan lain yang selalu dipancari cahaya abadi yang tidak pernah berubah.. Kita harus menemukan cara untuk berpadu dengan keabadian itu dan menjadi satu dengan yang hal yang tidak berubah. Kami harus menyadari dan memahami hal ini sebagai harta karun kebenaran Itulah sebabnya kami datang ke dunia ini.. "

"Cintaku pada Anda sekalian, anak-anakku. Sangat sedikit orang yang akan menerima obat kebijaksanaan Pikirannya masih menolak kebijaksanaan.. Tetapi jika Anda setuju untuk menerimanya, Anda akan menerima rahmat, dan ketika Anda menerima rahmat itu, Anda akan memiliki derajat yang baik. Bila Anda mendapatkan kualitas yang baik, Anda akan tahu cinta sejati, dan ketika Anda menerima cinta, Anda akan melihat cahaya Ketika Anda menerima cahaya, Anda akan melihat kemegahan itu,. dan ketika Anda menerima bahwa kemegahan hakiki, kekayaan dari tiga dunia akan lengkap di dalam diri Anda Dengan kelengkapan ini, Anda akan menerima Kerajaan Allah, dan Anda akan mengenal Sang Raja. Bila Anda melihat Sang Rajamu, semua koneksi Anda ke karma, kelaparan, penyakit, usia tua akan meninggalkan dirimu”

Cucuku sekalian…. inilah cara yang sebenarnya. Kita harus melakukan segala sesuatu dengan cinta dalam hati kita. Allah adalah milik semua orang. Dia telah memberi persemakmuran untuk semua ciptaan-Nya, dan kita tidak harus untuk diri kita sendiri. Kita tidak boleh mengambil lebih dari bagian kami. Hati kita harus meleleh dengan kasih, kita harus berbagi segalanya dengan orang lain, dan kita harus memberikan kasih untuk membuat orang lain damai. Kemudian kita akan memenangkan keindahan kita yang sebenarnya dan pembebasan jiwa kita. Silakan berpikir tentang hal ini. Berdoalah, tingkatkan kualitas yaqin pada Allah swt, bertindaklah untuk Allah swt, dan berimanlah pada Allah swt, dan beribadahlah pada Allah swt, karena ibadah itu kasih karuniaNya padamu. Jika Anda memiliki ini, Allah swt, akan menjadi milikmu dan kesejahteraan yang datang akan menjadi milikmu.

Wahai cucu-cucuku, sadari hal ini dalam hidup Anda. Pertimbangkan hidup Anda, carilah kebijaksanaan, carilah pengetahuan, dan carilah rahmat Allah swt, yang di dalamnya ada pengetahuan Ilahi, dan carilah derajat dari-Nya, kasih-Nya, dan tindakan-Nya. Itu akan bagus. Amin. Ya Rabbal-'alamin. Ijabahilah wahai Robbul Alamin. Semoga Allah swt memberi semua ini padamu. "

Literatur dan Buku yang diterbitkan murid-muridnya

Sejumlah buku telah diterbitkan oleh murid-murid Bawa Muhaiyaddeen yang isinya adalah eksplorasi ajarannya, dari sudut pandang dan pemahaman mereka, telah memberi pengaruh positif bagi kehidupan mereka.Antara lain:

Owner's Manual for the Human Being by Mitch Gilbert, One Light Press publisher, 2005, ISBN 0-9771267-0-6The Illuminated Prayer: The Five-Times Prayer of the Sufis by Coleman Barks and Michael Green, Ballantine Wellspring publisher, 2000, ISBN 0-345-43545-1

Menurut penerbit, buku tersebut "menawarkan pengenalan menarik untuk kebijaksanaan dan ajaran kontemporer tercinta master sufi Bawa Muhaiyaddeen, yang membawa kehidupan baru ke tradisi sufistik dengan membuka jalan ke yang paling dalam, realitas universal itu. Pecinta hasil karya dari dua mahasiswa Bawa paling terkenal, Coleman Barks dan Michael Green, yang juga mengarang buku, The Illuminated Rumi. "

One Song: A New Illuminated Rumi by Michael Green, Running Press publisher, 2005, ISBN 0-7624-2087-1My Years with the Qutb: A Walk in Paradise by Professor Sharon Marcus, Sufi Press publisher, 2007, ISBN 0-9737534-0-4

THE MIRROR Photographs and Reflections on Life with M.R. Bawa Muhaiyaddeen (Ral.) by Chloƫ Le Pichon and Dwaraka Ganesan and Saburah Posner and Sulaiha Schwartz, published privately by Chloƫ Le Pichon, 2010, ISBN 0-6153-3211-0

Terdiri 237 halaman format besar kompilasi fotografi dengan komentar oleh 78 kontributor.Coleman Barks, seorang penyair dan penerjemah ke dalam bahasa Inggris karya-karya dari penyair sufi abad ke-13 Jalal ad-Din Muhammad Rumi, menggambarkan bagaimana ia bertemu Bawa Muhaiyaddeen dalam mimpi pada tanggal 2 Mei 1977. Sebagai hasil dari pertemuan mimpi itu, ia mulai menerjemahkan puisi Rumi. Coleman akhirnya bertemu Bawa Muhaiyaddeen secara pribadi pada bulan September, 1978 dan terus memiliki impian di mana ia akan menerima ajaran. Dalam perkiraan Coleman, Bawa Muhaiyaddeen berada pada tingkat pencerahan yang sama seperti Rumi dan Shams Tabrizi, pendamping Rumi.

Sumber: Sufinews.com dan lainnya

Kekaguman Tawaddu Dan Nasehat


Suatu hari Abah Haji Guru Zuhdi bertemu dgn Qori Guru Samani. Beliau ini Qori sekaligus Guru di pesantren Al Falah.
Abah Haji pernah ketemu Guru Samani waktu acara peringatan Isra Mi'raj dimana Guru Samani yg mengaji nya.
Berkata Abah Haji Guru Zuhdi kpd Guru Samani. Aku kesini ketemu pian hendak bertanya apa amalan pian selama ini.
Kata Guru Samani, ulun tidak ada punya amalan apapun. Lalu Abah Haji berkata, Ulun jadi bertanya amalan kpd pian krn waktu acara peringatan Isra Mi'raj dan saat pian yg mengaji nya, ulun melihat Rasulallah itu hadir sehingga ulun hendak tahu apa amalan pian sampai Rasulallah hadir di acara itu saat pian mengaji nya.
Dan Aku kata Abah Haji sebelum nya tdk kenal dgn pian, kenal dan ketemu nya saat acara peringatan Isra Mi'raj tersebut.


Ulun kata Abah Haji kagum dgn pian, sehingga lun hendak minta amalan jua dengan pian,beri lun amalan pian krn Rasulallah hadir saat pian mengaji. Maka sambil menangis terharu di jawab Guru Samani,pian kada pantas minta amalan dgn ulun, pian lebih hebat dari ulun, buktinya pian bisa melihat hadir nya Rasulallah sedangkan ulun tdk bisa melihat dan ulun tdk punya amalan apa apa selain lun suka mengaji Al Qur'an dan mengajarkan mengaji Al quran kpd masyarakat . Begitulah Akhlak dan Tawadhu nya Abah Haji yg tdk segan segan meminta amalan kpd siapapun, dan Tawadhu nya Guru Samani yg merasa tdk punya amalan apa apa.

Guru Samani juga sering melatih Qori qori yg akan bertanding keluar daerah utk Tilawatil Qur'an. Dan banyak di antara mereka yg menjadi juara. Sehingga pihak kotamadya, atau pun provinsi sering mehubungi Guru Samani utk melatih Qori qori yg akan lomba

Kemudian Abah Haji Guru Zuhdi memberi nasehat, pepadahan kepada Guru Samani agar tdk usah lagi melatih Qori qori yg akan ikut lomba Tilawatil Quran, cukup mengajarkan kpd masyarakat aja bkn utk lomba karena kata Abah Haji, Rasulallah tdk suka akan hal itu dan Abah Haji juga menasehati akan lbh baik di pesantren Guru Samani mengajarkan Tajwid dan baca Al Quran.
Maka kata Guru Samani, sejak Abah Haji menasehati beliau seperti itu agar tdk usah lg mengajarkan melatih qori utk lomba, sejak itu juga tdk ada lg panggilan telpon dr mana mana yg meminta beliau utk melatih qori qori tersebut. Dan Guru Samani pun berhenti melatih Qori qori utk perlombaan Tilawatil Quran,khusus utk mengajarkan baca Al quran kpd masyarakat saja.

Sumber Segala Penyakit Hati



Majelis Ilmu Mesjid Jami sei Jingah Banjarmasin
Kitab Hidayatul Salikin Sech Abdu Samad Palimbani(palembang)
Malam Ahad 7 Oktober 2017

Berkata Abah Haji Guru Zuhdi...
Kata Imam Gazali.....Segala perkara 3, Riya,ujub,hasad adalah ibu dari segala sifat kejahatan di dlm hati.

1.Riya ,suka minta di lihat makhluk. Apabila di tengah org banyak rajin ibadah. Karena suka di lihat makhluk itu lah. Dan itu pekerjaan yg melelahkan akan tetapi krn suka di lihat makhluk mk di senangi nya. Dan ini dinding kpd Allah. Karena hrs nya suka di lihat Allah suka di dengar Allah.
Apabila di tempat sepi akan malas beribadah krn tdk ada rasa suka nya itu yaitu suka di lihat makhluk.

2. Ujub,Suka menceritakan diri akan kelebihan diri.
Yang kaya suka menceritakan kekayaan nya shg menuntut utk minta pujian. Dalam tasawuf di sebut Ananiyah yaitu keakuan.
Kalo Riya suka minta nilai org sedang Ujub suka menampakan kelebihan diri,suka menampakan kisah diri.Sedang Hati yg bersih tdk suka menampakan kisah diri.

3. Hasad tdk ingin pemberian itu tdk sama kpd org itu. Apabila Allah kasih rejeki yg banyak kpd org lain mk org hasad hendak dpt rejeki sprt itu juga.

Tidak mau di bedakan oleh Allah.Apabila ada yg kaya mk dia ingin kaya juga dan akan sangat marah apabila miskin dan marah kpd yg kaya itu.
Padahal tanda Allah sayang kpd hambanya ada khususan yg di beri Allah yaitu Bala.
Allah beri sakit karena Allah sayang,sayang nya Allah dengan mengambil dosa dlm badan kita. Sehingga saat sehat,kita jadi bersih krn dosa sdh diambil Allah.
Jadi Saat Sakit ingatkan dlm hati bahwa dosa di ambil oleh Allah mk tenang hati kita,senyum kita saat sakit.



Miskin adalah anugerah khusus dr Allah.
Rasulallah berkata Aku suka miskin dan Aku akan berkumpul dgn org miskin.
Orang Miskin apabila meninggal tdk di Hisab di akhirat krn tdk ada harta yg perlu di hisab.
Apabila kita tdk terima dgn belain(di bedakan) pemberian Allah maka Hasad namanya,iri dengki.
Sumber dari Riya,ujub dan Hasad yaitu suka akan kenyamanan dunia. Hendak hidup nyaman dan tdk mau sakit. Nyaman adalah tujuan hidup nya.

Apabila tdk mau menerima apapun yg di berikan Allah maka org ini melawan takdir.
Berusaha dgn sekuat tenaga bekerja siang malam tp tdk sugih dan tdk menerima apa yg di berikan Allah yaitu Allah memberi miskin mk sama menentang takdir.
Padahal saat tdk menerima takdir tetap takdir tdk akan berubah,krn tdk berubah inilah yg membuat sakit hati dan marah.

Tidak menerima ini lah yg menyakitkan hati kita. Walau hati keras tdk menerima, tetap takdir tdk akan berubah shg semakin sakit hati.Semakin tdk terima semakin sakit hati. Caranya supaya jgn sakit hati saat Allah menentukan takdir kita yaitu Belajar menerima dgn apa yang di takdirkan Allah.
Marah tdk menerima takdir Allah ini lah hukum nya Haram.
Hati yg bersih yaitu nyaman di syukuri dan saat dapat Bala belajar mengerti dgn menerima.
Tidak menerima apa yg di takdirkan Allah ini penyebab sakit hati dan penyakit hati sprt riya,ujub,hasad.

Semenjak kecil anak dididik utk hidup jangan terlalu nyaman. Sehingga saat nanti dpt Bala mau menerima.
Jalan keluar supaya jangan sakit hati saat dapat Bala dgn belajar mengerti sehingga menerima.
Supaya hati bisa menerima dgn Khusnuzon sangka baik.
Supaya bisa Khusnuzon dgn selalu berpikir positif. Seperti minum obat pahit akan tetapi krn berpikiran positif obat ini menyembuhkan maka akan minum obat itu krn tahu akan khasiat nya.
Supaya selalu berpikiran positif dgn selalu belajar menerima.

Hati yg bersih tdk pernah tergoda akan hal yg negatif sll bisa menyaring utk menjadi positif.
Saat kita sangkal marah dan tdk terima mk kita bermasalah dgn Allah.
Dan Allah berfirman apabila engkau tdk terima dgn apa yg Aku beri dan bermasalah dgn Ku mk silahkan cari Tuhan selain Aku dan jgn tinggal di bumi Ku. Itulah kemarahan Allah dgn org yg tdk mau menerima apapun yg di takdirkan Allah.

Apabila selalu dapat menilai semua bagus apapun yg di beri Allah maka itu tanda Hati bersih.
Berapa pun rejeki dr Allah sll hati bilang Cukup aja.
Datang nikmat,baik. Datang Bala,baik.

Jangan lg hidup sedih,selalu hadapi. Selalu ucapkan ini ,cukup ya Allah.
Terbiasa nyaman, saat keadaan sakit mk tdk terima,sangkal pusang dan marah. Lalu supaya terbiasa nyaman lalu hidup dgn berhutang.

Allah akan menghabiskan harta yg di dapatkan dr Riba.
Tidak akan pernah sugih,org yg mendapatkan harta nya dr riba.Riba itu bayar berlebih.
Dan Allah menyugihkan org yg bersedekah.
Orang yg berhutang sdh penuh derita dan sakit lalu di hutangi dgn cara bayar nya berlebih mk itu bukan membantu malah membuat org semakin menderita.
Sedangkan sedekah itu ,Allah memberi rejeki tp msh bisa menyisakan utk di beri kpd org yg menderita shg Allah meanggap kita yg bersedekah cocok menjadi bendahara Allah shg Allah beri lg rejeki yg banyak. Dan org yg paling pemurah adalah Rasulallah shg Allah yg memberi,Rasulallah lah yg membagi.

Saat Allah memberi kan bala, ketidaknyamanan hidup tetap lah ranai,diam jgn pernah menceritakan hal itu kpd makhluk. Karena hal itu sama dgn kita menceritakan perbuatan Allah kpd makhluk shg kita suul adab tdk beradab kpd Allah.
Cukup hanya Allah yg tahu.

Asal segala penyakit karena tdk mau menerima sakit dan hendak selalu nyaman.
Jangan sampai otak kita di cuci dgn kenyamanan dunia. Saat terbiasa pakai kendaraan jgn gengsi jalan kaki.

Mudahan kita mencari rejeki yg banyak dan Halal dan punya sifat pemurah.
Apabila hendak nyaman,apa yg kita miliki, itu yg kita nikmati syukuri dan yg tdk dpt di beli jgn di pikirkan dan jgn sampai berhutang.
Mahal kemampuan daripada harta.

Kepada anak kemampuan/kebisaan yg kita ajarkan kpd anak kita yaitu mampu menerima kehidupan di dunia yaitu mampu menerima bala dan musibah.
Apabila anak pintar mk jalan nya hanya satu,suruh belajar menerima apapun baik bala dan musibah.
Silahkan di save atau di share ,mudahan bermanfaat

Sumber :  Pecinta Waliyullah

KH. Abdul Ghani Tokoh Pendiri Mesjid Assu'ada Amuntai



Di Amuntai Kabupaten Hulu Sungai Utara, tepatnya di desa Waringin, Kecamatan Haur Gading, terdapat masjid tua bernama Masjid Assu’ada yang selama ini tidak banyak diketahui masyarakat Kalimantan Selatan, lantaran lokasinya yang agak terpencil, dan prasarana jalan yang relative sempit untuk menuju masjid tersebut. Lokasi masjid ini sebenarnya tidak terlampau jauh dari kota Amuntai, mungkin hanya sekitar 7 km, namun kendaraan roda empat hanya bisa sampai ke desa Teluk Keramat Haur Gading, selebihnya untuk menuju masjid ini harus memakai kendaraan roda 2 atau berjalan kaki sejauh kira-kira 1.5 km menelusuri jalan sempit di pinggiran sungai.

Masjid Assu’ada memang masjid tua. H. Barkati, kepala desa Waringin yang juga juru pelihara masjid, masjid ini dibangun pada tahun 1901. Informasi ini diperolehnya dari kakeknya bernama H. Muslim. Pada saat masjid itu dibangun H. Muslim kecil berumur sekitar 7-10 dan sudah berakal dan berani berjalan sendiri ke pasar Ahad. Menurut H. Muslim salah satu tukang pembangun masjid itu adalah H. Ahmad bin Abu yang tidak lain adalah datuk H. Barkati.

Menurut versi lain sebagaimana terdapat dalam laporan pendokumentasian Masjid Assu’ada yang dilaksanakan oleh Bidang Permuseuman dan Kepurbakalaan Kanwil Depdikbud Provinsi Kalsel tahun 1987, masjid ini diperkirakan dibangun pada tahun 1886. Perkiraan ini didasarkan kepada inskripsi dengan aksara arab melayu pada cungkup makam salah seorang ulama sekaligus pendiri masjid yakni H. Abdul Gani di Kampung Teluk Keramat. Pada kubah tertulis: Almarhum Syeikh Haji Abdul Gani wafat 15-4-1336 H, 19-1-1916 M. Kalau yang bersangkutan meninggal dalam usia 70 tahun, aktif membangun masjid dalam usia 40 tahun maka diperkirakan masjid berdiri pada tahun 1886 M.

Informasi lain menyatakan bangunan masjid di lokasi sekarang merupakan pindahan dari lokasi pertama yang berada di pinggir sungai Waringin (aliran Sungai Hanyar cabang Sungai Tabalong) yang terancam longsor berada persis di arah barat depan masjid sekarang (versi lain menyatakan lokasi pertama berada di seberang sungai). Berdasarkan keterangan tersebut, dapat diperkirakan bahwa masjid pertamakali dibangun sekitar tahun 1886 dengan lokasi di pinggir sungai Waringin. Karena pondasi masjid runtuh/lonsor akibat abrasi sungai, maka sekitar tahun 1901 bangunan masjid dibongkar dan dipindah ke lokasi sekarang, tidak jauh dari lokasi pertama.

Bangunan pertama yang semula bertipe lantai panggung, ketika dibangun kembali di lokasi kedua lantainya tidak lagi ulin melainkan dengan tehel (ubin) yang didatangkan dari Singapura. Pada waktu itu, sebagian penduduk Waringin dan sekitarnya ada yang berprofesi sebagai pedagang antar pulau. Mereka berlayar hingga sampai ke pulau Jawa, Sumatera, bahkan Singapura dan Semenanjung Malaya, sehingga ketika kembali ke kampung halaman mereka membawa barang dagangan, atau bahan yang diperlukan untuk pembangunan masjid seperti ubin, dan lain sebagainya.


Selain tokoh ulama dan sekaligus pendiri masjid yakni H. Abdul Gani (asal kelahiran Alabio), tokoh ulama lainnya yang berperan terhadap masjid ini adalah H. Nawawi, H. Durahman, dan H. Marhusin di Waringin, serta H. Mahmudin dari Tengkawang. Mereka adalah juga tokoh ulama yang berperan penting dalam kegiatan ibadah sholat, pengajian, dan dakwah kepada masyarakat Waringi, Haur Gading, Tengkawang, dan sekitarnya.

Masjid ini merupakan masjid tertua dan satu-satunya di Waringin, dan Haur Gading. Waringin, dahulunya terdiri dari berbagai desa seperti Waringin, Tengkawang, Teluk Haur, dan Tuhuran. Sedangkan Haur Gading juga terdiri dari beberapa desa yakni Haur Gading, Keramat, Jingah Bujur, Pulutan, dan Tambak sari Panji. Waringin dan Haur Gading, dahulunya hanya punya satu masjid yakni Masjid Assu’ada Waringin.

Masyarakat desa-desa itu selalu menjalankan ibadah sholat Jumat di masjid ini. Bahkan di sinilah tempat dilaksanakan mengaji duduk, yang mana para jamah pengajian dari beberapa kampung dan bahkan konon dari kampung Negara datang ke Waringin dengan perahu tambangan untuk mengaji di Waringin yang saat itu tekenal memiliki ulama besar seperti halnya H. Abdul Gani. Oleh karena itu, ada yang mengaitkan bahwa asal nama desa Waringin karena dahulunya desa ini tempat beradanya ulama-ulama yang Wara’ yakni istilah bagi ulama yang apik dalam melaksanakan ibadah. Ada pula yang mengatakan bahwa dinamakan Waringin karena dahulunya di tepian sungai Waring ini tumbuh pohon beringin.

Pada saat didirikan untuk pertama kalinya dan ketika bangunan masjid ini dipindah ke lokasi sekarang ini, masjid ini dahulunya bernama Masjid Assuhada. Penamaan itu mungkin berkaitan dengan usaha para pendiri masjid yang berdakwah menyebarkan Islam di daerah Waringin dan sekitarnya dan mendirikan masjid di sini. Perjuangan mereka dianggap jihad fi sabilillah dan mereka yang berada di jalan itu disebut sebagai syuhada atau syahid.

Kini masjid ini dinamakan Masjid Assu’ada. Assu’ada berasal dari kata Su’ada artinya ”beruntung”. Perubahan nama dari Assuhada menjadi Assu’ada menurut informasi H. Abdul Wahab (63 tahun) terjadi pada tahun 1965-an, yakni pada saat panitia masjid diketuai oleh H. Abdurrahman, seorang ulama lulusan Pesatren Gontor Ponorogo. Tidak diketahui secara pasti latar belakang perubahan nama tersebut.

Setelah sekian lama berdiri dan seiring semakin tuanya kondisi fisik masjid serta pertambahan jamaah masjid sehingga bangunan masjid tidak lagi mampu menampung jamaah sholat jumat, maka pada tahun 1970-an dilaksanakan renovasi oleh panitia masjid. Nama-nama panitia masjid saat itu antara lain: H. Asnawi, H. Syahdan, H. Husin, H. Tarman, Sar,ie. Renovasi dilakukan dengan memperluas bangunan induk dengan mengganti dinding dengan kayu ulin, serta memperluas ruang mikrab dengan bangunan beton. Meski ruang mikrab diperluas, model kubahnya tetap seperti semula yakni kubah model bawang dengan pataka.

Sehubungan atap masjid banyak yang telah bocor, maka pada tahun 2009 dilakukan lagi renovasi dengan mengganti atap sirap dengan atap metal zincalum/roof. Pada saat penggantian inilah, beberapa hiasan ujung talang atap masjid (simbar, cabang) yang ada pada ketiga tingkatan atap masjid, dilepas atau tidak dikembalikan ke posisi semula.

Hiasan sejenis jamang (rumbai pilis, buntut hayam) pada Masjid Assu’ada Waringin yang lazim di sebut simbar, dapat dilihat pada atap Masjid Su,ada di desa Wasah Hilir Kabupaten Hulu Sungai Selatan, pada Masjid Syekh Abdul Hamid Abulung Sungai Batang, Martapura, Kabupaten Banjar, dan pada Masjid Quba di Amawang Kanan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (kini sudah tidak ada lagi, dan hanya dapat dilihat pada foto masjid sebelum mengalami renovasi).

Pada tahun 2010, kembali dilakukan pemugaran dengan mengganti bahan kayu sintok pada kubah bangunan induk menjadi kayu balangiran, serta membeton bangunan mikrab dan mengganti kubah migrab dengan bahan baru, meski bentuk kubahnya masih dipertahankan.

Bulan April 2012, masjid ini kembali direnovasi dengan cara meninggikan lantai masjid, namun ubin tua tetap dipertahan. Peninggian lantai dilakukan karena sebelumnya telah pernah terjadi banjir pasang yang nyaris menenggelamkan lantai masjid. Biaya meninggikan lantai masjid ini ditanggung sepenuhnya oleh warga keturunan Banjar asal Johor Malaysia, yang orang tuanya dahulu berasal dari desa Waringin.

Keaslian yang dapat dilihat pada masjid ini selain konstruksi atap tumpang yang masih dipertahankan adalah adanya hiasan puncak kubah bangunan induk yang disebut pataka (mustaka, memolo) dengan beberapa hiasan ujung talang masjid (simbar, cabang). Selain itu tiang utama atau soko guru, mimbar, ubin, beduk, dan 2 buah daun pintu dengan ukiran hiasan bermotif tumbuhan dan kaligrafi di sisi utara dan selatan juga masih dipertahankan. Dahulunya daun pintu itu ada 3 yakni satunya lagi ada di dinding masjid sebelah timur. Inskripsi berupa kaligrafi pada pintu masjid itu berbunyi: abubakar umar wallahu khalakakum wama ta’ maluna lailahaillalahu muhammadarrasulullahu usman ali.

Hingga sekarang, masjid ini tetap dikunjungi penziarah dari berbagai daerah. Pengunjung yang berziarah selain untuk memenuhi nazar, juga tertarik dengan kekunoan masjid ini. Saat berkunjung mereka biasa meletakkan untaian kembang di mimbar masjid. Sebagian pengunjung beranggapan bahwa atap masjid yang mempunyai tingkatan mempunyai makna: (a) Empat sahabat utama Rasul, yaitu Abubakar, Umar, Usman dan Ali; (b) empat mazhab besar dalam Islam yaitu Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali; (c). Empat tingkat menuju kesempurnaan keyakinan dalam Islam yaitu Syariat, Tharikat, Hakikat dan Ma’rifat

-http://aladamyarrantawie.blogspot.com/

500 lebih Foto Abah Guru Sekumpul

Arsip Blog