Rabu, 28 Maret 2018

Benarkah KIta Sudah Cinta Kepada Abah Guru Sekumpul..?



Saya adalah orang awam yang tak pantas berbicara apapun. Namun, jiwa ini merasa perlu untuk mengutarakan sisi lain dari sebuah pemikiran kebanyakan.

Saat ini, H-1 acara haul terbesar di Asia akan diselenggarakan. Puluhan ribu relawan siap dikerahkan untuk membantu acara. Tidak ada unsur politik, tidak ada bagi-bagi kursi ulama, tidak ada saracen ataupun cebong-cebong nakal yang menghasut para jemaah agar go to Sekumpul. Ini murni acara haul, sebuah acara peringatan meninggalnya seorang Waliyullah, Syaikh Zaini Abdul Ghani atau lebih akrab disapa dengan sebutan Abah Guru, Guru Sekumpul atau Guru Ijay. Guru yang ketampanan, kesolehan dan kemasyhurannya yang luar biasa. Buya Yahya mengagumi, Ustadz Abdul Shomad juga mengagumi, bahkan Ustadz Arifin Ilham juga akan berhadir di acara haul 2018 ini.

MasyaAllah, siapa yang tak kenal beliau? Seorang ulama yang diberi gelar wali kutub yang masyhur di tanah Kalimantan Selatan. Banyak kalangan pejabat dari tahun bahuela yang datang ke tempat beliau. Seperti Gusdur, dll. Dan, terakhir mungkin Pak Jokowi di acara haul ke -13 ini, sungguh tak di luar dugaan.

Jamaah Haul, saudara saudari yang saya cintai...

Kita adalah jamaah...

Mungkin benar kita pernah duduk di majelis beliau, atau kita hanya sempat menonton beliau di acara televisi atau cuma pernah mendengarkan ceramah beliau di radio, atau kita hanya diceritakan oleh orangtua kita bahwa ada ulama yang menawan, pintar, qonaah dan terkenal yakni Abah Guru Sekumpul.

Lantas, kita menjadi cinta karena kisah, kita menjadi cinta karena mendengarkan beliau ceramah, atau menjadi cinta karena tabarruk bahwa guru kita cinta, atau kita menjadi cinta karena banyak tulisan orang lain di facebook yang mengatakan CINTA.

Marilah.. Kita renungi kembali... Apakah betul kita cinta dengan Abah Guru? Apakah hanya euforia semata? Temen berangkat, kita berangkat. Temen aplut foto, kita juga tak mau kalah, ikut-ikutan aplut foto.

Laa haulaa wa laa quwwata ilaa billaah...

Banyak saya menyaksikan, para jemaah yang tersebar di seantero negeri, dari kota terdekat di Martapura, hingga ke Mancanegara saling lempar foto. Ada foto selfie dengan kendaraan, selfie di dalam pesawat, dan lain-lain.



Gembira? Tentu kita sangat gembira sebab karomah Waliyullah Guru kita tercinta dipancarkan melalui cahaya cinta jamaahnya. Siapa yang tidak gembira jika Umat Islam dikumpulkan dengan begitu mudahnya pada acara haul akbar ini? Siapa yang tidak gembira, banyak para pedagang, tukang pentol, tukang galon, dan penjual baju koko gamis seperti saya jadi terciprat berkah rejekinya? Siapa yang tidak gembira jika dengan acara ini, banyak keluarga bertolak ke Martapura padahal sebelumnya berkumpul di rumah saja susah bukan main? Siapa yang tidak berbahagia?

Tetapi, setiap kolam ikan pasti ada ikan yang mati. Begitulah juga dalam perayaan haul guru kita ini. Tiada ada yang sempurna. Tetapi, tugas kita adalah bagaimana mengurangi ketidaksempurnaan.

Hal itu sudah dapat dibuktikan oleh Bupati, Pemerintah dan para relawan. Jika dahulu, acara haul membuat jalan menjadi macet total, sehingga banyak pengguna jalan lain yang tidak mengikuti acara haul menjadi tertanggu, sekarang pelaksanaannya tidak semacet dahulu. Jika dahulu angka kecelakaan banyak, mungkin sekarang bisa sedikit atau tidak sama sekali. Saya ucapkan terimakasih pada semua yang berkontribusi.

Saya bertanya lagi, apakah memang benar kita cinta dengan Abah Guru?

Kita mengaku cinta, tetapi posting foto yang memperlihatkan aurat kita?

Kita mengaku cinta, tetapi banyak wanita yang tidak risih aurotnya dilihat lelaki saat berwudhu di tempat acar?

Kita mengaku cinta, tetapi saat di acara merokok sana merokok sini bahkan asapnya terkena balita.

Kita mengaku cinta? Tetapi bukannya asyik zikir, kita malah foto foto, rekam aplut instastory mengabarkan aktivitas ibadah kita.

Kita mengaku cinta? Tapi berangkat ke acara haul naik ojek sama pacar, pelukan, gandengan tak ada rasa "supan"??

Kita mengaku cinta? Bahkan, berangkat ke acara haul pun tak sedikit pun berizin kepada ibu dan ayah, apalagi berlutut di pangkuannya.

Saudara saudariku..

Bukankah yang membuat kita kagum adalah kewalian beliau? Kewalian beliau yang terpancar melalui keilmuan beliau?

Beliau yang selalu mengajak kita kepada kebaikan? Selalu mengajak kita pada sunah Nabi? Selalu mengajak kita untuk mencintai Allah dan RasulNya melebihi cinta kita pada manusia?

Tentu, Abah Guru tak suka dipuja-puji berlebihan. Abah Guru mungkin tak perlu pujian berlebihan. Tetapi beliau perlu bukti bahwa jamaahnya cinta pada beliau. Apa buktinya? Adalah rasa takut, cinta dan harap pada Allah dan RasulNya melebihi pada sesiapa saja. Konkritnya? Ibadah makin kenceng, sedekah makin banyak, sholat makin rajin, riya semakin hilang, ke pengajian makin sering, zikir makin banyak, sholawat makin mantap, dan sebagainya yang Abah Guru pesankan.

MasyaAllah.. Semoga niat kita diluruskan kembali. Sikap kita diperhatikan kembali.

Jangan sampai niat kita beribadah membaca sholawat dalam acara haul, sholat berjamaah dengan jutaan jamaah, adalah hanya karena ikut ikutan sahaja, hanya untuk abadikan momen lalu aplut dan kejar eksis semata.

Kalau memang benar kita cinta? Janganlah membuat Guru Sekumpul ditanya tentang sikap-sikap para jemaahnya yang ghuluw atau mungkin hanya ngikut tren saja. Saya yakin, Abah Guru akan senang dan ditambah pahalanya dan kenikmatannya ketika kita para jamaahnya kerjakan amal sholeh karena beliau sebagai wasilahnya, sehingga amal jariyah mengucur pada guru kita tercinta. Aamiin Allahummaa Amiin...

Akhirul kalam.
Afwan, dari pecinta Abah Guru

Selvia Stiphanie (Penulis buku Perempuan Kertas, Sahabat Surgaku, 7 Rahasia Cinta, Roman Hamidi dari Kalimantan Selatan)

sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1706759376052390&set=a.397729793622028.89864.100001550338426&type=3&theater

Artikel Terkait

0 komentar:

Posting Komentar