Kamis, 25 April 2013

Fitnah Yang Membawa Hikmah


Ketika di Darussalam Abah membicarakan tentang kedudukan niat diterangkan Imam Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin bahwa hakikat niat itu adalah inbi’ats atau motivator penggerak di dalam hati, jadi apa yang menjadi motivasi kita itu adalah niat kita, kalau motivasi kita keridhaan Allah, berarti niat kita karena Allah

Ada orang tidak suka dgn Abah melaporkan ke kantor Dewan Guru, sehingga dari diskusi dewan guru . Abah Guru dikeluarkan saja dari jajaran staf pengajar Darussalam.

Akibat fitnah itu, Abah Guru tidak mau diam dirumah , karena beliau tidak mau keluarga di rumah ikut mendapat fitnah jua . Beliau berdiam Musholla Darul Aman, dengan perbekalaan seadanya . Beliau fokus beribadah hingga beberapa bulan lamanya. Semua itu tidak membuat beliau berkecil hati dengan anugerah Allah, beliau tetap merasa bersyukur atas apapun yang menimpa dan memang harus dijalani.

Bagi Abah Guru hal ini menimbulkan hikmah tersendiri, karena dengan adanya kejadian ini beliau lebih konsentrasi kepada hapalan al-Qur’an, beliau menjadi akrab dengan ayat-ayat kitab Allah tersebut, tanpa harus selalu membuka lembaran-lembarannya, karena pada akhirnya beliau hapal diluar kepala 30 juz wahyu Allah tersebut hanya dalam waktu tidak lebih dari  7 bulan lamanya.

Waktu-waktu berada di Musholla Darul Aman beliau lewati dengan penuh semangat, sehari-harinya hanyalah berada di Musholla. Ia tidak ingin pulang sebelum selesai Khatam menghafalkan Al-Qur'an. Adapun masalah makan ia dapatkan dari sepiring nasi setiap hari yang diberikan oleh keluarganya. Nasi tersebut kemudian beliau bagi menjadi tiga bagian, satu bagian untuk sarapan pagi, sebagian lagi untuk makan siang, dan sisanya untuk makan malam walaupun nasinya sudah agak keras dan terkadang bersemut.

Menyebarnya kabar sesatnya Abah guru , sebagian ulama tak percaya , bagaimana bisa terjerumus kepada hal yang demikian pada beliau orang ‘alim , apalagi beliau adalah kemenakan al-‘Alimul Fadhil Tuan Guru Semman Mulya, rasanya tidak mungkin tuan guru itu akan mendiamkan kemenakannya, jikalau memang ilmu yang diyakini kemenakannya ternyata berbeda dengan faham ahlu sunnah wal jama’ah.

Suatu hari, saat berada dalam Musholla Darul Aman , Guru Darussalam bertanya masalahnya . Abah Guru mengatakan bahwa jawaban  ada di dalam kitab yang dibawa ulama itu, ternyata kebetulan ulama tersebut membawa kitab Ihya ‘Ulumuddin karangan Imam al-Ghazali.

Jelaslah sudah permasalahannya, kalau demikian ini semua adalah fitnah” katanya. Namun Guru Zaini tidak ingin memperpanjang permasalahan ini, bagi beliau cukup Allah SWT saja yang menjadi saksi kebenaran beliau.

Guru Zaini sudah memutuskan untuk tidak kembali lagi mengajar di Darussalam, beliau lebih memilih menyendiri, mendalami ilmu dengan muthola’ah dan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT. Beliau merasakan hikmah dibalik semua kejadian itu sangatlah positif, menjadi lebih dekat dan makrifat dengan Allah SWT. Beliau sering pergi ke makam Syeikh Abdussamad Bugis di Tungkaran, disana beliau banyak beribadah dan memuthala’ah kitab-kitab ilmu agama.

Hikmah kejadian ini melahirkan berkah tersendiri bagi umat muslim di bumi Kalimantan. Dengan keluarnya beliau dari jajaran staf pengajar Pondok Pesantren Darussalam malah membuat beliau menjadi milik semua umat, karena ilmu titipan Allah pada beliau bisa dikaji oleh berbagai kalangan di Majlis Ta’limnya.

Dan akhirnya Abah Guru dapat izin Rasulullah membuka majlis di keraton yang menurut cerita awal muridnya Cuma 7 orang ( salah satu alhmarhum Guru Zaini Mursyid di sekumpul bisa jadi imam di mushalla Ar-raudhah ) . Dan cerita Sofwan, salah seorang santri yang ikut belajar di majelis ta’lim Guru Zaini ketika itu menceritakan, bahwa sekitar penghujung tahun 1966, ia dan teman-temannya yaitu Mahmud dan Fathullah yang menjadi murid Guru Zaini sejak tahun 62-an, mereka disewakan oleh Guru Zaini sebuah rumah untuk tempat tinggal selama mengaji ditempat beliau . Sofwan menceritakan pula bahwa selama berdiam di rumah itu selain mendapatkan bimbingan ilmu dan amal, mereka juga mendapatkan bantuan secara materi dari Guru Zaini yang membelikan kebutuhan hidup mereka sehari-hari; dari beras, lauk maupun kebutuhan lainnya. Malah terkadang Guru Zaini sendiri yang memasakkan makan siang mereka. Sofwan dan teman-temannya pun seusai pulang sekolah di Pesantren Darussalam tinggal makan saja. Di masa itu menurut cerita Sofwan lagi, ia sering mengalami sakit, sehingga Guru Zaini selalu memanggil seorang mantri yang bernama Umar, langganannya, untuk mengobati dirinya.

Menurut cerita sahabatku Ustadz Fauzi di Balikpapan yg bulan2 ini bailing kerumah orang yang menjagakan ketika Abah guru mengafal di Darul Aman itu masih hidup . Beliau asalnya orang martapura asli karena usaha terdiam di balikpapan dan hafal al-qur’an . Inipun beberapa kali asalnya menutupi diri dan akhirnya beliau kasih tahu jua namun beliau tidak mau dikenal orang banyak .

Moga dengan kisah ini kita sabarataan dapat berkah Abah guru … aamiin

Kejadian Di Masa Kecil Abah Guru Sekumpul


Orang yang dimulaikan Allah SWT dari masa kecilnya sudah dipelihara Allah dari perkara-perkara yang tidak disukai agama . Ini sudah sunatullah setiap orang yang bakal menjadi orang mulia dan membawa manfaat bagi orang banyak perjalanan hidupnya selalu penuh cobaan dan pemeliharaan. Begitu juga yang dialami abah guru ketika masa kecilnya >>> Mari kta simak ,,,

Kejadian di Bioskop Kayu Tangi

Kejadian ini bermula ketika pamannya abah guru ( Sebutlah Qusyairi waktu kejadian ini nama beliau belum berganti ) . Paman bermaksud mengajak Qusyairi jalan-jalan ke Pasar Martapura sekaligus menonton film di Bioskop Kayu Tangi, sehingga ia meminta izin kepada Abdul Ghani terlebih dahulu.

Sebenarnya Abdul Ghani ( Abah Qusyairi ) merasa keberatan puteranya diajak jalan-jalan ke pasar apalagi sampai menonton film di Bioskop, namun tidak enak menolaknya Dengan perasaan berat Abdul Ghani mengabulkan permintaan sepupunya, tapi dengan syarat pulangnya jangan terlalu larut malam.
Mereka berdua melewati jalan menuju pusat kota Martapura. Sesampai di Jalan Kayu Tangi, keduanya membelokkan langkah ke sebuah tempat yang telah ramai dikerumuni orang yaitu loket penjualan tiket masuk ke bioskop Kayu Tangi .
Setelah membeli dua tiket itu , pamannya menggandeng Qusyairi menuju ke arah penjaga pintu. Kemudian mereka masuk ke dalam gedung yang gelap. Jauh di muka nampak layar putih disoroti cahaya menimbulkan siluet gambar hidup, tampaknya sebentar lagi tayangan utama akan dimulai. Qusyairi yang sebelumnya tak pernah tahu tentang bioskop hanya bisa terpaku di tempat duduknya. Matanya tak sedikitpun berkedip mengarah pada film yang sedang ditayangkan. Tak berapa lama mendadak semua berubah menjadi gelap-gulita. Suasana mulai gaduh, terdengar suara makian yang sambung menyambung dari kiri kanan bahkan dari seluruh penjuru gedung.
“Maaf para penonton, tayangan tidak bisa dilanjutkan berhubung mesin rusak.”
Akhirnya pertunjukkan filmnya tidak bisa dilanjutkan dan para penonton keluar dengan bersesak-sesakan sambil menyimpan rasa kecewa dihatinya .
Ini suatu kejadian masa kecil Qusyairi dijauhkan dari perkara-perkara yg tidak baik menurut agama dan Selang beberapa waktu terdengar kabar bioskop Kayu Tangi itu roboh .
Sering abah guru berkata “ Ini batis kiriku bengkak gara-gara dulu waktu kecil bisa masuk bioskop kayu tangi di Martapura “ padahal belum sempat menonton filmnya sudah begitu yang dirasakan abah guru kifaratnya … Subhanallah

Pergi Menonton Layar Tancap
Beberapa waktu setelah kejadian tersebut, akan ada pemutaran layar tancap di lapangan Bumi Selamat Martapura pada malam Minggu. Kabar ini disampaikan kepada Qusyairi disertai ajakan untuk pergi melihatnya. Qusyairi senang mendengar ajakan neneknya itu, dan segera minta ijin kepada ayah dan ibunya.
Ajakan tersebut tidak lain karena Salabiah melihat cucunya tidaklah sebagaimana anak sebaya yang dapat mencari hiburan dengan bermain-main. Sehari-hari hanya digunakan dengan belajar di Madrasah, malamnya membaca Al-Qur’an di tempat Guru Hasan, dan sisanya terkadang dihabiskan untuk mengulangi pelajaran dan membantu ayahnya di sawah. Salabiah ingin sekali mengajak cucunya untuk pergi jalan-jalan, namun kehidupan sedemikian susah hingga uang yang terkumpul hanya cukup untuk dimakan sehari-hari.
Malam Minggu tiba, mereka berdua akhirnya pergi ke Lapangan Bumi Selamat usai Shalat Isya. Tempat itu telah dipenuhi dengan lautan manusia bercampur dengan para pedagang yang sedang mengais rezeki. Mereka kemudian bermaksud duduk agak jauh dari Layar Tancap. Mereka mendapati tempat tersebut dan duduk melepas lelah sambil menunggu film dimulai.
Malang tak dapat dikira, seketika sarung yang dikenakan Qusyairi tiba-tiba basah, ia segera mengusap sarung tersebut dan mengendus tangannya yang basah. Rupanya tempat duduk mereka di rerumputan adalah bekas orang kencing. Qusyairi langsung berkata pada neneknya : “Ni, tapih ulun basah, ulun teduduki bekas urang bekamih, kita bulikan ja ni ai!” (Nek, sarung yang saya pakai basah, tempat yang saya duduki bekas orang kencing, kita pulang saja ya nek!) Mereka kemudian memutuskan pulang ke rumah, dan tidak jadi berhibur diri menyaksikan layar tancap.
Mengingat kejadian-kejadian yang menimpa cucunya tersebut, terbayanglah di benak Salabiah petuah Tuan Guru Zainal Ilmi “Di rumah ada saikung pun, peliharapun, peliharapun.”
Moga bisa jadi ilmu , hikmah untuk kita ikuti akhlak mulia ini dan kita mendapatkan berkah abah guru karena ada cinta dan mengisahkan perjalanan hidup beliau yang penuh hikmah bagi kita … aamiin

Sabtu, 13 April 2013

Perjuang Jerih Payah Abah Guru Sekumpul




Assalamu 'alaikum warohmatullaahi wa barokaatuh..
para muhibbin rohimakumullah.. kalau kita bicara karomah abah guru,sungguh teramat banyak,masyhur dan didengar dimana -mana tempat, memang beliau orang yang berhak dan pantas untuk mendapatkannya.

semua itu menunjukkan kemuliaan beliau dan anugerah juga bagi kita kaum muslimin, akan tetapi alangkah bagusnya kita juga perlu mengingat akan perjuangan beliau, mujahadah beliau, sejak  masa kecil sampai berpulang kerahmatullah.

kita coba mendengarkan cerita -cerita tentang perjuangan beliau yang begitu hebat, penuh tantangan, suka duka datang silih berganti, tak hanya memperoleh kemuliaan itu cuma dengan senyum tawa, namun dipandang dari sisi kemanusiaan beliau. ada juga mengalami sedih dan derita, meski hati beliau tak pernah mengeluh, tak pernah menolak takdir yang menimpa beliau, salah satu contoh, semasa sekolah cuma memiliki dua lembar baju, yang satu buat sekolah, yang satu nya buat dirumah.

Beliau makan gadabung pisang/bongkah dibawah pohon pisang yang tumbuh akarnya, beberapa lama,itu saja yang bisa dimakan, tak makan nasi seperti kita, tiga kali sehari.
rumah orang tua  bocor atapnya, apabila hujan lebat,terpaksa beliau sekeluarga mencari tempat teduh yang tak kena air hujan, kita juga pernah mendengar beliau di berhentikan mengajar dipondok darussalam, dibilang orang bahwa sidin itu sesat,. hingga waktu yang lama,dan beliau menyendiri tanpa banyak dukungan.
bayangkan dalam manakib beliau yang saya pernah dengar, beliau mengaji ke tuan guru dikampung melayu martapura, kadang kadang guru beliau tidak memberi pelajaran, lalu pulang beliau kerumah, sampai dirumah dimarahi orang tua di suruh balik lagi ketempat guru dan menunggu guru membuka kan pintu.. bayangin dech..

tapi dengan semangat yang luar biasa,dan kesungguhan yang tiada bisa diucapkan dengan kata, beliau berhasil memperoleh semua anugerah itu,. Abah Guru pernah mengaji ke kampung gadung rantau, apa kesana pakai mobil bagus, ada air condisioner nya biar dingin dipanas terik matahari, atau naik taksi yang langsung mengantar kekampung kerumah guru beliau,

mungkin saja beliau seharian penuh baru sampai waktu itu naik mobil kono,seperti truk besar tempoe duloe yang bisa mengangkut penumpang.. setelah itu jalan kaki beberapa kilometer masuk desa dengan jalan masih tanah atau batu kerikil terhampar sepanjang jalan menuju rumah guru..apakah sidin singgah dijalan membeli minuman yang dingin,? Wallaahu a'lam..!

Dan semua yang sidin lakukan tak lain hasilnya untuk ummat,pahala ibadah beliau untuk murid dan pecinta, tiap malam kata orang beliau menangis,meminta kan ampun atas dosa para murid dan pecinta semua..! Abah guru sudah berusaha yang terbaik buat kita, tinggal kita lagi.. apa yang bisa kita lakukan untuk menyenangkan beliau, mari kita coba merenungi nya.
mohon ampun maaf bila salah,tolong koreksi bila ada yg tidak benar..wassalam

sumber : Abi Hamid para pencinta Abah Guru Sekumpul
                http://www.facebook.com/groups/parapencinta.abahguru/


Min Akhlaki Syeikhuna Abah Guru Sekumpul ketika waktu kecilnya


Menginjak usia 5 Tahun , Abah Guru dicarikan orang tuanya guru mengaji Al-Qur’an yang bernama “ Guru Hasan “

Setiap habis magrib berjamaah , Abah guru berangkat ke rumah Guru Hasan yang berada perbatasan Desa Pasayangan dan Desa Keraton tidak terlalu jauh dengan rumah Abah Guru .

Bimbingan Akhlak dari orang tuanya sejak kecil sudah disiplin dan diperaktekan . Setiap kali Abah guru berangkat mengaji disuruh membawa sebotol kecil yang berisikan sedikit minyak tanah untuk diberikan kepada Guru Hasan . Waktu kecil sudah di ajarkan akhlak pemurah dan membantu paguruan . Dan Abah guru diajarkan supaya dapat menghargai jerih payah gurunya memberi pelajaran Al-Qur’an . Waktu kecil sudah diajarkan akhlak “ Hal jaza Ihsan illal Ihsan “ setiap kebaikan dibalas dengan kebaikan pula .

Dan setiap habis belajar mengaji , dirumah diulangi kembali atas bimbingan dan pengawsan ibunya dan nenek salbiyah . sehingga Abah guru sangat menguasai ilmu baca Al-Qur’an semenjak kecilnya .

Moga kita bisa mengambil manfaat dan mencontoh akhalak mulia ini … aamiin


Jumat, 18 Januari 2013

Pertemuan penyanyi legandaris Chrisye dengan Abah Guru Sekumpul


Kelahiran, hidup dan kematian itu Allah yang mengaturnya. Bukankah sebelum manusia lahir ke dunia sudah berjanji kepada Allah, dan mengakui Allah sebagai Tuhan dan yang mengaturnya. Intinya manusia memegang janji itu selama kehidupannya.


Chrismansyah Rahadi atau yang akrab kita kenal dengan sebutan Chrisye. Seorang penyayi legendaris yang karyanya banyak memberikan motivasi cinta. Disukai sebab lirik lagunya yang nyaman didengar dan disanjung banyak orang , pencipta lagu seakan-akan karena merekalah lagu itu diperuntukkan.


Hikmah yang terbesar dalam diri dan kehidupan Chrisye adalah ia mempunyai kesempatan untuk memeluk agama Islam dan meninggalkan agamanya yang terdahulu. Keislamannya tidak lepas dari bimbingan Syech Muhammad Zaini Ghani.


Asal muasal pertemuan Chrisye dengan Abah Guru, ketika saudaranya mengajak ke Martapura untuk menemui Abah Guru. Dikatakan saat itu Chrisye sangat antusias sekali. Karena selama ini kesuksesan yang diperolehnya hampa tiada makna tanpa ada bimbingan agama, harus ada perimbangan yang bersifat spritual dan meneguhkan iman. Akhirnya Chrisye menginjakkan kaki pertama kali di Sekumpul sekitar tahun 90’an.


Sejak itu Chrisye sering ke Martapura, ikut mengaji di tengah-tengah para hadirin majelis Abah Guru di Sekumpul. Chrisye juga tidak henti-hentinya meminta nasehat dengan beliau. Ketika Abah Guru mengatakan “Kamu memang sedang digodok oleh Allah”, Chrisye semakin meneguhkan keyakinan dan memantapkan keimanannya kepada Allah.


Nasehat Abah Guru, agar Chrisye sering bersilaturrahmi kepada para ulama, kiai dan habaib. Terlebih Chrisye tinggal di Jakarta. Abah Guru menyarankan ia mengikuti pengajian Habib Abu Bakar di Jakarta. Sesuai yang disarankan Abah Guru, Chrisye pun bersama keluarga rajin mengikuti pengajian tersebut setiap hari ahad. Selain berupa pengajian, Chrisye dan keluarga membaca Maulid Simtut Durrar dan Ratib Al-Haddad di majelisnya Habib Abu Bakar.


Nasehat Abah Guru lagi, agar jika mampir ke Solo, jangan lupa sowan meluangkan waktu bersilaturrahmi ke tempat Habib Anis. Perkenalan Chrisye dengan Habib Anis berawal dari konser di Surabaya, Solo, Bandung, dan Jakarta. Nah, ketika konser di Solo itu, Chrisye meminta diantar ke tempat Habib Anis. Sayangnya, mereka yang membuat konser bukan kalangan yang mengerti tentang hal-hal yang seperti ini. Tetapi dengan semangat mereka bekerja keras mencari tempat Habib Anis. Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga. Begitulah, setiap Habib Anis ke Jakarta Chrisye tidak pernah lupa untuk bersilaturahmi dan meminta nasehat kepada beliau.


Subhanallah.. Itulah Chrisye, meski dia seorang muallaf namun mempunyai keimanan yang teguh. Ia menjaga amanah keimanannya sebagai ruh agama. Karena umur yang diberikan Allah kepada kita adalah amanah. Sekarang Chrisye telah tiada dan berhasil menjaga amanah keimanannya. Ia meninggal dalam keadaan tenang. diringi bacaan Al-Qur’an anak dan istrinya. Ia sukses membina keluarga sakinah mawaddah sesuai tuntunan agama. Ia menghadap keharibaan Allah Swt di malam mulia nan istimewa jum’at al-mubarak. Siang jum’atnya jenazah Chrisye disaksikan oleh banyak umat Islam dan dishalatkan ketika shalat jum’at diadakan.

Saat-Saat Kelahiran Abah Guru Sekumpul


Bertepatan kedatangan tentara Jepang Tahun 1942 ke Martapura . Fitnah sungguh merajalela, keluarga, Abdul Ghani mengungsikan keluarganya mencari tempat yang paling aman, agar istrinya dapat melahirkan dengan selamat. Dengan sembunyi-sembunyi dibawalah istrinya yang sudah hamil tua tersebut, bersama ibu (Salabiah), dengan menggunakan jukung (perahu kecil) melewati sawah dan sungai menuju Desa Tunggul Irang Seberang, menuju ke rumah salah seorang paman Salabiah yang bernama Abdullah, dimana rumahnya berdampingan dengan rumah Tuan Guru H. Abdurrahman tokoh ulama masyarakat Tunggul Irang Seberang. Meskipun Masliah bukanlah keponakan ujud (langsung) dari Paman Abdullah, perhatian dan perlakuan beliau terhadap mereka sangatlah baik, padahal kehidupan beliau sendiri sangatlah kekurangan.

Dipilihnya Desa Tunggul Irang Seberang sebagai tempat untuk berlindung adalah karena dianggap paling aman di saat itu. Selama masa Tuan Guru H. Adu (Panggilan Tuan Guru H. Abdurrahman) tinggal dan dibesarkan di Desa Tunggul Irang tersebut, tentara kolonial tidak pernah menginjakkan kakinya di desa ini. Sebab setiap kali akan menuju desa tersebut, selalu saja mendapat halangan dan rintangan yang tidak terduga, sebagaimana beberapa kali perahu tentara Belanda yang akan melewati Desa Tunggul Irang selalu saja kandas dan tenggelam, dengan alasan yang tidak dimengerti oleh mereka.

Baru beberapa hari tinggal di Desa Tunggul Irang Seberang, tibalah waktunya Masliah akan melahirkan anaknya. Dikala malam bertambah larut, waktu yang terbaik untuk munajat kepada Sang Khalik, ketika angin bertiup lembut, Masliah melahirkan bayinya yang pertama. Malam itu, tepatnya Rabu tanggal 27 Muharram 1361 H bertepatan dengan 11 Februari 1942 M, seorang bayi laki-laki mungil lagi montok telah lahir, berkat bantuan seorang bidan yang bernama Datu Anjang. Beliau adalah nenek Tuan Guru Husein Dahlan yang merupakan sepupu dua kali dengan Masliah.

Sekalipun kehadiran bayi tersebut di malam hari yang kelam, sekelam dan sepekat nasib negeri dan bangsa ini ketika itu, namun betapa bahagia dan bersyukurnya sang ayah, apalagi bagi sang ibu yang telah mengandungnya selama lebih sembilan bulan lamanya.

Sungguh diluar dugaan, bayi yang baru lahir di saat orang-orang sedang terlelap dalam tidurnya, seharusnya terjaga akibat mendengar tangisannya, sebagaimana layaknya bayi-bayi lain yang baru lahir, ternyata sang bayi tidak menangis, hanya diam tidak sedikitpun mengeluarkan suara. Matanya tertutup, seperti tidak ada tanda kehidupan. Kejadian itu berlangsung selama hampir satu jam lamanya. Warna kulit badannya sudah mulai membiru. Berbagai macam usaha sudah dicoba, namun bayi itu masih diam, tak ada jerit tangis, sampai-sampai neneknya Salabiah yang juga hadir saat kelahiran bayi tersebut berkata :
“Mati jua cucuku…?”
Bayi yang keadaannya membuat cemas itu kemudian dibawa pergi ke rumah Tuan Guru H. Abdurrahman untuk mendapatkan pertolongan. Setibanya di hadapan Tuan Guru H. Adu, bayi tersebut dipeluk dan ditiupi beliau dengan do’a-do’a, hingga akhirnya samar-samar mulai tampak tanda-tanda kehidupan, nafas sang bayi mulai turun naik, warna kulitnya berangsur-angsur menjadi kemerah-merahan, dan tangisnya pun mulai terdengar.

Sejak tangis sang bayi sudah mulai terdengar, syukur dan puji dihaturkan keharibaan Allah yang Maha Kuasa, sebab Dia-lah yang menghidupkan dan Dia pula yang mematikan, Dia-lah yang merubah dari gelap menjadi terang. Bayi yang tangisannya mulai terdengar, pertanda haus dan lapar telah merasuki perasaannya, maka sang bayi pun diserahkan kepada ibunya yang akan menyusuinya, membelainya dengan sentuhan lembut, serta memberikan perhatian dengan kasih dan sayang.

Bayi yang berada dalam pelukan ibunya terus menangis, hingga keluarga yang hadir ikut berusaha untuk membuatnya terlena dalam pangkuan ibunya. Ibunya berusaha memberikan air susu. Namun tetaplah bayi tersebut menangis. Begitulah seterusnya, bayi tersebut selalu menolak saat diberikan air susu ibunya, apalagi minuman lain. Setelah berjam-jam menangis, bayi yang baru lahir tersebut akhirnya dibawa lagi kepada Tuan Guru H. Adu untuk meminta kembali bantuan beliau.

Sesudah diterima kembali oleh beliau bayi yang masih menangis itu dipangkuannya, beliau menjulurkan lidahnya ke mulut bayi. Maka bayi itupun menghisap lidah beliau dengan lahapnya, seakan-akan ia menyusu kepada ibunya. Setelah ia puas menghisap lidah Tuan Guru H. Adu, maka lidah itupun dilepasnya, sehingga berhenti pulalah tangisan sang bayi. Kejadian seperti ini berulang-ulang hingga beberapa kali.

Suatu ketika Masliah mencoba menyusui anaknya di dalam kamar yang tertutup, tanpa ada orang yang melihat. Tak disangka bayi itu mulai menghisap susu ibunya. Maka mengertilah Masliah bahwa bayinya tersebut seakan-akan enggan menyusu bila dilihat oleh orang lain. Sang bayi sepertinya berusaha memelihara ibunya dari membuka aurat di hadapan orang lain. Mungkinkah ini salah satu pertanda akan ‘kemuliaan’ sang bayi di masa hidupnya kelak?

Pada hari keenam belas setelah kelahiran tersebut, bayi kecil yang kelihatan masih lemah itu diboyong oleh orang tuanya dari tempat kelahirannya, pindah ke tempat lain, ke sebuah rumah kecil antara Desa Pasayangan dan Desa Keraton Martapura, berjarak kurang lebih satu kilometer dari Desa Tunggul Irang Seberang Martapura, di tempat inilah mereka akan memulai kehidupan yang baru.

Tetapi bagaimanapun juga tempat kelahiran adalah sebuah kenangan. Setiap anak manusia di manapun di dunia ini, tanah kelahiran selalu menyisakan kenangan yang amat khusus, pada gilirannya -seiring berlalunya waktu- ia akan tetap meninggalkan nostalgia, walaupun sekilas riwayat dan cerita didengarnya dari penuturan orang tua tentang tempat kelahiran dan kejadian sesudah kelahirannya, suatu ketika akan terkenang dalam kehidupan setiap orang.

Mungkin yang sangat berkesan justru masyarakat Desa Tunggul Irang Seberang itu sendiri, bahwa desa mereka ditakdirkan oleh Allah Yang Maha Kuasa menjadi persada bagi kelahiran seorang putra yang mereka kenal dari kalangan keluarga yang sangat sederhana namun bermartabat serta berbudi. Sebagaimana masyarakat Islam, baik di dalam maupun di luar negeri mengenalnya di kemudian hari sebagai “Al al-‘Alimul ‘Allamah Al ‘Arif billah As Syeikh Muhammad Zaini Bin Abdul Ghani” dari Martapura.

Saat akan meninggalkan Desa Tunggul Irang Seberang, atas do’a dan restu Tuan Guru H. Adu, Abdul Ghani dan istrinya Masliah beserta bayinya yang diberi nama Muhammad Qusyairi , beranjak pulang dengan menggunakan sebuah mobil yang disebut masyarakat sekitar dengan Mobil Jamban. Di masa penjajahan Jepang yang terkenal kejam, rasa was-was akan keselamatan menghantui masyarakat Martapura pada masa itu, rombongan di mobil itupun merasakan kekhawatiran serupa. Akhirnya kecemasan yang mencekam dalam perjalanan pulang itu sirna sudah, rombongan sampai ketujuan dengan selamat berkat bantuan seorang Habib bernama Habib Hasan, yang ikut mengantar mereka hingga ke tujuan. Padahal di hari itu, tidaklah berbeda dengan hari-hari sebelumnya, patroli-patroli dari tentara penjajah yang bertikai masih berkeliaran dimana-mana, namun seakan-akan mereka tidak mendengar atau melihat mobil yang melintas di hadapan mereka, hingga akhirnya sampailah rombongan dengan selamat ke tujuan.

Moga dengan mengisahkan para Aulia Allah akan turun Rahmat bagi kita semua … aamiin



Foto ini adalah Tuan Guru H. Adu (Panggilan Tuan Guru H. Abdurrahman)

Tuan Guru Haji Abdurrahman (Guru Adu Tunggul Irang) bin Tuan Guru Haji Zainuddin Al-Banjari. Tuan Guru Haji Abdurrahman (guru Adu) yang setiap malam mengaji kepada gurunya Tuan Guru Haji Said Wali al-Banjari sehingga ia dapat menguasai berbagai ilmu pengetahuan Agama. selain itu beliau juga belajar kepada Tuan Guru Haji Kasyful Anwar al-Banjari di kampung Melayu Martapura.

sumber : http://www.facebook.com/groups/parapencinta.abahguru/

Mimpi Abah Guru Sekumpul pada waktu kecil



suatu malam, abah guru mendapatkan mimpi, merasakan seolah-olah berada disebuah padang pasir, sejauh mata memandang hanya sahara yang membentang, dari kejauhan tampak fatamorgana seperti genangan air, meski sebenarnya hanyalah biasan cahaya matahari.


Tegak di samudera pasir yang luas, seperti sebuah keajaiban yang muncul di tengah-tengah misteri ketidakpastian. Tidak mungkin rasanya bangunan tersebut milik salah satu suku Arab, lantas, kenapa hanya ada satu, di mana yang lainnya?, bila ternyata bangunan itu milik seorang musafir, lalu kenapa terlihat berdiri kokoh, menyiratkan bahwa ia adalah sebuah tempat tinggal untuk jangka waktu yang tidak sebentar?.

Langkah kaki Abah Guru terhenti manakala jarak yang tersisa antara dia dan bangunan itu hanya tinggal beberapa langkah, siapa pemilik bangunan, apakah dia sedang berada didalam, sebuah pertanyaan menyelimuti benaknya. Tiba-tiba di tingkat atas muncul seorang wanita Arab, yang meskipun busananya tertutup namun kecantikannya memancar menembus sekat-sekat bernama kain, melemparkan sesuatu kepada Abah Guru , Abah Guru memungut benda itu sambil hatinya bertanya-tanya. Namun keheranannya itu tidak membuatnya surut untuk terus melangkah. Ditengah semesta diamnya, yang mengitari pikirannya. Abah guru tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah goncangan, bumi yang dipijak terasa bergetar.. Abah Guru tersentak, apa yang terjadi, suara apa itu, dari mana asalnya?, berbagai pertanyaan muncul tanpa rekayasa.

Abah Guru yang keheranan terus melangkahkan kakinya, sampai tidak jauh dari bangunan itu dia bertemu dengan dua orang pemuda, tegap, tampan, bahkan sangat tampan. Pemuda pertama yang lebih tua, terlihat penuh kharisma sekaligus menunjukkan kesantunan yang menyentuh relung hati setiap orang yang memandangnya, sementara yang lebih muda, nampak kekar bagai seorang mujahid, yang setiap saat siap menghadapi berbagai tantangan, sosok pria pemberani tergambar jelas dari raut mukanya.

Abah gurupun akhirnya terlibat dialog dengan kedua orang tersebut, sampai akhirnya..
“Kamu, kami berikan gelar Zainal Abidin”.

Abah Guru terdiam, Zainal Abidin …. sebuah gelar yang pernah mengukir sejarah, yang bahkan kebakaran di rumahnya sendiri tidak sanggup mengusiknya dari ibadah, dialah Sayyidina Ali Zainal Abidin, satu-satunya putera Sayyidina Husein sang Syahid Agung, yang selamat dari pembantaian di medan Karbala, putera Sayyidatina Fathimah az-Zahra; puteri Rasulullah SAW. Dialah orang pertama yang menyandang gelar Zainal Abidin; perhiasan cantik para ahli ibadah, karena ‘abid yang manapun, dari belahan bumi manapun, akan tertunduk malu bila berhadapan dengan catatan sejarah hidupnya, hanya dengan kisah tentang ibadahnya… apalagi kalau bertemu dan melihat langsung bagaimana asyiknya dia bersama Rabb-nya.

Abah Guru mungkin merasa malu, bagaimana tidak? Karena gelar tersebut bukan sembarang gelar, gelar adalah gambaran dari orang yang menyandangnya dibahunya, arti hakiki dari gelar tersebut, pertanda apa sehingga dia mendapatkan anugerah sebesar ini.

Saat ia merenung, ia melihat tanah yang berada di samping bangunan tersebut tiba-tiba bergerak laksana gelombang air laut. Kemudian Abah Guru bertanya kepada keduanya :

“Kenapa bumi tadi bergetar?” ucapnya.
“Itu adalah makam ayahanda, Ali Ibn Abi Tholib”

Abah Guru bertanya lagi kepada mereka berdua tentang perempuan yang melempar sesuatu kepadanya tadi :

“Kalau perempuan yang diatas bangunan tadi?”,
“Ibunda Fathimah” jawab mereka berdua.

Jawaban itu menjadi tafsir yang menguak tabir misteri ketiga orang ini. Yah, karena ketiga manusia yang mengundang kekaguman itu adalah al-Bathul; Sayyidatina Fathimah, sang pemuka para wanita surga, al-Hasan dan al-Husein, dua pemuda penghulu sorga, cucu dan pendingin mata Baginda Rasulullah SAW. Mereka adalah tiga orang ahlul kisaa , yang mengiringi turunnya ayat Tathir dalam surah al-Ahzab :

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ البَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيراً
mereka adalah ahlu bait-nya Musthofa SAW.

Sebuah mimpi yang teramat indah, yang mungkin didambakan semua muhibbin ahli bait-nya Rasulullah SAW. Mimpi yang merupakan sebuah pertanda baik atau bisyarah untuk seorang hamba Allah yang sedang meniti jalan hidupnya menuju sebuah “kehambaan” yang sebenarnya, kedudukan yang paling tinggi di hadapan Sang Penguasa Semesta, Pencipta jagat raya, Allah SWT.

Meski Abah Guru mendapat bisyarah, mimpi bertemu dengan orang-orang mulia itu, namun dia tidak pernah menceritakan mimpi itu kepada siapapun, semua tetap mengendap dalam otaknya. Hingga suatu saat diceritakan oleh Guru Marzuki saat bertemu dengan Zaini di sebuah acara. Guru Zuki, begitu panggilan beliau, melemparkan pertanyaan yang membuat Zaini terkejut.

“Ikam wayah ini bangaran Zainal Abidin kah?” (Kamu sekarang ini bernama Zainal Abidin kan?) tanya Guru Zuki.
Zaini hanya diam, pertanyaan ini mengingatkannya pada mimpi yang dialaminya itu.
“Ada kalu ikam tamimpi?” (Bukankah kamu ada bermimpi?) sambung Guru Zuki. Zaini hanya menunduk, ternyata ulama yang satu ini tahu perihal mimpinya, padahal sebelumnya dia tidak pernah bercerita kepada siapapun tentang mimpi itu.

Notes : Kubah Guru Zuki dibelakang Kubah Guru Kasyful Anwar di Kampung
Melayu Martapura

Moga menambah kecintaan kita pada abah guru dan mendapatkan Rahmat Allah mengisahkan para Kekasih-Nya ( Aulia Allah ) … aamiin

sumber :  http://www.facebook.com/groups/parapencinta.abahguru/