Kamis, 25 Mei 2017

Mengenal KH. Ma'mun Ahmad Kudus



Mbah Ma'mun adalah nama akrab sapaan KH Ma'mun Ahmad Langgar Dalem Kudus, Putra dari pasangan KH Ahmad dan Nyai Hj Suparmi, beliau putra ke empat dari empat bersaudara yaitu: Ibu Muslimatun, Ibu Malihah, H Abdul Muhid dan H Ma'mun.

Masa Kecil Beliau dilahirkan dari keluarga yang memegang teguh nilai-nilai pesantren, ketika beliau masih kecil, beliau berguru kepada KH R Asnawi (Pendiri NU) dan KH Arwani Amin dalam belajar dan mengaji beliau termasuk santri yang cerdas, dan beliau menjadi santri kinasih hingga suatu saat beliau ketika masih usia enam tahun mondok di pondok pesantren yang diasuh oleh KH R Asnawi dan diajak oleh KH R Asnawi dalam pengajian berjanji keliling kota Kudus-Pati dan setelah acara tiba-tiba beliau disuruh berdo'a sehingga menimbulkan pertanyaan oleh masyarakat, kenapa anak kecil yang berdo'a, kemudian dijawab oleh KH R Asnawi "anak kecil itu belum banyak dosanya sehingga do'anya dikabulkan oleh Allah SWT."

Jenjang Pendidikan Selain belajar kepada KHR Asnawi dan KH Arwani Amin beliau juga diajari oleh orang tuanya sendiri yaitu KH Ahmad, hingga pada suatu saat beliau bertemu dengan Mbah Soleh Tayu-Pati (Ayahanda KH Amin Sholeh) ketika berkunjung ke ndalemnya KHR Asnawi bertemu dengan beliau dan mengajaknya ke Pati untuk diasuh dan dijadikan santri. beberapa tahun selanjutnya bersama Mbah Sholeh melanjutkan mondok ke KH Dimyati Termas Pacitan Jawa Timur.

dalam perjalanan ke Termas beliau menghafalkan kitab alfiyyah ibnu malik sampai benar-benar hafal, di termas beliau termasuk santri kesayangan dan bahkan beliau akan dijadikan menantunya.selain nyanti kepada KH Dimyati Termas, beliau juga nyantri kepada Sayid Ali Tuban dan usia muda beliau dihabiskan untuk mencari ilmu sampai usia 35 tahun.

Sifat dan Kepribadian Mbah Ma'mun adalah peribadi yang bersahaja (Zuhud) bahkan dalam sepanjang hayatnya beliau tidak memikirkan tentang kebendaan (duniawi)dan kata beliau "masalah rizqi semua makhluk kabeh wes ono sing ngatur, " masalah riqi semua makhluk semua sudah ditentukan sama Allah SWT. namun dibalik kesederhanaannya beliau mempunyai sifat sosial yang tinggi sehingga beliau dikenal sebagai sosok yang dermawan, selain itu beliau terkenal dengan sifat disiplin dan tegas sehingga pada waktu beliau menjadi Direktur Utama Madrasah TBS Kudus beliau sering keliling kelas dengan mengecek kondisi setiap kelas di TBS dari Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah I'dadiyah (MPTs), Madrasah Tsanawiyah (MTs)hingga Madrasah Aliyah (MA)agar selalu menghadap kiblat ketika pembelajaran. selain itu keihlasan dalam mengamalkan ilmu juga menjadi semangat beliau dalam mengajarkan pelajaran kepada santri-santrinya, semangat untuk terus mengajar sampai akhir hayat juga menjadi spirit beliau sehingga pada suatu ketika beliau sakit dan tak mampu berdiri,beliau masih ingin mengamalkan Ilmunya sehingga siswa-siswa TBS yang hadir di ndalem beliau. salah satu sifat beliau adalah sifat selalu berperasangka baik (husnudzon) kepada Allah SWT sehingga pada suatu ketika beliau sakit panas dan disuruh memijat salah satu santrinya beliau selalu mengucapkan hamdalah berulang-ulang dan ketika santrinya bertanya "Mbah Yai sakit kok malah mengucapkan hamdalah" Mbah Ma'mun Ahmad Menjawab "alhamdulillah badan saya panas jadi tidak usah repot-repot memasak air panas karena telah dikasih oleh Allah" dan ketika beliau kedinginan beliau berkata"alhamdulillah saya kedinginan jadi tidak usah membeli es" hemat kata itu merupakan ungkapan hati seorang yang selalu ridlo dengan takdir-Nya. sehingga apapun yang terjadi pada diri manusia kalau tahu semua datangnya dari Allah maka yang pahit akan berubah menjadi manis, ujian dan cobaan dianggap sebagai kenikmatan. beliau juga terkenal dengan kezuhudannya dan menjahui barang-barang syubhat (tidak jelas halal-haramnya), sehingga sampai sekarang ajaran beliau diterapkan di Pon Pes TBS dan Madrasah TBS bahwa tidak mau menerima bantuan dari pemerintah(syubhat). Mbah Ma'mun juga mempunyai kebun dan pertanian yang luas yang hasilnya antara lain:padi, cengkeh, tebu, kelapa dll.sehingga tiap tahunnya beliau menerima hasil dari sawah dan kebunnya tersebut, akan tetapi sebelum menerima beliau selalu bertanya kepada pengelolanya, apakah hasil dari pertanian dan perkebunan sudah dikurangi untuk zakat? jika belum maka beliau tidak mau menerima hasil dari pertanian dan perkebunan tersebut, bahkan beliau sering menyuruh untuk mengambil labih dari apa yang semstinya diberikan (1 nisab), karena beliau tidak mau hasil pertanian dan perkebunannya tercampur dengan hak milik orang lain jadi dikatakan "tompo resik tanpo ono reget" (menerima dengan bersih tanpa adanya cacat suatu apapun).beliau juga terkenal dengan sifat wira'inya sehingga jika ada perbedaan pendapat ulama' maka beliau akan memilih yang lebih berat (lilihtiyat).

Perjuangan Beliau Beliau adalah pengasuh pondok TBS Balaitengahan Kudus dan juga pernah menjadi Direktur Utama Madrasah TBS Kudus, Selain mengajar di Madrasah TBS dan Pon-Pes TBS, beliau juga mengajar di Madrasah NU Banat Kudus, Madrasah Diniyyah NU Putra Kradenan yang dulu di Kwanaran bersama KH Hambali(alm). selain itu beliau juga mengajar di Muawanatul Muslimin Kenepan Menara Kudus, beliau juga termasuk pendiri dan pengajar di Madrasah Diniyah Putri (MADIPU)TBS Kudus.

Prinsip perjuangan beliau adalah menjalankan dakwah dengan penuh keihlasan tanpa pamrih, walau dalam keadaan sakit masih mengajar, demikianlah keihlasan beliau dalam mengajarkan ilmu agama tanpa mengenal lelah, salah satu kebiasan beliau juga setiap hari jum'at menjalankan sholat jum'at keliling hingga kepelosok-pelosok desa di Kabupaten Kudus, kebiasaan ini dimaksudkan untuk mengecek apakah di desa-desa imam masjid sudah membaca al Qur'an sesuai tajwid dan masih menjalankan nilai-nilai ahlusunnah waljama'ah? kebiasaan tersebut melanjutkan seperti kebiasaan sang gurunya (KH Arwani Amin).

Pondok Pesantren dan Madrasah NU Kudus Setelah beberapa tahun belajar kepada Syekh Dimyati Termas, beliau pulang ke Kudus untuk membantu mengajar di Pon-Pes TBS Kudus yang didirikan oleh kakek beliau KH Abdul Lathif, didirikannya Pon-Pes TBS adalah sebagai wahana pembelajaean agama Islam ala Ahlusunnah waljama'ah.

Berawal dari Pon-Pes TBS berkembang ide berdirinya Madrasah NU TBS Kudus dari Kiyai Muhith (Kakak beliau) sebagai lembaga pendidikan formal, karena pesatnya pertumbuhan santri yang mengaji gagasan pendirian pondok TBS mendapatkan banyak dukungan dari para ulama dan masyarakat sebagai upaya untuk mendidik generasi penerus yang cerdas dan berakhlakul karimah. Sebagai tindak lanjut untuk mendirikan Madrasah TBS Kudus diperlukan persiapan sarana dan prasarana, maka diadakanlah musyawarah yang dipimpin oleh Kiyai Muhith dengan mengundang ulama' dan tokoh masyarakat.

Dari musyawarah tersebut terbentuklah suatu kepengurusan yang akan mengelola dan mengurus Madrasah TBS Kudus yaitu:(1)Bp. Kromo Wijoyo;(2)Bp. Asrurun; (3)H. Nur Syahid;(4)Bp. Chadziq; (5)Bp. Nur Khudrin;(6)H. Toyyib;(7)Bp. Muqsith; (8)Bp. H. Haris dan beliau sendiri.setelah terbentuk kepengurusan maka atas berkah rahmat dari Allah Madrasah TBS berdiri pada tanggal 7 Jumadil Akhiroh 1347H/21 November 1928. pertama kalinya nama TBS adalah "Tasywiquth Thullab Kudus" kemudian berubah oleh KH Abdul Jalil menjadi "Tasywiquth Thullab School" (Pada zaman penjajahan) dan oleh KH. Turaichan Adjuri dirubah menjadi "Tasywiquth Tullab Salafiyah" dengan singkatan TBS.

Berpulang kerahmatullah KH Ma'mun Ahmad meninggal dunia pada hari Ahad Legi, 22 Shafar 1423H/5 Mei 2002 dalam usia 87 tahun. sepanjang hayat dihabiskan untuk mengabdi di Pon-Pes TBS dan Madrasah TBS serta Madrasah-Madrasah lainnya di daerah Kudus, beliau juga banyak andil di masyarakat dan sosial dan hasil anak didik beliau sekarang banyak bermunculan sebagai ulama'-ulama' besar di Kudus seperti KH. Ma'ruf Irsyad (Rois Syuriyah PC NU Kab. Kudus), KH. Ahmad Basyir Jekulo (Mustasyar PC. NU Kudus), KH. Mohammad Mansur (Ketua Pengurus TBS Kudus), KH. Imam Sofwan (Ketua Umum PC NU Kab. Pati), KH. Abdulloh Sa'ad (Da'i dan Pengrus PC NU Kota Solo), dll. beliau selalu berpesan "ati-ati zaman wea eker (lebih dari akhir) sakiki akeh wong ngelakoni duso tapi ura rumongso koyo wong kesandung roto kebentus awang-awang" hati-hati zaman sudah akhir sekarang banyak orang melakukan dosa tapi tidak terasa seperti orang yang tersandung jalan yang rata dan kebentur langit. semoga kita sebagai santri bisa
meniru teladan-teladan beliau. wallahua'lam bissowab

sumber:http://masngabehi2013.blogspot.com/2013/05/sosok-ulama-kharismatik-dari-kudus.html dan diolah dari berbagai sumber.
https://www.facebook.com/SYAFAAH.dan.BAROKAH

Artikel Terkait

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog