Minggu, 26 November 2017

Kisah Sahabat Abdullah bin Hudzaifah As Sahmi RA



          Dalam suatu pertempuran melawan orang-orang Romawi, Abdullah bin Hudzaifah as Sahmi tertangkap oleh pasukan musuh bersama beberapa orang Islam lainnya. Pasukan Romawi menyiapkan wajan tembaga besar yang diisi oleh minyak yang mendidih. Tawanan muslim ditawari untuk masuk agama Nashrani, jika menolak, ia akan dilemparkan. Beberapa orang telah menjadi syahid karena tidak sudi menjual keimanan dan keyakinannya.

Ketika tiba pada giliran Abdullah bin Hudzaifah, dengan tegas dia menolak permintaan mereka. Tetapi ketika dia diangkat untuk dilemparkan, tetapi tiba-tiba Abdullah menangis. Panglima Romawipun berkata, "Ia telah gentar dan menangis, kembalikan !"

Tetapi kemudian Abdullah berkata, "Jangan kalian pikir aku menangis karena takut dengan apa yang kalian perbuat. Tetapi aku menangis karena aku hanya mempunyai satu nyawa, yang aku persembahkan kepada Allah. Aku berharap mempunyai nyawa sebanyak rambutku, dan kau paksa aku, dan kau lakukan seperti itu satu persatu pada semua nyawaku."


Sang panglima begitu terkejut dan takjub dengan ucapan Abdullah, sehingga ia bermaksud melepaskannya, ia berkata pada Abdullah, "Ciumlah kepalaku, dan aku akan melepaskanmu!"
Abdullah menolak. Tetapi penolakannya tersebut tidak membuat sang panglima marah, tetapi malah menambah kekagumannya. Ia berfikir, alangkah baiknya jika orang seperti Abdullah bin Hudzaifah dengan kepribadian yang begitu mengagumkan tersebut menjadi saudaranya atau menjadi orang dekatnya. Sang panglima berkata lagi, “Masuklah ke dalam agama Nashrani, akan kunikahkan kau dengan putriku, dan kuberikan separuh dari kekuasaanku."

Abdullah tetap menolak. Karena sudah berniat untuk melepaskannya, sang panglima berkata lagi, "Ciumlah kepalaku, dan akan kubebaskan engkau dan delapan puluh temanmu yang masih kutawan."
Kali ini Abdullah menerima tawaran tersebut. Ia mencium kepala sang panglima dan kemudian pulang kembali ke pasukannya beserta delapanpuluh orang temannya. Peristiwa tersebut terjadi pada zaman Khalifah Umar bin Khaththab.

Sekembalinya ke Madinah, ia menceritakannya kepada Umar. Umar begitu takjub dengan peristiwa ini dan ia berkata, "Wajib bagi orang muslim yang hadir saat ini untuk mencium kepada Abdullah, dan aku orang pertama yang akan melakukannya…."

            Umar bangkit dari duduknya dan mencium kepala Abdullah, diikuti oleh kaum muslimin lainnya yang hadir saat itu.           

Artikel Terkait

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog