Kamis, 26 Oktober 2017

Zaid bin Su'nah al Israili RA



     Zaid bin Su'nah al Israili adalah seorang pendeta Yahudi. Ia telah menyaksikan tanda-tanda kenabian yang diramalkan dalam kitab Taurat ada pada diri Nabi SAW, kecuali dua hal, yaitu kesabaran beliau dalam mengatasi suatu perbuatan bodoh, dan suatu perbuatan bodoh yang menimpa beliau, tidaklah membuat beliau bertambah kecuali kesabarannya. Ia menunggu kesempatan agar bisa menyaksikan sifat-sifat tersebut sehingga lengkaplah tanda-tanda itu sebagaimana dimuat dalam Taurat.

     Suatu saat ia melihat Nabi SAW keluar dari rumah istrinya diikuti oleh Ali bin Abi Thalib. Seorang badui mendatangi beliau, masih tetap di atas tunggangannya, sang badui ini berkata, "Wahai Rasulullah, aku mempunyai beberapa teman di Bani Fulan, aku pernah berkata kepada mereka bahwa jika mereka memeluk Islam, rezekinya akan melimpah, maka merekapun memeluk Islam. Sekarang ini mereka sedang mengalami musibah kemarau, kepayahan dan hujan yang tidak turun. Aku khawatir jika mereka terus dalam  penderitaan ini, mereka akan meninggalkan Islam sebagaimana dulu mereka bersemangat masuk Islam. Jika engkau ingin mengirimkan bantuan untuk mengurangi penderitaan mereka, sebaiknya segera engkau lakukan."     

     Nabi SAW menoleh kepada Ali bin Abi Thalib yang berada di sampingnya, Ali mengerti isyarat itu, dan berkata, "Wahai Rasulullah, tidak ada sesuatupun yang tersisa!"
     Melihat kondisi tsb. muncullah suatu rencana di benak Zaid. Ia mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, Wahai Muhammad, maukah engkau berhutang uang senilai kurma seberat sekian padaku, dengan syarat ngkau akan memberikan hasil kurma dari kebun Bani Fulan seberat sekian, sampai masa tertentu?"

     Rasulullah SAW ternyata menyetujuinya, tetapi tanpa persyaratan kebun Bani Fulan. Zaid mengeluarkan kantong uangnya dan memberikan delapanpuluh keping uang emas kepada Nabi SAW. Kemudian beliau memberikan uang emas tersebut kepada lelaki badui, dan bersabda “Berbuat adillah kamu kepada mereka, dan bantulah kesulitan mereka!"



     Lelaki badui menerimanya dan mengucap terima kasih kepada beliau, kemudian berlalu pergi.
    Dua atau tiga hari sebelum waktu yang telah ditentukan, Zaid melihat Rasuilullah SAW keluar bersama Abu Bakar, Umar, Utsman dan beberapa sahabat lainnya. Setelah menyalati seorang jenazah, Beliau bersandar pada suatu dinding. Sesuai dengan yang direncanakannya, Zaid mendekati Rasulullah SAW, dan menarik tempat bertemunya baju dan selendang di pundak Nabi SAW. Dengan wajah yang dibuat bengis, ia berkata, “Hai Muhammad, apakah engkau tidak mau menunaikan hakku (pembayaran utang)? Demi Allah, aku tidak mengetahui mengenai Bani Abdul Muthalib melainkan mereka adalah orang-orang yang suka menangguhkan pembayaran utangnya. Sekarang aku telah mempunyai pengetahuan bagaimana mempergauli mereka."

     Zaid memandang kepada Umar RA, kedua mata Umar berputar-putar bagaikan bintang karena marah. Ia melemparkan pandangannya kepada Zaid seraya berkata, “Kamu berani mengatakan kepada Rasulullah SAW apa yang barusan kudengar? Kamu berani memperbuat kepada Beliau apa yang baru saja kusaksikan? Demi Dzat Yang memegang nyawaku, kalau bukan karena sesuatu hal yang aku khawatirkan akan hilang, sudah pasti aku akan memenggal lehermu!"

     Rasulullah memandang Zaid dengan tenang dan sabar, lalu berkata,"Hai Umar, kami lebih membutuhkan selain kemarahanmu itu. Sebaiknya kamu menyarankan kepadaku untuk menunaikan/membayar utangnya dengan baik, dan kamu menyarankan kepadanya untuk menagih dengan cara yang baik. Pergilah bersamanya Umar, lalu berikan haknya dan lebihkan pembayaran utangnya dengan duapuluh sha' kurma sebagai ganti tindakanmu yang membuatnya takut.”
     Umar pergi ke tempat seperti diperintahkan Nabi SAW, dan Zaid pergi mengikuti Umar. Setelah utang dibayar dengan jumlah kurma yang dijanjikan, Umar menambahkannya duapuluh sha' lagi. Zaid bertanya, "Apakah maksud tambahan ini, hai Umar?"                                                   
     "Rasulullah memerintahkan aku menambah duapuluh sha' ini sebagai ganti tindakanku yang telah membuat dirimu takut." Umar menjelaskan.

     "Apakah engkau tidak mengenaliku, wahai Umar." Tanya Zaid,
     Umar menggeleng tidak tahu, Zaid berkata lagi, "Aku adalah Zaid bin Su'nah."
     Umar tersentak kaget, "Pendeta Yahudi itu?"
     Zaid mengiyakan, Umar bertanya lagi, "Mengapa engkau melakukan ini terhadap Rasulullah SAW?"

    Zaid pun menjelaskan apa yang melatarbelakangi tindakannya. Dan akhirnya ia berkata pada Umar, "Sekarang ini aku telah tahu dua hal yang selama ini belum kusaksikan dalam diri Rasulullah, maka aku persaksikan kepadamu hai Umar, aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad adalah Nabi dan RasulNya. Dan aku persaksikan juga padamu, Umar, bahwa separuh hartaku-karena aku orang Madinah yang paling banyak hartanya- aku serahkan untuk sedekah kepada ummat Muhammad."

     Umar berkata, "Atau untuk sebagian dari mereka saja, karena sesungguhnya engkau tidak bisa memberi sedekah pada mereka semua."
 Kata Zaid, "Atau untuk sebagian dari mereka."

     Zaid dan Umar kembali menghadap Rasulullah SAW, Zaid bersyahadat dan menyatakan keislaman di hadapan beliau. Ia terus menyertai Rasulullah dalam berbagai pertempuran, dan akhirnya menemui syahid di Perang Tabuk.

Artikel Terkait

0 komentar:

Posting Komentar

Arsip Blog